
Dipta sedikit lagi akan sampai ke rumahnya, tetapi ponsel di sakunya yang terus bergetar cukup mengganggu fokusnya. Mau tidak mau, Dipta putuskan untuk berhenti sejenak untuk mengecek siapa yang menghubunginya. Barangkali itu sosok yang sedari tadi dicari-carinya, alias Vanya.
Namun, ternyata itu bukan Vanya. Melainkan Rio yang entah untuk alasan apa meneleponnya berulang kali. Tidak ada pesan dari Rio juga. Sahabatnya itu hanya menelpon saja dari tadi.
Akhirnya, Dipta memilih untuk menelepon balik. Barangkali ada hal penting yang hendak disampaikan oleh sahabatnya itu.
"Halo, Yo. Ada apa tadi nelpon?" tanya Dipta begitu sambungan telepon itu terhubung.
"Lo dimana, Dip?" Suara Rio mulai terdengar.
"Di jalan. Ini habis dari rumah Vanya mau balik," jawab Dipta.
"Ketemu Vanya?"
Dipta menggeleng meskipun Rio di sana tidak akan melihatnya. "Enggak, orangnya nggak ada di rumah. Nggak tau deh kemana."
"Pasti nggak ada. Kayaknya gue tau cewek lo kemana, Dip," ucap Rio.
"Kemana?" tanya Dipta ingin tau.
"Coba ke tempat tongkrongannya sama temen-temennya," usul Rio.
"Maksud lo markas motor mereka?" Dipta memastikan.
"Iya. Ke markas klub mereka, Dip. Cek di sana," jawab Rio.
"Lo kenapa tiba-tiba bilang gini? Tau dari siapa?" tanya Dipta. Agak aneh juga dengan Rio yang seperti ini.
"Lihat di instagram story temen gue. Kebetulan dia kayaknya satu club sama Vanya. Soalnya tadi gue lihat ada cewek lo. Gue kirim screenshot-nya habis ini," ujar Rio.
"Oke, kirim ya. Kalau itu bener Vanya, gue ke sana sekarang," jawab Dipta.
"Siap, bentar."
"Gue matiin ya telponnya. Gue tunggu fotonya. Makasih banyak, Yo," ujar Dipta.
Setelahnya, panggilan itu terputus. Tidak lama kemudian, ada notifikasi masuk dari Rio. Ternyata itu screenshot yang dimaksud sahabatnya.
Mata Dipta menyipit untuk memastikan yang sedang ia lihat. Dan benar saja, itu adalah Vanya, kekasihnya. Ada di sana lengkap bersama teman-teman cewek itu alias Eva, Ino, dan David.
Setelah mengucapkan terima kasih sekali lagi kepada Rio, Dipta memutar lagi hendak menuju ke arah markas club motor Vanya. Dipta menahan kuat-kuat emosinya supaya tidak meledak ketika sampai sana. Ia masih tidak percaya kalau hari ini dirinya harus kembali ke tempat itu lagi. Padahal belum genap seminggu sejak Dipta ke sana dan memergoki kekasihnya balapan lagi.
"Kenapa susah banget dibilangin, sih, Van," gerutunya sepanjang menyusuri perjalanan malam itu. Terdengar nada lelah di sana. Ucapan Dipta tempo hari rasanya hanya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri bagi Vanya.
Dipta kendarai motor itu dengan kecepatan cukup tinggi supaya segera sampai di markas Aderfia. Untung saja jalanan malam itu cukup sepi. Ia harap emosinya bisa terbang di perjalanan. Supaya begitu sampai di markas Aderfia dan bertemu kekasihnya, ia bisa membicarakan ini tanpa emosi.
Ya, semoga.
*
Dipta heran karena sepertinya tempat ini tidak pernah sepi. Setiap kali Dipta kemarin, selalu ramai tak peduli meskipun itu bukanlah hari libur. Dipta jadi berpikir, apakah anak-anak di sini selalu punya banyak waktu luang?
Kali ini, seperti biasa markas anak Aderfia ramai. Sepertinya akan ada balapan lagi karena di arena sudah banyak orang-orang yang mengerubungi.
"WEITSSS VANYA SAMA ETHAN WOI. COBA LO TEBAK YANG MENANG BAKAL VANYA ATAU ETHAN?"
"Vanya lah. Si Ethan mah pasti ngalah."
"Ethan bisa aja sih. Pasti Vanya minta mainnya fair nggak ada belas kasih walau dia perempuan."
"Gue Vanya!"
Dipta mengernyit mendengarkan percakapan itu. Jadi, Vanya hendak balapan lagi, ya? Dan lawannya ... adalah Ethan. Dipta jadi bertanya-tanya, hubungan mereka berdua itu seperti apa? Dipta coba tepis pikiran-pikiran buruk itu.
Kali ini, Dipta mencoba mendekat kerumunan itu. Untuk melihat lebih jelas sosok Vanya di sana. Dan benar saja, di sana memang Vanya sudah siap di atas motor.
Ingin sekali rasanya Dipta menarik Vanya dan mengajak pulang sekarang juga. Namun mengingat hubungannya yang sedang memanas, Dipta putuskan melihat Vanya saja. Dari awal, sampai akhir Vanya kembali.
"Tuh kan bener, Ethan yang menang."
"Bener-bener nggak pandang bulu ya si Ethan ini."
"Iya dong, kayak gini mah harus adil."
"Tapi Vanya ketinggalannya juga nggak jauh-jauh amat. Masih keren lah."
Dipta dengar dalam diam setiap celetukan di sana. Sampai akhirnya Vanya kembali. Dipta memutuskan mundur sejenak dari kerumunan. Membiarkan Vanya menikmati waktunya bersama teman-temannya dulu.
Ketika Vanya hendak masuk ke markas, Dipta segera menghadang langkah gadis itu. Tentu saja Vanya terkejut melihat kehadiran pacarnya yang tiba-tiba.
"Ngapain kesini?" tanya Vanya ketus.
"Mau ngomong sama kamu. Tapi nggak di sini, ayo ikut aku," balas Dipta berusaha sabar.
"Males ngomong sama kamu. Bisa nggak, kamu nggak usah ngikutin aku terus? Aku bukan anak bayi yang harus selalu kamu ikutin. Aku udah gede, bisa jaga diri, bisa kesana-kesini sendiri. Aku berhak ngelakuin apapun. Jangan mentang-mentang kamu pacar aku, kamu bisa seenaknya ngatur ini itu ke aku," semprot Vanya.
"Iya, aku tau. Jangan ngomongin ini di sini. Ramai, kamu nggak malu dilihat temen-temen kamu?" ucap Dipta.
Vanya melihat ke sekeliling. Benar saja, cukup banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Akhirya Vanya berjalan mendahului Dipta. Dipta mengikuti saja dari belakang hingga akhirnya mereka sampai di parkiran yang cukup sepi.
"Kamu lupa ya baru beberapa hari minta maaf karena ini? Dan sekarang, kamu ulangin lagi, Van?" Dipta membuka percakapan.
"Nggak lupa. Kali ini aku nggak salah. Aku nggak bohongin kamu. Kamu sendiri yang nyamperin kesini," elak Vanya.
"Kamu balapan lagi," ujar Dipta.
"Aku tau dan aku ngelakuin itu secara sadar. Aku juga udah bilang ke kamu, aku bisa jaga diri. Bisa nggak sih Dip kamu terima aku sepenuhnya, apa adanya aku, baik buruknya aku tanpa perlu ngatur-ngatur? Tanpa perlu larang-larang nggak boleh ini, nggak boleh itu. Aku pacar kamu, bukan boneka kamu!" semprot Vanya.
"Loh kurang nerima apa lagi, sih, aku? Kurang sabar apa lagi aku? Inget-inget berapa kali kamu ngelakuin kesalahan yang sama dan berapa kali aku maafin kamu atas kesalahan yang sama." Dipta tak terima.
"Inget-inget juga berapa kali kamu nggak percayaan sama aku. Berapa kali kamu ngelarang aku ga boleh ini, ga boleh itu. Aku punya hidupku sendiri yang nggak bisa kamu setir kayak gini. Aku punya kebebasan sendiri. Inget batas kamu di sini tuh cuma pacar, nggak lebih. Jangan mentang-mentang kamu lebih baik di mata orang-orang daripada aku, terus kamu secara nggak langsung setir aku supaya jadi orang kayak kamu. Nggak bisa, Dip! Kamu nggak bisa seenaknya gini." Vanya meluapkan semua yang ada di pikirannya.
Dipta agak tertohok mendengar itu. Niatnya baik, ia hanya ingin menarik Vanya dari pertemanan yang bisa saja merugikan cewek itu.
"Kamu nyadar nggak ngomong apa? Van, aku nyamperin kamu mau lurusin maksud aku. Aku bukannya larang ataupun batasin pertemanan kamu. Tapi ayolah, Van, melek, tadi itu bukan pertemanan yang baik. Masa kamu diajak ngerokok? Baik nggak, Van, menurut kamu?" bela Dipta.
"Baik menurut kita nggak bisa disamain. Udahlah, Dip, aku ke sini tuh males kamu ganggu terus lewat telpon atau chat. Malah kamu susulin ke sini. Minggir, aku mau pulang aja dan kamu jangan ngikutin aku!" ucap Vanya final lalu melangkah meninggalkan Dipta di sana.
Dipta mengembuskan napas lelah. Entah harus menghadapi Vanya dengan cara apa lagi, Dipta tak mengerti. Akhirnya ia memutuskan mengikuti Vanya dari jauh. Sekadar memastikan Vanya pulang dengan selamat.
Tidak bisa dipungkiri, Dipta memang sakit hati dengan ucapan Vanya. Sepertinya, Dipta butuh evaluasi diri setelah ini.
*