Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Belajar Bareng



Perubahan sikap Vanya kini terasa begitu aneh bagi teman-temannya. Mereka sangat tak terbiasa dengan perubahan Vanya yang kini berubah seratus delapan puluh derajat. Tak ada lagi Vanya yang suka bolos, tak ada lagi Vanya yang datang terlambat, dan tak ada lagi Vanya yang nongkrong bersama dengan club motor nya ataupun ikut balapan.


Kini yang ada hanya lah Vanya yang begitu rajin dan menjadi anak rumahan. Vanya begitu banyak berubah hingga membuat sahabat nya pun merasa  aneh dan asing dengan Vanya yang sekarang. Perubahan Vanya memang baik untuk Dipta namun untuk sahabat nya kini mereka merasa aneh dengan semua itu.


“Pulang sekolah mau main gak Van? Besok kan udah UKK nih, kita main-main dulu lah,” ajak Eva saat kini mereka tengah berbincang di kelas. Karena hari ini mereka tak ada pelajaran dan hanya akan membagikan kartu ujian saja.


“Mau UKK tuh belajar bukannya main. Lagian nih ya mending belajar aja sih di kasih waktu pulang pagi tuh,” ucap Vanya menasihati sahabat nya itu. Ucapan Vanya yang tak biasa itu tentu saja membuat sahabat nya kini melongo mendengar nya.


Untuk pertama kalinya kini Vanya menasehati sahabat nya tentang belajar. Padahal sebelumnya Vanya selalu mengatakan pada mereka belajar itu gak perlu banyak-banyak biar gak overdos namun kini malah ia menasehati sahabat nya dengan ucapan yang lain.


“Emang ya, manusia tuh bisa cepat berubah,” ucap Ino sambil menggelengkan kepalanya melihat sahabat nya itu dengan tatapan sendunya.


“Kembalikan Vanya gue,” ucap Eva sambil mengguncang bahu Vanya. Vanya yang mendengar ucapan sahabat nya itu hanya memutar bola matanya lalu segera menghempaskan tangan Eva yang kini berada di kedua bahunya.


“Apaan sih?” tanya Vanya dengan tatapan kesal nya pada sahabat nya itu.


Ia mengerti, pasti sulit bagi sahabat nya itu untuk menerima perubahan Vanya saat ini. Namun ia sudah memantapkan hatinya untuk  tetap berubah demi Dipta. Ia tak ingin mengecewakan Dipta lagi. Dipta dan Keluarganya sudah begitu baik padanya. Vanya tak ingin lagi untuk membuat mereka malu karena tingkah Vanya.


“Masih aneh aja gue Van liat lo begini,” ucap David pada sahabat nya itu. Vanya menghembuskan nafasnya sambil menganggukkan kepalanya. Ia mengerti apa yang dirasakan oleh sahabat nya itu.


“Gue ngerti, tapi kali ini gue bener-bener pengen berubah,” ucap Vanya pada sahabat nya itu. Berbicara dengan serius pada sahabat nya tentang keputusannya. Ia ingin sahabat nya tidak menjauh darinya ataupun ikut berubah pada nya.


“Gak papa Van, itu keputusan lo. Kita cuma perlu menyesuaikan diri aja. Lakukan apa yang lo suka, jangan merasa terbebani karena kita,” ucap Eva dengan begitu dewasanya sambil tersenyum dan mengelus puncak Vanya.


“Thank ya guys. Gue harap kalian gak menjauh dari gue karena gue yang berubah,” ucap Vanya dengan tatapan memohonnya pada sahabat nya itu yang kini malah terkekeh mendengar ucapan Vanya.


“Gak bakalan Van. Elah lo mah kayak kita baru temenan sebulan dua bulan aja,” ucap Ino dengan tawanya yang di jawab dengan anggukan oleh kedua sahabat Vanya yang lain membuat Vanya juga ikut tersenyum mendengar nya.


“Kalau gitu mending kalian nanti ikut gue aja buat belajar bareng Dipta,” ucap Vanya dengan senyuman semangat nya yang kini berhasil membuat ketiga temannya itu melongo mendengar ucapan Vanya.


“Ngeri ikutan jadi baik juga gue,” ucap Ino dengan gumaannya.


“Berbuat baik kok ngeri,” ucap Vanya sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sahabat nya itu.


*


Pada akhirnya kini Ino, Eva, dan David pun ikut bersama Vanya. Duduk di depan tumpukan buku yang bahkan hanya melihatnya saja sudah membuat mereka pusing.


“Ini gue udah ada ngerangkum buat pelajaran mapel pertama besok. Mapel besok bahasa sama biologi,” ucap Dipta sambil memberikan catatan yang dulu pernah ia rangkum untuk Vanya. Vanya segera mengambil salah satunya dan mulai membaca buku rangkuman Biologi.


“Sengaja aku rangkum buat kamu,” ucap Dipta yang kini berhasil membuat Vanya terkejut mendengar nya. Ia juga merasa begitu beruntung karena dipertemukan dan disatukan dengan laki-laki seperti Dipta.


“Makasih pacar, perhatian banget sih,” ucap Vanya dengan senyumannya sambil menepuk-nepuk kepala Dipta. Dipta yang mendengar nya hanya terkekeh sambil menganggukkan kepalanya.


“Khem. Hargain yang jomblo lah,” ucap Ino memecah keromantisan sepasang kekasih yang kini duduk saling bersisian ini. Vanya yang mendengar ucapan sahabat nya itu hanya memutar bola matanya malas. Sedangkan Dipta kini hanya tersenyum mendengar nya.


“Cari pacar mengkanya,” ucap Vanya yang kini semakin memamerkan kemesraannya dengan merangkul tangan Dipta. Sedangkan Dipta kini malah mengikuti drama kekasih nya itu dengan mengelus puncak kepala Vanya. Vanya menjulurkan lidah nya menunjuk ke arah Ino.


“Wah beneran ngajak ribut nih,” ucap Ino yang kini sudah menggulung lengan bajunya lalu kini ia malah bersiap untuk berdiri dengan kedua tangannya yang kini ia taruh di belakang.


“Jangan tangan gue, jangan tahan gue bilang,” ucap Ino yang kini malah membuat kedua sahabat nya yang berada di samping Ino melongo melihatnya.


“Kesurupan lo? Atau calon orang gila?” tanya Eva dengan tatapan bingung nya pada Ino.


“Apaan sih?” tanya Vanya dengan tatapan mengejeknya pada Ino.


“Gak ada yang nahan pe’a,” ucap David yang kini ikut menimpali.


Ino yang sdar jika kini tak ada yang mendukung nya memilih untuk duduk kembali dengan wajah cemberut nya.


“Ngeselin semua emang,” ucap Ino yang kini malah mengundang tawa dari teman-temannya.


Dipta yang melihat semua itu ikut tertawa sambil menggelengkan kepalanya. Kini Dipta mengerti mengapa kekasih nya itu begitu betah berteman dengan mereka. Meskipun terkenal sebagai murid nakal namun sahabat kekasih nya itu memang begitu asik. Rasa kekeluargaan mereka begitu tinggi. Mungkin ini yang disebut solidaritas tanpa batas. Bahkan saat Vanya mulai berubah dan memilih jalannya sendiri mereka masih mau menemani Vanya dan mendukung Vanya.


“Udah lah. Lanjut belajar dulu, nanti gue pesen makanan buat kalian sebagai tanda apresiasi karena kalian mau belajar,” ucap Dipta yang membuat mereka berseru senang sambil bertepuk tangan.


“Wah Dipta memang terbaik. Emang gue ajak gak pernah ngasih apresiasi begini,” ucap David dengan tatapan terharunya pada Dipta.


“Gimana mau ngasih apresiasi kalau lo minus semua?” tanya Ino dengan sinisnya. Memang diantara mereka berempat sebenar nya dalam hubungan keluarga David lah yang paling beruntung karena keluarganya masih utuh dan baik-baik saja. Eva yang harus tinggal hanya bersama kakak nya semenjak orangtuanya bercerai, karena ayahnya hanya pulang untuk absen muka. Ino yang selalu mendapatkan tekanan dari kedua orang tuanya padahal kedua orang tuanya hanya sibuk bekerja tanpa mengajari apapun untuk nya.


“Udah lah belajar-belajar,” ucap Vanya menengahi. Jika sudah membahas ibu, itu tak akan baik untuk nya, Ino, juga Eva.


Mereka akhirnya mengisi waktu mereka kali ini dengan belajar bersama dengan Dipta yang menjadi gurunya.


*