
“Kamu gak capek Van, kita setiap hari berantem cuma karena masalah ini?” tanya Dipta dengan tatapan datar nya pada Vanya yang kini malah terkekeh mendengar ucapan kekasih nya itu.
“Yang dateng-dateng ngajak ribut siapa? Aku udah gak peduli lagi Dip kalau kamu deket sama Aretha. Aku udah cukup negur kamu,” ucap Vanya dengan kekesalannya.
Tadi saat Vanya tengah bermain basket bersama dengan Ethan setelah mereka olah raga, tiba-tiba saja Dipta datang dan langsung mengajak Vanya pergi dari sana. Setelah sampai di koridor yang cukup sepi kini mereka malah kembali bertengkar dan permasalahannya kini tetap saja tentang Aretha yang selalu menjadi objek dari permasalahan mereka.
“Kenapa malah kamu yang marah sama aku dan bawa-bawa Aretha?” tanya Dipta dengan tatapan tak suka pada Vanya. Vanya yang kini melihat tatapan Dipta pada nya justru tertawa.
“Lah emang yang jadi permasalahan kita belakangan ini, ya dia kan Dip? Yang jadi objek buat kita berantem ya Aretha,” ucap Vanya dengan tawa hambar nya.
“Dan Ethan. Selama ini aku diem aja kamu sama Ethan bukan karena aku gak cemburu atau aku gak peduli Van. Tapi aku mau ngasih kamu kebebasan buat berteman sama siapa aja,” ucap Dipta pada Vanya dengan tatapan serius nya yang kini malah membuat Vanya terkekeh mendengar ucapan kekasih nya itu. Yang mulanya hanya Aretha, kini nama Ethan turut hadir di dalam perdebatan mereka.
“Gak perlu bahas tentang kebebasan Dip. Sebenarnya yang kau mau itu cuma biar aku diem juga. Kamu diem liat aku sama Ethan karena kamu mau aku juga diem liat kamu sama Aretha. Biar kamu punya senjata buat ngelawan aku,” ucap Vanya pada Dipta yang kini membuat Dipta menatap tajam mendengar ucapan Vanya.
“Kalau kamu emang ngasih aku kebebasan udah dari dulu kamu gak ngelarang aku buat main sama siapa, termasuk anak Aderfia yang lain,” ucap Vanya dengan tegas nya pada Dipta.
“Karena mereka memang gak semuanya baik buat kamu Van. Sedangkan sama Ethan, aku percaya dia gak bakalan bawa kamu ke jalan yang gak bener karena dia suka sama kamu. Dan aku juga percaya kalau kamu gak bakalan suka balik ke Ethan. Aku ngasih kamu kepercayaan yang gak kamu kasih ke aku,” ucap Dipta yang kini malah berhasil membuat Vanya tertawa mendengar ucapan kekasih nya itu.
“Kalau kamu percaya sama Ethan gak mungkin kamu jadiin Ethan boomerang buat aku kayak gini Dip. Udah lah Dip aku capek. Aku cuma mau kamu ngerti aku aja susah banget ya buat kamu?” tanya Vanya dengan tatapan sendu nya pada Dipta.
“Kita saling intropeksi dulu deh Dip,” ucap Vanya yang setelah nya segera pergi dari sana. Dipta yang melihat kepergian Vanya kini hanya bisa melihatnya dengan tatapan kesal juga lelah nya.
*
Setelah pertengkaran mereka. Bukannya saling berbicara dengan baik dan intropeksi diri kini malah terjadi perang dingin di antara mereka. Tak ada yang mau mengalah. Semua bertahan pada ego mereka masing-masing.
Vanya yang biasa nya lebih memilih mengalah dan meminta maaf pada Dipta pun kini memilih untuk mengabaikannya. Begitu pun dengan Dipta yang memilih untuk mendiam kan Vanya.
Di kantin kini keadaan begitu ramai. Banyak yang membicarakan tentang hubungan Vanya juga Dipta. Bahkan banyak yang berspekulasi jika Dipta dan Vanya sudah putus.
Di kantin Vanya malah bersama dengan Ethan karena sahabat nya yang lain malah memilih untuk bolos ke luar sekolah. Sedangkan Dipta kini malah bersama dengan Aretha juga kedua sahabat nya yaitu Rio dan Dino.
Melihat pemandangan itu tentu saja huru hara tentang hubungan Vanya juga Dipta semakin memanas.
“Udah putus beneran kali ya mereka?”
“Tapi kali ini gue lebih dukung selingkuhan sih. Selingkuhannya modelan Aretha, yang emang lebih cocok sama Dipta.”
“Pantes aja sih diselingkuhin emang gak ada cocok nya juga sama Dipta.”
“Tapi gue rada gak rela kalo Ethan yang malah jadi sama si Vanya. Meskipun Ethan nakal tapi dia gak senakal Vanya.”
“Lo gak papa Van?” tanya Ethan pada Vanya yang kini tetap memaksa makananya dengan santai. Ethan kini menatap Vanya dengan tatapan khawatirnya. Ia tak mengerti bagaimana dengan pemikiran semua murid yang malah menyalahkan Vanya, padahal jelas kini Vanya lah yang menjadi korban. Baru kali ini Ethan melihat pelakor di dukung dan korban yang menjadi tersangka yang patut di hina dan di salahkan.
“Tenang aja, udah biasa gue begini,” ucap Vanya pada Ethan dengan senyuman menenangkannya. Memangnya kapan Vanya mendapatkan pujian? Bahkan saat ia sudah berubah pun yang ia dapatkan hanya lah sebuah hinaan.
“Nanti pulang sekolah mau main? Gue ajak lo ke tempat bagus,” ucap Ethan yang kini membuat Vanya mengerutkan kening nya.
“Harus bagus ya, awas aja kagak ada bagus-bagus nya lo yang gue jadiin karya seni kayak di drama connect,” ucap Vanya dengan ancamannya pada Ethan yang kini terkekeh mendengar ucapan Vanya.
“Galak juga ya lo,” ucap Ethan pada Vanya yang membuat Vanya kini mengepalkan tangannya pada Ethan yang sontak membuat laki-laki itu tertawa mendengar nya.
Di sisi lain kini Dipta terus memperhatikan Vanya yang tengah bercanda bersama dengan Dipta. Sakit? Jelas, ia jelas cemburu melihat sikap Vanya yang kini semakin dekat dengan Ethan. Sedangkan ia kini tak bisa untuk di dekat dengan Vanya.
“Cemburu Dip?” tanya Aretha pada Dipta saat melihat Dipta yang kini malah menatap ke arah Vanya. Dipta yang mendengar ucapan Aretha sontak menoleh ke arah Aretha sambil menaikkan sebelah alisnya.
Bukannya menjawab pertanyaan Aretha kini Dipta malah tertawa mendengar ucapan gadis di samping nya itu.
“Biasanya juga gitu sama temannya yang lain, udah biarin aja,” ucap Dipta pada Aretha. Setelah nya Dipta memilih untuk memakan makanannya dengan lahap dan mengabaikan pemandangan yang kini begitu menyesakkan untuk nya itu.
“Kalau emang masih sayang itu dikejar Dip. Diperbaiki hubungannya bukannya malah menjauh kayak gini,” saran Rio pada Dipta yang kini membuat Dipta hanya melihat ke arah Rio sekilas sebelum akhirnya ia mengabaikan ucapan Rio.
Dengan adanya Aretha di sana ia tak ingin untuk membicarakan tentang hubungannya dengan Vanya. Apa lagi akar dari masalah nya adalah karena gadis tersebut.
"Gue mau balik ke kelas duluan, lo pada ikutan gak?" tanya Dipta pada teman-temannya itu. Ia sudah tak ingin lagi untuk terus berada di sana. Melihat semua itu hanya semakin membuat nya terluka saja.
“Balik ke kelas gak Tha? Ayo bareng,” ajak Dipta pada Aretha setelah ia selesai dengan makananya. Aretha yang mendengar ajakan Dipta menaikkan alisnya kaget.
“Ayo deh,” respon Aretha akhirnya yang kini memilih untuk segera untuk segera menuju ke arah kelas nya bersama dengan Dipta yang kini berjalan bersisian dengannya.
“Dip ini kita gak papa terlalu dekat? Gue gak enak sama Vanya, apa lagi hubungan kalian sekarang lagi renggang. Pasti karena gue ya?” tanya Aretha pada Dipta yang kini membuat Dipta menoleh ke arah Aretha sambil tersenyum mendengar ucapan gadis tersebut.
“Gak ada lah lo tenang aja gak perlu dipikirin,” ucap Dipta pada Aretha.
Meskipun Dipta tak mengatakannya pada Aretha tapi sebenarnya Aretha tahu jika kini permasalahan dari hubungan Dipta dan Vanya adalah dirinya.
Tentu saja Aretha merasa tidak enak hati pada Vanya. Namun, ia tidak bisa menolak fakta bahwa dirinya juga merasakan nyaman ketika bersama Dipta. Siapa yang tak akan nyaman bersama dengan laki-laki seperti Dipta? Bagianya Vanya begitu beruntung memiliki kekasih seperti Dipta.
Jika bisa ia egois, Aretha ingin agar Dipta terus bersama nya dan menjadi miliknya. Namun ia juga tak ingin menjadi perebut dari kekasih orang. Meskipun saat ini ia sudah dilabeli demikian.
*