Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Birthday Ethan



Anak-anak Aderfia menyantap makanan yang sudah tersaji di tengah lingkaran mereka dengan semangat. Mereka masih dengan acara makan-makan di taman belakang Villa. Banyak macam makanan di sana. Mulai dari sosis bakar, ayam bakar, bakso bakar, martabak telur, pizza, dan masih banyak lagi. Ada juga minuman teh rasa apel ukuran 1 liter berjumlah 3 botol. Di samping itu, juga sudah ada galon untuk yang ingin air mineral. Mereka benar-benar akan memanjakan perut sebelum pulang.


Sebelum sesi makan, mereka sempat bermain games. Games yang dimainkan adalah estafet sarung, estafet tepung, dan rebut kursi. Suasana sangat meriah tadi. Setelah games, mereka lapar dan melanjutkan sesi makan-makan. Setelah ini mereka akan beristirahat sejenak sebelum pulang di sore hari nanti.


"Enak banget ini ayam bakarnya. Gue boleh bungkus nggak?" celetuk Stevan, salah satu anak Aderfia.


"Oh iya jelas enak, kan yang masak gue," sahut Eva.


"Gue juga!" timpal Karina.


"Nanti boleh bungkus kalau ini pada nggak abis. Dah, puasin dulu ini makan-makannya. Kapan lagi woy kita ngumpul kaya gini," ujar Bima.


"Betul tuh. Makasih ya guys udah nyempetin dateng di hari libur kalian ini buat ngumpul bareng kita. Kangen deh ngumpul kayak gini," sahut Enzo.


"Elo tiap hari main ke markas, ketemu juga masih sempet kangen," balas Ken.


"Ya kan kalo ke markas paling ketemunya itu-itu aja. Elo lagi elo lagi. Terus suasananya juga kayak gitu doang. Kalo ini kan beda, nih wajah-wajah yang jarang keliatan kayak Vanya kan sekarang kelihatan tuh. Terus suasananya enak, adem nggak di markas mulu," jelas Enzo.


"Eh tapi iya gue kangen sama Vanya deh," ujar Karina.


"Ah seriusan lo. Tapi gue emang ngangenin sih, jadi nggak kaget," balas Vanya.


"Nah elo yang songong gini nih yang bikin kangen. Seneng banget gue lihat lo lagi hari ini," ujar Karina.


Vanya tertawa saja. Ia juga senang bisa bertemu dengan anak-anak Aderfia dengan tenang lagi kali ini.


"Gue juga kangen lo deh, Rin. Eh ini gue mau ke dalem bentar charge HP, karena lo kangen gue, anterin gue dong, Rin," ujar Vanya yang langsung mendapat anggukan dari Karina. Setelahnya mereka berdua masuk ke dalam vila.


"Btw kalian kayaknya kelupaan satu hal. Atau barangkali ada yang belum tau," ujar Enzo.


"Apaan, Zo?" tanya Ethan.


"Gue itung ya guys." Enzo malah memberikan memberikan aba-aba.


"Satu."


"Dua."


"Tiga."


"HAPPY EARLY BIRTHDAY ETHAN!" teriak anak-anak Aderfia dengan kompak. Mereka memang sempat briefing untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuk Ethan, meskipun ulang tahun laki-laki itu masih besok.


Ethan yang semula kaget, kini jadi tertawa. "Makasih yaa. Tapi ulang tahun gue kan besok," ucapnya.


"Kan kita ngucapinnya aja happy early birthday, Than. Emang mendahului kita tuh biar jadi yang pertama yang ngucapin lo," jawab Enzo.


"Iya, soalnya besok belum tentu kita bisa ngumpul banyak orang kayak gini. Mumpung ada momennya nih," balas Ino.


"Lo tiap hari mah bisa ngumpul sama Ethan njir kan kalian sesekolah," sahut Bima dan Ino menyengir.


"TIUP LILINNYA, TIUP LILINNYA, TIUP LILINNYA SEKARANG JUGA." Keterkejutan Ethan bertambah karena mendadak Vanya membawakan sekotak donat yang entah sejak kapan sudah dipasang lilin lengkap dengan apinya.


Anak-anak Aderfia dengan sigap juga menyanyikan lagu tiup lilin. Tidak lupa dengan beberapa ponsel yang terangkat untuk mengabadikan momen itu.


"Make a wish dulu, Bro," ucap Ino.


Ethan memejamkan matanya sejenak untuk membuat permintaan. Biar hanya Ethan yang tau apa yang sebenarnya sedang ia harapkan. Setelahnya, cowok itu membuka mata dan mulai meniup api di lilin tersebut hingga padam. Gemuruh tepuk tangan terdengar ketika api di lilin itu padam.


"Gue nggak tau kapan kalian ngerencanain ini, tapi thanks banget yaa. Gila ini ulang tahun pertama gue dirayain bareng anak-anak Aderfia, walaupun kecepetan sih," ujar Ethan tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.


"Yoiii santuy, Than. Happy birthday ye," balas Enzo. Hal itu diikuti oleh anak-anak Aderfia yang lain untuk mengucapkan happy birthday.


***


“Wah ini rumah nya Ethan? Gue gak tau kalau Ethan sekaya ini,” ucap Ino sambil melihat lihat rumah besar milik Ethan.


Kini keempat sahabat itu tengah berada di depan rumah Ethan. Setelah mereka pulang food gathering kemarin Ethan mengundang mereka untuk datang ke rumah Ethan untuk makan-makan.


Kini saat sampai di rumah Ethan. Mereka di kejut kan dengan rumah Ethan yang ternyata begitu besar.


“Gak usah norak deh lo,” ucap Vanya pada Ino.


“Iye Van iye. Gue kan cuma orang miskin,” ucap Ino pada Vanya yang kini membuat Vanya bergidik mendengar ucapan sahabat nya itu.


“Awas bangkrut beneran bokap lo,” ucap Eva menakut nakuti Ino yang sembarangan berbicara.


“Weh ya jangan dong,” ucap Ino yang kini membuat sahabat nya yang lain terkekeh sambil menggeleng mendengar ucapan sahabat nya itu.


Vanya kini mengetuk pintu rumah Dipta beberapa kali hingga seorang ART kini membukakan pintu untuk mereka.


“Temennya Den Ethan?” tanya seorang wanita paruh baya dengan senyuman lembut nya yang kini membuat mereka menganggukkan kepalanya dengan kompak.


“Ayo masuk dulu non, den,” ucap wanita tersebut mempersilahkan keempat remaja beranjak dewasa untuk segera masuk.


Saat masuk ke rumah Ethan. Mereka kembali dibuat terperangah melihat rumah besar Ethan yang di dalam nya ternyata begitu mewah dengan banyak hiasan antik. Mereka kini dipersilahkan untuk duduk. Sedangkan Art tadi kini beralih untuk memanggil Ethan.


“Weh udah dateng aja, tumben kagak ngaret,” ucap Ethan yang kini berjalan ke arah sahabat mnya itu dengan senyumannya.


“Kita mah kalo Vanya cepet bangunnya aman kok. Kalau sering ngaret tuh ya karena Vanya,” ucap Eva yang kini membuat Vanya membelalakkan matanya mendengar ucapan sahabat nya itu.


“Lo kalau ngomong yang bener dong,” ucap Vanya.


“Fakta Van,” ucap Eva dengan cengirannya yang kii membuat Vanya berdecak mendengar nya.


“Btw kalian bawa apa tuh?” tanya Ethan dengan melihat ke arah bingkisan yang dibawa oleh teman-temannya.


“Kado nih buat lo, sekalian cake biar ada yang lo tiup,” ucap David sambil meletakkan kado juga cake yang dibawa oleh laki-laki tersebut ke arah Ethan yang kini duduk di single sofa. David yang membawa cake nya pun kini meletakkan nya di atas meja.


“Wah ada temennya Ethan?” tanya seorang wanita paruh baya cantik yang kini berjalan ke arah mereka. Dari penampilannya mereka tahu jika wanita tersebut adalah ibu Ethan. Sahabat Ethan pun kini segera menyalami tangan ibu Ethan membuat wanita tersebut tersenyum.


Selanjutnya mereka pun berkenalan pada ibu Ethan yang ternyata begitu baik dan begitu ramah.


“Kita tiup lilin dulu yuk,” ujar Vanya memberikan saran.


David kini menyalakan lilin yang berada di sana lalu David mulai melakukan make a wish dan setelah nya segera meniup lilin. Mereka saling bertepuk tangan dengan begitu heboh nya.


“Ayo potong kue,” ucap Ino begitu bersemangat.


“Ino mah kalau makanan semangat banget,” ucap David yang membuat temanya yang lain ikut tertawa. Ibu Ethan yang juga berada di sana pun kini hanya terkekeh melihat nya.


“Udah udah gue potong nih. Nyanyiin dulu dong,” ucap Ethan dengan candaannya.


“Langsung potong aja lah. Kayak bodoh lo segala dinyanyikan dulu,” ucap David yang kini juga tidak sabar. Mereka hanya saling tertawa mendengar nya.


Ethan hanya terkekeh setelah nya ia segera memotong kue yang dibawa oleh sahabat nya itu. Di potongan pertama kini ia bingung ingin memberikannya pada siapa. Secara bergantian kini Ethan melihat ke arah ibu nya juga Vanya.


“Udah kasih ke Vanya dulu,” ucap Ibu Ethan yang mengerti kebimbangan anaknya itu. Ethan yang mendengar ucapan Ibu nya kini menggaruk tengkuk nya yang tak gatal. Melihat itu kini sahabat nya yang lain terlihat kebingungan dan merasa ada something pada Ethan.


***