Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Mulai Terbiasa



Vanya masih saja merasa bersalah pada Dipta. Hubungan yang sudah mereka bangun begitu lama kini harus hancur begitu saja dengan cara yang tak baik. Vanya merutuki dirinya sendiri yang tak bisa untuk menjaga kepercayaan Dipta juga hubungannya.


Ia memang salah karena melakukan semua ini. Harus nya saat Dipta perlahan mengikis hubungan mereka dengan rasa nyamannya dengan Aretha yang ia lakukan adalah bersikap baik dan membuat Dipta sadar jika ia tak kalah baik dengan Aretha. Namun bodoh nya ia malah merusak semua nya dengan kembali pada dunia malam nya.


“Lo samperin dulu deh Dipta nya. Kalau emang gak bisa balikan seenggak nya gak ada dendam juga penyesalan antara kalian,” ucap Eva sambil menepuk pundak sahabat nya yang kini hanya menatap jalanan di depannya.


Kini mereka tengah berada di sebuah cafe untuk menghabiskan hari libur mereka. Vanya yang kini mengajak Eva keluar untuk menenangkan dirinya. Namun tetap saja ia tak mendapatkan ketenangan itu. Saat hati dan kepalanya pun kini hanya dipenuhi dengan Dipta juga hubungan mereka yang baru saja kandas.


“Gue rasa Dipta gak akan mau balikan sama gue,” ucap Vanya dengan senyuman sinisnya. Eva yang mendengar itu menganggukkan mengerti. Amarah kini masih menguasai keduanya. Namun tak ada salahnya untuk mencoba.


“Gak perlu balikan Van. Yang penting dia mau maafin lo. Masalah akhir hubungan lo bakalan kayak gimana mah masalah akhir, yang penting sekarang lo samperin dia buat minta maaf dan sampaikan semua yang lo rasain. Biar gak ada kebencian dan kalian malah musuhan,” ucap Eva menasihati.


Vanya kini masih terdiam mendengar ucapan Eva. Entah ia harus melakukan apa yang Eva katakan atau membiarkan saja semua nya berjalan dengan tuntunan semesta.


“Jalan hidup itu pilihan Van. Dan lo yang menentukan jalan mana yang lo pilih. Gue pun sebagai sahabat lo cuma bisa nasehatin aja,” ucap Eva lagi saat tak mendapatkan jawaban dari sahabat nya itu.


Vanya menghembuskan nafasnya kasar sebelum akhirnya ia menganggukkan kepalanya. Sepertinya memang kini ia harus berbicara dengan Dipta, menjelaskan dan mengungkapkan semua nya pada laki-laki itu.


Vanya memilih untuk menanyakan pada sahabat Dipta tentang keberadaan laki-laki itu. Karena sudah bisa Vanya tebak jika bertanya langsung pada Dipta, maka laki-laki itu tak akan memberitahu nya atau bahkan tak menjawab panggilan ponsel nya.


Setelah mengetahui keberadaan Dipta yang kini ternyata tengah berada di tempat nya bermain futsal akhirnya Vanya memutuskan untuk segera pergi ke tempat tersebut. Eva benar, yang terpenting saat ini adalah saling memaafkan agar mereka bisa putus dengan hubungan yang masih baik.


Tak membutuhkan waktu lama untuk Vanya sampai di tempat Dipta bermain futsal. Setelah sampai, Vanya langsung berjalan memasuki tempat tersebut dan mencari keberadaan Dipta.


Saat dilihat nya Dipta yang tengah beristirahat dengan berlari kecil Vanya, segera menghampirinya.


“Dipta,” panggil Vanya yang langsung membuat Dipta menoleh saat namanya dipanggil. Wajah nya sontak mengeras saat melihat keberadaan Vanya di sana.


“Aku mau ngomong bisa?” tanya Vanya dengan tatapan penuh harapnya pada Dipta.


“Kamu lagi ngomong kan?” sarkas Dipta sambil menenggak minumannya.


“Please,” mohon Vanya.


Dipta menghela nafasnya kasar dan akhirnya ia segera berdiri untuk berjalan lebih dulu. Vanya kini hanya mengikuti saja. Hingga Dipta membawanya ke tempat yang tak terlalu ramai.


“Aku mau minta maaf,” ucap Vanya setelah mereka kini saling berhadapan. Dipta yang mendengar ucapan Vanya menaikkan sebelah alisnya.


“Seperti yang aku bilang, ku gak mungkin marah-marah ke Aretha. Dan aku juga udah capek selalu berantem sama kamu dengan masalah yang sama,” lanjut Vanya lagi. Dipta masih saja diam mendengar ucapan dari gadis di depannya itu sambil menatapnya dengan tatapan datar.


“Kedekatan kalian yang selalu buat kita berantem buat aku capek Dip. Sampai akhirnya aku malah ngelampiasin semua nya dengan balapan. Aku cuma mau cari ketenangan Dip, maaf karena udah bohongin kamu,” ucap Vanya dengan tatapan bersalah nya pada Dipta.


Dipta yang mendengar nya kini sudah tersenyum dengan sinis nya.


“Aku udah bener-bener kecewa sama kamu Van. Aku capek sama tingkah kamu. Kamu yang selalu bohongin aku. Kamu yang selalu rusak kepercayaan aku,” ucap Dipta.


Mendengar itu, Vanya menganggukan kepalanya mengerti. Sudah terlalu banyak dirinya membohongi Dipta.  “Maaf,” ucap Vanya. Hanya itu yang kini bisa Vanya katakan pada laki-laki tersebut.


“Masalah kita bukan tentang Aretha ataupun Ethan. Tapi ada di diri kita masing-masing,” ucap Dipta melanjutkan ucapannya.


“Sebelum kedatangan Aretha aku udah mau berubah buat kamu Dip. Tapi kamu malah abai kan sama aku? Kamu lebih memusatkan atensi kamu ke Aretha, wajar kan kalau aku cemburu?” tanya Vanya dengan tatapan penuh tanya nya pada Dipta.


Dipta yang mendengar ucapan Vanya kini hanya terdiam.


"Oke, aku ngerti. Bener kata kamu, ini bukan cuma soal Aretha, atau siapapun itu. Tapi soal kita yang udah saling kehilangan pilar utama kita, yaitu kejujuran dan kepercayaan. Aku bicara kayak gini bukan buat ngajak kamu balikan kok Dip. Aku cuma mau minta maaf. Kalau seandainya memang harus putus ya gak papa. Aku jelasin semua ini cuma karena gak mau kita musuhan, aku pengen hubungan kita tetap baik-baik aja,” ucap Vanya dengan senyumannya pada Dipta yang kini malah terdiam.


“Dan aku gak mau kita saling membenci aja setelah putus, dan seenggaknya sekarang aku lega bisa ngungkapin semuanya ke kamu,” ucap Vanya masih dengan senyumannya.


“Kalo aku bisa minta satu hal, aku minta kamu bisa menyadari perasaan kamu ke Aretha,” ucap Vanya dengan senyumannya. Meskipun sebenarnya senyuman itu hanya lah untuk menutupi hatinya yang kini begitu hancur.


Memang nya gadis mana yang tak hancur jika mengatakan seperti itu pada laki-laki yang masih begitu ia cintai?


“Apa maksud kamu?” tanya Dipta dengan tatapan terkejut nya.


“Kamu sendiri kan yang bilang kalau kamu nyaman sama Aretha? Lebih baik kamu segera menyadari itu daripada kamu juga kehilangan Aretha,” ucap Vanya dengan senyuman sambil menepuk pundak Dipta.


“Kamu gak sadar sejak project yearbook dimulai, kamu udah beda Dip. Kamu lebih care dan musatin atensi kamu sama Aretha. Kamu gak sadar? Bahkan aku sadar loh,” ucap Vanya yan kini melanjutkan ucapannya.


Vanya mengembuskan napas pelan. “Bahagia selalu Dip,” ucap Vanya.


Setelah nya Vanya memilih untuk segera pergi dari sana. Meninggalkan Dipta dengan keterkejutannya.


*