Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Rumor



Entah datang dari mana. Sebuah gosip yang mengatakan jika kini Dipta begitu dekat dengan murid baru yang tak lain adalah Aretha. Bahkan banyak yang menjodoh-jodoh kan mereka. Tanpa memikirkan Vanya sebagai kekasih Dipta.


Kini sekolah mereka bahkan begitu heboh dengan gosip tersebut. Bahkan Vanya yang awalnya bisa menerima jika ia dan Dipta tidak satu kelas. Juga sudah mempercayai Dipta kini goyah juga. Ia jadi takut jika info itu benar adanya.


Meskipun belakangan ini Vanya selalu mengabaikan berita itu dan tetap mempercayai Dipta. Tetap saja ada saat di mana Vanya juga merasa terganggu dengan info itu.


“Ngelamun mulu dah lo gue liat,” ucap Eva sambil menepuk pundak sahabat nya itu yang kini membuat Vanya hanya menghembuskan nafasnya sambil menoleh sekilas ke arah Eva dan kini ia kembali menelungkupkan wajah nya di atas kursi nya lagi.


“Dari pada lo begini mending sekarang lo cari deh Dipta di kelas nya,” ucap Ino yang kali ini memberikan saran pada sahabat nya itu.


“Biarin aja deh. Yang penting Dipta gak selingkuh aja udah,” ucap Vanya pada sahabat nya itu. Meskipun mulut nya dapat berbicara seperti itu namun jelas tidak dengan hatinya.


Vanya kini memilih untuk berusaha menghilangkan segala pikiran buruk yang bersarang di kepalanya.


“Lo mah mulut doang ngomong gitu. Hati mah tetep aja lo sedih, pikiran lo tetep aja ke sana,” ucap Ino yang kini begitu tepat sasaran.


Ethan yang sedari tadi berada di sana hanya diam saja tanpa memberikan nasihat atau pun memerintahkan Vanya, ia takut jika salah berbicara lagi.


“Lo tadi liat kan? Si Dipta kata gue mah ada something sama murid baru itu. Deket banget gitu,” suara yang terdengar begitu keras dari anak kelas Vanya membuat Vanya kini segera mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang berbicara.


“Emang mereka cocok juga sih. Gue lebih suka Dipta sama Aretha sih. Lebih cocok daripada Vanya jauh beda mereka,” ucap salah satu gadis yang berada di sana. Vanya yang mendengar ucapan itu kini segera berdiri.


Ia yang sedari tadi sudah berusaha menahan kekesalannya kini malah ada yang kembali menyulut amarah nya. Sahabat Vanya yang melihat itu kini sudah ikut berdiri. Takut jika ada pertengkaran nantinya.


“Lo kalau ngomong yang bener deh. Lo siapa ngomong kayak gitu? Kalian tuh cuma penonton kalo suka ya nikmati saja sendiri, kalau gak suka diem. Gak perlu ngomong begitu depan gue, biar apa? Biar gue mau putus dari Dipta? Lo siapa? Bapak nya Dipta? Emak nya Dipta?” tanya Vanya dengan amarah nya pada gadis tadi yang kini hanya terdiam mendengar ucapan Vanya.


“Lo gak ada hak ngomong begitu. Yang jalanin hubungan itu  gue. Bukan kalian, kalau emang ada masalah sana ngomong sama Dipta,” ucap Vanya pada kedua gadis itu yang kini hanya menatap Vanya dengan tatapan datar nya.


“Udah Van, mending lo abaikan aja deh mereka,” ucap Eva sambil menarik sahabatnya itu untuk segera pergi dari sana. Vanya hanya menurut dan segera pergi sana. Vanya menarik nafasnya dalam-dalam berusaha  menenangkan dirinya.


“Samperin aja deh Dipta, ajak dia ngomong baik-baik buat lebih jaga jarak dan ngehargain lo,” ucap Ino pada sahabat nya itu. Vanya yang awalnya tak ingin ribut dengan Dipta hanya karena masalah ini akhirnya memilih untuk segera menemui kekasih nya itu agar mereka bisa meluruskan semua ini dan perasaan Vanya bisa lebih tenang.


“Gue samperin DIpta dulu kalau gitu,” ucap Vanya pada sahabat nya yang menjawabnya dengan anggukan. Bel istirahat padahal baru saja berbunyi namun kini Vanya sudah berdiri di depan kelas Dipta.


“Vanya woy, udah di sini aja lo. Sini deh ikut gue dulu,” ucap David yang langsung menyambut nya saat Vanya baru saja berada di depan pintu kelas kekasihnya itu.


“Apaan?” tanya Vanya dengan tatapan seriusnya pada David.


“Lo serius?” tanya Vanya pada David yang kini menjawabnya dengan anggukan.


“Apa bener lagi gosip nya?” tanya David yang kini justru semakin membuat Vanya takut jika memikirkan tentang Dipta dan Aretha.


“Dipta ada di kelas?” tanya Vanya pada David yang menjawabnya dengan anggukan.


“Udah, baru aja dari ruang guru tadi bareng si Arathe,” ucap David yang kini benar-benar seperti kompor bagi Vanya. Vanya yang mendengar ucapan David semakin panas dengan pikirannya yang kini semakin kalut.


“Gue samperin dulu deh,” ucap Vanya yang setelahnya langsung berjalan memasuki kelas Dipta setelah mengucapkan permisi.


Kini bisa Vanya lihat. Dipta yang seolah tengah berbicara serius pada Aretha. Dengan Dipta yang kini menghadap ke belakang meja Aretha.


“Dipta,” panggil Vanya yang kini kompak membuat Aretha juga Dipta menoleh ke arah Vanya dengan senyumannya. Namun Vanya kini hanya menatap mereka dengan datar. Dipta yang melihat wajah kusut Vanya sudah mengetahui pasti ada yang mengatakan hal aneh lagi pada kekasih nya yang akhir-akhir ini jadi pencemburu itu.


“Kenapa? Hem?” tanya Dipta dengan senyuman lembut nya pada Vanya.


“Temenin ke taman belakang yuk,” ajak Vanya yang tak ingin berbicara di sana. Dipta menoleh ke arah Aretha sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.


Setelah nya Dipta segera berdiri lalu merangkul pundak Vanya untuk menggiring kekasih nya itu untuk pergi dari kelas nya saat ini. Mereka berjalan bersama menuju ke arah taman belakang. Setelah sampai di sana Vanya dan Dipta kini duduk di salah satu kursi yang berada di sana.


“Kenapa hm? Omongan apa lagi yang kamu dengar hari ini?” tanya Dipta dengan menaikkan sebelah alisnya. Vanya menghembuskan nafasnya lalu kini ia segera mengubah posisi nya agar mereka saling berhadapan.


“Kamu suka sama Aretha?” tanya Vanya tiba-tiba yang kini malah membuat Dipta menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan kekasih nya itu.


“Kamu ngomong apa sih? Mana mungkin aku suka sama dia disaat aku punya kamu? Satu aja udah cukup buat aku,” ucap Dipta dengan senyuman menenangkannya pada Vanya. Meskipun sudah mendengar ucapan tersebut secara langsung dari Dipta namun tetap saja rasanya Vanya belum puas.


“Tapi aku denger akhir-akhir ini kamu deket banget sama dia,” ucap Vanya dengan wajah serius nya.


“Karena aku ketua kelas dan dia wakil ketua kelas. Kita cuma sering bareng kalau lagi ngurus kelas. Udah lah gak perlu dipikirkan lagi masalah itu. Percaya sama aku, aku gak akan mungkin selingkuh dari kamu Vanya. Hubungan kita bukan hubungan satu dua minggu lagi,” ucap Dipta pada Vanya berusaha untuk memberikan pengertian pada Vanya.


Vanya memejamkan matanya. Kini ia harus bisa mempercayai Dipta dan berusaha untuk tidak lagi terpengaruh dengan ucapan yang sering di dengar nya.


“Aku gak suka kamu terlalu deket sama dia,” ucap Vanya dengan serius yang hanya Dipta balas dengan anggukan sambil mengelus puncak kepala Vanya. Sebuah jawaban yang masih terlalu abu-abu bagi Vanya.


*