
Tidak terasa hampir dua minggu Ujian Kenaikan Kelas dilaksanakan. Sisa satu hari dengan satu mata pelajaran yang akan menjadi penutup UKK kali ini. Mata pelajaran PJOK menjadi yang menjadi penutup.
Sebenarnya, Vanya tidak terlalu paham apabila mata pelajaran PJOK diujikan secara teori seperti ini. Ia lebih suka langsung praktik bermain di lapangan. Menurutnya, itu akan lebih mudah dan menyenangkan dibandingkan diujikan secara teori. Imajinasi harus benar-benar berjalan untuk membayangkan gerakan setiap gerakan yang terdapat pada soal. Jadi tak heran jika ketika ujian PJOK secara teori, banyak anak-anak yang melakukan gerakan random di kelas. Entah mengangkat tangan, memutar kepala, bahkan melihat kaki yang berbalut sepatu.
Pengingat waktu di layar komputer yang ada di depannya terus berjalan. Waktunya masih panjang di sana, sekitar 35 menit lagi. Soal yang belum dijawab oleh Vanya kurang 15, tapi mata gadis itu rasanya berat sekali. Vanya mengantuk.
Semalam, Vanya memang tidur lebih malam jika dibandingkan jam tidurnya selama ujian. Ketika ujian kali ini, Vanya tidur paling malam pukul setengah sebelas. Tidak ada agenda begadang atau kelamaan scroll tiktok. Namun, malam tadi ia terlarut dengan tontonan dramanya hingga tidur pukul setengah 2 pagi. Tidak heran jika pagi ini gadis itu menguap entah untuk berapa kali.
"Gue tinggal tidur dulu aman nggak ya kurang 15 soal," monolog Vanya.
Sejenak, gadis itu mengedarkan pandangannya ke seisi kelas. Teman-temannya masih terlihat sibuk dengan soal ujian masing-masing. Sepertinya, ia hanya bisa mengandalkan kekuatan doa semoga tidurnya tidak lebih dari lima belas menit.
Gadis itu akhirnya meletakkan kepalanya di antara lipatan tangannya. Perlahan, mata Vanya menutup dan gadis itu menyelami alam mimpinya. Meninggalkan 15 soal pilihan ganda PJOK yang belum berhasil dijawabnya.
Nyenyak sekali tidur Vanya. Insiden sinyal yang mendadak hilang dan membuat seisi kelas panik sampai sudah normal lagi pun tidak mengusik tidurnya sama sekali. Suara operator google yang bersumber dari David hingga berujung ditertawakan satu kelas dan ponsel David disita oleh guru pengawas juga tidak berhasil membuat Vanya terbangun. Tidur lima belas menit hanyalah wacana.
Tiga puluh menit waktu berjalan, Vanya pun masih asik menyusuri alam mimpinya. Sudah terdengar alarm dari pusat tentang sisa waktu lima menit. Sudah pula diingatkan oleh guru pengawas terkait sisa waktu, Vanya belum bangun juga.
Tidurnya Vanya mendapat atensi dari guru pengawas, Bu Risma. Bu Risma menghampiri Vanya yang mukanya tidak terlihat karena berada di antata lipatan tangan. Beliau melirik sejenak ke arah komputer gadis itu, masih ada nomor yang belum tertanda hijau. Artinya belum diselesaikan. Dan itu cukup banyak.
Bu Risma menepuk bahu Vanya bermaksud membangunkan gadis itu. "Vanya, ayo bangun dulu terus selesaikan pekerjaan kamu. Waktunya tinggal 5 menit lho," tegur Bu Risma.
Hampir satu menit masih belum ada respon. Teman Vanya yang di belakang sudah menendang-nendang kursi Vanya. Akhirnya, gadis itu bangun dengan wajah yang masih sangat mengantuk.
"Gue ngantuk banget ya ampun," gerutu Vanya seraya mengucek matanya.
"Iya, tapi itu selesaikan dulu ujian kamu. Kurang 4 menit."
Suara itu membuat Vanya spontan membuka matanya lebar-lebar. Ada Bu Risma di sana. "Eh, Bu Risma. Makasih, Bu, udah bangunin saya."
"Ya, makanya kamu kalau ujian jangan begadang. Buruan, waktunya jalan terus." Usai mengingatkan itu, Bu Risma kembali berjalan dan duduk di depan.
Vanya makin kaget melihat timer di layar komputer yang kurang tiga menit, sedangkan soalnya yang belum terjawab ada 15. Tidak cukup waktu jika Vanya membaca semua soal dan memikirkan dengan seksama. Untuk itu, dengan kecepatan super, Vanya membaca kilat dan langsung klik-klik jawaban. Beberapa soal bahkan langsung ia klik jawaban tanpa perlu repot-repot membaca dan berpikir.
Sudah mepet, mau bagaimana lagi. Vanya pasrah saja.
"Padahal gue baru tidur kayaknya 5 menit. Lah kok bangun-bangun malah sisa waktu ujiannya yang 5 menit," gerutu Vanya dengan agak gusar karena kejar-kejaran dengan waktu.
*
Dipta yang mendengar itu hanya geleng-geleng kepala. Kelakuan kekasihnya ini ada-ada saja. "Kamu nih kok bisa-bisanya kepikiran tidur dulu pas lagi ujian?" Dipta masih tak habis pikir.
"Udah ngantuk maksimal, Dip. Berat banget ini mata kudu merem. Kan aku mikirnya bakal 15 menit doang, lah ternyata kok kebablasan," balas Vanya.
"Pasti sisa soalnya kamu jawab asal," tebak Dipta.
Vanya mengangguk. "Iya dong, mana sempet aku mikir sama mraktekin satu-satu. Nggak papa lah yang penting keisi semua walau nggak tau bener apa enggak," ujar Vanya.
"Iya deh, semoga hoki ya nanti banyak yang bener. Ini es krimnya dihabisin, meleleh tuh kamu nyerocos mulu dari tadi," tegur Dipta melihat es krim Vanya yang mulai meleleh. Setelah pulang sekolah, sekaligus merayakan selesainya ujian, Vanya dan Dipta pergi ke mall untuk jalan-jalan.
"Kan kangen, Dip. Selama ujian mana bisa nyerocos kayak gini. Tegang sama ujian. Kamu juga kalau lagi belajar nggak bisa diganggu," jawab Vanya. Memang selama ujian, Vanya dan Dipta tidak banyak berinteraksi. Mereka hanya beberapa kali belajar bersama untuk mata pelajaran tertentu.
Dipta tentu saja menghabiskan waktu dengan belajar yang fokus. Vanya yang biasanya ketika ujian tetap main bersama teman-temannya, kali ini lebih banyak di rumah untuk belajar. Oleh karena itu, untuk menebus waktu yang tidak mereka habiskan bersama, setelah ujian mereka langsung menghabiskan waktu dengan jalan-jalan.
Vanya dan Dipta juga berencana menonton bioskop setelah ini. Tinggal menunggu jam mulai saja karena sebelumnya sudah memesan secara online di aplikasi.
"Tapi kamu keren banget di ujian kali ini. Good job, Vanya! Semoga hasilnya nanti juga memuaskan ya," ucap Dipta.
"Keren dari mananya sih Dip orang aku aja ketiduran pas ujian," balas Vanya.
Dipta tertawa mendengarnya. "Kamu ketiduran kan satu hari ini doang. Hari-hari sebelumnya kamu lewatin dengan keren banget soalnya kamu mau belajar. Itu sebuah progress yang hebat banget loh, Van," jelas Dipta.
"Itu bukan hal yang besar. Kamu kenapa suka banget apresiasi hal-hal sepele kayak gitu. Belajar kan emang tanggung jawab pelajar," ujar Vanya.
"Justru hal-hal sepele yang sering luput dari pandangan itu butuh apresiasi besar. Semuanya kan dimulai dari hal kecil dulu, Vanya. Hal kecil, hal sepele itu termasuk rangkaian proses. Apapun hasilnya nanti, prosesnya tetap harus diapresiasi," terang Dipta.
Vanya tersenyum. "Manis banget pacar aku. Makasih, ya. Kamu juga keren. Pokoknya semua hal soal kamu selalu keren dan hebat," ujar Vanya balik mengapresiasi Dipta.
Bersama Dipta, Vanya jadi lebih menghargai sekecil apapun proses harus diapresiasi tidak peduli bagaimana hasilnya nanti. Semakin hari, rasanya Vanya jatuh kepada Dipta semakin dalam lagi.
*