Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Ngambek Karena Hukuman



Suara hembusan nafas yang tak beraturan kini terdengar begitu jelas dari Vanya. Setelah lari mengelilingi lapangan karena hukuman yang di dapat nya kini ia begitu merasa lelah. Gadis itu bahkan sudah duduk lesehan di lapangan tanpa mempedulikan rok nya yang akan kotor.


“Nih, minum dulu,” ucap suara di depannya sambil menyodorkan air mineral botol pada Vanya. Vanya segera mendongak hingga ia dapat melihat laki-laki yang kini berdiri di depannya tak adalah adalah Dipta kekasih nya.


“Cuma satu?” sungut Vanya dengan dana suara nya yang sudah terdengar begitu kesal. Dipta menghembuskan nafasnya kasar sambil memberikan satu kantong kresek berisi makanan juga minuman berbagai rasa untuk Vanya.


Vanya dengan segera mengambilnya walau terlihat jelas jika gadis itu kini masih merasa kesal pada kekasih nya itu. Dipta mengulurkan tangannya pada Vanya untuk membantu gadis nya itu berdiri.


“Kotor,” ucap Dipta berusaha memperingati gadis nya agar tidak duduk di lapangan yang kotor itu.


“Biarin sih, orang capek,” kesal Vanya. Vanya masih saja merasa kesal dengan Dipta karena laki-laki itu tak bisa sedikit saja memberinyi nya keringanan dalam hukuman atau memberitahu nya lebih dulu jika ada sidak dan penertiban.


Ini memang bukan yang pertama kali untuk mereka bertengkar karena Dipta yang tak memberitahu nya jika ada penertiban, atau saat laki-laki itu memberinya hukuman.


“Marah-marah nya lanjut nanti ya cantik, sekarang pindah dulu. Ada yang mau olah raga nanti kena bola. Ayo aku gendong, kalau masih capek,” ucap Dipta sambil berjongkok di depan Vanya.


Vanya berdecak kesal lalu segera berdiri dan membiarkan Dipta menggendong nya. Anggap saja ini juga hukuman untuk laki-laki itu. Namun baru saja berdiri kini laki-laki itu malah sudah kembali menurunkan Vanya membuat Vanya mengerutkan kening nya.


“Kenapa? Nyesel udah gendong aku?” tanya Vanya dengan tidak sabarannya. Dipta hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Lalu ia membuka almamater nya dan memakaikannya di pinggang Vanya.


“Mangkanya kalau pakai rok itu yang bener, ini tuh rok anak SD gak pantes buat kamu,” ucap Dipta memperingati Vanya sambil mengatai rok gadis nya itu. Vanya yang mendengar nya malah merutuki ucapan laki-laki tersebut.


“Ayo naik,” perintah Dipta yang segera di turuti oleh Vanya walau dengan kekesalannya.


Di sepanjang koridor menuju kelas Vanya banyak yang menatap mereka dengan tatapan penuh tanya, ada juga yang menatapnya dengan tatapan tak suka. Namun Vanya yang sudah terbiasa dengan semua itu memilih untuk menutup telinga nya.


“Lain kali tuh kalau ada yang beginian bilang, kamu gak capek liat aku di hukum? Gak kasian apa sama pacar sendiri?” tanya Vanya dengan kekesalannya saat mereka kini berjalan menaiki tangga menuju kelas mereka yang berada di lantai dua. Vanya memang tak tanggung-tanggung memberikan hukuman untuk Dipta.


“Harus nya dengan begini kamu tuh bisa berubah. Aku mau kamu tuh tertib dan taat aturan. Udah sering dihukum tuh harus nya sadar dan mau merubah diri,” nasihat Dipta dengan begitu lembut nya namun ucapannya terdengar begitu telak untuk Vanya.


“Peraturan itu ada untuk dilanggar,” ucap Vanya yang kini malah membuat Dipta menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Vanya yang begitu aneh.


“Kalau  begitu maka akan banyak terjadi kejahatan, jangan asal kalau bicara tuh. Peraturan ada untuk mengatur tatanan kehidupan.” Dipta kini mulai menceramahi kekasih nya itu.


Pemikiran mereka saja selalu bertentangan seperti ini lalu bagaimana bisa mereka bersama? Jawaban itu hanya mereka yang tahu. Mungkin karena sikap Dipta yang begitu dewasa bisa menetralkan sikap kenakanan dan arogan dari Vanya.


“Bawel dasar, udah lah turunin di sini aja. Kamu mah ngeselin dari tadi aku di ceramahin mulu,” kesal Vanya sambil berusaha turun dari gendongan Dipta. Dipta hanya bisa menghembuskan nafas nya kasar sambil menurunkan Vanya.


Menghadapi Vanya memang harus memiliki kesabaran yang tinggi dan semua itu hanya Dipta yang bisa melakukannya, jika tidak bisa maka jangan coba-coba untuk mendekati gadis itu.


*


Bel istirahat padahal baru berbunyi lima menit lagi namun kini Vanya dan teman-temannya sudah berkumpul di kantin. Tadi setelah mereka meminta izin pada guru yang mengajar secara bergantian untuk ke kamar mandi. Keempat murid nakal itu malah tidak lagi ke kembali ke kelas mereka dan lebih memilih untuk di kantin. Terlalu pusing dengan pembelajaran matematika yang begitu membuat kepala mereka rasanya akan segera pecah.


“Emang kagak ada gunanya lo jadi pacar ketos Van. Baru aja tadi dibicarain udah langsung muncul aja dia sama pasukannya,” ucap Eva dengan menggeleng kan kepalanya.


Kini mereka tengah menunggu pesanan mereka datang, Vanya memilih memainkan ponselnya mengabaikan ucapan sahabat nya itu. Tak hanya mereka, Vanya pun merasa kesal pada Dipta.


“Rokok nya Satria baru gue ambil satu doang elah udah di ambil aja sama pacar lo Van, rugi banget gue harus ganti tuh rokok. Curiga gue itu rokok dia buat sebat sendiri,” ucap Ino yang kini berhasil mendapatkan pukulan di kepalanya dari Vanya. Ino yang mendapatkan pukulan dari Vanya kini hanya mengelus puncak kepalanya yang terasa sakit. Tatapan Vanya kini bahkan menatap nya dengan begitu tajam.


“Enak aja lo, pacar gue gak kagak ngerokok kali. Nanti lah gue mintain ke dia,” ucap Vanya pada Ino yang membuat senyuman sumringah nya kini terlihat dengan jelas.


“Sadap napa dah tuh hp pacar lo biar kita tahu update terbaru,” saran Devan yang kini gantian laki-laki itu lah yang mendapatkan toyoran di kepalanya daro Vanya.


“Ye, privasi itu bego,” sungut Vanya dengan kesal nya.


“Lagian yang kena bukan cuma kalian, gue juga kena ini,” kesal Vanya. Jika mengingat itu ia kembali merasa kesal. Kekasih nya itu memang tidak pernah pandang bulu jika sudah menyangkut ketegasan dalam menjalankan tugas nya.


“Guna lo pacaran sama dia apa dah? Lo masih kena hukum udah lah gitu tiap penertiban gak tau apa,” ucap Eva sambil menggelengkan kepalanya. Baru saja Vanya akan memukul sahabat nya itu namun Eva dengan gesit menangkis nya.


“Gak kena,” ucap Eva sambil menjulurkan lidah nya yang membuat Vanya berdecih mendengar nya.


“Ya lo pikir gue pacaran sama dia karena itu? Kagak lah, gue mah tulus sama dia,” terang Vanya tak ingin ada yang berpikir jika ia yang nakal itu menjadikan Dipta sebagai kekasih nya untuk berlindung dibalik kekuasaan Dipta.


“Cinta?” tanya Ino pada Vanya.


“Emang cinta tuh apa sih No? Lo belaga nanya begitu?” tanya Devan pada Ino yang kini malah menggelengkan kepalanya sambil tertawa mendengar ucapannya sendiri.


Terlalu larut dalam pembicaraan mereka hingga mereka tak sadar jika pesanan mereka sudah datang, dan di tempat lain kini Dipta tengah mencari keberadaan kekasih nya yang sudah menghilang dari kelas nya.


*