Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Sunmori



"Kenapa bohong lagi, Van? Kayaknya baru aja kemarin kamu tanya apa yang aku mau dari kamu. Dan baru kemarin juga aku jelasin, salah satunya soal ini. Eh malah hari ini akunya dibohongin. Apa aku cuma mimpi ya waktu ngobrol sama kamu hari itu?"


Dipta menyampaikan unek-uneknya di rumah Vanya. Setelah memergoki Vanya balapan tanpa sepengetahuannya, dan dengan membohonginya, tentu Dipta kecewa. Namun, ia tak mau mengintrogasi Vanya di sana. Ia masih menghargai perasaan Vanya supaya gadis itu tidak merasa dipermalukan.


Oleh karena itu, Dipta meminta Vanya berpamitan dan segera pulang. Dipta tunggu di luar hingga Vanya datang. Dipta minta Vanya untuk pulang dan membicarakan hal ini di rumah gadis itu.


Sekarang, mereka sudah berada di rumah. Lebih tepatnya di halaman depan rumah Vanya. Di meja bangku yang memang ada di depan sana.


Dipta berusaha mengontrol emosinya, meski sebenarnya ia sangat ingin meledak. Ia tidak suka dibodohi seperti ini. Dan gadis di depannya ini masih saja setia dengan bungkamnya tanpa menjawab pertanyaan Dipta.


"Jawab, Van, aku tanya," ulang Dipta.


Vanya mengembuskan napas pelan. Perlahan, ia mendongakkan kepalanya untuk menatap Dipta. "Maaf, Dip, aku emang salah kali ini," akunya. Vanya sadar, dirinya sepenuhnya salah kali ini.


"Iya, kamu salah. Tapi aku tanya alasan kamu kayak gitu tuh apa?" tanya Dipta, masih tak puas karena tidak mendapat penjelasan dari Vanya.


"Aku pengen banget balapan lagi. Aku kangen kumpul sama mereka. Aku tau kalau aku izin ke kamu, pasti kamu nggak boleh kan? Tapi aku udah kepalang kangen dan pengen banget, Dip. Jadi maaf, aku bohongin kamu," jelas Vanya.


"Aku nggak suka dibohongin, Van. Tiap kali kamu giniin, aku berasa jadi orang bodoh tau nggak? Sebelum ini, kamu pernah ngelakuin hal yang sama sejak aku minta kamu untuk enggak balapan?" tanya Dipta.


Vanya mengangguk. "Pernah. Waktu kamu video call dan aku layar gelap, aku bilangĀ  udah tidur, itu sebenarnya aku udah di mobil sama Eva buat ke markas. Tapi waktu itu aku nggak balapan. Serius cuma nonton doang," jawab Vanya.


Dipta meraup wajahnya emosi. Ia dibohongi, lagi.


"Aku aja nggak cukup, Van? Aku bisa temenin kamu motoran tanpa perlu kamu berurusan sama club motor itu," ucap Dipta.


Vanya mengernyit tak suka. "Jangan ngomong gitu, Dip. Kamu sama club motorku itu dua hal yang beda. Dan aku pikir masalah ini malah jadi melebar kemana-mana. Aku sadar aku salah, aku akui, aku kasih penjelasan, dan aku udah minta maaf," sahut Vanya agak tersinggung.


"Dan besok kamu ulang kesalahan yang sama lagi?" sindir Dipta. "Kenapa susah buat bilangin kamu, sih, Van? Itu bahaya buat kamu. Kalau ada apa-apa kayak jatuh waktu itu gimana? Jangan mikir jangka pendek kenapa sih?" lanjutnya.


"Dip, aku bisa jaga diri aku sendiri. Aku juga siap terima semua resikonya. Ini kesenangan aku, Dip, jangan diotak-atik. Emang nggak cukup ya selama ini aku nurut dengan nggak balapan? Nonton doang gitu nggak boleh?" balas Vanya.


"Nggak cukup karena hari ini kamu ngelanggar itu, Van. Jangan disepelein akunya," respon Dipta.


"Aku nggak maksud nyepelein kamu. Aku cuma nggak seneng kamu mojokin aku dan kesenanganku terus. Udah deh, Dip, nggak usah diperpanjang. Aku udah ngaku salah. Aku minta maaf. Jangan bahas lain-lain. Aku nggak bakal bohongin kamu lagi," terang Vanya.


Sejujurnya, Dipta tidak terlalu percaya dengan ucapan Vanya. Beberapa kali kepercayaannya dipatahkan, tapi ia coba sabar. Namun, Dipta tak mau perpanjang masalah, seperti yang diminta Vanya. Oleh karena itu, cowok itu pada akhirnya bilang, "Ya udah," ucapnya singkat tapi tidak jelas.


"Ya udah apa?" tanya Vanya tak mengerti.


"Masuk sana, istirahat. Besok aku ke sini pagi-pagi. Aku mau pulang dulu biar nggak ngomelin kamu lagi." Usai mengatakan itu, Dipta membalikkan badan, menuju motornya lalu mulai melajukan motornya meninggalkan rumah Vanya.


"Ini masalah hari ini udah kelar kan berarti?" Vanya bertanya entah pada siapa, dan tidak menemukan jawabannya di malam itu. Karena setelahnya, Dipta pun tak mengirim pesan apa-apa lagi. Cowok itu juga tak menjawab pertanyaannya di chat yang bertanya apakah Dipta sudah memaafkannya atas kesalahannya kali ini?


*


"Nggak, kamu pakai motor kamu sendiri."


Jujur Vanya masih tidak mengerti sebenarnya mereka ini hendak melakukan apa? Di minggu pagi ini, Dipta tau-tau saja sudah sampai di depan rumahnya seperti perkataannya tadi malam. Lebih anehnya lagi, Dipta malah menyuruh Vanya menaiki motornya sendiri.


Padahal, selama ini Dipta yang selalu meminta Vanya untuk membonceng dirinya saja jika bepergian. Namun, hari ini malah kebalikannya. Vanya disuruh naik motor sendiri.


"Dip? Kamu masih marah sama aku? Gara-gara kemarin? Kamu belum maafin aku?" tanya Vanya beruntun.


"Udah. Buruan, keburu panas," jawab Dipta.


"Dip, jawab yang bener dulu dong!" kesal Vanya.


"Bahas nanti aja. Sekarang buruan, keburu panas," ujar Dipta. Menurut, Vanya akhirnya menaiki motornya.


"Kita cari sarapan dulu. Aku nggak bakal tanya kamu mau sarapan apa. Kamu ikutin aku aja," tegas Dipta.


Vanya menurut saja karena aura Dipta masih tidak enak. Takut juga Vanya jika Dipta sedang marah seperti ini.


Kemudian, motor Dipta mulai melaju. Vanya pun mengikuti saja. Akhirnya, mereka berhenti di salah satu tempat bubur ayam. Dipta memesan dua porsi, tapi dibungkus. Tak lupa membeli dua air mineral.


Vanya masih tidak mengerti kenapa Dipta membungkus bubur ayam itu? Kenapa tidak dimakan di tempat saja? Namun, Vanya masih urung untuk bertanya.


"Nanti kita makan di tempat lain ya. Aku udah pernah bilang mau ajak kamu sunmori kan? Nah sekarang, ayo muter-muter kota naik motor masing-masing. Aku juga bisa kok temenin kamu motoran. Aku nggak bisanya tuh kalau ajak kamu balapan. Oh ya, aku juga udah maafin kamu. Aku nggak marah. Tolong jangan diulang lagi ke depannya ya? Aku setakut itu kalau kamu kenapa-kenapa," jelas Dipta tiba-tiba.


Hal itu tentu saja membuat Vanya kaget. Setelah Dipta mengambil pesanan bubur ayam, tiba-tiba saja cowok itu berucap demikian. Namun, kali ini otaknya mencerna lebih tepat. Seulas senyum terbit di bibir Vanya. Lega rasanya mendengar itu diucapkan oleh Dipta.


"Dipta, makasih banyak ya. Maaf aku ngecewain kamu lagi kemarin. Tapi kamu harus tau aku beneran bersyukur banget punya kamu. Ayo, ayo kita muterin kota. Ayo kita makan bubur ayamnya di taman deket danau. Ayo Dipta kita motoran banget!!" sahut Vanya dengan semangat.


Dipta tersenyum mendengarnya dan mengusap kepala Vanya lembut.


Kemudian, mereka lanjutkan agenda mereka yaitu memutari kota dengan motor masing-masing. Berhenti sejenak di taman dekat danau untuk menyantap bubur ayam. Hari itu, mereka lupakan sejenak masalah yang sempat menghampiri. Hari itu, mereka lupakan sejenak semua beban yang selama ini menghantui.


**