
Menghabiskan sisa-sisa liburan, Dipta harus puas bermain dengan Vanya. Sebelum menginjak kelas 12, pasti nantinya akan semakin sibuk dan tidak tau apakah bisa meluangkan waktu sebanyak sebelumnya. Minggu ini, Dipta mengajak Vanya untuk joging di tempat car free day yang tak jauh dari rumah Vanya. Kurang lebih pukul setengah 7 mereka sudah berada di sana.
Sebenarnya, sampai di tempat pun fokus mereka tidak untuk joging. Joging hanyalah pengalihan isu karena sebenarnya yang mereka incar adalah jajanan di CFD tersebut. Ada banyak sekali dan itu membuat keduanya rasanya ingin membeli semuanya, apalagi Vanya. Dari tadi gadis itu mengoceh kepada Dipta ingin mencoba satu per satu jajanan yang ada di sana.
Vanya dan Dipta sudah lama tidak melakukan kegiatan ini di hari Minggu. Pertama, Vanya susah bangun pagi. Kedua, tugas selalu mengejar bahkan di hari libur sekalipun. Ketiga, mereka malas untuk keluar dan hanya ingin bermalas-malasan di rumah saja. Karena itulah begitu melihat keramaian CFD beserta banyaknya stand jualan makanan yang ada di sana, mata sepasang kekasih itu seolah berbinar.
Kali ini berhasil karena keduanya sama-sama punya niat untuk CFD. Sejak semalam mereka antusias membahas terjadinya hari ini. Bahkan baik Dipta maupun Vanya, sama-sama menyalakan rentetan alarm guna bangun pagi. Walau tetap saja, alarm Vanya kalah dengan dering panggilan telepon dari Dipta.
Iya, ujung-ujungnya Dipta yang bangun terlebih dahulu dan mengirim rentetan pesan. Cowok itu juga menelepon Vanya berkali-kali. Untungnya, Vanya langsung bangun dan siap-siap.
"Kapan-kapan CFD lagi dong, Dip. Seru juga ya ternyata," ujar Vanya sambil memakan telur gulung yang dibeli.
"Seru joging apa seru jajannya tuh?" tanya Dipta iseng.
"Jajannya dong. Aku sih males joging ya. Enakan jalan santuy terus jajan telur gulung. Eh abis ini jajan cilor ya, Dip," jawab Vanya sambil rekues jajanan selanjutnya.
"Udah itu habisin dulu telur gulungnya. Aku minta 1 boleh nggak?" Dipta lama-lama juga jadi ingin karena melihat Vanya yang makan dengan lahap.
"Tadi nggak mau. Nih." Vanya menyodorkan satu tusuk telur gulung untuk Dipta yang langsung diterima dengan sumringah oleh cowok itu.
"Tadi sih belum pengen, Van. Tapi pas lihat kamu makannya lahap banget kok kayaknya enak, kan aku jadi pengen juga," balas Dipta lalu memakan telur gulung itu.
"Habis ini cilor ya, Dip." Vanya masih mengingatkan tentang cilor.
"Mau cilor apa bubur ayam aja? Aku laper deh," usul Dipta.
Vanya mempertimbangkan sejenak usulan Dipta soal bubur ayam itu. Akhirnya gadis itu mengangguk. "Oke, ACC makan bubur ayam. Yuk!"
Vanya dan Dipta mencari tempat penjual bubur ayam. Tangan keduanya berkaitan satu sama lain. Kebetulan, telur gulung Vanya juga sudah habis dan dibuang ke tempat sampah. Akhirnya, mereka menemukan gerobak bubur ayam dan ada cukup banyak meja kursi di sana untuk ditempati. Setelah memesan, mereka duduk di salah satu meja dan kursi.
"Kita udah lama ya nggak sarapan bareng?" celetuk Dipta.
"Iya, kamu sibuk terus sih," jawab Vanya.
"Lah, bukannya kamu yang kesiangan terus?" Dipta tak mau kalah.
"Ih kok kamu nggak mau ngalah, sih!" ketus Vanya.
Dipta tertawa. "Kan kenyataan, kamu kesiangan mulu. Sampai dihukum terus tuh."
"Kamu jangan ungkit-ungkit masa kelam aku bisa nggak?" ucap Vanya.
"Jiakh, masa kelam-masa kelam. Ada-ada aja bahasa kamu tuh," cibir Dipta.
"Loh justru kamu tuh harusnya memperbanyak kosakata," balas Vanya.
"Iya dah, si paling banyak kosakata," ujar Dipta.
"Eh, Dip, ini masih lama nggak ya bubur ayamnya?" tanya Vanya tiba-tiba.
"Tunggu aja, paling bentar lagi. Kenapa emangnya?" ujar Dipta.
"Masih pengen cilor aku. Apa aku beli cilor dulu, ya, Dip?" ujar Vanya.
"Aku aja yang beli. Kamu tunggu di sini. Biar kamu nggak capek bolak-balik. Kamu mau cilor aja atau yang sama maklor?" ucap Dipta.
"Mix aja deh, Dip. Bumbunya balado aja," pinta Vanya.
Dipta mengangguki. Namun, begitu cowok itu sudah berdiri dan hendak melangkahkan kaki, seseorang datang menghampiri mejanya dan Vanya.
"Halo! Kalian di sini juga ternyata." Itu suara Ethan. Cowok itu tiba-tiba muncul dengan setelan training abu-abu dan kaos putihnya.
"Lah, Ethan? Bisa bangun pagi juga lo ternyata?" celetuk Vanya.
Ethan terkekeh mendengarnya. "Bisa dong. Kan pas itu gue udah pernah cerita soal kelebihan gue. Mau tidur jam berapa pun gue tetep bisa bangun jam lima pagi. Harusnya gue yang bilang gitu ke lo, Van. Bisa bangun pagi juga lo ternyata?" balasnya.
"Bisa dong, kan gue punya pacar yang siap nelponin gue pagi-pagi biar bisa CFD-an," jawab Vanya melirik Dipta.
Ethan akhirnya melirik Dipta yang berdiri. "Oit, halo, Dip! Mau kemana lo kok berdiri?" tanya Ethan.
Mendengar itu, Dipta jadi duduk kembali. "Nggak kemana-mana, benerin kursi doang."
"Gue nggak lama sih sebenernya, udah bungkus soto di tempat lain. Cuma mau nyapa kalian aja sama ngobrol bentar," ujar Ethan.
"Udah ngobrolnya?" sahut Dipta.
Ethan mengerjap sedikit kaget mendengar ucapan itu. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena Ethan bisa mengontrol dirinya. "Yaelah, masih bentar, Dip. Kan jarang gue bisa ngobrol sama kalian berdua gini."
"Lo bolos terus sih," timpal Vanya.
"Dih ngaca, lo lebih sering bolos," balas Ethan.
"Gue sekarang udah jarang bolos ya sorry," sombong Vanya.
"Gue juga sekarang nggak bolos," ujar Ethan masih tak mau kalah.
"Masaa?" Vanya tak percaya.
"Iya, kan sekarang emang libur. Jadi gue nggak perlu bolos," jawab Ethan sambil tertawa membuat Vanya mendesis kesal bahkan melempar cowok itu dengan potongan tisu yang ia ambil.
Dipta melihat interaksi Vanya dan Ethan. Tidak dipungkiri ada perasaan aneh semacam gejolak tak suka yang sering orang-orang sebut 'cemburu'. Vanya terlihat asik berinteraksi dengan Ethan, begitu pun sebaliknya. Cowok itu berdehem sejenak bermaksud menyadarkan Vanya bahwa disini masih ada eksistensi kekasihnya.
"Eh, gue duluan deh ya. Mau cuci motor habis ini," pamit Ethan akhirnya.
"Nggak nyarap bubur lagi?" tanya Vanya.
"Udah bungkus soto tadi gue bilang. Eh gue ada ini, bentar." Ethan memberikan satu plastik berukuran kecil pada Vanya. "Cilor tuh, gue beli tapi salah rasa. Gue nggak suka balado, tapi terlanjur dikasih balado. Lo mau nggak, Van? Atau Dipta lo mau nggak? Ambil aja deh buat berdua." Ethan menaruh plastik itu di atas meja.
"Wih pas banget gue lagi pengen cilor. Makasih, ya, Than. Hati-hati pulangnya," jawab Vanya.
"Yoi, duluan ya!" Setelah itu Ethan mulai berjalan pulang.
"Dip, lumayan nggak jadi beli cilor nih udah dikasih," ujar Vanya membuka cilor itu.
Dipta hanya berdehem. Tak lama kemudian, bubur ayam pesanan mereka datang. Dipta langsung menyantap bubur itu.
"Kamu mau nggak, Dip, cilornya?" tawar Vanya dan Dipta menggeleng.
"Akrab banget kayaknya kamu sama Ethan. Aku boleh nggak suka nggak?" celetuk Dipta.
"Eh? Gimana maksudnya, Dip? Perasaan biasa aja kok kayak interaksi sama temen lain juga," jawab Vanya.
"Beda. Sama David atau Ino nggak kayak gitu," ujar Dipta.
"Sama aja, Dipta. Bedanya dimana sih?" Vanya balik bertanya.
"Kamu nggak kerasa? Tatapan dia beda. Bukan kayak orang mau temenan, tapi kaya mau PDKT. Jujur aku nggak suka," ungkap Dipta.
"Kamu cemburu?" tebak Vanya.
Dipta mengangguk. "Iya, cemburu. Kamu kayak udah kenal lama sama dia. Kalian juga punya kesukaan yang sama kan, belum lagi sama-sama anak motor fi Aderfia. Kalian nyambung banget ngobrolnya."
"Dipta, aku sama Ethan sebenernya nggak sedeket itu kok. Aku bahkan nggak ada save kontak dia walaupun kita satu grup di Aderfia. Aku nggak butuh yang sama-sama anak Aderfia. Kamu aja udah cukup buat aku," jelas Vanya.
Dipta yang tadi merasa tak nyaman karens interaksi Vanya dan Ethan, kini sedikit lega mendengarnya. Ucapan Vanya seolah memvalidasi bahwa dirinya memang cukup untuk Vanya.
"Maaf, ya, udah cemburu," ujar Dipta.
"Nggak papa kok. Lucu juga kamu cemburu, ternyata kamu bisa cemburu," ujar Vanya.
"Ya bisa dong."
"Soalnya selama ini kalo sama David sama Ino, kamu biasa-biasa aja," ujar Vanya.
"Beda kalo sama mereka mah. Aura mereka murni anggap kamu temen sama sodara doang. Kalo Ethan tuh ada modus-modusnya. Boleh nggak kamu jangan intens banget interaksi sama Ethan?" ujar Dipta.
Vanya tertawa. "Iya, Dipta, iyaaa. Kamu tenang aja, aku bisa jaga hati kok."
Dipa tersenyum tipis mendengarnya. Dalam hati ia berharap Vanya benar-benar menepati ucapannya. Dipta tidak mau kehilangan Vanya.
*