
Jam istirahat baru saja berbunyi beberapa menit yang lalu namun kini bukannya berada di kantin seperti biasanya. Vanya malah berada di perpustakaan. Tempat yang selalu ia hindari namun cukup sering ia datangi dan semua itu karena Dipta.
Memang nya siapa lagi yang bisa mengajak Vanya untuk ke tempat seperti ini jika bukan Dipta? Memang masih terasa aneh dengan pasangan satu ini yang begitu bertolak belakang. Namun mereka seolah menjadi pelengkap untuk satu sama lain.
Dipta yang monoton dengan segala pamor baik nya menjadi penuh warna dengan kehadiran Vanya dan segala kenakalannya.
“Pacar, ke kantin dulu yuk,” ajak Vanya yang kini sudah mulai bosan berada di perpustakaan. Padahal ia baru saja berada di perpustakaan selama lima menit.
Vanya memang begitu tak menyukai tempat yang hanya dipenuhi dengan buka ini. Namun Dipta malah mengajaknya ke tempat ini, tak bisa untuk menolak akhirnya Vanya hanya mengikutinya saja.
“Udah makan kan tadi pas bolos?” tanya Dipta dengan begitu santainya pada Vanya.
Vanya hanya mengerucutkan bibirnya kesal sambil menghembuskan nafas nya kasar. Jika sudah begini ia tahu Dipta masih kesal karena ia bolos tadi. Dan kini laki-laki tersebut tengah memberinya hukuman dengan menemani Dipta belajar atau laki-laki itu juga akan mengajari nya.
Bukan hukuman yang berat bagi sebagai orang namun tidak dengan Vanya yang memang begitu malas. Bahkan berada di ruangan yang hanya dipenuhi dengan buka ini ia merasa begitu pengap.
“Kan tadi,” sungut Vanya berusaha untuk membujuk Dipta. Mencari alasan agar ia bisa untuk pergi dari ruangan ini.
“Udah kan tapi?” tanya Dipta lagi. Vanya berdecak kesal lalu memilih untuk meletakkan kepalanya di atas meja sambil memperhatikan wajah Dipta yang kini terlihat begitu tampan saat ia sedang membaca buku dengan begitu seriusnya.
“Udah aku bilang kan. Mulai sekarang itu udah harus mempersiapkan ujian akhir semester genap,” ucap Dipta memberikan nasehat pada kekasih nakal nya itu.
“SKS aja Dip,” sungut Vanya dengan keputusannya sendiri. Dipta yang mendengar nya hanya menggelengkan kepalanya.
Dipta kembali membaca buku di tangannya lalu menuliskan yang penjelasan yang penting di buku tulisnya. Laki-laki itu begitu serius melakukannya. Menghiraukan kekasih nya yang kini masih saja terus menatap nya dengan begitu serius.
Dipta yang terlalu larut dengan apa yang dilakukannya sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Vanya.
“Haus gak?” tanya Dipta tanpa menoleh ke arah Vanya. Namun Dipta malah tak mendapati jawaban dari kekasih nya itu. Dipta menurunkan buku nya untuk melihat Vanya.
Hingga senyuman laki-laki itu mengembang saat melihat Vanya yang kini malah sudah tertidur dengan begitu lelap nya. Dipta yang melihat hanya menggelengkan kepalanya. Lalu membuka jaket yang digunakannya untuk disampirkan pada Vanya.
Kini banyak yang melihat mereka dengan sesekali membicarakan pasangan tersebut. Banyak yang mengatakan Vanya beruntung memiliki Dipta namun tak ada yang menyatakan Dipta beruntung memiliki Vanya. Padahal bagi kedua nya mereka begitu beruntung memiliki satu sama lain. Begitulah manusia, hanya melihat semua dari luar nya saja.
Membiarkan Vanya tertidur di samping nya. Dipta memilih untuk melanjutkan kegiatannya. Hingga jam KBBM berbunyi.
*
“Van, lo jadi ikutan main gak?” tanya Eva pada Vanya saat mereka kini tengah membereskan buku pelajaran mereka karena bel baru saja berbunyi beberapa menit lalu.
“Jadi,” jawab Vanya singkat dan segera membereskan buku nya yang tak banyak.
Sepulang sekolah kali ini mereka berempat memang berniat untuk bermain dulu. Sekedar menonton atau nongkrong di cafe.
“Nanti gampang lah gue ijin ke dia,” ucap Vanya yang sudah selesai dengan kegiatannya.
“Lo mah gampang-gampang mulu nanti juga malah ribet,” sungut Eva yang kini membuat Vanya tersenyum dengan begitu lebar sambil mendengar ucapan Eva.
“Gue duluan ke deh kedepan. Takut dia udah di depan,” pamit Vanya yang memilih untuk keluar kelas nya lebih dulu. Meninggalkan ketiga sahabat nya yang kini hanya menggeleng melihat tingkah temannya yang satu itu.
“Mau bilang Vanya nih terlalu nurut sama pacar nya, tapi dia juga kadang suka kelar sembunyi-sembunyi dari Dipta,” ucap Eva sambil menggelengkan kepala nya yang kini malah membuat temannya yang lain juga menggelengkan kepalanya melihat tingkah Vanya.
Di luar kelas nya besar saja saat Vanya keluar ternyata sudah ada Dipta yang saat ini menunggu nya. Senyuman Vanya mengembang saat melihat kekasih nya itu. Lalu berjalan mendekat ke arah Dipta.
“Pacar, aku izin main dulu ya sama tiga dedemit itu,” tunjuk Vanya pada ketiga temannya yang kini sudah berada di luar kelas namun sedikit jauh dari mereka. Keadaan sekolah yang cukup ramai karena bel pulang sekolah yang sudah berbunyi membuat ketiga temannya itu tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan.
“Mau kemana?” tanya Dipta dengan tatapan penuh tanya pada Vanya.
“Main ke mall aja sih terus ke cafe,” jelas Vanya yang kini membuat Dipta tampak berpikir sejenak.
“Aku ikut,” putus Dipta yang kini malah membuat Debby melongo mendengar nya. Yang benar saja, ia akan bermain dengan teman-teman nya namun Dipta mengatakan akan ikut dengannya.
Terlalu sering dibohongi oleh Vanya membuat Dipta terkadang bersikap posesif pada gadis itu. Namun jelas jika Dipta melakukan semua itu karena ia ingin menjaga Vanya. Namun terkadang Vanya tak pernah bisa mengerti itu dan menganggap Dipta yang terlalu posesif. Padahal juga Dipta melakukan itu karena Vanya yang suka berbohong pada nya.
“Kok ikut? Kan aku mau main sama temen aku,” ucap Vanya dengan wajah cemberut nya. Tatapannya kini terlihat begitu kesal pada Dipta.
“Ya biar aku sekalian bisa lebih deket sama temen kamu kan?” tanya Dipta berusaha mendapatkan persetujuan dari kekasih nya itu.
Vanya menghela nafas nya kasar. Seperti nya kini ia memang harus mengajak Dipta daripada laki-laki itu tak mengizinkannya untuk ikut.
“Ya udah lah, udah kek bocah aja kamu tuh ngikut mulu,” kesal Vanya lalu ia segera menarik tangan Dipta untuk pergi dari sana.
Ketiga sahabat Vanya kini tampak kebingungan saat melihat Vanya yang malah menarik Dipta seperti seorang ibu yang tengah menarik paksa anaknya untuk pulang.
“Ayo pergi,” ajak Vanya dengan kekesalannya yang kii malah membuat temannya mengerutkan kening nya bingung.
“Mau ikut dia, anak gue,” ucap Vanya sambil mengelus puncak kepala Dipta yang membuat Dipta kini menatap datar pada kekasih nya itu. Sedangkan ketiga sahabat Vanya kini sudah melongo mendengar nya.
Mau menolak pun mereka merasa tak enak pada Dipta juga Vanya dan pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk saja.