Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Paduka Dipta



"Nggak deh, Va. Ini Paduka Dipta mau dateng kesini. Bisa berabe gue kalau pas dia kesini, gue nggak ada. Males diintrogasi."


"Iya, Va. Next time aja dah gampang."


"Oke, have fun ya."


Vanya menutup panggilan telepon dari Eva yang mengajaknya ke markas. Ya sekedar ngumpul-ngumpul biasa, sih. Apalagi, mengingat belakangan ini Vanya sudah mau diajak kumpul.


Namun, kali ini Vanya memilih tidak ikut. Dipta sudah bilang sedang dalam perjalanan ke rumahnya untuk membawakannya makan malam. Hari ini, mereka akan makan malam bersama di rumah Vanya. Daripada ia kena omelan cowok itu lagi entah untuk ke-berapa kali, lebih baik Vanya menurut saja.


Tidak selang lama sejak Vanya menutup panggilan telepon, terdengar suara motor yang sudah Vanya hapal betul. Ketukan pintu juga terdengar diiringi dengan pesan chat yang masuk.


Dipta (pacar) : Aku udah di depan.


Vanya : okee, aku buka pintunya ya pacarr


Setelahnya Vanya segera berjalan dan membuka pintu. Begitu pintu terbuka, ia melihat Dipta dengan senyuman manisnya dan tangan yang menenteng dua paper bag berukuran sedang.


"Makanannya sudah diantar, ya, Kak. Tolong bintang limanya ya," sambut Dipta berlagak seperti layanan driver ojek online.


Vanya tertawa. "Bintang sepuluh kalau buat masnya juga saya kasih kok. Ayo masuk dulu, makan bareng sekalian."


Dipta ikut tertawa bersama Vanya. "Ayo makan," ajaknya.


Keduanya masuk dan duduk di ruang tengah.


"Kamu bawa apa aja, Dip? Kok sampai dua-duaan gitu tempatnya?" tanya Vanya.


Dipta menaruh paper bag itu di meja. Ia mulai membuka isi dari paper bag berwarna hijau. "Ini isinya makanan. Nih, aku bawain martabak telur buat kamu. Ada nasi goreng juga buat kita makan bareng," jelasnya sembari mengeluarkan isi paper bag itu.


"Wah, thank you, Dip. Bentar, minumnya aku ambil dulu, ya," ucap Vanya lalu pergi untuk mengambil minuman di dapur. Kemudian gadis itu kembali dengan tangan yang berisi nampan. Terdapat dua gelas dan satu teko berisi sirup jeruk di sana.


"Nih punya kamu, telurnya ceplok." Dipta menyerahkan sebungkus nasi goreng yang sudah dibuka. Nasi goreng dengan telur ceplok adalah kesukaan Vanya. Sedangkan dirinya lebih suka nasi goreng dengan telur dadar.


"Yeay, thank you, Dipta. Ini minumnya ya. Udah di gelas kesukaan kamu alias gelas biru doraemon," ucap Vanya yang mendapat senyuman dan ucapan terima kasih dari Dipta.


Iya, Dipta sangat menyukai karakter doraemon. Waktu pertama kali main di rumah Vanya dan melihat gelas itu, Dipta langsung suka. Sejak itu, setiap Dipta main ke rumah Vanya, pasti gelas doraemon itu yang selalu disuguhkan untuk Dipta.


"Terus yang itu apa, Dip?" tanya Vanya menunjuk paper bag yang belum dibuka.


"Kamu buka sendiri aja," suruh Dipta.


Menurut, Vanya segera membuka paper bag itu. Agak terkejut karena tidak ada angin, tidak ada hujan, Dipta memberinya rok abu-abu??? Masalahnya, ini terlihat agak kebesaran di badannya.


"Aku masih punya rok loh, Dip????" bingung Vanya.


"Kamu udah berapa kali, sih, kena razia gara-gara rok kekecilan. Besok pakai itu. Kalau nggak dipakai, aku marah. Itu yang beliin bunda lho," jawab Dipta dengan sedikit mengancam.


Vanya cemberut. Tidak bisa membayangkan dirinya dengan balutan rok itu.


"Aku kecilin dulu deh, habis itu aku pakai," ujar Vanya.


Dipta menggeleng. "Nggak ya. Sama aja dong kalau gitu. Itu tuh pas, Vanya. Emang rok kamu yang biasanya aja itu yang enggak pas, kekecilan. Nggak usah dipakai lagi."


Meski kesal, pada akhirnya Vanya mengangguk saja. Tidak enak juga soalnya kata Dipta, rok itu dibelikan bundanya Dipta. Jadi, Vanya harus menghargai itu.


***


Vanya berdecak. "Lo nggak usah ngomong apa-apa. Diem!" sungutnya.


Bukannya diam, cowok itu justru tertawa kencang. "Lo beda banget njir. Kayak cewek baik-baik lo. Serius ini seragam siapa yang lo rampok?"


"Pala lo gue rampok! Ini dikasih Dipta ih! Nggak enak gue kalau nggak dipakai, mana katanya yang beliin bundanya. Mama gue boro-boro merhatiin seragam gue, gue dateng ke sekolah atau enggak aja dia nggak tau," balas Vanya.


"Lo bener-bener anak pacar, ya. Ini Dipta malah kayak bapak lo sih ketimbang pacar lo," ejek Ino.


"Udah anjir lo bisa diem nggak?!" kesal Vanya.


Begitu memasuki koridor sekolah, Vanya merasa banyak pasang mata yang memandangnya. Tentu koridor sudah ramai. Seharusnya jika ingin tidak menjadi pusat keramaian, Vanya harus berangkat lebih pagi.


"Lah itu Vanya kah?"


"Eh kayak ada yang beda ya dari Vanya."


"Anjir pakai rok siapa itu dia."


"Padahal kalau pakai rok yang bener juga tetep cakep lho."


"Kayak culun sih."


Vanya mencoba mengontrol emosinya untuk tidak meledak di koridor. Walau rasanya ia sudah ingin menyemprot mereka. Sebagai gantinya, Ino yang meladeni mereka dengan memberikan tatapan tajam kepada orang-orang yang mengejek Vanya. Meskipun keduanya sering tidak akur layaknya tom and jerry, tapi Ino tetap membela sahabatnya itu.


"Lah, Van, rok mini lo kemana? Dipta udah nggak mempan ya lo godain pakai rok mini lo itu makanya lo ganti rok?" cibiran salah seorang perempuan itu berhasil membuat langkah Vanya berhenti.


"Mulut lo kalau ngomong bisa sopan dikit nggak?" sahut Ino yang ternyata sudah menghampiri cewek yang bername tag Dira itu.


"Lo nggak usah bawa-bawa kata sopan deh. Gak pantes," balas Dira. "Lagian gue nggak ada urusan sama lo," sambungnya.


"Lo ngomong nggak sopan ke Vanya sama aja lo ganggu gue. Dia sahabat gue!" bela Ino.


"Halah, dikasih apa sih sama dia? Jangan-jangan lo juga digodain dia ya makanya belain dia segininya." Dira semakin menjadi.


"Wah mulut lo anjir juga ya," geram Ino.


Oke, Vanya tidak bisa berdiam diri. Ia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak seperti ini.


"Gue nggak perlu pakai rok mini buat dapetin Dipta. Lo ribet bener deh ngurusin rok orang, nggak ada kerjaan. Diem aja dah," ujar Vanya.


"Halah, penggoda lo. Udah muak kan Dipta sama kelakuan lo, makanya lo mau pakai rok mini lah, seragam press body lah, udah nggak bikin dia selera lagi," cibir Dira.


Tanpa basa-basi, Vanya melayangkan tamparan ke pipi Dira. "Gue udah bilang baik-baik, lo nyolot. Gue males banget ya, harus ngomong banyak-banyak buat balesin omongan lo yang nggak bermutu. Tapi gue tegasin aja deh, gue nggak pernah goda Dipta kayak yang lo bilang itu. Gue pakai rok sesuai aturan malah dijulidin, aneh lo."


Vanya mengedarkan pandangan ke orang-orang yang ada di sekitar. Juga orang-orang yang tadi sempat membicarakannya tentang rok. "Lo pada juga aneh. Gue pakai rok yang lama dibilang centil, nggak sopan, nggak tau aturan. Gue pakai rok normal dijulidin. Baik-baik deh mulut lo pada."


Dira tidak terima ditampar, tapi melihat kilatan marah di mata Vanya serta tatapan tajam dari Ino, membuatnya ciut juga.


"Udah ayo, Van, kita masuk kelas aja. Awas nanti ada yang playing victim bilang lo nyari keributan, padahal mereka yang cari gara-gara duluan," sindir Ino.


Sering juga seperti itu. Orang-orang menyenggol Vanya, giliran disenggol balik, malah playing victim. Vanya sampai muak.


Akhirnya, Vanya memutuskan melanjutkan perjalanannya menuju kelas. Dengan kepala lurus dan tatapan tajam. Ia tidak akan membiarkan siapapun menginjak-injak harga dirinya.


*