Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Kenakalan Vanya



"Lo nanggung banget udah nakal kalo kagak ngerokok kata gue mah." Celetukan seorang cowok turut meramaikan suasana di warung belakang. Di antara anak-anak itu, memang tidak banyak yang menyentuh benda itu. Hanya beberapa orang saja.


Awalnya, situasi normal-normal saja diisi dengan obrolan ringan dan sedikit umpatan saat mabar game online. Namun, sekarang ini suasana jadi riuh menanggapi celetukan seorang cowok bernama Rey itu.


"Gue bawa. Barangkali dari kalian ada yang mau coba, ambil aja. Santuy," lanjut Rey.


"Gue mau coba dong." David yang menanggapi pertama kali. Seumur hidup, memang cowok itu tidak pernah merokok. Selain karena dilarang oleh orangtuanya, David juga belum tertarik.


Hanya saja, sekarang ini melihat Rey dan dua orang teman lainnya yang merokok membuat David jadi ingin mencoba. Kira-kira seperti apa ya sensasi benda itu? Dengan perasaan yang sudah menggebu, David mengambil satu batang dan mulai menghisapnya sesuai intruksi Rey.


Vanya hanya melihat saja pemandangan itu. Ia yang awalnya lebih memilih mengobrol dengan Eva dan tidak tertarik dengan celetukan Rey, kini jadi melihat itu karena David. Vanya tahu betul, di antara mereka berempat—Vanya, Eva, Ino, dan David—David paling kalem. Jadi, ketika David mencoba 'terulah' tentu saja Vanya penasaran se-berani apa cowok itu.


Ketika asap berhasil keluar dari David, Vanya membelalak. Ternyata memang cowok itu sudah sangat penasaran sampai berani mencoba. Eva dan Ino juga tidak kalah terkejut melihat itu.


"Woi, Pid! Inget ibun lo di rumah," tegur Ino.


"Widiii, Dapid udah gede nih," sahut yang lainnya bernama Kean.


"Gimana, Pid? Enak kan?" tanya Rey.


"Gue masih agak aneh, sih. Ini kalau nggak dihabisin gimana cara matiinnya?" balas David.


"Ah elah, habisin aja dah. Nanggung," ujar Rey. "Ini ada lagi nggak yang mau coba?" lanjutnya menawarkan.


"Lo kaga mau nyoba, Van?" tanya Eva iseng.


Vanya menggeleng. "Nggak dulu deh, belum waktunya."


"Ya elah, gaya amat lo. Gue penasaran habis lihat David. Tapi nanti bibir gue item kalau kecanduan," ucap Eva.


"Ya udah kagak usah coba-coba dah lo," jawab Vanya.


"Van, mau coba kagak lo?" tanya Rey yang akhirnya menargetkan Vanya.


"Lo jangan macem-macem deh. Backingannya ketos," sahut Ino. Tentu saja Ino tahu betul apabila Dipta tau, sudah dipastikan akan ada macan yang mengamuk.


"Lah urusan kayak gini mah harusnya dia nggak usah ikut campur, sih. Cukup hargain pilihan masing-masing aja. Kan nggak semua orang bisa buat jadi orang kayak dia," bantah Rey.


"Iya, sih, jadi kesannya lo malah kayak disetir sama cowok lo, Van. Masa ini itu nggak boleh. Bolehnya jadi kayak dia doang yang bosenin itu," sahut Kean.


"Nggak usah bawa-bawa Dipta, deh. Nggak ada hubungannya," tegur Vanya. Jujur ia tidak suka jika ada yang membawa Dipta ke dalam pembahasan ini.


"Ya udah, nih buktiin dong kalau lo nggak takut dan nggak disetir sama cowok lo. Berani nggak nyoba rokok?" tantang Rey.


Suasana semakin memanas. Tatapan Vanya yang semula santai biasa aja, terlihat seperti marah. Vanya tidak suka ketika ada yang meremehkannya. Vanya tidak akan membiarkan siapapun meremehkannya. Ia juga tidak mau teman-temannya menganggap dirinya cewek lemah yang 'disetir' oleh pacar.


Rey menyodorkan sebatang rokok kepada Vanya. Vanya masih memandang rokok itu dengan pikiran berkecamuk dan banyak pertimbangan.


"Mana? Berani nggak, nih?" Rey masih saja mengompori dan itu membuat Vanya semakin geram.


Setelah meyakinkan diri, akhirnya Vanya memutuskan untuk menerima tantangan itu. Tangannya mulai bergerak untuk mengambil rokok itu. Sayangnya, belum sempat Vanya menyentuh benda itu, seseorang sudah lebih dulu mengambil benda itu kemudian membuangnya kasar.


"Maksud lo apa kayak gitu ke Vanya? Lo kalau mau rusak, nggak usah ajak-ajak orang lain, apalagi cewek gue!" amuk Dipta mendorong Rey.


"Weitsss, santai dong. Apaan sih lo dateng-dateng kayak gini," Rey tidak terima dan mendorong Dipta balik.


"Lo semua balik ke sekolah, ikut gue ke BK!" sentak Dipta.


"Ogah, nggak ada razia. Kita ngerokok juga nggak di lingkungan sekolah. Gue bolos nggak ngerugiin lo juga," balas Rey.


"Batik lo seragam sekolah! Dan ini masih jam sekolah. Oh ya, siapa yang bilang nggak ada razia?" Setelah mengatakan itu, guru-guru BK mulai datang dan mengambil alih keadaan itu. Mereka diminta untuk kembali ke sekolah dan akan mendapatkan hubungan.


Vanya mendelik. "Dipta kamu apa-apaan sih?" marah Vanya.


"Balik. Kita omongin ini pulang sekolah," tegas Dipta.


*


"Nggak usah temenan sama mereka lagi. Mereka bukan temen yang baik!" tegas Dipta. Sepulang sekolah, mereka melanjutkan membahas hal tadi. Selama istirahat, tidak ada interaksi sama sekali di antara keduanya. Dipta masih marah. Vanya juga kesal. Ketika pulang sekolah, baru Dipta mendatangi kelas Vanya dan mengajak gadis itu mengobrol di taman sekolah.


"Kamu nggak ada hak buat atur pertemanan aku!" bantah Vanya tak terima.


"Kamu sadar nggak, sih, mereka itu nggak baik. Apa maksudnya goda kamu buat ngerokok kayak tadi? Terus tadi kamu mikir apa sih sampai mau ambil itu rokoknya?" semprot Dipta.


"Aku mau ambil rokok itu dengan sadar dan nggak ada paksaan. Kamu bisa bilang mereka nggak baik kalau mereka maksa aku. Tapi mereka nggak ada paksa aku sama sekali," kekeh Vanya.


"Kamu nggak dipaksa, tapi otak kamu dicuci. Sadar kenapa susah banget sih?!" lontar Dipta.


"Emang kenapa, sih? Aku nggak suka diremehin. Aku nggak suka dibilang aku disetir kamu, aku takut sama kamu, aku dikekang kamu. Aku nggak suka! Aku mau buktiin kalau aku nggak kayak gitu. Aku bukan cewe lemah yang iya-iya doang diatur kamu. Aku juga berani!" jelas Vanya.


"Segitunya kamu butuh validasi dari mereka sampai mau-maunya coba rokok, Van?" tanya Dipta tak percaya.


"Iya! Kenapa? Nggak suka?"  nyolot Vanya.


Demi apapun Dipta geram. Gadis di hadapannya ini sangat batu. Susah sekali menghadapi Vanya yang seperti ini.


"Kamu udah gede, Van. Harusnya kamu tau mana yang baik, mana yang buruk. Kamu nggak suka kalau aku kesannya ngatur kamu, tapi kamu urus diri sendiri aja kayak gini. Bedain yang baik dan enggak aja nggak bisa,"  ujar Dipta.


Emosi Vanya semakin naik sampai ubun-ubun. Ingin sekali ia memukul cowok berstatus pacar yang berdiri di hadapannya ini. Egonya tersentil. Ucapan Dipta seolah Vanya ini bodoh sekali.


"Aku nggak minta kamu urusin aku! Kamu yang sukarela selalu masuk dalam kehidupan aku dan bilangin aku ini itu, di saat sebenernya kamu nggak perlu lakuin itu. Aku bukan anak kecil. Stop atur-atur aku. Aku punya kesenangan dan pilihan aku sendiri. Aku nggak bisa kalau harus hidup sempurna kayak kamu! Udahlah, aku mau pulang," marah Vanya.


Setelah mengucapkan itu, Vanya beranjak pergi meninggalkan Dipta.


Hari itu, komunikasi keduanya tidak berjalan baik. Vanya dan Dipta diselimuti oleh amarah yang enggan untuk diredamkan.


*