Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Kalakuan Vanya



Dipta baru saja kembali dari ruang osis setelah mengambil barang nya yang tertinggal disana. Saat sampai di kelas laki-laki itu langsung menuju ke arah meja nya. Memilih untuk menyalin catatan yang belum sempat ia kerjakan.


Dipta memang termasuk murid yang pintar dan rajin. Sesuai dengan jabatannya sebagai ketua osis. Dia bukanlah anak nakal dan malas. Laki-laki cukup berprestasi. Ini lah salah satu alasan mengapa banyak yang mengatakan jika laki-laki itu tak cocok dengan Vanya. Namun Dipta jelas tidak memperdulikan hal tersebut. Karena menurut nya hubungan tentang harus sama. Namun juga penyeimbang.


“Abis nyamperin Vanya, Dip?” tanya Dino dengan kerutan di kening nya saat ia baru melihat Dipta di kelas.


“Abis dari ruang osis,” jawab Dipta singkat dan melanjutkan apa yang kini tengah dikerjakan oleh laki-laki tersebut. Dino yang mendengar nya hanya menganggukkan kepalanya lalu mulai fokus kembali pada ponsel di depannya.


“Masalah kemarin masih belum kelar?” tanya Dion yang kini kembali membuka pembicaraan saat tak ada pembicaraan lagi di antara mereka.


“Emang dasar nya si Vanya aja gak mau bersyukur punya pacar kayak lo Dip,” ucap Rio yang kali ini ikut menimpali. Dipta yang mendengar itu hanya memutar bola matanya malas mendengar ucapan dari sahabat nya itu.


“Lo bisa diem gak? Udah lah biarin aja. Capek gue bahas itu mulu,” ucap Dipta dengan kekesalannya. Kini ia lebih memilih untuk fokus kembali dengan catatan di depannya. Dino yang mendengar ucapan sahabat nya yang sudah terlihat kesal itu segera menoleh ke arah Rio dengan menggelengkan kepalanya menandakan agar Rio tak lagi memancing pertengkaran.


“Dip. Pacar lo lagi dihukum tuh. Demen banget dah telat, udah lah sepatu beda sendiri,” ucap Riyan yang baru saja tiba karena ia baru saja datang dari menertibkan murid yang terlambat karena hari ini jadwal nya untuk jaga gerbang.


Dipta yang mendengar ucapan temanya itu mengerutkan keningnya lalu setelahnya Dipta segera menuju ke arah luar kelas untuk melihat dari atas sana., Vanya yang kini tengah dihukum lari keliling lapangan dengan menggunakan sepatu boots yang pernah ia berikan pada gadis itu.


Dipta yang melihat nya bahkan hanya bisa memejamkan matanya berusaha menahan amarah nya. Tidak, untuk kali ini ia akan menahannya dan membiarkan gadis itu melakukan apa yang ia mau sesuai dengan ucapan gadis itu.


Ia ingin melihat apa saat Dipta membiarkannya melakukan apapun yang Vanya mau. Gadis itu akan merasa ada yang hilang? Dan lagi jika ia memarahi gadis itu ia takut jika ia tak bisa mengontrol dirinya lagi.


Dipta akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kelas nya dan memilih untuk mengabaikan Vanya. Kedua teman Dipta yang melihat Dipta kembali masuk ke kelas dan bukannya menghampiri Vanya seperti biasanya kini dibuat kebingungan.


“Gak lo samperin?” tanya Dino pada Dipta yang hanya menjawabnya dengan gelengan.


“Biarin aja,” singkat dan begitu tegas. Dino yang mendengar nya hanya menganggukkan kepalanya. Bersamaan dengan itu guru yang mengajar di kelas mereka akhirnya datang.


Dipta berusaha untuk fokus dengan pelajaran di depannya meskipun kini pikirannya terus saja tertuju pada Vanya. Beberapa kali bahkan laki-laki itu menghela nafas nya kasar. Temannya yang mendengar nya mengerutkan kening nya namun akhirnya mereka memilih untuk mengabaikannya saja dan fokus dengan pembelajaran di depan mereka.


*


Vanya terus saja berdecak. Coretan di buku nya yang tengah ia buat bahkan membentuk gambar abstrak. Pikirannya kini terus saja tertuju pada laki-laki yang dari semalam belum ada menghubunginya. Bahkan pagi ini laki-;laki itu sama sekali tidak datang untuk nya.


“Arg sial,” pekik Vanya dengan kekesalannya sambil mengacak rambut nya.


Vanya yang melihat dan menyadari posisinya saat itu malah menampilkan senyuman lebar nya dengan menatap ke arah sekeliling dengan bodoh nya.


“Lavanya. Tutup pintu dari luar sekarang juga,” tegas guru perempuan dengan kacamata bulat nya itu pada Vanya dengan begitu tegas nya.


“Tapi pintu nya udah ketutup itu bu,” ucap Vanya saat melihat pintu kelas nya yang sudah tertutup dengan rapat.


“Ya kalau gitu kamu buka dulu terus kamu tutup dari luar,” ucap nya dengan tegas, Vanya menghembuskan nafasnya lalu segera mengikuti apa yang diminta oleh guru nya tersebut.


Saat ia sudah menutup pintu nya, Vanya dibuat kebingungan karena kini ia berada di luar dan pintu sudah tertutup.


“Lah ini gue di usir gitu?” tanya Vanya dengan tatapan bodoh nya menatap pintu yang sudah tertutup di depannya sedangkan dia kini masih berada di luar.


“Salah mulu dah gue,” ucap Vanya dengan helaan nafas kasarnya. Akhirnya kini Vanya memilih untuk untuk menuju ke jendela tempat teman-temannya berada untuk mengajak temannya ikut dengan nya.


“Stst Va, ayo ikutan. Kantin,” ajak Vanya pada Eva dengan pelan agar tidak didengar oleh guru tersebut.


“Ogah. Gue mau pinter,” ucap Eva menolak yang membuat Vanya berdecak dengan kekesalannya mendengar ucapan Eva yang menolak nya.


Dengan kekesalannya akhirnya Vanya memutuskan untuk menuju ke taman belakang. Benar-benar tak ada yang bisa ia lakukan sekarang karena saat ini temannya tak ada yang dihukum. Ia kini begitu bosan. Akhirnya Vanya hanya menuju ke kantin dan menghabiskan makanannya di kantin.


Pikirannya kini kembali pada Dipta saat sedang seperti ini lagi-lagi ia harus mengingat Dipta.


“Ini kalau Dipta beneran mau udahan gimana ya? Nggak, dia pasti gak bakalan ngelakuin itu. Semarah apapun dia sama gue, dia gak bakalan ninggalin gue,” ucap Vanya yang kini tengah berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Meskipun pikirannya kini terus saja tertuju pada Rio yang terus memanasi Dipta agar mengakhiri hubungan dengannya. Vanya tahu dia egois dia tak suka diatur namun ia juga tak ingin jika harus kehilangan Dipta. Apalagi setelah seharian ini tak ada yang memarahinya saat berbuat salah, tak ada yang mengingatkannya saat ia salah membuat Vanya merasa ada yang hilang, dan Vanya jadi merindukannya untuk kembali.


“Gue harus buat rencana biar Dipta ngeliat gue dan marahin gue lagi, tapi apa ya? Akh, Dipta lo tuh kenapa sih gak mau nyamperin gue duluan? Kan gue gengsi mau nyamperin duluan,” rutuk Vanya dengan kekesalannya.


Kepala nya kini terus memikirkan rencana untuk menarik perhatian Dipta namun ia juga tak mau mengambil resiko. Memikirkannya saja membuat Vanya rasanya begitu pusing sekarang.


*