
Tak seperti hari biasanya. Harusnya hari ini Dipta datang untuk menjemput nya dan membawakan sarapan untuknya. Namun kali ini Dipta malah tak datang, bahkan saat hari sudah begitu siang. Kini jam sudah menunjukkan pukul 6.50 namun sampai sekarang Dipta belum juga datang.
Biasanya semarah apapun laki-laki itu padanya. Dipta masih tetap akan datang untuk membawakan sarapan untuk nya. Namun kini Dipta malah tak juga kunjung datang. Vanya jadi memikirkan tentang hubungan beberapa hari ini yang tak terjalanin dengan baik.
Apalagi ucapannya pada Dipta. Vanya menghembuskan nafasnya kasar begitu merasa bersalah pada Dipta. Ucapannya saat sedang marah memang tidak ada filter dan Dipta malah mengajaknya bertengkar.
“Huft. Salah gue juga sih ini, udah keterlaluan sama dia,” monolog Vanya dengan ingatannya yang kembali berputar pada kejadian saat ia yang malah mengatakan banyak hal yang tak seharusnya ia ucapkan pada Dipta.
“Semoga aja kali ini Dipta gak dateng karena ada kegiatan osis bukan karena dia marah sama gue,” mohon Vanya yang masih berharap jika Dipta akan seperti biasa nya pada nya. Meskipun Vanya banyak melakukan kesalahan namun Dipta tak akan marah terlalu lama dengannya.
“Tapi dia biasanya kalau lagi gak bisa jemput ngehubungin gue, ini gak ada,” sungut Vanya dengan tatapan sendunya pada ponselnya yang kini terlihat tak ada notifikasi dari Dipta dan hanya ada ada dari grup club nya.
“Bodo lah. Palingan lupa ngabarin,” ucap Vanya dengan kekesalannya yang setelah nya langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas nya.
Gadis tersebut dengan segera berjalan ke arah rak sepatu nya untuk mengambil sepatunya. Namun tatapannya kini malah terarah pada sepatu boots yang pernah Dipta berikan padanya. Vanya memilih untuk memakai sepatu tersebut. Ia ingin menarik perhatian Dipta dengan itu. Ia ingin Dipta memarahi nya agar ia tahu jika Dipta masih peduli dan saat ini sedang tidak marah padanya.
“Kalau ini gagal gue atur rencana lain,” ucap Vanya dengan senyuman lebar nya.
Setelah memakai sepatunya dengan segera gadis tersebut menuju ke arah garasi motornya untuk menuju ke arah sekolah, tak peduli jika harus terlambat. Ia akan tetap datang ke sekolah dan tak akan bolos. Ide nya kini begitu banyak untuk menarik perhatian laki-laki itu.
*
“Sendiri aja lo Dip?” tanya Rio yang baru saja turun dari motor nya dan menatap sahabat nya itu dengan kerutan di kening nya saat tak ada penumpang lain di mobil Dipta.
“Berdua sama mobil,” jawab Dipta singkat dan terdengar begitu datar, Rio dapat merasakan adanya aura yang tak baik dari sahabat nya yang satu itu.
“Berantem lo?” tanya Rio pada Dipta yang kini membuat Dipta menghela nafasnya kasar sambil menoleh ke arah sahabat nya itu dan menganggukkan kepalanya.
“Kalau kata gue mending udahan sih Dip. Di sini yang sering makan ati tuh elo. Lo sama dia tuh beda jauh,” ucap Rio menasihati Dipta.
Dipta yang mendengar ucapan sahabat nya segera menoleh ke arah Rio dengan wajah datarnya. Ia begitu tak menyukai ucapan sahabat nya itu.
“Gak usah ikutan yang lain deh,” ucap Dipta dengan malas.
“Gue bukan ikutan yang lain. Gue cuma bicara fakta. Lo sama dia tuh kek air sama api. Beda Dip. Lo bisa dapet yang lebih baik dari dia,” ucap Rio pada sahabat nya itu. Jika ia ada di posisi Dipta mungkin sudah dari dulu ia meninggalkan gadis seperti Vanya. Dipta itu ganteng, yang mau banyak tapi yang dipilih malah gadis seperti Vanya yang begitu nakal dan egois.
“Lo gak akan ngerti. Tau apa lo soal cinta?” tanya Dipta begitu sinis ada Rio yang kini tersenyum mendengar ucapan Dipta.
Pikiran Dipta pasti begitu berat hanya karena memikirkan kekasih nya yang begitu problematik itu. Rio jadi kasihan sendiri melihat nya. Oleh karena itu kini ia berbicara panjang lebar pada Dipta.
“Udahlah, gue capek juga mikirin itu. Yang jelas gue gak mau putus dari dia,” tegas Dipta yang membuat Rio hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Dipta.
“Dasar bucin,” gumam Rio sambil menggelengkan kepalanya.
*
Vanya kini lagi-lagi harus menerima hukuman berlari di lapangan karena ia terlambat datang ke sekolah. Padahal ia baru telat satu menit saja namun hukumannya kini malah sama seperti hukuman yang telat lainnya.
“Emang dasar nya aja sih dia punya dendam sama gue,” ucap Vanya sambil merutuki guru laki-laki yang kini tengah mengawasi mereka.
Setelah selesai dengan hukumannya kini ia berjalan ke pinggir lapangan yang sudah ada sahabat nya yang dengan setia menunggu agar mereka bisa masuk ke kelas bersama. Sahabat yang setia memang.
“Tumbenan lo kagak bolos Van,” ucap Eva saat kini mereka sudah berjalan bersama menuju ke arah kelas mereka.
“Gak mau bikin Dipta lebih marah lagi gue. Kemarin aja gue udah ngerasa bersalah banget sama dia,” jelas Vanya pada sahabat nya itu.
“Minta maaflah. Lo mah bukannya minta maaf malah dateng terlambat pakek sepatu beda lagi,” ucap Ino sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabat nya itu.
“Gengsi lah,” ketus Vanya. Vanya memang orang yang begitu gengsian bahkan sekedar meminta maaf saja begitu sulit untuk nya apa lagi setelah apa yang ia katakan kemarin malam.
“Gue mah respect ya ke Dipta. Dia sayang banget sama lo. Tadi gue gak sengaja dengar pembicaraan dia sama si Rio. Gila sih mau-mauan aja dia bertahan sama cewek modolan lo begini padahal abis di tampar fakta sama si Rio,” jelas David pada sahabat-sahabat nya yang kini menatap David dengan tatapan penuh tanya. Mereka ingin mendengar apa yang dibicarakan oleh kedua laki-laki itu.
“Gak usah ngehina gitu deh. Mood gue jelek nih, jangan sampai gue makan lo,” kesal Vanya yang membuat sahabat nya itu kini hanya nyengir mendengar nya.
Lalu ia mulai menceritakan apa saja yang didengarnya dari pembicaraan kedua laki-laki itu. Memang saat Dipta dan Rio berbincang tadi. Devid terus menguping pembicaraan mereka. Dan ia begitu salut pada Dipta. Bahkan setelah apa yang Vanya lakukan padanya laki-laki itu masih mau bertahan.
Vanya yang mendengar cerita David kini malah semakin merasa bersalah. Dipta begitu mencintainya namun ia malah dengan tak tahu diri terus saja bersikap egois. Namun untuk meminta maaf untuk saat ini sepertinya ia masih bilang bisa.
*