Imperfect Relationship

Imperfect Relationship
Kecewa



Beberapa hari setelah kejadian di kantin, Vanya tidak banyak cerita soal Dipta maupun keresahannya. Ia memilih tak banyak merespon ataupun berekspresi ketika obrolan sahabat-sahabatnya mengarah ke Aretha. Ino dan David sudah meminta maaf perihal kejadian hari itu. Vanya yang tak mau ambil pusing mengiyakan saja. Toh sebenarnya mereka tak sepenuhnya salah. Dirinya saja yang tidak siap mendengar fakta-fakta itu.


Satu minggu sejak tercetusnya project yearbook, Dipta sepertinya makin sibuk. Percakapan antara Vanya dan Dipta tidak sebanyak sebelumnya. Mereka jarang pulang bersama. Kalau untuk berangkat, mereka masih sempat berangkat bersama meskipun dengan motor masing-masing.


Hari ini cukup menyenangkan bagi Vanya. Ia berangkat bersama Dipta, dengan membonceng cowok itu. Tawaran Dipta tadi pagi tentu langsung disetujui. Biasanya ketika Vanya berangkat dengan membonceng Dipta, pulangnya pun harus bersama cowok itu. Oleh karena itu, sekarang Vanya sedang menunggu Dipta.


Tadi cowok itu bilang ada urusan sebentar bersama tim inti yearbook di kelasnya dan meminta Vanya untuk menunggu. Vanya mengiyakan saja sembari menunggu di kantin bawah. Namun, sudah setengah jam ia menunggu, Dipta belum juga ada kabar sama sekali. Chatnya belum dibalas, dibaca juga belum.


"Lo nggak mau balik aja, Van?" tanya Ethan. Ethan memang menunggui Vanya. Tadinya, ada Eva dan Ino juga. Namun, kedua sahabatnya itu harus pulang duluan karena ada urusan lain.


"Nunggu Dipta. Lagian gue nggak bawa motor," jawab Vanya.


"Gue anter deh," ujar Ethan.


"Dipta bilangnya suruh tunggu doang, Than, berarti dia masih bisa anter. Lo kalau mau pulang duluan nggak papa kok," ujar Vanya.


"Gue tungguin aja deh," putus Ethan.


Notifikasi dari ponsel Vanya membuat gadis itu segera mengecek ponselnya. Ia berharap itu adalah pesan dari Dipta. Sayangnya, Vanya harus mengubur keinginannya itu karena ternyata ituย  notifikasi dari grup chatnya dengan sahabat-sahabatnya.


"David kan satu tim inti sama Dipta, Van? Ini David ngirim foto lagi survei? Dipta nggak ikut?" tanyaย  Ethan yang juga baru saja cek grup.


Di grup itu, David mengirimkan foto dirinya yang sedang di atas motor. Ia juga memperlihatkan keadaan di sekitarnya. Ada satu motor lagi yang menarik perhatian Vanya.


Anak-anak Baik


Dapid : gue lagi survei ๐Ÿ˜Ž


Ino : Anjayy, anak sibuk beneran lo sekarang


Eva : dimana tuuu?


Dapid : Di taman. Tapi ini belum masuk sih


Ethan : Ada Dipta?


Vanya : lah itu dipta di belakangnya David


Vanya : boncengan ya wkwkk


Dapid : Hah?


Eva : lah?


Eva : LAH IYA ANJIR PID KOK LO GITU SIH


Ino : Duh


Eva : KOK LO BIARIN DIPTA BONCENGIN ARETHA? KENAPA GAK LO AJA YANG BONCENGIN ARETHA?


Dapid : Gue boncengin Bunga, anaknya lagi turun....


Dapid : Vanya, gue minta maaf ya Van๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป


Ino : Nggak bener ini


Eva : @Vanya lo masih di sekolah? nungguin Dipta???


Ethan : masih, sama gue


Dapid : Gimana maksudnya? Dipta nggak bilang mau survey???


Vanya : nggak. thanks infonya ya pid, jadi gue bisa balik aja


Ethan langsung menoleh ke arah Vanya. "Van? Lo pasti nggak baik-baik aja ya?" tebak Ethan.


"Iya. Gue ngapain banget nunggu kalau yang ditunggu aja lupa," jawab Vanya.


"Gue anterin ya pulangnya?" tawar Ethan.


Belum sempat Vanya menjawab, ada panggilan masuk dari Dipta. Kalau Vanya tebak, pasti di sana David yang memberi tahu kejadian di grup kepada Dipta.


"Bentar, gue angkat telepon dulu," ujar Vanya lalu berjalan menjauh dari Ethan.


"Vanya, kamu masih nunggu aku?" Suara Dipta terdengar panik.


"Menurut kamu aja, Dip."


"Vanya, sorry, aku lupa ngabarin. Aku lagi survei lokasi. Tadi rencananya emang bahas doang, tapi mumpung pada bisa, jadi kita berangkat sekalian. Maaf aku lupa ngabarin. Kamu pulang aja ya pakai ojek online atau sama temen kamu."


"Sama Ethan maksud kamu?"


"Kok Ethan?" Nada Dipta terdengar tak suka.


"Pulang sendiri aja kalau gitu."


"Aneh kamu, Dip. Kamu aja boleh boncengan sama anak baru itu. makin deket, ya, sama dia."


"Ini sebatas ngurusin yearbook doang, Vanya. Tolong ngertiin, buang jauh-jauh pikiran negatif kamu dan percaya sama aku. Oke, kali ini nggak papa kamu pulang sama Ethan. Nanti kabarin aku kalau udah sampai rumah."


"Yearbook doang katanya. Hati-hati aja, Dip, lama-lama nyaman loh. We never know. Apalagi kalian satu frekuensi kan? Kalau ngobrol kelihatan klop banget tuh."


"Nggak usah melebih-lebihkan deh. Itu asumsi kamu doang. Karena kamu mikirnya yang aneh-aneh. Kamu duluan yang keseringan overthinking. Sering insecure sama Aretha. Aku udah bilang cukup sama kamu aja kamu masih nggak percaya. Kalau gini yang nyari penyakit siapa, Van?"


Ucapan Dipta yang satu itu cukup membuat Vanya sakit hati dan kecewa. Tanpa membalas lagi, ia mematikan sambungan telepon.


"Udah, Van?" tanya Ethan yang tiba-tiba sudah menghampiri Vanya. Pertanyaan itu dijawab anggukan oleh Vanya. "Oke, ayo pulang. Energinya disimpen baik-baik ya."


*


Akhir-akhir ini, Vanya sadar banyak rumor yang mengatakan dirinya dan Dipta sudah putus. Selama hampir 3 tahun pacaran, baru kali ini ada rumor seperti itu. Jika biasanya hanya terdengar hujatan dirinya yang tidak pantas untuk Dipta, itu sudah biasa. Namun, untuk rumor putus ini merupakan pertama kalinya sejak kedatangan anak baru itu.


Vanya tidak terima, jelas saja. Anak baru itu tiba-tiba datang dan seolah menyita banyak waktu Dipta yang seharusnya bisa dihabiskan dengan Vanya. Sejak insiden menunggu Dipta yang ternyata tidak akan datang, dan ternyata pacarnya membonceng perempuan lain, Vanya tidak memulai percakapan dengan Dipta.


Dipta juga tidak terlihat mencoba memperbaiki. Ia hanya bertanya apakah sudah sampai rumah atau belum, setelahnya tidak ada apa-apa lagi. Vanya juga masih sakit hati dengan Dipta. Namun, Vanya tidak betah melihat kedekatan Dipta dan Aretha.


Menemukan Aretha yang tengah membaca buku saat jam istirahat di taman sekolah, rasanya seperti momen yang tepat untuk Vanya. Ia harus memperingatkan Aretha supaya tidak terlalu dekat dengan Dipta. Baru saja Vanya hendak melangkah, ternyata Dipta datang duluan. Hal itu membuat Vanya bersembunyi di balik dinding.


Vanya tidak tau apa yang mereka bicarakan. Yang jelas ia melihat Dipta memberikan kertas semacam bookmark, lalu cowok itu pergi setelah Aretha menerimanya. Ketika dirasa sudah cukup aman, barulah Vanya keluar dan menghampiri Aretha.


"Halo!" sapa Vanya berusaha ramah.


Dapat dilihat Aretha terkejut dan mengerjakan matanya. "Eh halo? Ini Vanya ya?" Namun Aretha tetap merespon itu dengan ramah.


"Iyaa, udah tau gue ya?"


"Udah kok. Dipta sama David sering nyeritain soal kamu."


"Oh iyaa, David sahabat gue. Kalau Dipta pacar gue. Udah tau kan ya?"


Aretha mengangguk dan tersenyum. "Iya, tau kok."


"Btw, salam kenal ya," ujar Vanya tiba-tiba seraya mengulurkan tangannya.


"Salam kenal juga." Aretha membalas jabatan tangan itu.


"Karena kita udah kenalan, gue boleh curhat?" tanya Vanya.


"Boleh kok, cerita aja. Kamu mau cerita apa?"


"Seperti yang lo tau, gue pacarnya Dipta. Udah ada 2 tahunan, sejak kelas 10. Hampir 3 tahun ya? Gue jelas sayang banget sama dia. Dia pun sama. Dipta ngertiin semua keadaan gue termasuk buruknya gue, gue pun ngertiin kesibukan dia yang saat itu jadi ketua OSIS. Walau sibuk, Dipta selalu ngabarin gue. Dia nyempetin tanya gimana hari gue berjalan. Keren, ya, cowok gue?" Vanya bercerita.


"Sayangnya, akhir-akhir ini kita nggak baik-baik aja. Kemarin gue nungguin dia buat pulang sekolah, tapi ternyata dia lagi sama lo ya? Lagi survei ya? Dipta nebengin lo ya?" cecar Vanya.


Aretha mengangguk kaku. "I...ya. Kita sebatas survei kok. Dipta nebengin aku soalnya aku nggak bawa kendaraan sendiri. Ada David sama Bunga juga. David bonceng Bunga soalnya Bunga yang minta, katanya males sama Dipta karena Dipta kalau naik motor lama. Jadi Dipta akhirnya boncengin aku."


"Kalau gitu, lo boleh merasa tersanjung," ujar Vanya.


"Kenapa gitu?" tanya Aretha.


"Karena lo cewek pertama yang dibonceng Dipta selain bunda dan pacarnya. Keren."


"Maaf, Vanya, kalau kamu nggak nyaman karena itu. Tapi kita bener-bener sebatas ke survei lokasi doang kok." Aretha masih mencoba meyakinkan.


"Dianter kan pulangnya? Dipta mana tega biarin lo pulang sendirian," tebak Vanya.


Aretha tak menjawab. Vanya menyimpulkan bahwa Dipta memang mengantarkan Aretha pulang setelahnya.


"Akhir-akhir ini juga, lo denger nggak?" tanya Vanya lagi.


"Denger...apa?" Aretha mulai terbata-bata menanggapi Vanya.


"Denger rumor Dipta sama pacarnya putus, dan denger banyak orang bilang lo sama Dipta pacaran soalnya kalian cocok dan sering kelihatan bareng," jawab Vanya.


Aretha terdiam. Ia tidak menyangka ada rumor seperti itu karena Aretha tipe orang yang jarang mengikuti gosip sekolah.


"Lo cewek baik. Gue yakin kok. Banyak yang bilang kayak gitu juga kan? Lo sempurna, iya gue akuin itu. Gue boleh nggak minta tolong?"


"Minta tolong apa, Vanya?"


"Sesama cewek, tolong ngertiin gue, posisi gue, dan tau posisi lo ya? Sebagai cewek baik, pasti lo tau kan harus bersikap kayak gimana ke cowok yang udah punya pacar?" ucap Vanya secara tak langsung meminta Aretha jaga jarak dengan Dipta. Dan hal itu dipahami dengan baik oleh Aretha.


Vanya mengembuskan napas pelan. "Gue balik kelas dulu ya. Makasih udah denger curhatan gue. Semoga ngerti ya."


*