Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Dia Ethan



Dipta sudah sampai di rumah sejak hampir 30 menit yang lalu. Di depannya sudah ada list proker OSIS dan progressnya. Namun, pikirannya justru melayang kepada Vanya, kekasihnya. Ia merasa ada yang aneh pada gadis itu.


Memang, sih, tadi dia sudah malam mingguan bersama Vanya dan mengantarkannya pulang. Bahkan ia melihat sendiri Vanya yang masuk ke dalam rumah. Ia juga sudah stay di sana 15 menit untuk memastikan gadisnya tidak keluar lagi. Dan yang ia dapat adalah lampu kamar atas—yang mana itu adalah kamar Vanya—sudah mati. Gadis itu terbiasa tidur dengan lampu yang mati.


Hanya saja, Dipta masih merasa ganjil. Seolah ada sesuatu yang sedang Vanya sembunyikan dari dirinya. Untuk memastikan itu, Dipta memutuskan untuk mengirim pesan kepada Vanya.


Dipta: Vanya masih bangun?


Centang dua abu-abu. Biasanya, Vanya offline jika sedang tidur.


Dipta: Eh, masih centang dua. Belum tidur ya?


Tak sabar karena tidak ada balasan, Dipta memutuskan menelpon Vanya. Tepatnya video call.


Di percobaan ketiga, Dipta hampir menyerah. Mungkin Vanya sudah tidur tanpa mematikan paket data dan Wi-Fi saking kelelahannya. Namun, siapa sangka di percobaan ketiga Vanya justru membalasnya.


"Halo? Vanya, are you there?" sapa Dipta karena layarnya hanya menampilkan warna hitam.


"Yaaa, I'm here. Kenapa, Dip? Aku ngantuk nih." Suara Vanya memang terdengar seperti orang bangun tidur dan mengantuk.


"Eh, sorry-sorry. Aku kira kamu masih bangun, soalnya kamu masih centang dua," ucap Dipta.


"Tadi ketiduran pas scroll tiktok, Dip," jawabnya.


"Ohhh. Btw, ini lampu kamar kamu emang lagi dimatiin, ya? Kelihatannya layar hitam doang," tanya Dipta.


Sempat hening sekitar 5 detik sebelum akhirnya Vanya menjawab, "Iya, gelap."


Dipta mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oke deh. Yaudah kamu lanjut tidurnya. Maaf ganggu yaa. Sleep tight, Cantik."


"Thank you, Dip. Kamu juga jangan begadang. Good night," balas Vanya kemudian mengakhiri panggilan video itu.


Begitu panggilan terputus, Dipta menyempatkan mengirim pesan kepada Vanya.


Dipta: Good night, Vanya.


Centang satu. Itu artinya Vanya sudah menonaktifkan paket data dan Wi-Fi. Setelah menelepon Vanya, Dipta merasa lega. Kekasihnya itu benar-benar di rumah.


Bukan tanpa alasan Dipta merasa tidak tenang. Sebelum-sebelumnya, sempat beberapa kali Dipta memergoki Vanya diam-diam ke tempat klub motornya dan ikut balapan. Ujungnya, mereka ribut.


Dipta bukannya mau mengekang Vanya. Dirinya khawatir jika terjadi apa-apa terhadap gadis itu. Jika saja Vanya punya kesukaan atau klub lain yang lebih 'aman', Dipta juga tidak akan melarang kok.


Mengembuskan napasnya pelan, Dipta memutuskan menutup laptopnya lalu berjalan menuju kasur. Ia merebahkan dirinya di sana dengan pandangan menerawang ke langit-langit kamar.


"Sorry, Van, hari ini aku nggak percayaan lagi. Tapi semoga kamu di sana nggak bohongin aku ya."


*


"Gila, lo yang ditelpon, gue yang deg-degan! Bisa-bisanya ya lo!"


Vanya nyengir saja mendengar ocehan Eva. Tidak tau saja Eva bahwa dirinya diam-diam juga tidak kalah grogi.


"Gue sebenernya juga deg-degan, tapi amanlah. Dia taunya gue tidur kok. Udah ayo langsung gabung sama yang lain aja," ujar Vanya.


Saat ini, Vanya sedang tidak tidur di rumah. Bahkan ia tidak berada di kamarnya. Gadis itu sudah berada di markas anak-anak Aderfia. Rencananya berhasil.


Sebenarnya ia tau bahwa Dipta sering berdiam diri di depan rumahnya memastikan dirinya benar-benar di rumah setelah mereka pergi bersama. Ia sadar bahwa masih ada sisa keraguan dalam diri Dipta. Vanya tidak menyalahkan Dipta jika cowok itu jadi tidak percayaan dengan dirinya. Ini juga salahnya.


Namun, Vanya memilih abai saking rindunya berkumpul dengan anak-anak Aderfia. Ia juga ingin melihat wajah-wajah baru anak Aderfia sejak Vanya tidak aktif di sana.


Sampai di markas, pandangannya langsung menangkap anak-anak Aderfia yang tampaknya sedang menyoraki seseorang yang sedang melaju dengan motornya.


"Itu Ethan, Van!" seru Eva seraya menunjuk.


Vanya sontak saja memperhatikan walaupun tidak melihat wajah Ethan karena cowok itu mengenakan helm full face.


"Woi, Vanya! Udah lama kagak kelihatan di sini lo," sapa Enzo yang juga merupakan anak Aderfia.


"Lah iya ada Vanya. Kok bisa lo sampai sini?" Ino yang ternyata juga ada di sana turut menegurnya.


"Bisa dong!" balas Vanya.


"Lo pake taktik apa lagi buat mengelabui pacar lo itu?" tanya Ino.


Setelahnya, Vanya fokus dengan balapan motor seraya menyoraki nama Ethan dan Bima secara bergantian. Balapan itu hanyalah seru-seruan saja antar anggota tanpa ada taruhan. Pantang antar anggota Aderfia untuk taruhan dalam balapan.


"WOIII GILAAAA ETHAN MENANG LAGII."


"NI ANAK BARU BENERAN DAH AMAZING!"


"WEITSSS MANTAPP BROO!"


Sorak-sorakan terdengar meriah menyambut kemenangan Ethan yang kini turun dari motornya dan bergabung dengan teman-temannya yang lain.


"Thanks ya," ucap Ethan singkat dengan seulas senyum.


"Yuk, kita duduk aja di ruang biasanya. Tadi gue sama anak-anak yang lain udah siap-siapin makanannya," ajak Enzo.


Mereka pun akhirnya masuk ke dalam markas menuju ruang utama. Ruang tersebut biasanya digunakan untuk kumpul dan makan-makan bersama.


"Eh, ini Vanya bukan?"


Vanya yang tengah melamun agak terkejut ketika seseorang menyebut namanya. Begitu ia menengok, ternyata ada Ethan yang sudah duduk di sampingnya.


"Lah, tau gue lo?" tanya Vanya balik.


Ethan terkekeh. "Masa sih nggak tau cewek yang sering telat pas upacara dan dihukum lari keliling lapangan tiap senin?"


"Lo jangan hiperbola dah. Perasaan gue nggak sesering itu telat," jawab Vanya.


"Iya deh iyaa. Salam kenal ya, gue Ethan." Ethan mengulurkan tangannya.


Dengan senang hati Vanya menerima jabatan tangan itu. "Salam kenal juga, gue Vanya."


Beberapa detik tangan keduanya berjabatan dengan Ethan yang masih tersenyum.


"Eh ini kok lama banget ya jabatan tangannya," batin Vanya.


Deheman Eva membuat Ethan mengerjap dan melepaskan tangannya.


"Buset betah amat itu tangan Than," celetuk Eva.


Ethan menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal. "Duh, sorry ya."


Vanya hanya mengangguk saja.


"Btw, gue baru lihat lo, Van. Katanya lo dah gabung dari lama, ya?" tanya Ethan.


"Iya, dari lama. Emang udah jarang aja main ke sini, sibuk soalnya," jawab Vanya.


"Yaelah sibuk pacaran kali lo," sahut Ino.


"Nyahut aja sih lo. Biarin aja, orang gue punya pacar kok. Emang elo, jomblo abadi," ejek Vanya.


"Gue mah jomblo bahagia. Bebas bisa kemana aja nggak perlu dilarang-larang pacar. Nggak perlu diem-diem kalau mau ke markas," balas Ino agak menyindir.


"Lo gak usah nyindir deh!" sewot Vanya.


"Dih, orang kenyataan kok." Ino tak mau kalah.


"Lo pada mending diem please. Kepala gue pusing dengernya berantem mulu!" tegur Eva.


Vanya dan Ino masih saja tidak mau berhenti mengalah. Mereka masih sewot-sewotan.


"Than, sorry ya. Ini dua orang emang kayak anjing sama kucing," ucap Eva.


Ethan mengangguk. "Nggak apa-apa, lucu kok malahan," jawabnya.


Benar. Entah kenapa, pemandangan di depannya ini tampak menggemaskan bagi seorang Ethan Mahardika.


***