
Hari berlalu semakin cepat, tak terasa sudah beberapa minggu berlalu sejak putusnya hubungan Vanya dan Dipta. Vanya sudah mulai membiasakan diri tanpa Dipta. Meskipun saat mereka putus Vanya masih menumpahkan tangisnya. Namun kini ia mulai terbiasa tanpa Dipta berkat sahabat sahabat nya.
Vanya memang gadis yang kuat namun pasti ada tangis di setiap luka bukan? Menangis itu manusiawi, itu lah yang tengah Vanya lakukan. Namun seiring berjalannya waktu, tangis nya sudah usai
Ia hanya perlu untuk melupakan kenangan juga cinta yang pernah Dipta berikan pada nya.
Berbeda dengan Vanya, kini hari-hari penuh penyesalan lah yang Dipta rasakan. Awal nya mungkin terlihat biasa untuk bya. Namun perlahan luka itu kini juga ada untuk nya. Penyesalan yang begitu besar ia rasakan.
Mungkin memang benar kata kebanyakan orang. Luka dan gagal move on nya cowok itu saat waktu mulai berlalu. Saat cewek sudah bisa untuk mulai bangkit kini justru cowok lah yang terpuruk. Itu lah yang kini Dipta rasakan.
Seperti saat ini ia tengah duduk di meja nya sambil melihat keluar jendela menatap gadis yang tengah berjalan bersama dengan teman-temannya sambil tertawa dengan begitu indahnya. Tatapannya kini begitu sendu menatap gadis tersebut.
Namun apa yang kini bisa ia lakukan selain menyesali tindakannya? Kunci rumah gadis tersebut kini ia genggam dengan erat. Seperti hal nya kunci yang belum ia lepas, kini ia belum bisa untuk melepaskan Vanya dari hati maupun pikirannya.
“Kamu gamon sama Vanya, Dip?” pertanyaan itu membuyarkan lamunan Dipta. Dipta menatap ke arah sumber suara yang tak lain adalah Aretha.
“Susah ya buat kamu ngelupain dia?” tanya Aretha lagi saat ia tidak mendapatkan jawaban dari Dipta. Dipta menghembuskan nafasnya kasar sambil tersenyum dengan begitu sendu.
“Hubungan gue sama dia bukan sebulan dua bulan. Terlalu banyak hal yang gue lakuin buat dia, kenangan kita terlalu banyak dan terlalu indah buat dilupain gitu aja,” ucap Dipta dengan senyuman sinis nya. Aretha yang mendengar ucapan Dipta merasakan sakit di hatinya.
Memang salah mencintai orang yang masih begitu mencintai mantan kekasihnya. Namun Aretha pun tak bisa untuk mengendalikan perasaannya. Perasaan itu datang dengan sendiri nya tanpa bisa Aretha tahan.
“Lo gak pernah suka sama cewek lain selain dia?” tanya Aretha dengan tatapan penuh harap nya. Perlakuan Dipta selama ini lah yang juga membuat Aretha memiliki harapan pada laki-laki itu meskipun ia tahu jika Dipta memang orang yang baik.
“Gak. Nyaman mungkin pernah. Tapi rasa nyaman itu sekarang udah gue musnahin. Karena rasa nyaman yang gue punya ke cewek itu lah yang buat gue akhirnya ada di titik ini. Jadi gak salah kan kalau gue membenci rasa nyaman yang udah buat gue kehilangan gadis yang begitu gue cintai?” tanya Dipta pada Aretha dengan menaikkan sebelah alisnya.
Jantung Aretha berdetak begitu kencang saat mendengar ucapan Dipta. Meskipun ia berharap jika rasa nyaman yang Dipta miliki benar untuk nya. Namun apa artinya itu saat ini? Jika Dipta saja sudah membenci rasa nyaman yang sebelumnya ada.
“Tha, gue rasa gue harus bilang ini. Maaf, perlakuan gue kemarin-kemarin mungkin ada yang bikin lo salah paham artiinnya. Karena ternyata gue juga salah paham artiinnya. Gue nggak bisa bohong emang nyaman ngobrol sama lo, karena lo adalah orang dengan banyak wawasan. Sama lo, gue bisa ngobrol panjang lebar. Gue kira, gue suka lo kayak gue suka Vanya. Ternyata, gue nggak merasa euforia jatuh cinta kayak sama Vanya. Gue sendiri juga salah paham artiinnya. Maaf, ya, buat lo jadi ikutan kena masalah gue sama Vanya."
Setelah mengucapkan itu, Dipta pergi meninggalkan Aretha dengan rasa terkejut nya. Ucapan Dipta mungkin hanya ucapan ringan tanpa arti bagi orang lain yang mendengar nya. Namun bagi Aretha ucapan tersebut adalah sebuah kalimat penolakan untuk menyadarkan Aretha.
Setelah menjauh dari kelas nya kini Dipta memilih untuk menghampiri Vanya. Mengingat semua ucapan David pada nya, Dipta benar-benar menyesali perbuatannya. Jika tidak bisa untuk Vanya kembali padanya, setidaknya Dipta berharap Vanya memaafkannya dan perlahan ia akan berjuang kembali untuk gadis itu. Persetan dengan ucapan David karena cinta yang ia miliki pada Vanya memang terlalu besar dan nyata.
Ketika sampai di kelas Vanya, Dipta langsung disambut dengan pemandangan mantan kekasihnya yang ternyata tengah bercanda bersama dengan Ethan. Mereka duduk di bangku yang ada di depan kelas. Itu bukan kelas 12 IPA 2, melainkan kelas lain yang digunakan untuk ujian. Saat ini, mereka memasuki musim ujian, tepatnya UAS.
Terluka? Jelas. Dipta begitu terluka melihat nya. Namun untuk saat ini apa yang bisa ia lakukan selain menahan rasa sakit itu? Memangnya Dipra siapa?
“Vanya,” panggil Dipta.
Mendengar namanya dipanggil, Vanya dengan segera mengalihkan pemandangannya ke asal suara. Melihat kedatangan Dipta, Vanya mengerutkan keningnya. Pasalnya setelah mereka putus baru kali ini Dipta mencarinya.
“Bisa bicara sebentar?” tanya Dipta pada Vanya.
Vanya melihat ke arah teman-temannya sebelum akhirnya ia hanya menganggukkan kepalanya. Vanya segera pergi yang diikuti oleh Dipta.
“Mau apa Dip?” tanya Vanya pada Dipta dengan tatapan bingung nya.
jujur saja, Vanya masih belum bisa biasa-biasa saja ketika melihat Dipta. Gadis itu masih canggung untuk bersikap.
“Makasih Dip,” ucap Vanya yang dijawab dengan anggukan oleh Dipta.
“Gimana ujiannya?” tanya Dipta dengan tatapan penuh tanyanya.
Ini kali pertama bagi Vanya harus belajar sendiri tanpa Dipta saat ujian. Sedikit sulit mengingat selama ini Dipta banyak membantunya. Selama ini, Dipta yang menemaninya belajar dan kepada Dipta, Vanya bertanya hal-hal yang belum ia pahami.
“Baik,” ucap Vanya dengan senyumannya. Dipta menganggukkan kepalanya mendengar jawaban dari Vanya.
“Maaf ya Van buat semuanya. Kalau bisa mengulang lagi aku gak akan melakukan kesalahan yang sama dan buat keputusan saat marah,” ucap Dipta dengan senyuman sendu nya.
Vanya yang mendengar ucapan Dipta cukup terkejut. Apa Dipta menyesal? Itu yang kini tengah Vanya pertanyakan.
“Aku nyesel Van. Karena nyatanya satu-satunya gadis yang aku cinta, yang aku sayang, dan buat aku nyaman itu kamu,” ungkap Dipta yang kini semakin membuat Vanya terkejut mendengarnya. Namun kini Vanya berusaha menahan dirinya dan meyakinkan hatinya untuk kuat dan tidak lemah di hadapan Dipta. Mati-matian ia menahan untuk tidak memeluk Dipta sekarang juga.
“Kita sama-sama salah, Dip. Semua juga udah berlalu. Yang perlu kita lakuin sekarang adalah menerima kenyataan yang kini jalani sekarang,” jawab Vanya dengan. “Aku makasih banget sama kamu atas waktu, kenangan, dan kesabaran kamu. Tapi aku rasa lebih baik kita saling memperbaiki diri. Kenangannya makasih banyak ya. Aku simpen baik-baik. Kamu tetep lanjutin hidup dengan baik, ya, Dip. Semoga kamu bisa masuk universitas impian kamu. Semoga kamu lanjutin kuliah arsitektur kayak impian kamu. Hidup yang bahagia ya, walaupun kita udah enggak sama-sama."
Dipta tersenyum nanar mendengarnya. "Kita ... Udah beneran nggak bisa, ya, Van?"
Vanya mengangguk. "Udah selesai, Dip. Banyak yang lebih pantas buat kamu. Aku yakin, kamu pasti akan nemu orang lain yang jauh lebih baik daripada aku. Kamu pasti bakal dapat lagi kisah cinta yang lebih indah dari kisah kita yang dulu. Kita masih bisa temenan kok."
"Kamu juga baik-baik, ya. Jangan sering telat, aku udah nggak bisa nyamperin kamu lagi. Kalau ke markas malem-malem, pakai jaket ya, hati-hati juga di jalannya. Makasih juga buat waktu kamu selama ini. Makasih udah kasih kisah bahagia buat aku. Semoga setelah ini, kamu temuin cowok yang bisa menerima kamu apa adanya lebih dari yang aku lakuin ya," balas Dipta. "Buat yang terakhir, boleh nggak jabat tangan kamu? Sebagai simbol kita damai dan temenan," pinta Dipta dengan menjulurkan tangannya.
Vanya mengangguk dan membalas jabatan tangan Dipta. Itu mungkin terakhir kali bagi keduanya untuk bisa saling menjabat tangan.
"Udah, ya, Dip?" ujar Vanya dengan senyuman tipis, memberi kode untuk Dipta melepaskan jabatan tangannya. Dipta pun melepaskan jabatan tangannya.
"Semangat, Dipta! Sukses terus buat ke depannya ya. Aku balik duluan ya." Setelah mengucapkan itu dengan senyuman manis yang ia lukis dengan sisa-sisa tenaga sebisanya, Vanya memutuskan untuk segera pergi dari sana. Meninggalkan Dipta yang kini menatap kepergiannya dengan tatapan nanar.
Apa benar kisah Vanya dan Dipta kini telah usai?
Ya, nyatanya memang seperti itu. Kisah mereka telah usai. Semua kenangan hanya akan menjadi kenangan yang tidak bisa terulang kembali.
Setiap orang ada masanya. Setiap masa ada orangnya. Kini, masa untuk Vanya dan Dipta, sudah habis.
Proses menyembuhkan luka, biar mereka hadapi sendiri-sendiri. Meskipun lama, suatu hari nanti mereka pasti sembuh. Lembaran akhir untuk Dipta dan Vanya, tak berhasil untuk diisikan dengan kalimat 'mereka hidup bahagia bersama-sama selamanya'. Sebaliknya, mereka harus mengucapkan kata 'sudah' untuk satu sama lain.
Setelah ini, mereka harus benar-benar terbiasa melalui hidup masing-masing. Hidup mereka harus terus berjalan, meskipun tak lagi saling menggenggam. Dipta dan Vanya, cukup hidup bersama dalam lembaran masa lalu, bersama kisah indah yang kini hanya sebatas 'pernah'.
Setelah ini, semoga mereka temukan lagi orang yang tepat. Semoga mereka sama-sama membangun rumah dengan lebih kokoh.
Rumah baru.
Suasana baru.
Kisah baru.
Dengan orang yang baru.