
Sekolah kini pulang lebih awal dari biasanya karena para guru yang kini akan rapat. Vanya berniat akan bermain bersama dengan teman-temannya namun kini Dipta malah mengajak nya untuk menemani laki-laki itu untuk bermain futsal.
Ingin sebenar nya Vanya menolak, namun ia juga merasa tak tega jika harus menolak permintaan kekasih nya itu. Jadilah kini ia hanya bisa mengikuti kekasih nya itu.
“Lo mah pacaran mulu, kapan kita mainnya?” tanya Eva yang kini sudah bersungut kesal karena kini lagi-lagi Vanya tak bisa ikut berkumpul dengan mereka. Sekali nya ikut harus sembunyi-sembunyi atau malah Dipta juga akan ikut dengan gadis itu.
“Kapan-kapan deh. Ini paduka kasian kalau gak di temenin. Nanti dia malah gak semangat mainnya,” ucap Vanya dengan cengiran nya yang membuat Eva kini berdecak mendengar nya.
“Dasar bucin,” ucap Ino yang hanya di tanggapi dengan wajah datar oleh Vanya.
“Namanya juga gue punya pacar, kalo elo kan jomblo,” sinis Vanya dengan hinaannya pada temannya itu yang kini sontak membuat Ino membelalakkan matanya mendengar ucapan yang penuh hinaan itu.
“Wah ngejek lo? Besok gue cari lima we,” ucap Ino dengan kekesalannya yang kini malah membuat teman-temannya tertawa mendengar nya.
“Satu aja gak punya, belaga cari lima,” ucap David yang kini ikut menanggapi. Ucapan David sontak saja membuat tawa temannya terdengar. Tentu saja selain Ino yang kini hanya menatap dengan datar ke arah teman-temannya itu.
Sebenarnya Ino tidaklah jelek. Laki-laki itu cukup tampan namun entah mengapa malah tak ada perempuan yang dekat dengannya. Atau justru Ino sendiri yang memberi batasan itu. Hingga tak ada perempuan yang dekat dengannya.
“Ngaca woy, lo juga jomblo,” ucap Ino pada David dengan kekesalannya.
“Gue mah jomblo karena setia sama kalian ya, biar waktu remaja kini ini full main-main bukannya sibuk pacaran,” ucap David yang kini malah menyindir Vanya. Vanya yang mendengar nya kini sudah menaikkan lengan bajunya seolah akan menyerang laki-laki itu.
“Mau kerja sama gak No?” tanya Vanya pada Ino yang kini tersenyum evil sambil menganggukkan kepalanya.
“Ayo Van. Buang aja lah yuk,” ucap Ino yang dijawab dengan anggukan oleh Vanya yang setelah nya mereka segera menyerang David dan memukuli laki-laki itu yang kini berusaha melindungi dirinya.
David segera keluar dari kelas nya sambil membawa tas nya. Eva yang melihat ketiga temannya itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Hingga akhirnya ia juga mengikuti temannya yang akan keluar kelas.
Namun baru saja Vanya akan mengejar David, kini ia malah menabrak badan tegap yang begitu kokoh. Membuat Vanya menghentikan langkah nya. Dan melihat orang yang ia tabrak. Hingga senyumannya mengembang dengan begitu sempurna saat melihat jika laki-laki yang di tabrak nya adalah kekasih nya.
“Mau kemana? Aku nungguin dari tadi, kamu malah berantem,” ucap laki-laki yang ditabrak oleh Vanya yang tak lain adalah Dipta.
“Lagian dia ngeselin tau,” jelas Vanya yang membuat Dipta menggelengkan kepalanya mendengar penjelasan dari kekasih nya itu.
“Udah kan? Ayo berangkat,” ajak Dipta pada Vanya yang kini menjawabnya dengan anggukan.
Setelah nya mereka memilih untuk segera pergi. Meninggalkan Eva yang kini dibuat pusing dengan kedua sahabat nya yang masih bertengkar itu.
“Duluan ya Va, sabar aja ngadepin mereka,” ucap Vanya dengan cengirannya lalu segera pergi sambil melakukan ciuman juah untuk Eva.
Eva memejamkan matanya berusaha menahan amarah nya. Namun seperti nya ia sudah tidak lagi bisa untuk menahannya.
“Capek juga, balik aja lah yok,” ajak David sambil merangkul Ino. Sungguh ajaib memang pertemanan mereka.
*
Vanya dan Dipta kini sudah sampai di tempat latihan futsal. Sebenarnya Vanya tak terlalu dekat dengan teman Dipta. Atau bahkan mereka berdua saling tak akrab dengan teman masing-masing. Mereka sudah terlalu berbeda. Namun Vanya maupun Dipta terkadang harus menyesuaikannya agar mereka bisa beradaptasi dengan teman masing-masing.
“Pulang agak sore gak papa kan?” tanya Dipta pada Vanya dengan tatapan penuh tanya pada gadisnya itu. Takut jika Vanya lelah.
“Udah sampek ini, lanjut aja lah,” ucap Vanya yang membuat Dipta terkekeh mendengar nya lalu ia segera mengelus puncak kepala kekasih nya itu.
Dipta menggenggam tangan Vanya, membawa gadisnya itu untuk memasuki tempat latihan Futsal yang sudah di sewa oleh teman-temannya. Dipta yang memang sudah tahu akan pulang awal mengajak temannya untuk bermain, jadilah kini mereka bisa menyewa nya lebih dulu. Karena biasanya tempat itu selalu penuh dan harus memesan jauh-jauh hari.
“Woy pak ketu sama bu ketu nih,” goda salah satu teman Dipta yang Vanya ketahui bernama Riyan.
“Gak usah di godain,” ucap Dipta pada teman-temannya itu yang kini hanya tersenyum sambil menggeleng melihat tingkah temannya itu.
Sebenarnya Dipta bukannya ingin teman-temannya itu berteman dengan Vanya. Hanya saja ia takut Vanya malah akan merasa terganggu dengan teman-temannya itu. Walau ia tahu Vanya tak akan seperti itu namun ia hanya jaga-jaga saja.
“Gak papa sans aja, gak perlu di dengerin dia mah,” ucap Vanya dengan senyumannya berusaha untuk akrab dengan teman-teman Dipta.
“Emang mah si Dipta posesif,” ucap Bagas salah satu teman Dipta yang kini ikut menggoda Dipta. Dipta yang mendengar nya kini hanya menatap datar ke arah teman-temannya itu.
“Mau main gak lo pada?” tanya Dipta yang memilih untuk mengalihkan pembicaraan. Teman-temannya yang mendengar itu hanya terkekeh melihat tingkah temannya itu.
“Ayolah main, nanti Dipta malah ngambek,” ucap Rio yang setelah nya langsung kabur setelah mengatai temannya itu. Dipta kini sudah membelalakkan matanya sedangkan Vanya kini hanya terkekeh melihat teman-teman, kekasih nya itu.
“Aku main dulu ya. Kalau bosen bilang aja, kalau mau pulang juga bilang ya,” pesan Dipta pada Vanya yang kini di jawab dengan anggukan oleh Vanya dengan senyuman cerah nya. Dipta juga ikut tersenyum sambil mengelus puncak kepala kekasih nya itu sayang.
“Woy mau main gak tuh? Bucin nya di lanjut nanti dulu lah. Pending bentar,” teriak teman Dipta dari arah lapangan yang membuat Dipta menghela nafas nya kasar sambil memejamkan matanya sedangkan Vanya kini sudah meledakkan tawanya.
“Udah lah main sana, ribet banget dah tinggal main,” ucap Vanya dengan sisa tawa nya yang membuat Dipta menganggukkan kepalanya dan segera pergi menuju ke arah teman-temannya yang sudah berada di lapangan.
Sebenarnya maksud Dipta mengajak kekasih nya itu juga untuk mengenalkan Vanya dengan teman-temannya. Agar teman-temannya tahu jika Vanya tidak seburuk yang orang lain pikirkan. Dan sepertinya rencana berhasil karena Vanya terlihat begitu asyik mengobrol dengan teman-temannya. Vanya memang orang yang mudah akrab dengan orang lain.
*