Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Hari Pertama Sekolah



Waktu berlibur selama dua minggu yang diberikan oleh sekolah kini akhirnya sudah selesai. Dan mulai hari ini para murid sudah harus sekolah seperti biasanya. Vanya dan Dipta kini berangkat bersama ke sekolah namun dengan hanya membawa motor Dipta saja.


Pagi-pagi sekali Dipta sudah berada di rumah Vanya. Dipta sengaja mengajak Vanya untuk berangkat pagi untuk mencari tempat duduk yang ia inginkan.


Vanya pun sudah rapi dengan seragam nya. Dipta seperti biasanya akan membawa sarapan untuk kekasih nya itu yang dititipkan oleh ibu nya. Mereka tengah sarapan bersama di rumah Vanya saat ini.


“Aku udah berdoa semalaman biar satu kelas sama kamu, kalau gak dikabulin gimana ya?” tanya Vanya pada Dipta di sela sela makannya.


“Ya mungkin emang udah kayak gitu takdirnya. Nggak papa kan tetep bisa ketemu walau nggak sekelas,” ucap Dipta pada Vanya yang kini mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Dipta yang begitu realistis. Harusnya laki-laki itu bisa sedikit memberi harapan namun ia malah langsung menyampaikan intinya.


“Dipta mah malesin,” ucap Vanya dengan wajah cemberut nya yang kini malah membuat Dipta tertawa mendengar nya.


“Ya kan aku cuma gak mau ngasih harapan ke kamu,” ucap Dipta menjelaskan yang kini membuat Vanya berdecak mendengar nya.


“Terserah deh,” ucap Vanya akhirnya yang kini malah semakin membuat Dipta tertawa mendengar nya.


“Udah?” tanya Dipta pada Vanya setelah gadis itu menghabiskan minumnya.


“Udah, ayo berangkat. Aku udah gak sabar,” ucap Vanya pada Dipta dengan begitu bersemangat nya. Dipta yang melihat tingkah gadisnya itu kini malah terkekeh sambil mengelus puncak kepala Vanya dengan sayang.


“Dipta aku deg degan deh,” ucap Vanya sambil memeluk Dipta dengan gemas. ini mereka tengah berada di atas motor menuju ke arah sekolah mereka.


Dipta yang melihat tingkah kekasih nya itu kini justru tertawa karena menurut nya Vanya kini begitu gemaskan. Sisi yang tidak banyak orang yang mengetahuinya. Atau memang hanya Dipta yang selama ini melihat nya.


Saat sampai di parkiran kini ternyata parkiran sudah begitu ramai. Vanya sebelumnya tak pernah datang sepagi ini hanya untuk mencari tempat duduk jadi ia tak tahu jika banyak yang bersemangat untuk memilih tempat duduk hingga kini banyak yang datang begitu pagi.


“Aku baru tau kalau hari pertama gini pagi-pagi udah rame,” ucap Vanya dengan kekehannya yang membuat Dipta kini menggeleng mendengar nya.


“Kamu kan emang telat mulu,” ucap Dipta pada Vanya yang kini malah menampilkan deretan gigi putih nya mendengar ucapan Dipta.


“Ya kan emang aku juga gak terlalu peduli mau duduk di mana, paling juga yang kosong di belakang, kan enak buat aku tidur,” ucap Vanya dengan tawanya yang kini menular pada Dipta.


“Emang dasar,” ucap Dipta sambil menggelengkan kepalanya.


Kini mereka berjalan bersama menuju ke arah mading yang berada di bagian depan dekat dengan sekretariat untuk melihat kelas mereka. Kini disana sudah begitu penuh dengan murid yang melihat kelas mereka.


“Kamu tunggu sini. Biar aku yang lihat,” ucap Vanya pada Dipta sambil menepuk pundak kekasih nya itu. Memang jika sudah masalah menyerobot barisan, Vanya juara nya. Lihat saja kini gadis itu sudah berada di depan.


Vanya mulai mencari namanya juga nama Dipta dimulai dari kelas IPA 1 namun di sana malah hanya ada nama Dipta saja membuat Vanya yang kini menghembuskan nafasnya kasar melihat itu. Akhirnya Vanya melanjutkan melihat namanya yang ternyata berada di kelas IPA 2.


Wajah nya kini langsung berubah sedih karena tak bisa satu kelas dengan Dipta. Meskipun permintaannya agar kelas mereka bersebelahan terwujud namun tetap saja kini mereka tak bisa satu kelas.


Kini Vanya keluar dari aksi desak-desakan itu dengan wajah sedih nya. Dipta yang kini menunggu tak jauh dari mading mengerutkan kening nya melihat wajah Vanya yang terlihat tidak semangat seperti tadi.


“Kenapa?” tanya Dipta sambil mengajak Vanya untuk menuju ke arah lantai kelas XII.


“Kita beda kelas. Kamu kelas IPA 1 aku IPA 2," ucap Vanya dengan wajah sedih nya. Di antara teman dekatnya, hanya David yang mencar ke kelas sebelah.


“Udah gak papa. Juga kelas kita sebelahan kan? Gak sulit buat ketemu,” ucap Dipta berusaha untuk menenangkan. Vanya akhirnya hanya mengangguk walau ia sedikit tak ikhlas.


“Ayo aku antar ke kelas kamu dulu,” ucap Dipta yang Vanya balas dengan anggukan.


Vanya kini segera menuju kelas nya bersama dengan Dipta. Saat sampai di kelas nya kini kelas nya juga sudah cukup ramai. Walau masih banyak yang belum datang.


“Eh Ethan. Lo satu kelas sama gue?” tanya Vanya dengan tatapan tak percaya nya saat melihat Ethan yang kini berada di meja paling pojok. Ethan yang mendengar suara yang menyebut namanya segera menoleh dan ikut terkejut melihat keberadaan Vanya.


“Lo disini juga?” tanya Ethan yang Vanya balas dengan anggukan.


Dipta yang awalnya tak masalah berbeda kelas kini jadi kepikiran karena ternyata Vanya satu kelas sama Ethan.


“Ayo Van ke kelas aku dulu,” ajak Dipta memotong pembicaraan Ethan juga Vanya. Vanya yang mendengar nya mengangguk. Vanya pun memilih untuk duduk di bangun nomor dua dekat dengan jendela.


Vanya dan Dipta akhirnya memilih untuk menuju ke arah kelas Dipta. Saat sampai di kelas Dipta Vanya terkejut melihat sahabat nya yang kini juga berkumpul di sana.


“Woy kalian kelas ini juga?” tanya Vanya dengan tatapan tak percaya nya.


Dipta kini memilih untuk meletakkan tas nya di barisan depan teman-teman Vanya. Bangku nomor dua dari depan bagian pojok.


“Kagak, ini mah si Dapit aja kasian di sini sendiri dia,” ucap Ino dengan tawanya yang kini sontak membuat Eva tertawa.


“Kalau bisa gue mau tukeran aja sama sama lo, Vid,” ucap Vanya pada David dengan wajah sendu nya.


“Dasar bucin,” ucap Ino pada Vanya.


“Balik kelas lah ayo. Kita satu kelas Van. Mending kita balik ke kelas. Bentar lagi udah mau masuk. Dari pada lo bucin mulu,” ucap Eva sambil menarik Vanya untuk pergi.


“Dipta aku ke kelas dulu ya. Semangat Pacar,” ucap Vanya dengan senyumannya yang kini hanya mendapatkan anggukan dari Vanya.


Selama di kelas Vanya kini hanya diam saja dan masih saja memikirkan tentang Dipta yang berbeda kelas dengannya.


“Mikirin apa sih Van?” tanya Eva pada Vanya dengan menaikkan sebelah alisnya.


“Gak ada sih,” ucap Vanya dan memilih untuk membaca bukunya saja. Temannya yang melihat itu hanya menggeleng kan kepalanya.


“Btw, Than. Lo kapan pindah nya dah?” tanya Eva saat melihat Ethan kini sudah berada di belakang nya dan duduk dengan Ino.


“Lo aja yang gak nyadar. Udah tadi,” jawab Ethan yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Eva.


Suara ponsel Vanya kini berdering dan ternyata notifikasi grup dari David yang mengirim pesan jika di kelas nya kini ada murid baru perempuan. Dan jujur saja melihat itu Vanya jadi merasa takut. Namun akhirnya Vanya berusaha mengenyahkannya dan tak memikirkannya lagi.


*