
Berkumpul dengan anak-anak Aderfia bagi Vanya tidak cukup satu jam atau dua jam. Berjam-jam pun ia betah di sana sembari bercengkrama dengan yang lainnya. Anak-anak Aderfia seolah menjadi keluarga keduanya. Meskipun ia sudah lama tidak aktif, sambutan untuknya masih sama hangatnya.
Terjebak dengan kehangatan anak-anak Aderfia, gadis itu pulang larut dini hari kemarin. Pukul setengah 2 pagi ia baru sampai di rumahnya dengan diantarkan Eva. Ia memang tidak membawa motor, jaga-jaga jika Dipta ke rumahnya lagi.
Sebelumnya, ia sempat ditawarkan tebengan oleh Ethan. Namun Vanya menolak karena merasa tak enak. Kan mereka baru kenal. Lagian, ia juga malas kalau ada tetangganya yang memergokinya pulang dini hari diantar cowok. Bisa-bisa ketenangannya terganggu.
Sialnya, karena pulang dini hari kemarin, kini gadis itu jadi terlambat ke sekolah. Ia bahkan melewatkan jam pelajaran pertamanya. Sudah tau bahwa dirinya pasti tidak akan diizinkan masuk, ia memutuskan untuk bolos sekalian sampai jam istirahat tiba. Ia akan mengikuti mata pelajaran setelah jam istirahat saja.
"Ya ada untungnya juga, sih, gue bolos. Jadi nggak usah ketemu matematika," monolognya seraya meminum es milo yang ia pesan di warmindo.
Warmindo saat ini cukup sepi. Tidak ada anak berseragam di sana selain dirinya. Ia memutuskan menggunakan headset dan menonton drama korea saja.
Lima belas menit berjalan dengan tenang. Ia sudah fokus dengan dunianya sendiri sekarang. Namun, tepukan di pundaknya membuatnya mau tak mau melepas headset dan melihat siapa yang menepuknya.
"Lah? Kok di sini?" Tentu Vanya bingung melihat cowok itu ada di depannya sekarang.
"Hayoo, bolos juga ya lo." Cowok itu justru duduk di sebelah Vanya.
"Dih, gue mah telat. Istirahat nanti gue balik ke sekolah lagi. Lo ngapain ke sini, Than?" balas Vanya. Agak kaget juga baru pertama kali melihat Ethan dengan balutan seragam sekolah.
"Kelas gue jamkos. Daripada gabut ya gue ke sini aja. Nanti jam istirahat juga gue balik kok," jawab Ethan.
"Kenapa nggak di warung belakang yang biasa aja?" tanya Vanya.
"Pengen mie tek-tek di sini. Nah ini dia mie tek-tek gue dateng," ujar Ethan ketika sepiring mie tek-tek sudah ada di hadapannya.
"Makasih, Mas," ucap Ethan kepada mas-mas yang mengantarkan makanannya.
"Eh lo telat karena bangun kesiangan atau gimana?" Ethan membuka topik lain.
"Iya," balas Vanya singkat. Tatapannya masih asik berselancar pada layar ponselnya. Gadis itu melanjutkan menonton drakor dengan volume yang lebih kecil. Jadi kalau Ethan mengajaknya bicara, ia masih bisa nyambung.
"Kok lo nggak kesiangan, Than?" Vanya bertanya balik.
"Gue punya kelebihan. Mau tau nggak?" ucap Ethan.
Vanya mengangguk. "Apaan?"
"Gue mau tidur jam berapapun, tetep aja gue bisa bangun jam lima pagi," jawab Ethan lalu memasukkan sesendok mie ke mulutnya.
Vanya agak membelalak. "Iya? Kok bisa?"
"Namanya aja kelebihan."
"Tapi ngantuk nggak?" tanya Vanya.
"Dikit, tapi amanlah."
Sisa-sisa menit sebelum menuju jam istirahat itu, akhirnya mereka habiskan dengan obrolan singkat di warmindo.
*
Dipta bingung. Ia belum melihat kekasihnya hari ini. Motornya juga tidak ada di parkiran. Pesannya belum dibalas sama sekali.
Dipta sudah bertanya pada Eva, Ino, dan David yang merupakan teman dekat Vanya. Namun jawaban ketiganya sama saja. Mereka belum melihat Vanya dan belum mendapat kabar apapun dari gadis itu. Vanya tidak mengikuti jam mata pelajaran pertama dan kedua hari ini. Tentu saja Dipta khawatir. Apakah gadis itu sakit atau ada masalah lain? Dipta jadi tidak tenang.
"Kemana ya dia tuh. HP-nya malah enggak aktif," gerutu Dipta di pinggir lapangan dengan mata yang sibuk melihat ponsel, lalu menelisik ke sekitar.
"Bolos atau gimana ya? Mending gue coba cari di deket pintu belakang deh." Setelahnya, Dipta pergi ke taman belakang sekolah. Di sana juga ada gerbang yang sebenarnya tidak selalu dibuka. Namun, bisa dipanjat. Beberapa kali Dipta menciduk anak-anak yang mencoba bolos melalui gerbang itu.
Sesampainya di sana, tidak ada siapapun. Dipta makin bingung. Apakah Vanya tidak sekolah?
Ketika hendak pergi dari sana, suara seperti sesuatu yang jatuh mengetuk indra pendengaran Dipta. Sontak saja cowok itu berbalik dan melihat benda yang familiar di matanya.
Tas coklat milik Vanya dengan gantungan kunci berbentuk motor yang sangat Dipta hapal.
"Bolos nih pasti," ucap Dipta. Cowok itu melipat tangannya di depan dada. Dalam hati ia menghitung kapan Vanya akan tiba di sana.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Enam.
Tujuh.
"WAHH AKHIRNYAAA SAMPAI JUGA." Tepat di hitungan ke tujuh, dapat Dipta lihat kekasihnya yang masih memunggunginya.
"AYO, THAN!"
Dipta mengerutkan keningnya mendengar itu. Than? Siapa 'Than' yang dimaksud Vanya?
Tidak butuh waktu lama untuk ia mendapatkan jawabannya. Karena setelahnya seorang cowok juga meloncat setelah berhasil memanjat.
"Darimana?" Dipta akhirnya bersuara.
Sekarang, ia dapat melihat wajah terkejut dari Vanya. Sedangkan cowok yang disebut 'Than' itu masih santai membenarkan seragamnya.
"Eh, ada pacar," celetuk Vanya.
"Kamu abis darimana? Bolos sama siapa?" tanya Dipta masih dengan nada tenang, tapi terasa mengerikan.
"Ini nggak direncanakan kok. Aku telat bangun, terus pager udah ditutup. Jam pertamaku matematika, aku pasti nggak boleh masuk kalau telat. Jadi daripada aku gabut, aku ke warmindo. Tapi di jam setelah istirahat aku masuk kok," jelas Vanya.
Dipta mengangguk. "Oke, terus kamu kok bisa sama Ethan?" tanya Dipta.
"Lah? Kamu kenal Ethan?" Vanya bingung.
"Kenal dong. Kita kan pernah satu kelas pas kelas sepuluh," sahut Ethan.
"Bener nggak, Dip?" tanya Vanya dan mendapat anggukan dari Dipta.
"Kelas gue kosong, Dip. Jadi gue keluar aja, laper. Pengen mie tek-tek warmindo, yaudah gue ke sana. Eh ternyata ada Vanya," jelas Ethan.
"Kenal Vanya darimana?" tanya Dipta.
"Siapa, sih, yang nggak kenal sama cewek lo? Satu sekolah juga kenal kali. Ya udah gue balik ke kelas dulu dah. Duluan, ya," pamit Ethan.
Setelahnya, hanya tersisa Dipta dan Vanya di sana.
"Kok bisa telat?" tanya Dipta seraya merapikan rambut Vanya. Keduanya sudah berhadapan sekarang.
"Bangunnya kesiangan, kan tadi udah aku bilang," jawab Vanya.
"Emang semalem kamu ngapain kok sampai kesiangan?" Dipta memancing Vanya untuk bercerita.
"Nonton drakor."
"Kapan? Bukannya pas aku video call kamu, kamu bilang udah ngantuk dan itu kebangun?" Dipta bingung.
Vanya mengerjap. Gadis itu berdehem sejenak. "Iya ... itu aku kebangun. Abis itu ... emm ... aku coba tidur lagi, terus kebangun lagi. Nggak bisa tidur. Jadi ya .... udah, aku nonton drakor aja," jawabnya.
"Enggak lagi bohong kan, Lavanya?" Dipta masih curiga.
"Enggak, Diptaaa. Udah ah, aku mau taruh tas di kelas dulu, habis itu ayo ke kantin," ujar Vanya lalu berjalan mendahului Dipta.
Dipta mengembuskan napas pelan. Ia merasa kekasihnya tidak sedang jujur. Namun, Dipta coba percaya saja. Semoga, Lavanya tidak mengecewakannya.