
Hari yang begitu ditunggu-tunggu bagi sebagian besar murid SMA Harapan Bangsa kini akhirnya datang juga. Hari ini setelah serangkai class meeting dengan cabang olahraga kini saat nya classmeeting untuk pensi. Mereka tentu saja begitu menantikan acara kali ini.
Vanya dan teman-temannya sekarang masih berada di kelas karena pensi baru akan dimulai beberapa menit lagi. Setiap kelas kini memberikan perwakilan mereka untuk pensi. Begitupun dengan ekskul yang juga diwajibkan menunjuk perwakilan mereka.
“Ini mending kantin aja dulu gak sih buat stok makanan sama minuman kali ya,” ucap Eva memberikan ide untuk teman-temannya itu.
“Yuk lah abis itu langsung ke lapangan biar bisa nonton paling depan,” ucap Vanya menyetujuinya.
Mereka akhirnya memilih untuk segera menuju ke arah kantin agar tidak terlambat untuk menonton pensi. Jika bukan soal pelajaran mereka pasti akan begitu bersemangat namun jika sudah menyangkut pelajaran mereka malah begitu malas.
Di lapangan kini bahkan sudah begitu ramai saat mereka melihat ke arah lapangan. Ada panggung yang kini juga sudah berdiri dengan begitu mewah nya. Mereka benar-benar tak sabar untuk menunggu pensi kali ini.
“Wah udah rame banget ya,” ucap Vanya saat melihat ke arah lapangan.
“Iya lah. Apa lagi kali ini band dari ekskul musik juga tampil. Lo tau sendiri vokalisnya ganteng, saingannya Dipta sebagai cogan sekolah,” ucap Eva dengan senyumannya yang yang kini hanya membuat ketiga sahabatnya itu memutar bola matanya mendengar ucapan Eva.
“Kalau cogan aja ngarep lo. Nih temen lo cogan,” ucap Vanya sambil menarik kedua sahabat nya dan merangkul Ino juga David. Eva yang mendengar nya malah bergidik.
“Modelan dia mah banyak di PIK,” ucap Eva yang kini berhasil mendapatkan tawa dari Vanya sedangkan Ino juga David kini menatap tajam pada Eva.
“Wah asal aja tuh mulut,” ucap Ino yang kini sudah menggulung lengan seragam nya seolah bersiap untuk menghajar Eva. Eva yang melihat itu kini langsun saja berlari menjauh dari mereka.
Tujuan mereka kini menuju kantin lebih dulu, namun Eva kini malah berjalan menuju ke arah tangga bukannya naik melainkan turun.
“Kantin bawah aja. Pensi nya udah hampir mulai,” ucap Eva berteriak pada sahabat nya yang kini mengacungkan jempolnya.
Ino akhirnya berhenti mengejar sahabat nya itu karena lelah. Mereka kini harus menuruni banyak tangga jadi lebih baik membiarkan saja Eva berlari seorang sendiri.
“Gak dikejar lagi No?” tanya Vanya dengan menaikkan sebelah alisnya.
“Kagak usah. Biar aja dia capek sendiri,” ucap Ino dengan cengirannya. Kedu sahabatnya itu kini terkekeh mendengar nya.
“Dasar jahat lo No,” ucap Vanya sambil menggelengkan kepalanya.
“Biarin aja. Biar tau rasa dia,” ucap Ino.
Salah siapa juga Eva malah mengatakan jika modelan Ino banyak di PIK. Meskipun itu adalah fakta hanya saja Eva tak seharusnya mengatakan di depan Ino. Kesabaran ini itu setipis tissue dibelah dua terus kena air lagi.
Selanjutnya mereka segera membeli makanan juga minuman yang mereka inginkan. Vanya membeli minuman yang lebih, karena akan ia berikan untuk Dipta. Vanya memang begitu pengertian pada kekasih nya itu.
Setelah selesai berbelanja kini mereka memilih untuk menuju ke arah lapangan dan menonton pensi yang sudah di mulai. Sorak sorai juga suara tepuk tangan kini memenuhi lapangan saat satu persatu dari penampilan pensi di tampilan.
“Kini saat yang ditunggu-tunggu. Penampilan pensi dari anggota Band sekolah kita. Oreva Band,” ucap suara MC yang kini mendapat kan sorakan yang begitu keras dan begitu heboh daripada siswa siswi.
Mereka kini sudah mulai berdiri untuk ikut memeriahkan acara pensi dari band yang kini mulai tampil itu.
“Barra semangat. Gila makin capek aja dia”
“Barra jangan maju-maju woy ganteng lo udah kelewatan”
Masih banyak lagi ucapan dan pujian yang dilontarkan untuk sang vokalis. Vanya kini bahkan menggelengkan kepalanya mendengar semua ini. Mereka menang definisi asal kan ganteng gue suka. Mau lo cuma ketemu gue di jalan juga kalau lo ganteng gue suka aja. Meskipun besok dah lupa.
“Barra nih anak IPS ya? Gue jarang banget liat dia,” ucap Vanya yang memang tak begitu mengenal laki-laki yang kini tengah bernyanyi dengan suara merdunya itu.
“Anak bahasa dia. Ya lo tau sendiri anak bahasa emang jarang ke ekspose,” ucap Eva menjawab pertanyaan sahabat nya itu yang kini menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Eva.
“Pantes gak pernah kelihatan kalau bukan ada acara begini,” ucap Vanya.
Vanya kini ikut mengangkat tangannya dan melambai-lambaikannya. Namun tak lama tangannya malah di genggam oleh seseorang. Merasakan itu, Vanya segera menoleh ke arah belakang nya hingga senyumannya kini mengembang saat melihat ternyata yang berada di belakang nya adalah Dipta.
“Nonton sama aku yuk,” ajak Dipta yang jelas saja membuat Vanya menjawabnya dengan anggukan semangat.
“Gue sama Dipta ya,” pamit Vanya sambil mengambil kantong plastik nya yang berisi makanan.
“Lihat, aku beli banyak buat di bagi sama kamu,” ucap Vanya yang kini malah terlihat begitu menggemaskan di mata Dipta. Meskipun banyak yang mengatakan jika Vanya adalah gadis yang menyeramkan namun dimata Dipta, Vanya adalah gadis yang begitu menggemaskan.
Begitulah adanya. Setiap orang pasti memiliki sudah pandangnya sendiri dalam melihat orang. Kita tidak bisa menyamakan pandangan orang lain dengan apa yang kita lihat.
“Makasih ya,” ucap Dipta yang Vanya balas dengan anggukan.
Dipta kini mengajak Vanya duduk sedikit menjauh dari kerumunan. Namun Vanya sama sekali tidak protes, ia seolah mengerti jika kekasih nya itu tak menyukai kerumunan. Namun Dipta tetap mau menontonnya karena Vanya. Mereka kini seolah mengerti keadaan satu sama lain.
“Kamu gak lagi ngurus osis?” tanya Vanya sambil menyuapkan keripik kentang pada Dipta.
“Udah beres. Nanti kelar acara tinggal beres-beres aja,” jawab Dipta.
“Jadi nanti pulang sendiri-sendiri?” tanya Vanya yang Dipta balas dengan tatapan bersalah nya.
“Gak papa kan?” tanya Dipta yang membuat Vanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Gak papa dong. Lagian aku bawa motor juga kan,” ucap Vanya dengan senyumannya. Dipta mengelus puncak kepala Vanya sayang. Dalam keadaan seperti ini, Dipta selalu bersyukur memiliki kekasih seperti Vanya yang selalu bisa mengerti tentang kesibukannya.
“Kamu gak mau sumbang suara? Suara kamu kan bagus,” ucap Vanya yang lagi-lagi membuka pertanyaan untuk kekasih nya itu.
“Suara aku yang baus ini cuma buat nyanyiin kamu doang,” ucap Dipta yang kini berhasil membuat Vanya tertawa dengan gombalan kekasih nya itu.
“Suka ngada-ngada,” ucap Vanya dengan tawanya yang menular pada Dipta.
Dan akhirnya mereka memilih untuk menikmati acara tersebut dengan sesekali bercanda atau bercerita bersama.
*