Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Jalan-Jalan



"Mau kemana, sih, Dip?" Vanya bertanya karena motor Dipta tidak melaju ke arah yang seharusnya jika tujuan mereka setelah ini benar untuk pulang ke rumah Vanya.


Hari sudah memasuki pukul tujuh malam. Vanya sudah selesai main di rumah Dipta. Ia juga mendapat bekal makanan dari bunda Dipta. Tadi Vanya sudah bilang ingin naik ojek online saja karena takut membuat Dipta lelah jika harus mengantarnya lagi. Namun, tentu saja hal itu ditolak oleh Dipta dan bundanya.


Bunda Dipta jelas tidak mengizinkan. Waktu datang, Vaya diantar oleh Dipta. Jadi ketika pulang juga harus diantar Dipta.


Dipta juga tidak keberatan mengantar Vanya. Justru ia akan lega jika melihat Vanya masuk ke dalam rumah dengan mata kepalanya sendiri.


"Mampir pasar malem bentar, ya. Ada yang buka sekitar sini," jawab Dipta.


Vanya pun mengangguk. Dalam hati ia senang akan mengunjungi pasar malam bersama Dipta. Mengingat Dipta yang sering sibuk, waktu-waktu seperti ini tentu sangat membahagiakan untuk keduanya. Oleh karena itu, mereka ingin benar-benar menikmatinya.


Tidak sampai 15 menit, akhirnya mereka sampai di tempat pasar malem. Tidak terlalu jauh sih dari rumah Dipta. Setelah memarkirkan motor, mereka pun berjalan memasuki area pasar malam.


Suasana di sana sangat ramai. Dari anak kecil sampai orang tua ada. Ada yang datang sendiri, bersama orang tua, teman, ataupun bersama pasangan seperti Vanya dan Dipta.


"Wah, aku udah lama enggak lihat pasar malem. Kapan-kapan ajakin lagi dong, Dip," ujar Vanya.


Dipta mengangguk. "Iya deh, kapan-kapan kesini. Sekarang kamu mau ngapain dulu?"


"Eh, beli gelang couple yuk! Kita belum punya barang couple. Atau nggak, gantungan kunci deh, mau nggak, Dip?" ajak Vanya.


"Mau. Ayo beli gantungan kunci." Dipta menyetujui. Jemarinya ia satukan dengan jemari Vanya dan mulai menyusuri arena pasar malam mencari tempat yang menjual aksesoris.


Akhirnya mereka menemukan satu stand yang menjual aksesoris. Mulai dari gelang, cincin, gantungan kunci, hingga kalung.


"Ada yang kamu suka nggak?" tanya Dipta.


"Sebentar," jawab Vanya. Mata Vanya terus menjelajahi seisi stand itu. Mencari-cari mana yang kiranya cocok untuk digunakan dirinya dan Dipta.


Dipta juga melihat-lihat, tapi tetap dengan menjaga Vanya.


"Dip mau yang ini nggak?" Vanya menunjukkan gantungan kunci dengan bentuk puzzle.


Dua gantungan kunci itu memang memiliki bentuk puzzle yang berbeda. Namun, ketika keduanya disatukan justru akan membentuk satu kesatuan yang utuh. Hal itu tentu saja disetujui oleh Dipta. Dipta suka karena bentuknya tidak berlebihan, ukurannya tidak terlalu besar, dan yang pasti memiliki makna untuk keduanya.


"Oke deh, aku ambil ini ya. Lucu, ini kita sama-sama bawa potongan puzzle. Potongan puzzlenya ada di kita doang. Jadi artinya ya yang bisa lengkapin kamu itu aku, dan yang bisa lengkapin aku itu kamu. Nggak ada yang lain," jelas Vanya.


Dipta tersenyum lebar. "Tumben pinter." Walaupun ujung-ujungnya mencibir, tapi di dalam hati ia suka dengan analogi yang dibuat oleh Vanya.


"Kamu mau beli apa lagi?" tanya Dipta.


Vanya menggeleng. "Ini aja."


Kemudian, mereka asik menelusuri pasar malam. Mencoba banyak wahana permainan, membeli jajan. Dan puncaknya adalah ketika mereka memutuskan untuk naik bianglala sebelum pulang. Itu atas usul Vanya.


"Aku udah lama banget nggak naik bianglala, Dip," ujar Vanya begitu masuk di satu kurungan.


Bianglala mulai bergerak memutar. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka. Dipta tersenyum teduh menatap wajah Vanya. Padahal setiap hari ia melihat Vanya, tetapi tetap saja tidak puas.


"Kamu ada angin apa kok ngajak aku kesini, Dip?" tanya Vanya.


Dipta menggeleng. "Nggak ada apa-apa, sih. Kangen aja sama kamu. Kita emang sering ketemu, sih. Di sekolah juga kita sering ke kantin bareng. Tapi rasanya kayak sebentar-sebentar banget. Aku pengen quality time yang bener-bener gitu buat kita. Ya udah aku mampir ke sini aja," jawab Dipta.


Vanya mengangguk paham. Ia juga rindu masa-masa seperti ini dengan Dipta.


"Kalau suatu saat, kamu ketemu orang yang kamu ngerasa dia tuh lebih klop sama kamu, dibandingkan aku, kamu bakal gimana, Van?" Pertanyaan itu terlintas begitu saja di benak Dipta ketika melihat pemandangan langit malam dalam kurungan bianglala.


Diberi pertanyaan tiba-tiba seperti itu, tentu saja Vanya terkejut. Ia butuh beberapa detik untuk kemudian menjawabnya.


"Ino sama David itu juga klop sama aku. Dari segi kesukaan kita banyak yang sama. Tapi ya aku nggak tertarik sama mereka. Soalnya yang aku mau itu kamu," jawab Vanya.


"Jangan mereka dong konteksnya. Kalau mereka mah aku tau kamu nggak bakal kepincut." Dipta masih tak puas dengan jawaban Vanya.


"Terus gimana dong?" Vanya ikutan bingung.


"Ya siapa gitu. Pokoknya orang itu bukan dari sahabat kamu kayak Ino ataupun David. Sama mereka mah aku udah nggak bisa cemburu-cemburu lagi," ujar Dipta.


"Manusia mah nggak ada yang sempurna, ya, Dip. Kayak misalkan kamu nih udah punya 80%. Salah kalau aku cari 20% yang nggak kamu punya di orang lain, karena bisa aja aku malah kehilangan 80% itu. Kamu orang yang nggak buat aku lupa rasanya punya rumah, Dip. Kalau nggak sama kamu, nggak bisa kayaknya," terang Vanya.


"Sama, Van. Kalau nggak sama kamu, aku juga nggak bisa deh," balas Dipta.


Keduanya seolah memang sudah saling mengikat terlalu erat untuk satu sama lain. Mungkin tanpa disadari, keduanya sudah saling bergantung. Tidak peduli berapa banyak perbedaan yang ada pada diri mereka, mereka sudah nyaman.


Sekarang, bagi Vanya dan Dipta perbedaan tidak terlalu menjadi masalah. Buktinya mereka masih baik-baik saja hingga saat ini. Omongan miring dari orang luar, sepakat untuk tidak dimasukkan ke dalam 'rumah'. Itu sebagai upaya keduanya menjaga pondasi 'rumah' mereka untuk tetap kokoh.


Percaya. Itulah yang jadi dasar kokoh tidaknya suatu hubungan.


"Lagian kenapa, sih, tanya kayak gitu?" tanya Vanya heran.


"Ya nggak kenapa-kenapa, sih. Penasaran aja. Soalnya, kita kan beda banget ya. Dari segi hobi, kesukaan, dan macem-macemnya. Bisa aja kamu ketemu orang yang lebih baik, lebih klop sama kamu. Aku takut tiba-tiba kamu ketemu sama orang kaya gitu, tapi aku udah jatuh banget-banget sama kamu," ujar Dipta.


Vanya mengusap tangan Dipta. "Enggak, Dip. Jangan mikir gitu. Susah bahkan sangat nggak mungkin buat orang lain gantiin kamu. Gila aja, masa rumah yang udah dibangun bertahun-tahun, justru tuan rumahnya digantiin orang lain gitu aja?"


Dipta tersenyum. Dalam hati juga menyemogakan Vanya tidak akan bertemu dengan orang seperti yang ia maksud. Sekalipun bertemu, semoga saja posisinya memang benar-benar tak tergantikkan.