
Perjalanan Dipta selama menjabat sebagai ketua osis tak terasa sudah berjalan selama satu periode. Tak menyangka rasanya jika sebentar lagi ia harus purna dari jabatannya. Tak terasa juga setelah tiga bulan kini akhirnya Vanya mulai terbiasa dengan kelas barunya. Walau awalnya Vanya merasa kurang nyaman karena tak bisa satu kelas dengan Dipta namun akhirnya kini ia sudah terbiasa.
Apalagi dengan kedatangan anak baru itu semakin membuat Vanya merasa ingin satu kelas dengan Dipta. Meskipun Vanya mempercayai Dipta, laki-laki itu tak akan selingkuh dan menyakiti Vanya. Namun tetap saja Vanya merasa takut. Apalagi dari info yang beredar banyak yang malah mendukung Dipta dengan anak baru itu. Vanya sendiri memang pernah beberapa kali melihat anak baru bernama Aretha itu, tetapi tidak ada interaksi apa-apa di antara mereka. Hanya sebatas tidak sengaja berpapasan.
“Mikirin apa?” Suara yang kini mengganggu lamunan Vanya itu membuat Vanya kini sontak menoleh ke arah sumber suara. Hingga senyumannya kini mengembang melihat Dipta yang kini duduk di samping nya. Kebetulan saat ini Vanya tengah duduk di pinggir lapangan sambil memperhatikan banyak nya orang yang berlalu lalang sedari tadi.
“Gak ada sih. Cuma ngelihatin orang udah kek setrikaan aja,” ucap Vanya dengan senyumannya pada Dipta yang kini terkekeh mendengar ucapan gadisnya itu.
“Aku bawa minum, mau?” tawar Dipta pada Vanya sambil memberikan botol mineral yang di bawanya. Melihat itu senyuman Vanya mengambang. Vanya segera mengambilnya.
“Makasih,” ucap Vanya yang Dipta balas dengan anggukan.
“Udah kelas pemungutan suara nya?” tanya Vanya pada Dipta yang kini menganggukkan kepalanya.
Hari ini memang adalah hari pemilih ketua dan wakil osis yang baru. Tak terasa memang akhirnya Dipra sudah akan purna.
“Udah, tapi kayaknya nanti aku gak bisa pulang bareng kamu. Aku masih mau nyiapin acara buat purna,” ucap Dipta dengan wajah penuh rasa bersalah nya pada Vanya yang kini malah tersenyum dengan begitu menenangkan sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Dipta.
“Gak papa. Kamu selesai aja tugas kamu. Ini tugas terakhir kamu sebelum kamu purna, jadi lakukan sebaik mungkin,” ucap Vanya pada Dipta yang di jawab dengan anggukan oleh Dipta.
“Makasih ya Van udah selalu ngertiin aku. Makasih udah selalu ada selama masa jabatan aku sebagai ketua osis. Makasih ya, udah selalu bisa ngertiin aku dan support aku dalam masa jabatan aku,” ucap Dipta dengan dengan tatapan seharusnya pada Vanya. Ia memang begitu berterima kasih pada Vanya akan apa yang gadis itu lakukan untuknya.
Meskipun banyak yang mengatakan jika Vanya tak pantas untuk Dipta namun bagi Dipta, Vanya adalah orang yang selalu menjadi support sistem nya saat ia sedang merasa lelah dalam urusan osis nya, dan merasa butuh rumah.
“Gak perlu bilang makasih Dip, udah tugas aku buat selalu ada dan selalu support kamu. Harusnya aku yang bilang makasih karena kamu masih mau aja maafin semua kesalahan aku,” ucap Vanya pada Dipta yang kini menggelengkan kepalanya.
“Kita sekarang harus saling mengerti satu sama lain aja,” ucap Dipta pada Vanya yang kini membuat Vanya menjawabnya dengan anggukan.
“Waktu istirahat aku udah abis. Aku balik dulu ya ke ruang osis. Nanti pulang nya hati-hati. Kalau ada apa-apa, langsung hubungin aku,” ucap Dipta dengan tegas Vanya yang kini menjawabnya dengan anggukan.
Dipta mengelus puncak kepala Vanya sayang setelah nya ia segera pergi dari sana. Vanya hanya tersenyum. Setelah nya Vanya hanya diam saja melihat kepergian Dipta.
*
Karena Dipta yang kini masih sibuk dengan mempersiapkan purna nya dan pemilihan ketos waketos yang baru, kini Vanya pulang sendiri. Gadis tersebut melajukan motornya dengan kecepatan sedang membelah jalanan. Teman-temannya pun hari ini memilih untuk ke markas.
Mereka sudah mengajak Vanya namun Vanya tidak ingin ikut. Jadi kini ia pulang sendiri. Dengan kecepatan sedang, gadis itu membelah jalan sore yang cukup padat, mengingat kini jam pulang sekolah juga pulang kerja.
Saat melewati jalan gang yang tak terlalu ramai, tiba-tiba saja motornya terasa aneh. Vanya mengerutkan kening nya lalu ia mulai menghentikan laju motornya dan segera turun dari motornya. Hingga helaan nafas nya terdengar.
“Bocor lagi,” dengus Vanya dengan kekesalannya sambil membuka helm nya.
“Gak tau kondisi banget lo mau bocor. Lo tau gue pulang sendiri, mana udah sore,” ucap Vanya yang kini malah mengajak berbicara motornya itu sambil berjongkok di depan motornya sambil menatap ban motornya itu dengan tatapan kesal nya.
Vanya mengambil ponselnya untuk menghubungi Dipta. Kini ia berharap laki-laki itu datang dan membantunya. Namun setelah beberapa panggilan, Dipta malah tak juga kunjung menjawab telponnya. Vanya terus saja menurut kesal karena tak ada jawaban dari Dipta.
Anak-anak baik
Vanya: woy pengumuman bagi warga grup. dimohon bantuannya untuk mengevakuasi gue karena ban motor gue bocor.
Vanya: paduka Dipta tidak dapat dihubungi jadi gue butuh bantuan kalian.
Vanya: sekian info ini gue sampaikan
Eva: siapa yang mau? Gue engga
Ino: Gue Van. Nggak mau maksudnya
David: Bentar Van. Pikir-pikir dulu
Eva: nah gak ada yang mau, nginep aja deh lo tunggu sampai Dipta datang
David: Gue engga juga deh Van
Vanya: sialan kalian semua
Ethan: Gue Otw
Setelah membaca pesan dari Ethan kini Vanya memilih untuk mengirim pesan pada Dipta untuk memberikan kabar pada kekasih nya itu jika kini ban motornya bocor dan Ethan yang akan menjemput nya karena temannya yang lain tiba-tiba saja berubah jadi teman laknat yang tidak bisa diharapkan bantuannya.
Tak lama Ethan sudah datang. Laki-laki itu segera turun dari motornya dan berjalan ke arah Vanya yang kini tengah menendang ban nya dengan kesal.
“Ayo balik. Nanti motornya di ambil sama orang bengkel,” ucap Ethan pada Vanya yang kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Ethan.
Vanya dan Ethan segera berjalan ke arah motor Ethan dan segera naik ke atas motor laki-laki itu.
“Mau makan dulu gak Van?” tanya Ethan pada Vanya saat mereka kini sudah melaju membelah jalanan.
“Nggak usah deh, gak laper juga gue,” ucap Vanya yang sebenar nya kini sudah sangat lapar namun ia berusaha menahannya agar ia tidak semakin merepotkan Ethan. Ethan sudah begitu baik mau untuk menjemput nya.
“Beneran?” tanya Ethan.
“Iya beneran,” ucap Vanya. Namun tak lama suara perut nya malah berbunyi. Mendengar itu Vanya memejamkan matanya berusaha menahan kekesalan jua rasa malu nya. Ethan yang mendengar nya kini sudah tertawa.
“Gak laper ya? Udah lama kenal juga, gak usah sungkan,” ucap Ethan pada Vanya. Kini Vanya sudah tidak bisa lagi menolak dan akhirnya ia hanya menjawab nya dengan anggukan.
Akhirnya sebelum mengantar Vanya pulang mereka memutuskan untuk makan terlebih dulu.
*