
"Capek gue, tugas makin ke sini makin gila numpuknya. Sehari aja gitu nggak usah ada tugas kok kayaknya susah banget kenapa ya. Padahal mau UAS juga loh," rutuk Rio melihat buku-buku yang ada di depannya.
Melihat itu, Dipta tersenyum kalem. Ia sudah biasa mendengar sambatan Rio dan melihat sahabatnya itu kesal seperti ini. Sebenarnya ia juga capek dan agak muak. Namun, alih-alih merutuki, Dipta memilih mengerjakan dengan tenang. Menurutnya, apabila dikerjakan dengan rutukan malah akan lama selesainya.
"Udah, kerjain aja. Selesai kok pasti," tenang Dipta.
Malam ini, Dipta, Rio, dan Dino mengerjakan tugas kelompok bersama di cafe milik keluarga Dino. Terdapat workspace yang bisa mereka manfaatkan untuk mengerjakan tugas.
"Lagian ya, kenapa enggak salah satu aja sih. Kalau udah makalah ya makalah aja, nggak usah pakai PPT. Kalau PPT, ya PPT aja, nggak usah pakai makalah." Rio masih merutuk.
"Kan disuruh presentasi, Yo, ya pakai PPT. Udahlah lo kerjain aja dah, gue tambah pusing denger lo ngomel mulu," sahut Dino.
Dipta terkekeh. Rio ini memang tipe orang yang suka mengomel apabila ada tugas banyak, tapi tetap diselesaikan dengan baik.
"Dih, masa gue sambat nggak boleh sih?" protes Rio.
"Ya boleh, tapi jangan tiap menit juga dong. Ntar nggak selesai-selesai. Udah, cepet kerjain bagian lo aja. Nanti gue traktir deh kalau udah selesai," balas Dino.
Mendengar traktiran, tentu saja mata Rio jadi berbinar semangat. Cowok itu meregangkan otot kepalanya, lalu mulai mengetik di keyboard dengan antusias. Dipta menggelengkan kepalanya, tapi dalam hati berterima kasih pada Dino. Karena Dino, Rio berhenti mengomel dan ia bisa menyelesaikan tugasnya dengan lebih fokus.
Sudah ada pembagian kerja di antara mereka. Materi sudah dibagi-bagi sehingga ketiganya mendapatkan bagian. Penyusunan makalah dibuat oleh Dipta. Sedangkan PPT disusun oleh Dino dan Rio. Setelah materi terkumpul, tinggal dimasukkan sesuai format saja. Hal itu akan lebih memudahkan mereka dan efisien tentunya.
Selama kurang lebih 20 menit, mereka fokus dengan pekerjaan masing tanpa banyak bicara. Hanya terdengar alunan lagu yang sengaja disetel supaya tidak terlalu hening. Karena ketika di workspace, suara kebisingan di cafe tidak terlalu terdengar.
Akhirnya, mereka berhasil menyelesaikan tugas itu.
"Wooo akhirnya selesai juga ini tugas!!" seru Rio dengan semangat dan meregangkan ototnya.
"Nih pesen apa, lewat menu barcode aja, gue mager kalau ke sana. Tenang aja, gue bayarin." Dino menepati ucapannya untuk mentraktir mereka setelah tugas selesai.
Dengan semangat, Rio men-scan barcode yang ada di meja. Tertera bermacam menu di sana. Ia memesan satu minuman dan satu makanan. Kemudian, Rio memberikan ponsel ke Dipta bermaksud supaya Dipta memesan juga. Dipta hanya memesan 1 minuman saja karena tidak terlalu lapar. Setelah selesai, Dipta mengoper ke Dino. Kegiatan memesan makanan akhirnya selesai. Butuh waktu sekitar 20 menit hingga pesanan mereka sampai. Begitu sampai, mereka langsung menyantapnya.
Kegiatan di cafe akhirnya selesai dan mereka memutuskan untuk pulang.
"Eh, Dip! Itu motor cewek lo bukan, sih?" Rio menepuk-nepuk bahu Dipta ketika melihat sekumpulan motor yang melaju. Salah satunya terlihat familier di matanya.
Dipta mengikuti arah pandang Rio. Ia sedikit menyipitkan matanya untuk memastikan. Dan benar saja, itu memang Vanya. Terlihat dari jaket biru dongker yang Dipta hapal betul karena itu merupakan jaket pemberiannya.
"Mau kemana itu, Dip?" tanya Dino.
Dipta menggeleng. "Nggak tau gue, nggak bilang dia kalau mau pergi. Tadi bilangnya cuma di rumah doang, tapi Eva sama temen-temennya yang lain mau main ke rumahnya," jelas Dipta.
"Coba lo cek HP lo deh, barangkali dia ngabarin tapi nggak kebaca sama lo," saran Dino.
Dipta mengikuti saran Dino dan mengecek aplikasi WhatsApp. Namun, tidak ada pesan baru dari Vanya. Juga tidak ada telepon dari Vanya. Gadis itu pergi begitu saja tanpa memberi tahu, dan ketika Dipta lihat justru ramai-ramai?
Apa jangan-jangan, Vanya hendak ke area balapan lagi?
Menyadari itu, Dipta bergegas memakai helm dan mengeluarkan motornya. Ia berpamitan kepsda Dino dan Rio dengan agak terburu-buru. "Gue duluan," pamitnya lalu menarik gas begitu saja.
Dipta akan mengikuti Vanya sebelum jejaknya tertinggal jauh.
*
Dipta pikir, ia tidak akan pernah menginjakkan kaki di sini. Nyatanya, hari ini ia kemari untuk menemukan Vanya.
Ia masuk dengan tenang dan memakai maskernya. Kebetulan, hari ini ia memakai jaket hitam jadi tidak terlalu menonjol karena kebanyakan juga memakai jaket hitam. Dipta melihat Vanya berkumpul bersama anak-anak yang lain. Ada ponsel di genggaman gadis itu.
Dipta pun mencoba menelpon Vanya. Namun, panggilan itu justru ditolak oleh Vanya. Tidak lama kemudian, ada notif pesan dari Vanya.
Vanya (pacar) : kenapaa diptaa? aku lagi sama temen-temenkuu
Dipta : dimana?
Dipta melihat ke arah Vanya yang masih mengetik di ponselnya.
Vanya (pacar) : di rumahh nih
Vanya mengirimkan foto dirinya, Eva, Ino, dan David yang berada di dalam satu ruangan.
Dipta tersenyum sinis. Rencana membohonginya sangat siap sampai-sampai stok foto dulu.
Ia hendak membalas, tapi begitu melihat Vanya memasukkan ponsel ke tas dan menitipkannya ke Eva, diurungkan lagi niatnya itu. Dipta memilih melihat apa yang hendak Vanya lakukan.
Matanya membelalak begitu melihat gadis itu tiba-tiba saja beranjak menuju motor yang tampaknya siap untuk balapan. Ada seorang cewek lainnya yang tampaknya menjadi lawan Vanya.
Dipta ingin menarik Vanya sekarang juga. Namun, kerumunan tiba-tiba semakin banyak menjadi hingga susah untuk ia tembus. Dipta mengembuskan napas keras. Ia khawatir terjadi apa-apa lagi dengan Vanya seperti dulu.
"Vanyaaa," geram Dipta. Akhirnya Dipta menjauh dari kerumunan. Masih bisa ia lihat Vanya dalam jangkauan pandangnya. Mulai menarik gas dan motor yang dikendarai gadisnya itu melaju cepat. Dipta sampai menahan napas melihatnya.
Di saat seperti ini, tidak mungkin menyusul menarik Vanya. Yang Dipta lakukan hanya berdoa semoga gadisnya itu baik-baik saja. Menit-menit selanjutnya ia lalui dengan mencemaskan keadaan Vanya.
Akhirnya, Vanya kembali pada urutan pertama. Diiringi sorak-sorai penonton di sana. Dipta mengembuskan napas lega, tapi tak bisa dipungkiri ia marah. Marah karena Vanya membohonginya. Marah karena Vanya tidak menepati janjinya.
Begitu ia melihat ponsel Vanya kembali ke pemiliknya, ia segera mengirim pesan.
Dipta : keren, selamat ya menang kan?
Tampaknya Vanya membaca pesan itu karena setelahnya gadis itu tampak menengok seolah mencari keberadaan Dipta.
Dipta : coba kamu mundur, aku di belakang.
Menurut, Vanya mundur dari kerumunan itu. Selanjutnya, tatapan mata Dipta sudah berhadapan dengan Vanya.
Dipta maju perlahan. Begitu sampai di depan Vanya, cowok itu berkata sarkas, "Rumahnya udah pindah ya?"
*