
Hari hari kini Vanya lalui bersama dengan teman-temannya. Teman-temannya yang selama ini menemani Vanya dalam proses move on nya. Sudah beberapa hari berlalu dan Vanya merasa beruntung memiliki sahabat yang menemaninya untuk melupakan Dipta.
Semenjak Vanya dan Dipta putus, Vanya belum pernah berinteraksi dengan Dipta lagi, barang sekadar menyapa pun tidak. Entah ia yang sengaja menghindar atau memang semesta yang tak membiarkan mereka bertemu. Namun yang jelas Vanya cukup bersyukur atas itu.
Saat ini Vanya tengah bersama dengan Ethan yang mengajak nya ke dufan. Sebenar nya sangat tidak cocok dengan penampilan Vanya yang kini sudah seperti orang yang mau balapan daripada hendak masuk ke dufan.
Semua ini karena Ethan lah yang tidak memberitahu kemana mereka akan pergi. Akhirnya, Vanya malah memakai jaket kulit berwarna hitam yang dipadukan celana panjang dengan robekan di beberapa bagian. Tidak lupa menggunakan sepatu boot kesayangannya.
“Salah kostum nih gue,” ucap Vanya sambil menatap ke sekeliling dengan mata yang banyak memperhatikannya.
Ethan yang mendengar ucapan Vanya kini malah terkekeh mendengar ucapan Vanya. “Lagian lo udah kayak mau balapan aja,” ucap Ethan dengan tawanya. Vanya yang mendengar ucapan Ethan kini menatap laki-laki yang berjalan di samping nya itu dengan tatapan sinisnya.
“Lo juga gak bilang kita mau ke mana,” kesal Vanya pada Ethan yang kini masih saja tertawa karena penampilan Vanya.
“Udah lah, kapan lagi kan ada pembalap masuk dufan,” ucap Ethan dengan tawa mengejek nya yang kini membuat Vanya berdecak mendengar ucapan Ethan.
“Ngeselin emang lo!"ucap Vanya dengan kekesalannya.
Hubungan Vanya dan Ethan kini semakin dekat. Setelah resmi selesai dengan Dipta, Ethan terlihat sering bersama Vanya. Mereka menghabiskan banyak waktu. Cowok itu gencar memberikan Vanya kenyamanan supaya tidak selalu terbayang-bayang oleh Dipta.
Contohnya, minggu ini Ethan mengajak Vanya untuk jalan-jalan menghabiskan hari libur mereka.
Bahagia? Jelas karena kini tawa yang sudah lama tak terlihat dari gadis tersebut kembali terpancar dengan sempurna berkat Ethan.
“Mau naik apa lagi ya?” tanya Vanya setelah mereka tadi menaiki wahana wahana ekstrim.
“Komedi putar yuk. Kayaknya lucu dengan pakaian lo yang kayak pembalap gini naik komedi putar,” ucap Ethan yang masih saja mengejek Vanya. Bahkan kini laki-laki tersebut sudah menarik Vanya untuk segera menuju ke arah komedi putar.
“Wah wah jangan aneh-aneh ya lo,” ucap Vanya menolak permintaan Ethan namun Ethan kini malah tetap saja membawa nya menaiki komedi putar tersebut.
“Gimana seru kan?” tanya Ethan dengan senyumannya pada Vanya yang kini hanya mengangguk sambil tersenyum dengan begitu lebar nya.
Tangannya kini sudah merentang seolah menikmati udara di sana. Ethan yang melihat itu ikut tersenyum. Ethan senang karena akhirnya Vanya bisa kembali tertawa dan tersenyum seperti ini membuat Ethan ikut senang melihat nya.
Sisa hari itu, mereka habiskan dengan mencoba banyak wahana yang berada di sana.
*
Vanya baru saja sampai di rumah nya saat hari sudah sore. Saat baru memasang motornya di garasi, kening Vanya mengerut melihat mobil yang tak asing berada di sana. Melihat itu, Vanya memilih untuk segera menuju ke arah rumah nya, memasuki rumah yang sering ia tinggal sendiri itu.
Hubungannya dengan ibunya kini memang berangsur membaik. Setelah pertengkaran mereka dan bantuan Dipta yang membantu membuat hubungannya dengan ibunya membaik, kini mereka sudah dekat lagi.
Vanya kini duduk di samping ibu nya sambil melihat barang-barang yang dibawa oleh wanita tersebut. Ibu nya memang lebih sering pulang. Ketika tidak bisa pulang, terkadang ibu nya akan menelpon sekedar menanyakan kabar nya.
“Mama kapan pulang?” tanya Vanya pada ibunya yang masih sibuk dengan oleh-oleh nya itu.
“Baru aja,” ucap ibu Vanya dengan senyumannya yang membuat Vanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan ibunya itu.
“Kamu abis main sama Dipta ya?” tanya ibu Vanya yang memang belum mengetahui tentang putus nya hubungan Vanya dengan Dipta. Mendengar pertanyaan dari ibunya itu kini Vanya hanya terdiam membuat wanita di samping Vanya itu kini menoleh ke arah anaknya dengan tatapan penuh tanya.
“Kenapa? Kamu sama Dipta baik-baik aja kan?” tanya Ibu Vanya lagi menatap anaknya itu yang kini hanya terdiam.
“Kamu baik-baik ya Van sama Dipta, dia itu orang yang baik. Kalau bukan karena dia, kita gak mungkin kembali seperti ini kan?” tanya Ibu nya lagi namun lagi-lagi Vanya hanya terdiam. Wanita tersebut kini mengerutkan kening nya bingung merasa ada yang aneh dengan anaknya itu.
“Aku udah putus Ma sama Dipta,” ucap Vanya yang kini berhasil membuat ibunya itu terkejut mendengar ucapan anaknya itu.
Ibu Vanya pikir hubungan Vanya dengan Dipta baik-baik saja. Apalagi yang ia tahu, Dipta begitu sabar menghadapi anaknya itu. Ia jadi tak menyangka jika pada akhirnya hubungan anaknya itu akan kandas.
“Kenapa?” tanya ibu Vanya dengan tatapan penasarannya.
“Udah gak sejalan aja Ma, beda frekuensi. Jadi susah aja,” jawab Vanya dengan tawa hambar nya. Ibu nya yang melihat itu menghembuskan nafas nya kasar. Ia tahu tawa anaknya itu menyimpan banyak luka.
Vanya tak ingin memberitahu hari-hari yang dilalui sebelum putus. Vanya tak memberitahu kehadiran Aretha, Dipta yang berubah, dan insiden ketahuan balapan. Mamanya cukup mengetahui mereka tidak sejalan lagi.
“Dalam hidup yang seperti ini biasa terjadi. Karena tak selama nya yang datang akan terus menetap. Terkadang mereka akan datang hanya sebagai pembelajaran hidup. Membawa alur dalam kehidupan kita, jadi yang perlu dilakukan sekarang adalah menerima,” ucap ibu Vanya sambil mengelus pundak anaknya itu memberikan nasihat pada Vanya yang kini menganggukkan kepalanya mendengar ucapan dari ibu nya.
“Mama padahal bawa oleh-oleh buat Dipta,” ucap Ibu Vanya sambil menunjuk paper bag dengan warna biru.
“Gak papa Ma, besok di sekolah Vanya kasih ke Dipta,” ucap Vanya dengan senyumannya.
“Kamu yakin?” tanya Ibu gadis tersebut dengan tatapan khawatirnya pada anaknya itu. Vanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya meyakinkan ibunya itu. Ibu Vanya menghembuskan nafas nya sambil menganggukkan kepalanya.
“Bilang ke Dipta, Makasih udah jagain anak Mama selama ini. Bilang juga buat selalu sehat dan bahagia,” ucap ibu Vanya. Vanya yang mendengar ucapan ibunya itu merasakan sakit di hatinya. Luka nya memang belum sembuh, sulit memang menyembuhkan luka yang sudah begitu dalam.
Semoga saja besok Vanya kuat untuk berhadapan secara langsung pada Dipta.
*