He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
25. OMG!



Christine menghela napas panjang. Beberapa hari ini ia tidak bisa fokus. Pertanyaan Allen beberapa hari yang lalu masih terngiang di kepalanya dan membuatnya bingung. Bagaimana ia akan mengatakan pada kakaknya kalau saat ini dirinya sudah berpacaran dengan Peter?


Kevin sendiri sampai saat ini masih belum mengetahui kalau dirinya sudah memiliki kekasih. Christine juga tidak tahu bagaimana caranya agar ia bisa memberitahukan pada Kevin mengenai kekasihnya. Terlebih lagi kekasihnya adalah Peter.


Sudah sangat jelas jika Kevin pasti akan menentang hubungannya dengan Peter. Mengingat bagaimana marahnya Kevin dulu saat mengetahui kalau Peter, lelaki yang dijodohkan dengan Christine, mempermalukan adiknya itu dihadapan banyak orang. MEMPERMALUKAN Christine.


Keyakinan kalau Kevin tidak akan membiarkan Peter kembali pada Christine sudah sangat jelas. Bahkan dengan alasan apapun kakaknya itu tidak akan membiarkan ia kembali bersama dengan Peter.


Mengingat juga bagaimana Kevin mengetahui betapa pedihnya yang dirasakan oleh Christine saat itu. Kevin sudah merasakan sesuatu yang jangkal ketika Christine tiba-tiba pulang ke rumah dengan mata yang bengkak.


Christine masih terus termenung di dalam kamarnya lebih tepatnya di balkon kamarnya. Ia memikirkan cara agar bisa berbicara dengan Kevin mengenai Peter. Tapi otaknya seakan buntu dan tidak bekerja. Bagaimana ia harus berterus terang pada Kevin kalau begini terus?


Ketukan pintu yang cukup keras membuat Christine tersadar dan memaksanya mau tidak mau harus bangkit berdiri untuk membuka pintu.


"Ada apa kak? Tumben sekali kakak mengetuk pintu kamarku?" tanya Christine setelah membuka pintu dan melihat kalau Kevin lah yang sedang mengetuk pintu.


Kevin tersenyum. "Tidak, aku hanya mau menyapa sebagai kakak yang baik, tidak sombong rajin menabung dan sayang orang tua serta menjadi contoh yang baik untuk adikku." ucapnya dengan nada menjijikkan membuat Christine mendengus kesal


"Yang kakak ucapkan barusan sudah mencerminkan kalau kakak itu sombong!"


Kevin hanya nyengir mendengar ucapan Christine. "Kau sedang apa?" tanyanya dengan nada santai.


"Tidak sedang apa-apa, memangnya ada apa? Tumben sekali kakak bertanya?" Christie menyipitkan matanya. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan kakaknya saat ini. Lebih tepatnya kakaknya pasti menginginkan sesuatu darinya.


"Ah tidak, kakak hanya ingin melihatmu saja." kata Kevin. Sebelum Kevin melanjutkan kalimatnya Christine sudah lebih dulu mendahului Kevin.


"Kalau kakak ke sini ingin meminta sesuatu dariku ataupun kakak ingin mengajakku pergi, maka maafkanlah adikmu yang cantik dan imut ini karena tidak bisa memenuhi permintaan kakak tercintanya." kata Christine sambil tersenyum polos namun menjengkelkan di mata Kevin.


"Adikku yang cantik dan imut tolonglah kakakmu yang tampan ini, temani kakak ke suatu tempat ya.." pinta Kevin memelas.


"Ah maaf kak, aku sedang tidak ingin keluar." kata Christine dengan nada sedih. Kali ini ia serius sedang tidak ingin pergi kemana-mana, karena saat ini pikirannya sedang kemana-mana.


"Baiklah kakak akan undur, kapan kau bisa menemani kakak? Karena kakak harus membawamu."


"Memangnya kakak mau pergi kemana? kenapa harus membawaku?" Christine menyipitkan matanya berusaha mengorek sesuatu dari ekspresi yang sedang ditunjukkan oleh kakaknya saat ini.


"Ah tidak, kakak hanya ingin mengenalkan mu pada seseorang." ucap Kevin santai.


"Untuk apa?"


"Kau akan tahu, kalau kau sudah bertemu dengannya nanti."


"Kakak tidak sedang ingin menjual ku bukan?" pertanyaan Christine barusan sontak langsung membuat Kevin langsung menjitak kepala adiknya itu dengan gemas.


"Kalau aku ingin menjualmu, setelah kau mendapat KTP dulu maka aku akan langsung menjualmu!" kata Kevin kesal.


"Siapa tahu begitu." Christine menggumam tak acuh sambil mengangkat bahunya.


"Sudahlah, kira-kira kapan kau bisa menemaniku?"


"Aku tidak tahu kak, mungkin minggu depan bisa."


"Minggu depan? Kau seperti orang sibuk saja, minggu ini apa tidak bisa?" tanya Kevin lagi.


"Minggu depan atau tidak sama sekali" kata Christine mengancam.


----------


Christine berjalan di kampus pagi ini dengan malas. Bagaimana tidak, sejam yang lalu ia baru mendapatkan pesan dari dosennya agar pagi ini datang menemui dosennya untuk membicarakan mengenai tugas akhir untuk kelulusannya nanti. Ah, dosen memang suka sekali membuat jadwal sesuka hatinya termasuk membuat jadwal dadakan.


Christine berjalan ogah-ogahan menuju ruang dosennya. Christine yang memang sedang kesal karena pagi ini dia harus bangun dengan terkaget bertambah kesal lagi saat sudah sampai di ruangan dosennya itu namun sang dosen ternyata masih belum sampai di kampus. shit!


Christine melirik arlojinya, saat ini ia sedang duduk di kafe dekat kampusnya sambil memesan cappucino latte kesukaannya. Sudah cukup lama ia duduk seorang diri di kafe ini. Fix! ia sudah menunggu nyaris satu jam, dan tidak ada tanda-tanda bahwa dosen yang sedang ditunggunya itu akan datang.


Christine kemudian mengambil ponselnya hendak mengabari dosennya kalau ia sudah di kampus dari tadi serta menunggu hampir sejam lamanya. Betapa kagetnya Christine begitu membuka ponselnya ada satu panggilan tak terjawab dan satu pesan dan itu dari dosen yang sedang ia tunggu-tunggu kedatangannya. Ponselnya memang sedang dalam silent mode saat ini. Dalam pesan itu berisi kalau sang dosen tidak bisa ke kampus hari ini karena ada urusan lain. Double shit!


Christine melirik pesan itu dengan kesal, dosennya itu hanya berusaha menelponnya sekali saja? Memangnya apa juga yang bisa ia harapkan dari dosen yang memiliki stereotipe bahwa ada tiga buah pasal;


yang pertama : dosen tidak pernah salah,


yang kedua : mahasiswa tidak pernah benar dan


pasal yang ketiga : jika mahasiswa benar maka kembali ke pasal pertama.


Christine beranjak dari tempat duduknya, ia memutuskan untuk pergi ke tempat Lexy. Ia sudah terlanjur malas pulang, ditambah apartemen Lexy memang dekat dengan kampus jadi ia akan singgah terlebih dahulu.


Christine berjalan menuju parkiran namun berhenti ketika seorang perempuan dengan pakaian kurang bahan pada bagian atas, serta memiliki rambut yang berwarna pelangi pada ujung-ujung rambutnya mecegatnya.


"Lihatlah ada sampah daur ulang di sini." ucap Caroline mengejek.


"Apa maumu? Aku tidak pernah membuat masalah denganmu." kata Christine datar.


"Sekali sampah tetap sampah!" kata Caroline lagi dengan ketus.


"Apa maksudmu Caroline?" tanya Christine berusaha menahan emosinya.


"Bukankah semua yang dibuang itu adalah sampah? Dan kau sudah dibuang oleh Peter jadi kau adalah sampah."


Christine mengernyit tidak suka dengan kalimat yang diucapkan oleh Caroline tersebut. "Siapa yang kau panggil sampah?" tanya Christine kesal.


"Sudah sangat jelas itu adalah dirimu! Sampah daur ulang! Peter mengambil sampah yang sudah dia buang untuk di daur ulang dan itu adalah dirimu." kata Caroline sinis kemudian tersenyum dengan senyumnya yang mampu membuat emosi Christine menuju puncak.


"Katakanlah aku sampah yang didaur ulang. Seharusnya kau tahu kalau sampah daur ulang itu memiliki manfaat yang lebih baik dibandingkan sebelumnya!" kata Christine emosi lalu meninggalkan Caroline yang terdiam mendengar ucapannya barusan.


Namun sedetik kemudian Caroline tersenyum sinis dan berteriak cukup kencang. "Ya, dan saat sampah daur ulang sudah tidak berfungsi maka tidak akan bisa didaur ulang kembali. Jadi nikmati harimu bersama Peter sampai ia akan kembali membuangmu karena kau sudah sangat tidak berguna."


"Ya, lebih baik seperti itu, setidaknya aku sudah merasakan cinta Peter sebelum dirimu, bitj!" kata Christine dingin. Membuat Caroline menoleh padanya dengan tatapan tajam namun dibalas dengan senyuman sinis dari Christine.


"Lihatlah dirimu! kau selalu menggoda Peter tanpa tahu malu, tapi dia bahkan tidak melirikmu sama sekali. Kau sangat menyedihkan. Dan mungkin kau lupa satu, Peter masih melirik dan memohon untuk kembali padaku. Kau sudah kalah telak dariku! Dasar perempuan sampah!" kata Christine lagi kemudian meninggalkan Caroline yang membeku di tempat.


Melihat bagaimana ekspresi Caroline saat ini, pasti akan membuat siapapun akan ketakutan, termasuk beberapa temannya yang tadi ikut menghalangi jalan Christine. Mereka bahkan terlihat tidak berani hanya untuk menyadarkan Caroline. Tapi Christine tidak peduli pada mereka semua!


Christine lalu meninggalkan Caroline yang masih menatapnya tajam. Seakan ingin memakannya hidup-hidup.


Christine mendesah pelan begitu ia sampai di mobilnya. Apa yang baru saja ia katakan? Manfaat sampah? Ia bahkan tidak tahu ada atau tidak sampah daur ulang yang memiliki fungsi permanen. Ia mengatakan hal seperti itu karena sudah sangat emosi. Mendengar ucapan Caroline tadi memang benar-benar membuatnya emosi. Tripple shit!


Ah, hari ini memang benar-benar hari sialnya. Bayangkan saja, bahkan belum sampai dua jam ia di kampus, ia sudah mendapat tiga kesialan yang semuanya menguras emosinya.


OMG! She's got tripple shit today! Damn it!!!