Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Murid Baru



Sebenarnya, menurut Dipta pindah sekolah ketika menginjak kelas 12 itu tanggung. Sedikit lagi sudah lulus soalnya. Dipta tidak menyangka bahwa kelasnya akan kebagian anak baru yang saat ini tengah memperkenalkan diri di depan sana. Ditemani wali kelas juga.


Begitu mendengar alasan kepindahan karena ayah pindah tempat dinas, Dipta mengerti. Apalagi terbilang cukup jauh lintas provinsi. Anak baru itu juga menyebutkan bahwa di jenjang sebelumnya ia juga sempat pindah sekolah karena kasus serupa. Mendengar itu, Dipta tidak jadi kaget lagi karena kemungkinan anak itu sudah terbiasa.


"Aretha bisa duduk di sebelah David, ya. Itu bangku nomor 3 yang kosong. Kalau David nakal, dicubit aja," ucap Bu Ratih, wali kelas 12 IPA 1 mempersilakan Arethan duduk di sana.


David sempat menggerutu mendengar itu. "Ibu mah, saya kan anteng dan enggak nakal," balas David yang langsung mendapat sorakan dari anak kelas.


David memang awalnya duduk sendiri atas kemauannya. Beberapa kali ada orang yang ingin duduk di sebelah David, tetapi ditolak oleh cowok itu. Katanya, mau coba hidup mandiri. Kalau ada teman sebangku, bawaannya nyontek mulu. Begitu katanya.


Hanya saja, semesta berkata lain. Justru hadir anak baru bernama Aretha Dayana Zanneta yang harus duduk di sebelahnya. David sih oke saja karena kelihatannya Aretha bukan gadis yang berisik. Kebalikannya, gadis itu justru terlihat kalem.


"Salam kenal, David. Aku Aretha," ucap Aretha begitu sudah duduk di sebelah David. David mengerjap sejenak ketika Aretha menyebutkan dirinya sebagai 'aku'.


"Salam kenal juga, Aretha. A...ku David," balas David agak terbata-bata ketika menyebutkan dirinya sebagai 'aku'. Biasanya cowok itu seringnya menggunakan 'gue-lo'. Namun, lawan bicaranya ini tidak memakai itu. Rasanya tidak sopan jika David membalas dengan 'gue-lo'.


Tutur kata Aretha sangat lembut. Hal itu cukup membuat David berdesir. Ditambah senyum lembut dari gadis itu seolah menbuat Aretha tidak akan membosankan meski dilihat berkali-kali. Tentu David takjub karena selama ini ia berinteraksi dengan Eva dan Vanya yang bisa dibilang tidak ada lembut-lembutnya sama sekali.


"Sesi perwakilan sudah selesai, ya, teman-teman. Kalian tunggu guru mapel pertama aja." Setelah mengatakan itu, Bu Ratih meninggalkan kelas 12 IPA 1.


Dipta sendiri sudah bersiap-siap untuk berkumpul OSIS mengurus MPLS bersama Rio yang juga berada di kelas yang sama dengannya. Namun, baru saja ia bersiap berdiri, tepukan kecil di bahunya membuatnya menoleh ke belakang. Ternyata David yang menepuknya.


"Kenapa?" tanya Dipta.


"Kenalan dulu dong sama Aretha, anak baru. Nanti kan dia juga jadi anak lo di kelas ini," ujar David sambil menunjuk Aretha yang kini tampak terlihat kaget.


"Lo juga dong, Yo," sambung David menyuruh Rio berkenalan.


"Hai, Aretha! Gue Rio, salam kenal ya." Rio yang memulai sesi perkenalan diri tiba-tiba. Tangannya pun terulur yang mendapat respon jabatan tangan dari Aretha pula.


"Halo, aku Aretha. Salam kenal juga, Rio," balasnya. Kemudian, jabatan tangan itu lepas.


"Salam kenal ya, gue Dipta. Semoga betah di kelas ini," ujar Dipta tanpa mengulurkan tangan untuk berjabatan.


Aretha yang semula ingin mengulurkan tangan, jadi mengurungkan niatnya. "Aku Aretha, salam kenal juga, Dipta. Aamiin, semoga betah," balasnya.


Dipta mengangguk, lalu menepuk pundak Rio bermaksud memberi isyarat untuk segera kumpul bersama anak OSIS.


"Gue sama Rio cabut dulu ya, lagi jadi panitia MPLS nih," pamit Dipta pada David dan Aretha. Setelahnya, Dipta dan Rio pun berjalan keluar kelas.


"Di sini yang anak OSIS mereka berdua aja, ya, Vid?" tanya Aretha setelah memperhatikan Dipta dan Rio keluar kelas.


"Kalau di kelas ini, kayaknya iya deh," jawab David.


"Kalau kamu ikut kegiatan apa?" tanya Aretha lagi.


David nyengir. "Nggak ikut apa-apa sih. Sekolah doang, itu aja nilai aku masih keombang-ambing."


Aretha tertawa. "Nanti belajar bareng ya, David."


Tentu saja David merespon itu dengan anggukan semangat. "Kamu anak pinter ya pasti di sekolah yang lama?"


"Enggak kok, biasa aja," jawab Aretha.


"Kamu ikut ekskul gitu nggak di sekolah lama?" tanya David.


"Kalau ekskul, dulu aku ikut KIR, sama sempet jadi OSIS juga," ujar Aretha.


"KIR tuh Karya Ilmiah Remaja kan? Tuh kan berarti kamu bener pinter, mana sama anak OSIS lagi," ujar David antusias.


"Enggak se-pinter itu beneran deh. Aku belum pernah menang lomba gitu, masih biasa-biasa aja," ujar Aretha.


Setelahnya, obrolan kecil itu masih berlanjut sembari menunggu guru mata pelajaran pertama datang. David menyempatkan diri untuk mengabari kehadiran anak baru ini ke grup chatnya dengan Vanya, Eva, dan Ino.


[Grup chat] - Anak anak Baik


David : Kalian semua harus tau!!


David : Ada anak baru di kelas gue. Namanya aretha. Cantik banget terus kalem lagi. Suaranya tuh alusss banget uy gue sampai kaget ada orang suaranya sealus itu soalnya biasanya sama kalian kalau ngomong kayak toa masjid.


Eva : dih dihhh, kita juga bisa kali lemah lembut


Ino : Lo pasti mau modus


David : Semesta mendukung gue, ini gue duduknya sebelahan sama Aretha


***


Sebelum pulang sekolah, tadi Vanya dan teman-temannya mampir ke kantin atas terlebih dahulu. Selama 2 tahun berada di kelas 10 dan 11, mereka lebih banyak di kantin atas. Jadinya, lidah mereka juga lebih cocok dengan makanan kantin atas.


Saat ini, mereka sudah kelas 12. Tempat kelas 12 memang berada di lantai dasar. Setiap lantai punya kantin masing-masing. Kantin bawah juga lebih ramai ketimbang kantin atas. Sepertinya mereka memang butuh penyesuaian meskipun tahun ajaran baru sudah berjalan 1 minggu lebih. Setelah membeli batagor, mereka langsung menuju rumah Vanya untuk kumpul.


Sekarang, mereka sudah berada di rumah Vanya. Kebetulan sang mama belum pulang, jadi aman-aman saja. Di ruang tengah, dengan batagor dan beberapa cemilan yang sudah dibeli tadi, mereka terlibat dalam obrolan ringan. Merka juga menonton series di salah satu aplikasi streaming yang tersambung di televisi Vanya.


Kali ini, ada wajah baru di antara mereka. Ethan semakin lengket dengan Vanya, Ino, Eva, dan David. Cowok itu ikut mereka setiap kali ke kantin, ataupun main di luar. Sah satunya ya ketika bermain ke rumah Vanya kali ini. Bisa dibilang, ini pertama kalinya Ethan masuk ke rumah Vanya.


David yang beda kelas pun selalu berkunjung ke kelas Vanya setiap istirahat. Bahkan David sering bersama Dipta yang berniat mengapeli Vanya di kelas 12 IPA 2. Jadi bisa dibilang Dipta dan David juga jadi lebih akrab sekarang.


"Lo emang nggak sering pulang sama Dipta, ya, Van?" tanya Ethan yang tiba-tiba penasaran di tengah kegiatan memakan batagor. Oh ya, salah satu yang membuat mereka betah ke kantin atas adalah batagor best seler yang merupakan langganan sejak kelas 11.


"Gimana, ya, jelasinnya. Sebenarnya gaya pacaran gue sama Dipta bukan yang apa-apa harus bareng kayak berangkat ataupun pulang sekolah. Kita bareng kalau emang lagi sama-sama free dan sama-sama mau. Kadang dia free, tapi guenya yang nggak mau karena pengen main sama temen-temen dulu," jelas Vanya.


"Dipta nggak masalahin itu?" tanya Ethan lagi.


"Dulu tuh Dipta masalahin itu. Pas awal-awal jadian tuh, tapi lama-lama dia juga sibuk sama OSIS jadi mereka sama-sama ngerti aja. Sering dulu Vanya pas lagi main sama kita tiba-tiba cowoknya nongol." Ino menyahut mewakili Vanya menjawab pertanyaan itu.


"Kalian, Ino sama David pernah dicemburuin Dipta nggak? Kan kalian deket ya sama Vanya," tanya Ethan.


"Dipta sih ngakunya enggak ya. Soalnya Dipta percaya gue kagak bakal kepincut sama itu dua orang aneh," jawab Vanya.


"Dih, tapi awal-awal mah tetep gak suka dia. Kelihatan kok agak gak nyaman. Cuma ya mungkin lama-lama dia ngerti kalau tipe gue sama David bukan yang kayak Vanya, jadi kalem dia," timpal Ino.


"Iya betul. Tipe gue mah yang kayak Aretha," sahut David.


"Lo naksir beneran sama Aretha apa gimana, sih, Pid? Perasaan sering banget gue denger lo nyebut Aretha Aretha mulu," ujar Eva.


"Jangan jadi beban lo di tugas kelompok itu," peringat Vanya walaupun David sebenarnya tidak pernah jadi beban dalam tugas kelompok. Cowok itu selalu berinisiatif tanya apa tugasnya dan mengerjakannya sesuai instruksi.


"Nggak bakal dong!" balas David yakin.


"Lo sekelompok sama siapa, Pid? Terus tugasnya ngapain. Spill lah, biar kita bisa persiapa. Kan gurunya sama," sahut Eva.


"Sekelompok 4 orang. Gue, Rio, Dipta, sama Aretha. Kelompoknya pilih sendiri. Kebetulan kan meja kami depan belakang, jadi nggak mau ribet aja dah. Tugasnya musikalisasi puisi," jelas David.


"Buset, lo sekarang bestie banget ya sama cowoknya Vanya," ujar Ino.


"Iya asli gue juga kadang tuh masih kaget kalau lihat Dipta nyamperin gue ke kelas, tapi di sebelahnya ada David. Kayak ... woy, itu sama sekali nggak pernah ada di bayangan gue!" timpal Vanya.


David melempar Vanya dengan satu butir pilus. "Alay lo."


"Kita jaga-jaga bikin kelompok dulu nggak sih?" usul Eva.


"Nggak usah ribet dah, udah berempat kita. Vanya, elo, gue, sama Ethan," sahut Ino.


"Oh ya, lo kalau join grup chat kita keberatan nggak, Than? Biar gampang aja sih koordinasi soal apapun. Termasuk tugas kelompok nantinya," lanjut Ino.


"Grup chat kalian? Circle kalian maksudnya?" Ethan memastikan.


"Buset bahasanya sirkel-sirkel," sahut David yang mendapat respon tertawa oleh Ino, Vanya, dan Eva.


"Iya itu deh. Mau nggak?" tanya Ino.


"Terus si David? Emang nggak papa kalau bahas tugas di situ? Kan David nggak sekelas?" Ethan masih tak paham.


"Ya elah nggak papa kali. Gue itung-itung nambah pengetahuan dari berbagai sudut pandang. Kalem-kalem," jawab David.


"Yang lain nggak keberatan kah kalau gue gabung?"


Eva dan Vanya kompak menggeleng.


"Aman, Than, lagian lo juga udah sering ngumpul sama kita. Terus juga kita percaya kalau lo anak baik-baik juga," ujar Eva yang mendapatkan anggukan kepala tanda setuju dari Vanya.


"Oke deh. Makasih ya udah ngajakin gue." Jujur Ethan tak menyangka mereka akan terbuka menerima dirinya.


Ethan melihat notifikasi bahwa dirinya sudah ditambahkan oleh Ino ke grup chat bernama 'anak-anak baik'. Kemudian, chat dari salah satu anak Aderfia membuat Ethan mengalihkan fokusnya.


"Eh, Bima ngajakin balapan," ujar Ethan setelah melihat isi pesan.


"Ngajakin lo? Lo mau nggak?" respon Eva.


"Kalian mau ke markas nggak?" tanya Ethan.


David, Ino, dan Eva kompak memandang ke arah Vanya. Hal itu tentu membuat Vanya tak nyaman. Sebenarnya selama ini ia menghindari topik balapan.


"Kalau kalian mau mah berangkat aja guys," jawab Vanya.


"Sama lo?" tanya Eva.


"Kalian aja lah," ujar Vanya.


"Lo nggak mau, Van?" sahut Ethan.


"Ribet bilang sama Dipta," ungkap Vanya.


"Tapi kan lihat doang, Van? Enggak lo yang balapan," ujar Ethan.


"Tetep aja, ribet. Udahlah kalau kalian mau ya nggak papa kalian aja berangkat. Gue nggak masalah sama sekali, beneran deh." Vanya terus meyakinkan mereka bahwa dirinya tidak apa-apa jika tidak ikut.


"Tapi lo pengen nggak, Van?" tanya Ino.


"Ya jujur aja gue kangen kumpul sama anak-anak yang lain," aku Vanya.


"Ya udah ayo," ajak Ethan.


"Nggak, Than. Gue udah bilang ke Dipta buat nggak ke sana lagi. Gue males ribut."


"Cuma nonton doang. Masa se-mengekang itu, sih cowok lo, Van?" ucap Ethan jadi geregetan.


Vanya berdecak sebal. "Gue tuh nggak suka banget kalau lagi kumpul bahas kayak gini. Coba nggak usah dilebar-lebarin pembahasan ini. Kalian mau ke sana, ya silakan. Gue nggak larang."


Suasana hening sejenak. David, Ino, dan Eva tau hal ini cukup sensitif dibahas oleh Vanya. Mengingat beberapa kali Vanya dan Dipta sempat ribut karena hal itu. Jadi selama ini ketika David, Ino, dan Eva ingin ke markas mereka hanya mengabari saja. Mereka yakin jika Vanya mau ikut, gadis itu langsung menimpali dengan 'gue ikut' bukannya 'have fun ya' seperti yang selama ini dilakukan.


Eva berdehem sejenak. "Oke, kalem-kalem guys. Tarik napas dulu semuanya. Yuk yang tenang," ujarnya bermaksud menyairkan suasana.


Meski masih kesal, tak urung Vanya mencoba menetralkan emosinya.


"Gue sebenernya lagi nggak pengen ke markas, sih, soalnya nanti gue mau mulai bahas tugas kelompok. Via chat sih, tapi tetep aja kalau disambil ke sana takutnya nggak fokus," ucap David.


"Lah gue nebeng elo, Pid, berarti gue juga nggak ikut," sahut Eva. Hari ini Eva memang nebeng David karena motornya sedang diservis dan malas naik mobil. Kebetulan rumah mereka juga searah dan berdekatan.


Eva dan David menoleh ke arah Ino bermaksud menunggu jawaban cowok itu.


"Kalau lo terima ajakan Bima, gue temenin Than, gue ke markas. Tapi kalau lo nolak, ya udah di sini aja," ujar Ino mencoba bijak. Ia tidak mau Ethan seolah tidak didukung di sini.


"Next time aja deh," putus Ethan pada akhirnya.


"Beneran nggak papa?" tanya Ino.


"Iya, nggak papa. Gue sebenernya juga masih pengen main sama kalian di sini. Kan kita belum jadi main UNO," jawab Ethan dengan mengulaskan senyum.


Kemudian, Ethan mengalihkan pandangannya menatap Vanya yang tengah menyantap batagornya. "Gue minta maaf, ya, Van, tadi omongan gue ada yang menyinggung lo. Apalagi soal Dipta," ujar Ethan.


Vanya mengangguk. Ia tidak mau memperpanjang masalah. Ia juga maklum karena Ethan belum paham persis hubungannya dengan Dipta. "Iya, nggak papa, Than. Sorry juga kalau omongan gue ada nyinggung lo."


"Nah gitu damai," ujar Eva menyela.


Selanjutnya mereka mengeluarkan kartu UNO dan memainkan permainan itu bersama. Ethan menikmati saat-saat seperti ini. Tidak apa-apa menolak ajakan balapan. Nyatanya, main UNO dengan candaan dan obrolan ringan juga tak kalah menyenangkan.