Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Hari Pertama UAS



Tatapan Vanya kini begitu fokus pada  soal di depannya. Kini ia harus serius dalam mengerjakan soal miliknya itu. Mapel yang kini tengah ia kerjakan adalah biologi. Vanya kini bergantung pada otak nya dan berharap jika ia bisa untuk mengingat apa yang kemarin ia pelajari dengan baik.


“Ayo jangan lemot untuk sekarang,” ucap Vanya sambil mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jarinya. Layar di depannya kini bahkan terlihat begitu memusingkan untuk Vanya. Kini sisa waktu hanya tinggal dua puluh menit lagi dan masih ada 10 soal yang belum ia kerjakan.


Vanya berusaha untuk memikirkannya sebaik mungkin. Untuk kali ini ia begitu ambis untuk nilainya. Ia tak ingin berharap lebih dengan mendapat peringkat 10 besar namun ia hanya berharap agar nilainya tidak ada yang merah.


Hingga tak lama akhirnya Vanya memilih untuk menyelesaikannya saat waktu hanya tersisa lima menit saja. Vanya kini memilih untuk segera menuju ke arah kantin untuk menemui sahabat nya yang jelas berbeda ruangan dengannya.


Saat Vanya sampai di kantin ternyata kantin kini begitu ramai padahal kini sudah waktunya pulang sekolah. Namun masih banyak yang memilih untuk menghabiskan waktu mereka dengan makan lebih dulu di kantin sekolah.


Saat sampai di tempat teman-temannya Vanya segera mendudukkan dirinya sambil meletakkan kepalanya di atas lipatan tangannya yang kini ia letakan di atas meja.


“Baru banget selesai Van?” tanya Eva menyambut sahabat nya itu. Bahkan makanan mereka sudah akan habis namun Vanya malah baru datang.


“Menurut lo? Soalnya susah banget,” ucap Vanya dengan helaan nafas kasar nya. Eva yang melihat itu menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan itu.


“Ambis banget lo,” ucap Ino dengan kekehannya yang membuat Vanya kini langsung menegakkan kepalanya dan menatap Ino dengan wajah datar nya.


“Ya kali gue udah belajar dari siang sampek malem udah kek mau lomba gitu gak ambis,” ucap Vanya dengan tatapan seriusnya pada sahabat nya itu. Ketiga sahabat nya itu kini terkekeh mendengar nya. Sedangkan Vanya kini hanya berdecih saja.


“Lagian lo niat banget sih Van,” ucap Eva dengan tawanya. Sedangkan Vanya hanya menghela nafasnya mendengar ucapan sahabat nya.


“Minimal nilai gue gak minus lah. Kasian Dipta malau ntar dia punya pacar kayak gue,” ucap Vanya dengan  yang kini membuat sahabat Vanya tertawa mendengar nya.


“Lah dari kemarin ke mana lo? Baru nyadar sekarang biar gak buat pacar lo itu malu?” tanya David dengan tawanya. Vanya kini hanya menatap datar pada sahabat nya itu.


“Yang kemarin gue khilaf, lagian temen gue modelan elo pada,” ucap Vanya dengan tawanya. Kini berganti sahabat ya itu yang menata Vanya dengan tatapan datar nya.


“Becanda elah,” ucap Vanya dengan tawanya.


“Nanti gue sama Dipta mau belajar bareng lagi. Kalian mau ikutan lagi gak?” tanya Vanya dengan menaikkan sebelah alisnya menawarkan sahabat nya itu yang kini sontak menggelengkan kepalanya mendengar tawaran Vanya.


“Engga deh. Gue nemenin Ibun,” ucap David menolak dengan alasannya sendiri.


“Gue ada janji buat kue sama bunda nya David,” ucap Eva yang kini juga ikut menimpali. Ikut membuat alasan dengan membawa nama ibu David.


"Kalau gue ada rencana selingkuh sama Bunda Dapit," ucap Ino yang kini sontak membuat sahabat nya itu membelalakkan matanya. David kini malah sudah memukul kepala sahabatnya yang suka adalah berbicara itu.


"Ogah gue punya bapak modelan kayak lo. Udah jelek, duit gak ada, akhlak minus lagi," sungut David sambil bergidik ngeri. Ino yang mendengar nya kini menatap David dengan tajam.


"Rada miring emang," Udah Vanya sambil menggelengkan kepalanya mendengar pertengkaran itu.


"Udah lah gue duluan aja, takut nya Dipta udah nunggu," ucap Vanya yang kini akhirnya memilih untuk segera menuju ke arah parkiran tanpa memesan makanan. Karena niat nya datang memang hanya sekedar untuk saling berbincang dengan sahabat nya.


Di luar sekolah kini mereka sudah jarang bisa bertemu karena Vanya lebih memilih untuk tidak datang ke markas. Namun ketiga sahabat nya itu malah lebih suka berada di sana.


Saat sampai di parkiran. Benar saja, kini Dipta sudah berada di sana bersama dengan sahabat nya. Namun entah mengapa melihat Rio, Vanya jadi kesal dengan laki-laki  itu. Mengingat Rio lah yang pernah meminta Dipta untuk memutuskan hubungan dengannya.


"Balik sekarang?" Tanya Dipta saat sudah melihat keberadaan Vanya. Vanya yang mendengar nya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menyapa ke arah teman kekasih nya itu.


Vanya segera naik ke atas motor Dipta setelah memakai helm nya. Hari ini ia memang tidak membawa motor sendiri dan meminta Dipta agar menjemput nya. Vanya yang bar-bar kini malah berubah begitu manja pada Dipta.


"Dip, makan dulu ya. Tadi gak sempet makan di kantin, laper," ucap Vanya meminta Dipta agar menghentikan motornya di tempat makan lebih dulu.


"Kenapa gak makan dulu kalau laper?" Tanya Dipta menaikkan sebelah alisnya sambil menatap Vanya dari spion motor nya.


"Tadi tuh susah banget pelajarannya. Jadi waktu sisa lima menit aku baru ngumpulin. Pas kekantin malah udah rame," ucap Vanya menjelaskan.


Dipta menganggukkan kepalanya sambil mengelus tangan kekasih nya yang kini tengah melingkari pinggang nya itu.


"Mangkanya kalau belajar itu jangan udah mepet. Dua bulan sebelumnya udah harus siap-siap," pesan Dipta pada kekasih nya yang kini tampak mengerucutkan bibirnya.


"Ya kan baru proses, kemarin-kemarin mah sistem aku belajar itu kebut semalam," papar Vanya yang kini malah membuat Dipta tertawa mendengar nya.


"Belajar beberapa hari sebelumnya aja kamu udah keteteran apalagi kebut semalam?" Tanya Dipta sambil menggelengkan kepalanya. Pantas saja dulu nilai kekasihnya itu selalu minus.


"Orang aku aja jawab nya asal," ucap Vanya dengan cengirannya yang kini membuat Dipta tertawa mendengar nya.


"Sekarang jangan asal lagi ya. Nanti kalau kamu masih sepuluh besar bakalan aku kasih gift," ucap Dipta. Vanya yang mendengar nya langsung membelalakkan matanya.


"Serius?" Tanya Vanya mencari kebenaran. Dipta menganggukkan kepalanya.


"Makasih Dipta, aku bakalan usaha." Vanya berkata dengan begitu semangatnya. Dipta tentu saja merasa senang dengan perubahan kekasih nya itu. Jika dulu mungkin Vanya tak akan peduli dengan gift yang akan Dipta berikan dan tetap tak akan belajar, kini kekasih nya itu memang benar-benar sudah berubah. Dan Dipta merasa begitu bersyukur karena nya.


*