
Suara keributan kini sama sekali tidak terdengar dari kelas yang padahal tak ada guru nya itu. Mereka begitu sibuk dengan tugas yang kini diberikan oleh guru yang tak masuk. Guru mereka yang tidak masuk itu sangat killer, akhirnya kini mereka mengerjakan tugas mereka walau dengan berat hati karena takut jika tidak mengumpulkan tugas maka akan mendapatkan hukuman dan di dalamnya masuk ke kelas selama satu minggu.
“Bosen banget gue kelas udah kayak kuburan gini,” bisik Ino karena tak ingin mengganggu temannya yang lain.
Temannya yang lain sudah membentuk grup mereka masing-masing untuk mengerjakan tugas. Namun Vanya dan temannya kini bukannya mengerjakan tugas mereka melainkan mengobrol.
“Udah lah ini di kerjain aja,” ucap Eva yang masih berusaha mengerjakan tugas nya meskipun sebenarnya ia juga tak mengerti dengan soal matematika di depannya itu.
“Kayak ngerti ajak otak bego lo itu Va,” ucap Vanya dengan kekehannya mengejek temannya yang kini malah menyengir sambil menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Vanya.
“Lo lah kerjain Van, di antara kita kan yang lumayan pinter itu elo,” ucap Devan meminta Vanya agar mengerjakan tugas di depannya.
“Besok aja lah kita ngumpulin, sembunyi-sembunyi tarok di ruang guru. Nanti gue minta Dipta buat bantu ngerjain,” ucap Vanya dengan cengiran nya yang membuat temannya kini menggelengkan kepalanya walau akhirnya mereka mengacungkan jempol dengan kompak.
“Jawabannya lebih meyakinkan kalau yang ngerjain tuh Dipta,” ucap Ino dengan cengirannya. Mendengar ucapan sahabat nya itu Vanya kini hanya menatapnya dengan begitu datar. Sedangkan yang di tatap tetap menampilkan deretan gigi putih nya.
“Sialan emang lo,” kesal Vanya yang hanya membuat temannya terkekeh mendengar nya.
“Kalian udah gak ngerjain ribut lagi. Diem napa, ganggu aja,” sungut teman sekolah Vanya yang kini duduk di depan mereka. Ucapan itu dengan kompak membuat keempat murid itu menoleh ke arah sumber suara dengan kekesalannya.
“Iya,” ucap Eva kesal. Meskipun kesal namun mereka tetap menuruti nya karena mereka memang bersalah sudah begitu ramai saat yang lain tengah mengerjakan tugas mereka.
“Males banget gak sih di sini. Gak bisa rame dikit ditegur,” kesal Vanya yang dijawab dengan anggukan oleh teman-temannya.
Senyuman yang mengembang begitu sempurna kini terlihat di wajah keempat murid nakal itu seolah mereka kini saling memiliki pemikiran yang sama. Mereka saling menatap lalu tersenyum dengan cerah nya.
“Bolos aja lah,” ucap mereka serempak. Terlalu lama bersama mereka seolah saling memiliki pemikiran yang kuat secara bersamaan. Bahkan hanya dalam saling menatap saja mereka bisa untuk mengerti pikiran satu sama lain.
“Gantian aja lah keluar nya. Nanti Leo curiga, gagal aksi kita,” ucap Devan menyarankan yang membuat mereka menganggukkan kepalanya dengan kompak.
“Gue duluan ya,” ucap Vanya yang di balas dengan anggukan oleh ketiga temannya yang lain.
“Tegar, gue ke kamar mandi dulu ya,” ucap Vanya meminta izin pada ketua kelas nya itu yang kini tampak begitu serius dengan soal di depannya.
“Jangan bolos lo. Ntar gue bukan cuma kenak sama guru tapi sama pacar lo juga,” ucap Tegar dengan begitu tegas nya pada Vanya yang hanya dibalas dengan acungan jempol walau sebenar nya kini ia akan bolos.
“Ngapain nutup pintu dari dalam?” tanya laki-laki yang tak lain adalah Dipta pada Vanya yang kini malah menyengir mendengar pertanyaan kekasih nya itu. Bukannya menjawab pertanyaan Dipta ia malah menampilkan deretan giginya.
“Em itu aku….” belum juga Vanya sempat melanjutkan ucapannya kini malah pintu kelas nya terbuka.
“Ayo kantin duluan aja Van,” ucap Eva yang tak tahu kondisi mengatakan hal itu. Padahal jelas di depannya kini Dipta tengah berdiri dengan begitu tegas nya menatap tajam pada Vanya yang kini malah menampilkan deretan giginya.
“Mau ke kantin?” tanya Dipta lagi. Eva yang baru menyadari keberadaan Dipta kini mengerjapkan matanya beberapa kali.
Sadar jika kini kondisinya tidak baik untuk nya. Akhirnya Eva memilih untuk masuk lagi ke dalam kelas nya karena tak ingin untuk mendapatkan masalah kali ini. Vanya yang melihat itu sudah merutuki temannya itu yang malah meninggalkannya.
“Ngapian masih berdiri di sini? Mau ke kantin atau mau masuk?” tanya Dipta dengan tegas nya pada Vanya. Vanya mengerucutkan bibirnya kesal. Jika sudah begini bagaimana bisa ia akan bolos.
“Mau masuk kok ini, meskipun malas. Aku ada tugas tapi gak ngerti,” adu Vanya sambil bersungut kesal. Dipta yang mendengar nya hanya menggeleng.
“Ayo masuk, aku bantu ngerjain,” ucap Dipta yang membuat Vanya akhirnya hanya bisa mengangguk dengan malas. Meskipun begitu ia tetap untuk segera masuk dan membiarkan Dipta untuk membantunya mengerjakan tugas.
Saat masuk ke kelas Vanya, banyak yang kini menatapnya dengan penuh tanda tanya. Namun saat melihat Vanya yang berjalan di depannya mereka bisa menatap jika Vanya akan bolos dan ketahuan oleh Dipta.
Dipta dapat melihat teman-teman Vanya yang lain sibuk dengan tugas mereka. Namun Vanya malah sibuk untuk merencanakan membolos. Namun Dipta mengerti. Pasti jika tak ada yang mau mengajak Vanya untuk bergabung dan mengerjakan tugas bersama.
Vanya mengambil kursi kosong lalu meletakkannya di samping kursi nya. Mereka kini duduk dalam diam. Sahabat Vanya bahkan sampai saat ini masih merasa canggung dengan kehadiran Dipta di antara mereka.
“Kenapa diem? Buka buku nya. Gue yang bakalan bantu kalian ngerjain,” ucap Dipta tegas. Hingga keempat murid itu mulai membuka buku mereka yang masih bersih. Tak ada jawaban atau pun coretan di sana. Benar-benar bersih.
“Soal nya mana?” tanya Dipta yang membuat Vanya segera menyerahkan buku nya yang berisi tugas yang sudah ia catat dari papan tadi. Dipta segera melihat nya memahami soal itu.
“Ok gue kasih contoh dulu. Nanti kalian usaha buat ngerjain. Gue bakalan kasih contoh soal yang sama,” ucap Dipta tegas. Setelah nya Dipta mulai menjelaskan rumus yang kini mulai ia tulis. Keempat murid itu mulai memperhatikan dengan serius walau terkadang otak mereka tak bisa untuk mencerna dengan baik.
“Ngerti?” tanya Dipta menatap satu persatu dari keempat orang di sekitar nya itu yang kini dengan kompak menjawab nya dengan gelengan. Dipta memejamkan matanya sambil menghembuskan nafasnya kasar.
“Ok gue kasih cara lebih muda,” ucap Dipta yang akhirnya kini mulai menjelaskannya dengan pelan dan berusaha memberikan rumus yang mudah dipahami oleh mereka. Dan pada akhirnya kini mereka gagal untuk membolos.
*