
Kevin menatap Christine dan Peter bergantian
dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak. Ia dan Christine baru saja selesai
berbaikan. Christine mengatakan ia selalu menyayangi Kevin bahkan sampai saat
ini. Kevin adalah satu-satunya kakak yang ia miliki dan ia menyayanginya.
Kevin juga mengatakan kalau ia sangat meyesal
pernah membuat Christine kecewa. Ia tidak pernah bermaksud membuat adiknya itu
kecewa, tapi apa yang kita lakukan tidak selamanya sesuai dengan yang sudah
direncanakan.
Ia menyadari kalau ia memang tidak bisa
memaksakan kehendaknya pada Christine, dan ia tidak bisa mengubah takdir,
seperti saat ini suasana haru yang terjadi tadi seolah lenyap dan tergantikan
dengan suasana hening.
Raut wajah Kevin sudah tidak bisa dibaca,
tatapannya juga sulit diartikan. Kevin menatap Christine dan Peter bergantian.
“Bisa kau ulangi yang baru saja kau katakan?”
Kevin menatap Peter tajam. Lelaki itu terlihat biasa saja berbeda dengan
Christine yang sudah was-was.
“Kami ingin menikah, apa kau memberi restu?”
ucap Peter santai.
Kevin tersenyum miring, “Menurutmu?”
“Aku tidak tahu,” ucap Peter tak acuh.
Kevin menghela napas dalam, “Apa aku bisa
menghentikannya?”
“Tentu saja kau tidak akan bisa,”
Kevin terkekeh kecil, “Kalau begitu
menikahlah”
Christine terkejut bukan main, apa yang
membuat kakaknya ini berubah pikiran? Sepertinya benar kata Peter, Kevin akan
merestui mereka.
“Apa kakak merestui kami?” tanya Christine
pelan dan hati-hati.
“Kakak tidak punya alasan lagi untuk
memisahkan kalian, jadi lakukan yang ingin kalian lakukan. Belajarlah dari masa
lalu kalian masing-masing,”
Christine tersenyum lebar mendengar kalimat
Kevin barusan. Ia langsung berdiri dan mengambil tempat duduk tepat di sebelah
Kevin, dan tanpa menunggu lagi ia langsung memeluk Kevin sangat erat.
Kevin tersenyum dan mengusap tangan dan kepala
Christine bergantian. “Maafkan kakak pernah berusaha memisahkan kalian,”
Christine mengangguk dan mencium pipi Kevin
“Aku menyayangi kakak,” ucapnya senang.
“Kakak juga menyayangimu,” ucap Kevin lembut.
___________________________
Semuanya terasa berbeda sekarang, semuanya terasa lebih indah dari sebelumnya. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Christine sekarang. Bahagianya sebentar lagi akan lengkap, senyum tidak luntur dari bibirnya sedari tadi.
Saat ini ia sedang duduk di depan cermin di ruang rias, setelah menunggu selama tiga minggu lebih dan hampir empat minggu. Disinilah ia sekarang, menunggu sang ayah menjemputnya. Christine masih terus tersenyum.
Lexy memasuki ruangannya dengan senyum yang merekah.
“Christine aku sangat berbahagia untukmu,” ucapnya sambil mengusap air mata yang sudah jatuh.
Christine tersenyum dan memeluk Lexy, “Aku menunggumu menyusulku”
Lexy melepas pelukan Christine dan dengan malu-malu ia menunjukkan jari manisnya dihadapan Christine, dan membuat sahabatnya itu syok dan melongo.
“Kapan?!” tanya Christine excited.
“Seminggu yang lalu, malam setelah calon suamimu itu diresmikan menjadi CEO” ucap Lexy malu-malu.
“Bagaimana bisa? Aku pernah bertanya pada Allen kapan ia akan melamarmu, tapi lelaki itu malah menjawab kalau ia akan menikah saat berusia 30 tahun” ucap Christine bingung.
Lexy tersipu malu, “Allen bilang ia sangat tidak tahan melihatku memakai gaun biru yang kupakai saat peresmian itu, ia juga mengatakan kalau ia sangat tidak suka melihat banyak lelaki yang melirikku. Dan setelah itu ia langsung menyematkan jariku dengan cincin ini dan mengklaimku menjadi miliknya, dan peresmiannya akan dilangsungkan beberapa bulan lagi setelah proyek barunya itu rampung. Ia juga memerintahku untuk tidak pernah melepaskan cincin ini,”
Christine ikut tersenyum dan berbahagia untuk Lexy, “Aku akan menunggu undangannya,”
“Allen benar-benar berhasil membuatku meleleh saat itu,” Lexy masih terlihat berbinar-binar dan bercahaya saat mengungkapkan hal itu membuat Christine juga ikut berbahagia.
“Ngomong-ngomong siapa saja yang kau undang dalam pestamu ini? mengingat kau tidak pernah menghadiri undangan pesta dari orang lain jadi membuatku ragu kalau oarang-orang akan hadir dalam pestamu,”
“Tidak banyak, hanya kerabat dekat saja dan keluarga. Selebihnya adalah undangan Peter,”
“Ah, aku paham. Kau yang tidak pernah menghadiri pesta dan Peter si raja pesta. Aku yakin bebapa orang yang tidak ingin hadir sebelumnya karena ini pestamu akan hadir karena ini juga pesta Peter. Kalian pasangan yang sempurna,” Lexy tertawa membuat Christine juga ikut tertawa.
Christine dan Lexy mendongak saat seseorang mengetuk pintu, ayahnya William berdiri disana dengan raut wajah haru.
Ia masuk dan mendekati Christine dengan mata yang berkaca-kaca, Lexy mengerti kalau ayah dan anak ini sedang ingin berdua jadi ia memutuskan untuk memberi mereka ruang untuk berbicara.
“Putri ayah sudah dewasa sekarang,” William mengelap air mata yang jatuh ke pipinya.
Christine mencoba menahan air matanya karena melihat pahlawannya sekaligus cinta pertama dalam hidupnya menitikkan air mata dihadapannya.
William memengang lengan Christine, “Terasa sangat berat untuk ayah melepasmu untuk laki-laki lain, ayah merasa sepertinya baru kemarin ayah menggendongmu karena menangis dan sekarang kau sudah akan meninggalkan rumah dan akan memulai hidup baru,”
Christine langsung memeluk William dengan erat seakan tidak ingin pergi.
“Kenapa waktu cepat sekali berputar?” William balas memeluk putrinya dengan erat. “Ayah benar-benar menyayangimu,”
Christine sudah tidak bisa lagi membendung air matanya, ia menangis dipelukan William “Aku lebih menyayangi ayah, ayah adalah hidupku. Terimakasih sudah menyayangiku,” ucapnya sesenggukan.
“Jangan menangis sayang, kau akan merusak riasan wajahmu kalau kau menangis, ayah akan selalu menyayangimu, selamanya.” William mengusap air mata Christine dengan lembut.
“Ayo keluar calon suamimu sudah menunggu,”
Christine mengangguk dan menggandeng lengan William, mereka berjalan memasuki gereja dengan langkah pelan. Christine bisa melihat Lexy dan Alexa yang tersenyum ditempat duduk mereka, ia juga melihat Kevin, Erick dan Allen menatapnya dengan senyum bahagia.
Christine perlahan menghirup napas, mencoba menetralkan detak jantungnya yang sudah berpacu sangat cepat, secepat pacuan kuda. Ia menatap kedepan dan melihat Peter berdiri didepan dan menunggunya, menunggu ayahnya akan menyerahkan dirinya kepada Peter.
Mata itu menatapnya lekat, mata yang sangat disukainya, mata yang bisa menyelami dirinya dengan dalam dan tepat. Mata yang indah sama seperti pemiliknya.
Dan saat itu tiba, saat dimana ia akan melepaskan lengan ayahnya, pahlawan sekaligus cinta pertamanya dan ia akan meraih ulururan tangan Peter, orang yang memberi banyak warna dan rasa dalam hidupnya.
Dan disini dihadapan semua orang dan dihapan ayahnya, ia mengikrarkan janji suci dan sekarang ia sudah resmi menjadi seorang istri dan akan mulai menjalani kehidupan barunya. Iya, dia sudah bukan milik ayahnya lagi.