Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Terlalu Berbeda



Vanya meregangkan otot nya yang masih lemas setelah tidur malam nya. Padahal ia baru saja bangun tidur namun kini ia malah sudah merasa begitu lelah dan masih mengantuk. Rumah nya kini tentu saja sepi. Apa lagi kini Dipta tak datang untuk menjemput nya.


Jam sudah menunjukkan pukul 6.20 namun ini termasuk bangun pagi untuk Vanya yang memang selalu bangun mepet waktu saat Dipta tak datang untuk nya. Dengan langkah yang begitu santainya kini Vanya berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Tak membutuhkan waktu lama kini Vanya sudah lengkap dengan seragam nya. Gadis itu beralih melihat ponselnya untuk melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 6.40 melihat waktu masuk tinggal dua puluh menit lagi Vanya segera turun untuk berangkat ke sekolah. Meskipun ia juga berniat untuk membeli sarapan dulu di tukang bubur langganannya.


Suara notifikasi ponsel yang menandakan pesan masuk mengalihkan Vanya. Lebih dulu Vanya melihat pesan yang ternyata dari Eva.


Eva


Bolos sini Van, gue di warung belakang.


Vanya menggelengkan kepala membaca ajakan sesat dari sahabat nya itu. Selanjut nya jarinya dengan lincah menari diatas ponselnya.


Vanya


Gak dulu deh bestie, Paduka Dipta jaga gerbang sekarang. Bisa ngamuk dia kalau gak ngeliat batang idung gue.


Balas Vanya yang setelah nya langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas nya. Dengan segera gadus itu menyambar helm nya lalu segera pergi menuju ke arah tukang bubur langganan nya untuk sarapan sebelum berangkat sekolah.


Setelah perjalanan yang tak terlalu jauh karena tukang bubur itu ada di depan kompleks nya Vanya segera turun dan memesan bubur ayam tersebut. Memakannya dengan pelan dan menikmati nya. Bahkan gadis itu tak sadar jika ia sudah menghabiskan dua mangkuk bubur ayah.


“Neng lima menit lagi jam tujuh, mending makannya cepetan. Nanti terlambat loh,” ucap tukang bubur tersebut memperingati Vanya. Vanya yang tak menyadarinya segera merogoh ponselnya dan benar saja jam sudah menunjukkan pukul 6.55


“Ini mang uang nya, Makasih ya,” ucap Vanya yang tidak lagi menghabiskan makanannya. Kini ia sudah terburu-buru agar tidak terlambat. Namun sialnya jalanan kini malah begitu macet.


Hingga saat sampai di sekolah nya pintu gerbang sudah ditutup. Ini memang bukan kali pertama Vanya terlambat. Namun ini kali pertama ia merasa kesal karena harus terlambat. Kini lagi-lagi ia harus terlambat datang ke sekolah karena terlambat bangun. Dipta kali ini tak datang karena ada jadwal jaga gerbang. Jadilah laki-laki itu tak bisa untuk menjemput Vanya.


Harusnya hari ini ia tak terlambat agar ia bisa menggoda kekasih nya itu saat baru datang. Namun kali ini ia malah terlambat. Sial sekali memang ia saat ini karena saat Vanya datang ternyata pintu gerbang sudah ditutup.


“Bolos aja kali ya, nanti istirahat aja lah balik lewat pintu belakang,” ucap Vanya yang bermonolog memikirkan acara bolos nya.


“Nanti jam ke tiga deh balik, sebelum paduka Dipta tahu gue bolos,” ucap Vanya pada dirinya sendiri. Setelah nya dengan langkah riang nya gadis itu berjalan ke arah warung belakang sekolah untuk bolos bersama dengan teman-temannya yang pasti kini sudah banyak yang berada di sana. Mengingat teman-temannya memang nakal semua. Akhirnya Vanya melajukan motornya menuju ke arah warung belakang.


Saat sampai di sana benar saja teman-temannya sudah banyak yang berkumpul.


“Woy, katanya gak mau bolos lo?” tanya Eva menyambut Vanya saat gadis itu baru memarkirkan motornya di depan warung.


*


Pintu gerbang sudah tertutup lima menit yang lalu. Namun sampai saat ini Dipta belum juga melihat kemunculan Vanya. Ia khawatir gadisnya itu belum bangun. Harusnya memang ia tadi menyempatkan diri sekedar membangunkan gadisnya itu.


“Dipta, nama-nama yang terlambat tadi langsung di kasih ke Pak Hadi aja ya,” ucap guru yang kini mendampingi osis untuk menjaga gerbang.


Dipta yang mendengar nya hanya mengangguk sambil tersenyum ke arah tersebut. Setelah nya ia memilih untuk menuju ke arah ruan guru dan memberikan catatan murid yang terlambat. Namun kini ia begitu tak tenang memikirkan tentang Vanya yang belum datang juga.


Dipta kini berjalan melewati kelas Vanya. Namun ia tetap tak menemukan kekasih nya itu di sana. Tak hanya Vanya namun sahabat gadis itu juga tak ada membuat Dipta yang tadi mengkhawatirkan Vanya kini seolah tahu kemana gadisnya itu pergi.


“Susah banget dibilangin,” ucap Dipta dengan helaan nafas kasar nya sambil menggelengkan kepalanya. Tak tahu lagi bagaimana harus menasehati gadisnya itu yang susah sekali untuk di atur. Entah bagaimana lagi cara nya harus menasehati kekasih nya itu.


Saat sampai di depan ruang guru dengan segera laki-laki itu mengetuk pintu. Setelah dipersilahkan masuk dengan segera ia berjalan menuju ke arah meja pak Hadi.


“Pak, ini catatan yang telat,” ucap Dipta menyerahkan buku catatan murid yang telat pada Pak Hadi yang dengan segera menerimanya.


“Baik. Makasih ya Dipta,” ucap Pak Hadi yang dibalas dengan anggukan dan senyuman oleh Dipta.


“Pak saya boleh izin ke luar?” tanya Dipta dengan tatapan penuh tanya nya. Ia berharap jika guru nya itu kini mengizinkannya untuk keluar dan menjemput kekasih nya itu.


"Mau jemput pacar kamu itu?" Tanya pak Hadi yang bahkan sudah begitu hafal dengan perangai murid nya yang suka membalas itu. Dipta memang sering meminta izin untuk keluar sekolah, meskipun ia tak mengatakan apa yang ia lakukan namun Pak Hadi sudah memahaminya.


"Saya tak habis pikir dengan kamu Dipta. Kamu tampan dan pintar, banyak gadis yang mau menjadi kekasih kamu. Tapi yang kamu pilih malah gadis nakal seperti Vanya," ucap Pak Hadi sambil menggelengkan kepalanya. Tak hanya para murid bahkan banyak guru yang bingung dengan sikap Dipta yang malah begitu mencintai Vanya.


"Vanya bukan nakal Pak, cuma kurang bimbingan aja," ucap Dipta membela kekasihnya. Jelas ia tak akan suka jika ada yang menghina kekasih nya itu. Pak Hadi menghela nafasnya kasar sambil menganggukkan kepalanya.


"Ya udah pergilah, bawa dia dan teman-teman itu ke sekolah. Dan tulis di catatan murid terlambat," perintah Pak Hadi yang membuat Dipta mengangguk.


Setelahnya ia segera berjalan menuju ke arah warung belakang. Tempat kekasih nya itu biasa membolos bersama dengan teman-temannya.


Saat Dipta tak jauh dari warung tersebut dapat ia  motor kekasih nya yang berada di sana. Dengan langkah cepat Dipta menuju ke arah warung tersebut. Namun saat melihat kekasih nya, mata nya membelalak melihat laki-laki yang kini malah menyodorkan batang nikotin ke arah kekasih nya.


*