Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Cerita Dipta



"Gue capek sebenernya ribut mulu sama Vanya. Dan hal yang diributin pasti itu-itu mulu. Nggak jauh-jauh soal Aretha. Sampai Vanya sempet bilang katanya ambil waktu intropeksi dulu, jatuhnya kita malah kayak perang dingin. Nggak ada interaksi sama sekali, ketemu aja ogah-ogahan." Dipta menceritakan soal hal yang mengganggunya kepada Rio dan Dino. Dino yang pisah kelas dengan Dipta dan Rio, akhirnya bisa berkumpul lagi hati ini. Saat ini, mereka sedang berada di pinggir lapangan. Duduk lesehan dengan pandangan ke arah langit.


"Itu bisa disebut break nggak sih?" celetuk Dino.


Dipta mengerutkan keningnya. "Break? Gue nggak pernah kepikiran sama sekali soal itu. Nggak, ini bukan break."


"Iya dah, bukan break. Itu perang dingin kayak kata lo. Ini bukannya gue mojokin lo banget ya, Dip, tapi lo juga sempet cerita kalau Vanya emang pernah bilang nggak suka kedekatan lo sama Aretha. Gue tau sih lo juga udah nenangin dia, tapi gimana ya ... kayaknya itu kurang buat Vanya. Yang dia mau ya elo sama Aretha jauh-jauh," jelas Rio.


"Ya itu yang gue nggak bisa. Gue sama Aretha sekelas. Dia wakil gue, kita satu tim inti buat yearbook. Nggak bisa, Yo, kalau harus jauh-jauh gitu, bakal keganggu," balas Dipta.


"Kayaknya sepengamatan gue selama lo pacaran sama Vanya, Vanya bukan tipe yang cemburu banget deh, Dip. Kalau dia kayak gitu, berarti bener-bener nggak nyaman. Mungkin juga karena orang-orang kan udah banyak tuh yang gosipin lo sama Aretha, dia jadi keganggu dan nggak tenang. Apalagi dari sudut pandang Vanya, lihat kalian tuh deket, ya gitu deh jadinya," sahut Dino.


"Tapi Vanya juga bukan tipe yang terlalu musingin omongan orang. Selama ini banyak omongan nggak enak soal hubungan kami, Vanya masih fine-fine aja," ujar Dipta.


"Ya itu, Dip, mungkin saking banyaknya dan yang kali ini dia ngerasa udah too much. Dia tau, dia nggak bisa handle orang-orang itu, makanya dia minta lo jaga jarak sama Aretha," balas Rio.


"Dia juga deket sama Ethan. Gue udah bilang sebelumnya kalau gue nggak suka dia banyak interaksi sama Ethan, tapi makin akrab mereka," ujar Dipta.


"Sama kayak alesan lo, Vanya sama Ethan sekelas. Hayo gimana?" ucap Dino cukup membuat Dipta melirik sinis ke arah Dino.


"Beda kasusnya. Harusnya Vanya juga bisa jaga jarak," kekeh Dipta.


"Gue no komen deh kalo Ethan. Soalnya setau gue, Ethan sama temen-temen Vanya yang lain juga deket, mereka kan satu club. Apalagi sekarang sekelas, jadi ketemu temen satu frekuensi baru," ujar Rio. "Tapi, Dip, lo jujur sama kita, lo sama Aretha tuh gimana?" lanjut Rio.


Dipta terdiam sejenak mendengar pertanyaan terakhir yang terlontar dari mulut Rio. Tidak menyangka akan ditembak dengan pertanyaan seperti itu. Harusnya, Dipta bisa langsung jawab 'enggak gimana-gimana'. Namun, entah kenapa ia malah butuh waktu berpikir untuk menjawab itu.


"Kok pakai diem sih? Kan bisa langsung jawab nggak ada gimana-gimana sama Aretha. Atau jangan-jangan..." Dino sengaja menggantungkan ucapannya dan tidak melanjutkan itu. Hal itu berhasil memancing Dipta untuk berdecak.


"Jujur ya gue bingung juga. Gue kalau ngobrol sama Aretha tuh seru. Dia punya banyak wawasan, jadi gue ajak ngobrol dari topik A sampai Z pun dia bisa ngimbangin dan kita nyambung. Karena itu, gue jadi suka ngobrol sama dia. Dan ... Gue nggak tau apakah ini salah atau enggak, tapi jujur gue nyaman sama dia. Gue seneng bawa topik-topik baru buat dibahas sama dia, meskipun itu di luar project dan status kepengurusan kita. Soalnya sama Vanya, gue nggak bisa kayak gitu. Vanya jarang bisa ngimbangin percakapan gue ketika gue ajak diskusi tentang sesuatu. Vanya nggak menguasai banyak topik kayak Aretha. Gue sempet mikir, gue lebih sefrekuensi sama Aretha ketimbang Vanya," papar Dipta mengungkapkan isi perasaannya.


"Itu juga yang bikin gue mau jaga jarak tuh sebenernya berat. Waktu Aretha ngejauh, gue kehilangan temen diskusi gue yang bikin gue sedikit ngerasa kosong. Gue nggak tau ya ... sebenarnya ini tuh kenapa? Dan apakah ini kesalahan atau engga? Gue sekarang anggep Aretha masih sebagai temen, tapi gue nggak bisa ngelak kalau gue mulai nyaman dan tertarik sama dia," lanjutnya.


"Lo tanpa sadar buka hati lo buat satu nama lagi, Dip. Dan menurut gue, itu nggak adil buat Vanya," sahut Dino tepat setelah Dipta mengakhiri ceritanya.


"Gimana kalau Vanya masih jaga pintu hatinya cuma buat lo doang meskipun di depan ada Ethan atau siapapun cowok lainnya? Nggak sehat, Dip, kalau terus kayak gini. Lo nyakitin diri lo sendiri, nyakitin Vanya, dan seret Aretha juga. Lo secara nggak langsung nunjukin kalau lo mulai goyah sama Vanya. Bantah gue kalau ucapan gue yang itu keliru," ujar Dino.


Dipta ingin membantah, tapi tidak bisa. Dalam dirinya membenarkan semua ucapan Dino.


"Ini emang godaan, Dip. Ujian buat lo sama Vanya ke depannya. Tapi gue harap apapun keputusan lo, tolong tetep jadi Dipta yang bijak," pungkas Dino.


"Kalau tau kayak gini, berarti keputusan Vanya minta kalian buat intropeksi diri bener sih. Cuma ya, kalau emang dirasa nggak bisa dilanjut, atau udah terlalu nggak sehat, menurut gue jangan dipaksa lanjut. Terlepas masalah Aretha, sebelumnya lo juga sering ribut sama Vanya masalah lain. Kalian banyak bedanya. Beda prinsip, beda persepsi, beda maunya yang kadang susah disatuin. Kalau perbedaan itu bisa kalian atasi, nggak masalah. Tapi kalau itu malah bikin kalian sering ribut tanpa bener-bener cari jalan keluar, ya sama aja," tambah Rio.


Ucapan kedua sahabatnya kali ini benar-benar menampar Dipta. Menuntun Dipta untuk mengetahui apa yang sebenarnya ia rasakan baik kepada Vanya maupun Aretha. Dan benar, Dipta mulai goyah.


Mereka tidak menyadari bahwa tak jauh dari sana, ada Vanya yang diam-diam mendengar semuanya. Mendengar dari awal hingga akhir. Mendengar pengakuan Dipta, keluh kesahnya, hingga suara-suara sahabat-sahabat Dipta.


Jujur, Vanya semakin minder setelah Dipta bilang dirinya tidak seperti Aretha yang bisa mengimbangi Dipta ketika cowok itu mengajak diskusi. Secara tidak langsung, Dipta mengakui Vanya tidak lebih baik dari Aretha.


Kata putus dan selesai memang sempat terlintas di benak Vanya. Namun, Vanya masih takut untuk benar-benar merealisasikannya. Kehilangan Dipta, sama saja kehilangan rumahnya dan kehilangan seseorang yang ia jadikan sebagai sandaran. Kehilangan Dipta, Vanya tidak tau apakah ia bisa melanjutkan hidupnya sebaik sebelumnya, atau tidak?