
Hubungan Vanya juga Dipta makin hari semakin tidak sehat. Hubungan mereka kini hanya tentang pertengkaran dan saling menyalahkan saja. Dipta pun kini sudah terkesan tak peduli dengan apa yang Vanya lakukan.
Vanya hanya diam saja melihat tingkah Dipta yang kini menurut nya malah semakin kelewatan. Meskipun Vanya sadar ini salah nya yang melanggar ucapan Dipta untuk tidak ikut food gathering. Dan akhirnya membuat Dipta marah hingga kini ia mengabaikan Vanya.
Namun harusnya Dipta sadar jika apa yang Vanya lakukan juga karena Dipta yang belakangan ini begitu berubah menurut Vanya.
Vanya tahu Dipta sibuk mengurung project yearbook nya. Namun kedekatannya dengan Aretha masih membuat Vanya kesal. Dipta yang sudah Vanya tegur seolah tak ingin mendengar ucapan Vanya dan tetap berlindung di balik kata Partner.
Memang nya siapa yang tidak lelah jika begini. Vanya yang ingin menghibur diri karena sikap Dipta sendiri kini justru semua kesalahan di limpah kan pada nya. Vanya sebenar nya sudah lelah dengan hubungan mereka yang semakin lama semakin hancur ini.
Namun ia juga tak bisa untuk mengakhiri hubungan mereka. Baginya Dipta adalah rumah, keluarga harmonis yang dianggap rumah tak pernah ia dapat dari keluarganya. Justru keluarga Dipta lah yang memberikan semua itu. Itu lah salah satu alasan bagi Vanya untuk tidak bisa melepaskan Dipta.
Mungkin ungkapan, 'bersamamu memang sakit tapi tidak bersamamu lebih sakit' itu lah yang kini pantas untuk Vanya.
“HUAA,” suara teriakan di samping Vanya yang sengaja mengaget kan Vanya itu membuat Vanya kini segera menoleh ke arah samping nya hingga matanya kini menatap tajam pada laki-laki itu kini malah tertawa melihat Vanya yang terkejut.
“Ngagetin aja lo,” kesal Vanya pada laki-laki yang tak lain adalah Ethan. Ethan yang mendengar ucapan Vanya kini malah semakin meledakkan tawanya.
“Lagian lo ngalamun aja, ngelamunin apaan sih?” tanya Ethan yang kini duduk di samping Vanya sambil mengerutkan kening nya.
Kini Vanya tengah berada di taman belakang. Tempat yang biasa ia datangi untuk menenangkan dirinya. Daripada bersama dengan sahabat nya yang lain di kantin kini Vanya malah lebih memilih untuk berada di taman.
“Gue lagi mikirin Dipta, hubungan gue makin kesini makin gak sehat aja,” ucap Vanya dengan senyuman seinisnya saat ia kembali mengingat tentang hubungannya dengan kekasih nya itu yang kini sudah tidak bisa dikatakan baik-baik saja.
“Gue bingung mau ngasih nasihat apa ke lo. Tapi menurut gue gak ada masalah yang gak bisa di bicarakan dengan baik. Jadi mending lo bicarain dulu sama Dipta, cari jalan tengah nya. Terlalu larut dalam masalah yang sama tanpa ada penyelesaian sebenarnya juga gak bagus buat perasaan lo sendiri,” saran Ethan sambil melihat ke arah Vanya yang kini hanya bisa menghembuskan nafas kasar mendengar ucapan temannya itu.
Vanya sudah pernah berbicara dengan Dipta nyatanya Dipta sama sekali tidak berubah, laki-laki itu hanya ingin Vanya berubah namun saat Vanya sudah berubah ia sendiri yang seolah mengkhianati Vanya dan mengabaikan Vanya.
Apa Dipta pikir Vanya terlalu tangguh hingga ia tak memiliki perasaan? Dipta hanya pada jalannya sendiri tanpa mau melihat ke arah lain.
“Gue udah pernah negur dia tapi dia gak mau berubah kan? Gue gak mau ngemis ngemis sama cowok,” ucap Vanya dengan helaan nafas kasar nya.
“Coba aja lagi buat bicara, bukan masalah ngemis cuma ini kan lo disini lagi berusaha menasehati dan mengarahkan hubungan kalian yang nano nano gini,” ucap Ethan.
Vanya terdiam sejenak mendengar ucapan Ethan. Vanya pun kini rasanya sudah bingung juga lelah. Namun ia juga tak ingin kehilangan Dipta.
“Tadi gue liat Dipta lagi di kantin sama Aretha kalau lo mau cari pacar lo itu,” ucap Ethan pada Vanya yang membuat Vanya kini menoleh ke arah Ethan dengan tatapan terkejut nya.
“Gue liat sih gitu. Mereka memang belakangan ini makin deket gue liat. Tapi memang mungkin lagi sibuk-sibuk nya buat yearbook ya. Kan bentar lagi tuh fotonya,” ucap Ethan yang masih berusaha untuk tetap bersikap netral.
Meskipun ia menyukai Vanya. Namun Ethan juga tidak ingin untuk mengambil kesempatan ini dengan menjelekkan Dipta. Ia hanya ingin menjadi penengah dan membantu Vanya. Karena menurut Ethan, mencintai bukan hanya tentang memiliki namun juga tentang bahagia.
Jika bahagia Vanya ada pada Dipta maka Ethan pun akan mendukung nya. Ia hanya ingin Vanya tahu jika ada Ethan orang yang akan selalu mendukung Vanya.
“Gue samperin dulu deh,” ucap Vanya yang Ethan balas dengan senyuman juga anggukan.
Vanya dengan langkah tegas nya kini berjalan ke arah kantin untuk menemui kekasih nya itu. Saat sampai di kantin, benar saja kini di sana terlihat kekasih nya yang terlihat seperti tengah bercanda bersama dengan Aretha.
Vanya menarik nafas nya dalam berusaha menahan dirinya agar tidak meledak di depan sana. Setelah berhasil menenangkan dirinya Vanya kini segera menuju ke arah kekasih nya itu.
“Dipta,” panggil Vanya yang kini sontak membuat Dipta kini menghentikan tawanya dan segera menoleh ke arah Vanya.
“Kenapa Van?” tanya Dipta dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Aku mau bicara sama kamu,” uap Vanya yang membuat Dipta menganggukkan kepalanya.
Setelah nya ia segera menuju ke luar dari kantin bersama dengan Dipta. Mereka memilih untuk menuju ke arah koridor yang sepi dan jarang dilalui oleh murid. Agar tidak menarik penonton.
“Mau bicara apa?” tanya Dipta saat kini mereka sudah berdiri saling berhadapan.
“Aku capek Dip, sama hubungan kita yang kayak gini. Aku udah mau berubah buat kamu, tapi kenapa hanya dengan satu permintaan aku aja buat kamu gak terlalu deket sama Aretha sulit banget buat kamu?” tanya Vanya dengan tatapan lelah nya pada Dipta yang kin memejamkan matanya mendengar ucapan Vanya.
“Kamu tau kan aku sama dia cuma partner,” ucap Dipta pada Vanya yang kini malah membuat Vanya terkekeh mendengar nya.
“Aku capek dengar alasan itu Dip. Partner kamu bukan cuma dia kan? Tapi aku liat kamu deket nya cuma sama dia, belakangan ini kamu bahkan lebih sering sama dia daripada sama aku yang pacar kamu sendiri,” ucap Vanya dengan senyuman sinisnya pada Dipta.
“Foto buat yearbook udah deket Van. Aku minta kamu percaya sama aku Van. Aku cuma sayang sama kamu, kamu aja udah cukup buat aku,” ucap Dipta pada Vanya yang membuat Vanya kini tersenyum dengan sinis mendengar nya.
“Aku bosen denger kamu bilang kayak gini terus, kamu gak pernah ambil jalan tengah yang bener untuk masalah ini,” ucap Vanya yang setelah nya memilih untuk pergi dari sana. Vanya lelah dengan pertengkaran mereka jadi lebih baik kini ia kini menenangkan dirinya daripada harus bertengkar dengan pembicaraan yang itu itu saja dan jawaban yang seperti itu saja.
Dipta yang melihat itu hanya bisa untuk menghembuskan nafas nya kasar dan mengusap wajah nya dengan gusar.
*