
Sejak Vanya mengungkapkan perasaannya pada Dipta atas ketidak sukaan apabila Dipta terlalu dekat dengan Aretha, sebenarnya Dipta senang. Dipta senang karena Vanya cemburu. Mengingat gadis itu memang jarang sekali cemburu.
Hubungan Dipta dan Aretha dari sudut pandang Dipta sebenarnya tidak sedekat itu. Mereka hanya menjalankan peran teman sekelas serta hubungan antara ketua dan wakil ketua kelas. Beberapa kali mereka terlihat bersama ya sebatas karena kelas saja. Mungkin orang-orang melihat keduanya dekat karena terlihat jalan bersama. Padahal, itu hanya terjadi ketika mereka menjadi delegasi kelas dalam rapat atau sosialisasi tertentu yang nantinya juga disampaikan lagi di kelas. Atau ketika ada perintah untuk ke ruang guru menerima informasi tertentu dari guru yang harus disampaikan di kelas. Sudah, hanya sebatas itu.
Mungkin orang-orang menganggap keduanya dekat karena sebelum ini tidak sering melihat Dipta jalan berdua bersama gadis lain selain Vanya. Di kelas sebelas, wakil ketua kelas cowok itu adalah seorang cowok juga. Sedangkan di OSIS, wakil ketua dan sekretarisnya adalah gadis yang sudah memiliki pacar. Makanya, tidak terlalu banyak rumor aneh-aneh seperti sekarang ini.
Kali ini, lagi-lagi Dipta harus berjalan bersama Aretha setelah mengikuti sosialisasi yearbook. Project yearbook alias buku tahunan sebagai kenang-kenangan angkatan Dipta sudah dimulai. Bahkan jadwal tiap kelas sudah diatur. Pelaksanaan foto dimulai bulan depan. Mereka masih memiliki waktu untuk menentukan tema dan tempat pemotretan.
"Kayaknya kalau tema fairy gitu lucu nggak, sih, Dip?" celetuk Aretha di tengah perjalanan mereka menuju kelas.
"Fairy kayak peri-peri gitu, ya? Nanti jadinya ala-ala aesthetic gitu nggak, sih?" tanggap Dipta.
Aretha mengangguk. "Buat tempatnya di taman, atau nggak deket danau. Kalau bisa, sih, yang nggak terlalu ramai," ujar Aretha.
"Iya, sih, kalau ramai malu," balas Dipta.
Aretha terkekeh pelan. "Kalau enggak, tema vintage juga lucu. Atau mungkin garden party? Nanti pakai propertinya bisa pakai keranjang makanan yang aesthetic itu. Oh juga bisa sekalian piknik beneran sih, sambil makan bareng kayak food gathering gitu deh," ujar Aretha lagi dengan lebih antusias.
"Ide lo kayaknya banyak banget, ya, Tha? Nanti jadi masuk tim inti di kelas, ya," lontar Dipta setelah mendengar berbagai ide dari Aretha.
"Tim inti? Emang boleh?" tanya Aretha.
"Boleh dong, kan lo juga wakil ketua kelas. Jadi masuk tim inti sama sekre, bendahara, dan beberapa anak lainnya yang mau," jelas Dipta. Niatnya ia akan membentuk tim inti untuk memudahkan jalannya persiapan yearbook di kelasnya.
Obrolan ringan membahas terkait yearbook itu masih berlangsung hingga akhirnya mereka sampai pada kelas 12 IPA 1. Tidak ada pelajaran di kelas, alias jam kosong. Dipta berdiri di depan, sedangkan Aretha duduk di tempatnya.
"Halo temen-temen, minta waktunya sebentar ya! Gue mau sampain soal yearbook nih." Suara Dipta tentu saja langsung mendapat atensi dari teman-temannya.
"Berhubung yearbook udah dimulai, gue mau bikin panitia inti buat kelas ini. Tugasnya seputar riset tempat, tema, dan survey. Tapi yang di luar panitia inti bukan berarti nggak dilibatkan ya, suara kalian justru kami pertimbangkan. Selain gue, Aretha, Bunga, sama Rafa kira-kira ada yang mau lagi? Gue butuh 4 orang lagi nih, biar pas survey ke banyak tempat, orangnya genap bisa bagi tim," jelas Dipta.
"Gue mau!" David orang pertama yang mengacungkan tangan.
"Gue juga." Rio mengikuti
"Gue mau, Dipta." Kayla juga tertarik.
"Gue." Sheila ikut juga.
"Oke, udah pas ya. Nah selanjutnya milih tema nih. Tadi Aretha sempet nyampaiin beberapa ide, yaitu fairy, vintage, sama garden party. Kalian ada ide lagi nggak?" lanjut Dipta.
"Idenya Aretha kok cakep-cakep, sih," celetuk Bunga.
"Iya woy, langsung vote aja dah," timpal Rio.
"Keren itu idenya, gue udah mentok sih, Dip," sahut Nara.
Dan begitulah keadaan di kelas 12 IPA 1. Rata-rata menyukai ide Aretha. Akhirnya, pada diskusi itu terpilih tema garden party dengan outfit bernuansa earth tone.
*
"Eh kelas lo pada tema yearbook apaan?" tanya David ketika jam istirahat.
"Mafia," jawab Vanya.
"Kelas lo apa?" tanya Eva.
"Garden party, outfit nya earth tone," jawab David.
"Anjay lo jadi manusia-manusia aesthetic ya, Pid, abis ini," sahut Ino.
"Iya dong. Btw, gue masuk tim inti di kepanitiaan yearbook kelas gue. Keren kan hidup gue yang produktif ini," ujar David.
"Van ini efek sekelas sama cowok lo kayaknya," ujar Eva.
Vanya terkekeh. "Ya bagus kalau bisa bawa David ke arah yang benar."
"Tim inti ngapain, Vid?" timpal Ethan.
"Survey tempat uy. Jadi nantinya ada beberapa calon tempat yang bakal dipakai foto, kita survey yang paling cocok yang mana. Tapi dibagi-bagi kelompok survey biar lebih cepet," jelas David.
"Pasti ada Dipta," ucap Ino.
Setelah mendengar itu, Vanya sedikit merasa tidak nyaman. Lagi-lagi pikirannya tidak tenang. Itu artinya, intensitas hubungan Dipta dan Aretha akan semakin bertambah. Meskipun hanya sebatas project yearbook, nantinya mereka tetap akan lebih banyak berinteraksi. Banyak menghabiskan waktu bersama untuk pergi ke tempat-tempat berkedok survey. Banyak berdiskusi ini-itu.
Di saat seperti ini, rasa sedih tidak satu kelas dengan Dipta kembali menyeruak. Andai saja mereka satu kelas, pasti ia lebih tenang.
"Nggak usah overthinking, Van," celetuk Ethan seolah bisa membaca raut wajah Vanya yang sedikit berubah. Diamnya Vanya dengan tatapan mata sedih campur resah cukup terlihat oleh Ethan.
Seketika, tatapan mata teman-teman Vanya berfokus pada gadis itu.
"Aman," jawab Vanya singkat. Meskipun sebenarnya semuanya tau, perasaan gadis itu jauh dari kata aman. Mereka tau Vanya akhir-akhir ini tak tenang kepikiran ucapan orang-orang tentang kedekatan dan kecocokan antara Dipta dan Aretha.
"Kalian pasti nanti satu kelompok buat yearbook, ya?" tanya David.
Vanya, Ino, Eva, dan Ethan kompak mengangguk.
"Hih gue juga pengen fotonya bareng kalian. Masa kalian foto berempat, gue nggak ada sih," ujar David.
"Nanti kita foto sendiri aja, bikin album sendiri," usul Ethan.
David mengangguk semangat. "Nah gitu dong."
"Lo sih pakai mencar kelas segala," ujar Ino.
"Lo salahin aja dah sama yang ngatur rolling kelas. Lagian udah kelas 12 kok kelasnya masih diacak sih," rutuk David.
"Eh kalau nggak diacak, gue nggak bisa temenan deket sama kalian," sahut Ethan.
"Iya juga sih, tapi malah gue ini yang kepencar," balas David.
Eva tertawa. "Udahlah, Pid, terima nasib. Btw, kalau kelompok lo nanti siapa aja? Sama cowoknya Vanya kan pasti? Kalian kan udah satu sirkel di sana," ucapnya.
David nyengir. "Iya, sih. Ada gue, Rio, Dipta, Sheila, sama ..." David menjeda ucapannya. Agak tidak enak menyebutkan nama terakhir.
"Sama siapa lagi?" tanya Ino ingin tahu.
"Sama Aretha." Bukan David yang menjawab, melainkan Vanya yang tiba-tiba menyahut. Vanya mulai paham, selain David yang selalu berkelompok dengan Dipta, ada Aretha yang juga demikian.
"Sotoy lo," timpal Ino bermaksud mencairkan suasana karena tiba-tiba hening.
"Iya nih, orang David belum lanjutin," sambung Eva.
"Kebaca kali. Nyatanya yang sering jadi 1 circle di sana tuh nggak cuma David sama Dipta, tapi Aretha juga. Coba lo jawab, Vid, bener kagak?" cecar Vanya.
David menggaruk pipinya canggung. Ia ingin menyalahkan asumsi Vanya, tapi pada nyatanya asumsi Vanya memang benar. "Iya, sama Aretha. Sorry, ya, Van."
Vanya tersenyum kecut. Dalam hati ia bertanya-tanya, kenapa anak baru itu selalu ada dalam setiap kegiatan berkelompok bersama Dipta. Kenapa nama Aretha lama-lama semakin sering bersanding dengan nama Dipta.
"Yearbook sebentar doang kok, Van." Ethan mencoba menenangkan.
"Tapi hasil fotonya bakalan seumur hidup. Nggak ada yang jamin mereka nggak bakalan deket di foto," jawab Vanya.
"Udahlah, Van, nggak usah kejauhan gitu mikirnya. Ini cuma yearbook kok," sahut Ino. "Lagian, lo akhir-akhir ini keseringan overthinking tau nggak? Insecure ya gara-gara Aretha yang kata orang-orang lebih dari segalanya dibanding lo?" lanjut Ino.
"Tapi gimana nggak insecure? Dari sudut pandang gue sebagai orang di kelas itu, Aretha itu paket komplit. Cantik, pinter, disiplin, kalem, kayak semuanya ada di dia. Waktu denger dia diskusi sama Dipta, mereka juga klop, bisa sharing-sharing pemikiran gitu. Gue yang denger aja cuma bisa ha-ho-ha-ho," timpal David.
David dan Ino sontak mendapat tatapan tajam dari Eva dan Ethan.
Vanya dengar dengan baik apa-apa saja yang diucapkan kedua sahabatnya. Perasaannya semakin tak menentu. Ucapan Ino membuatnya kesal, tapi ucapan David semakin membuatnya kepikiran.
"Iya dah," balas Vanya singkat dengan datar. Ia mulai berdiri dari tempat duduknya. Vanya mengambil botol air mineralnya, lalu pergi begitu saja dari sana.
Suara sahabat-sahabatnya yang memanggil namanya tidak ia gubris. Moodnya sudah hilang. Ucapan Ino dan David berhasil memenuhi kepalanya.
"Bahkan temen gue sendiri pun mengakui Aretha lebih dari segalanya dibanding gue," ucapnya dalam hati.
Vanya berencana kembali ke kelas sembari menunggu jam selanjutnya. Untuk ke kelasnya, ia harus melewati kelas Dipta. Gorden jendela kelas 12 IPA 1 terbuka, lampunya pun juga dinyalakan. Itu cukup bagi Vanya untuk bisa melihat keadaan di dalamnya.
Harusnya ia tak coba melihat keadaan kelas itu. Karena yang ia lihat di sana adalah Dipta dan Aretha yang tengah duduk berhadapan, membahas sesuatu di buku yang Vanya tak tau apa yang sedang dibahas. Namun, yang Vanya tahu memang keduanya sangat klop. Interaksi Dipta dan Aretha berjalan mulus. Beberapa kali juga mereka tertawa bersama.
Vanya mengalihkan pandangannya ke ponselnya. Chat dari Vanya yang menanyakan istirahat mau ke kantin bareng atau tidak, belum juga dijawab oleh Dipta. Sekarang Vanya tau jawabannya, Dipta tidak akan ke kantin bersamanya baik di istirahat pertama maupun istirahat kedua nanti.