
Suasana dijalanan masih belum berubah, tidak ramai dan tidak terlalu sepi. Jalanan yang ada di depan rumah sederhana itu tidak pernah macet sama sekali. Tidak ada lagi gedung-gedung pencakar langit, tidak ada lagi orang-orang yang berjalan dengan cepat lagi. Tidak ada lagi suara berisik dari kendaraan-kendaraan yang tidak pernah habis.
Angin berhembus menerpa wajah cantiknya, membuat beberapa helai rambutnya yang tergerai juga ikut bergerak mengikuti arah angin. Ia mendongakkan kepalanya sambil menutup mata menikmati tiupan angin yang menyentuhnya dan ia tersenyum, tempat ini sangat tentram.
Sejauh ini ia cukup berhasil dalam menenangkan pikirannya, ia sudah cukup bisa menerima kenyataan dan sedikit bisa melupakan kekecewaan yang dirasakannya dua bulan lalu.
Ia sedang duduk di teras rumah sederhana itu, hari sudah lewat siang dan menjelang sore. Ia mengamati seluruh kota, bukan kota besar seperti New York tentunya. Dan kota kecil ini masih sama.
Dua bulan yang lalu ia datang ke tempat ini seorang diri dan tidak mengenal siapapun. Ia hanya butuh waktu untuk dirinya sendiri dan tempat ini adalah tujuannya. Tempat seperti ini lah yang sedang dicarinya dua bulan lalu, dan ia menemukannya.
Dan di sinilah ia sekarang, di salah satu desa kecil yang cukup jauh dari New York, dan berada di negara bagian Georgia, ia sedang berada di salah satu kota kecil di negara bagian itu. ia sedang berada di kota kecil yang bernama Orlando.
Kota kecil ini masih sama dengan dua yang lalu bulan lalu sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya. Semua yang ada di kota kecil ini masih sama, tidak ada atau mungkin belum ada yang berubah. Kota kecil ini bukan termasuk kota yang sangat indah, tapi setidaknya kota kecil ini bisa membuatnya kembali merenung dan berpikir.
Semuanya masih sama, begitu juga dengan hatinya. Hatinya juga belum berubah dari sejak dulu, ia bahkan masih mengingat saat pertama kali ia jatuh cinta pada lelaki yang pernah menyakitinya. Lelaki yang mempermalukannya dihadapan banyak orang. Lelaki yang mencoba balas dendam padanya karena tidak terima pernah ditolak.
Rasanya masih sama, sampai saat ini, detik ini, ia masih mencintai lelaki itu.
“Christine apa kau sedang berpikir lagi?” tanya seseorang membuatnya langsung menoleh pada orang tersebut.
“Oh, hai Alexa.” Christine tersenyum dan menatap Alexa “Kau mengagetkanku!”
“Kau terlalu banyak berpikir.”
“Aku kesini memang untuk berpikir, dan aku sudah mengatakan ini padamu berkali-kali”
“Lalu sampai kapan kau akan terus berpikir seperti ini? Kau kadang terlihat seperti manusia tanpa jiwa”
Christine tersenyum, “aku masih butuh waktu, pikiranku masih cukup kacau saat ini dan itu membuatku membutuhkan waktu cukup banyak untuk menenangkan pikiranku”
“Baiklah tapi jangan berpikir untuk menenangkan pikiranmu terlalu keras, hanya akan membuat pikiranmu semakin kacau,”
“Baiklah terima kasih atas saranmu,”
“Hmmm, kurasa aku akan ikut lain kali saja,”
“Festival itu diadakan setahun sekali dan hanya berlangsung tiga hari, dan ini adalah hari ketiga kau tetap tidak ingin ikut? Lagipula kau sudah terlalu banyak berpikir, kurasa kau membutuhkan festival ini untuk bersenang-senang dan melupakan sejenak acara ‘menenangkan pikiranmu’”
Christine tampak kembali berpikir, apa yang dikatakan oleh Alexa barusan ada benarnya, ia sudah terlalu banyak berpikir. selama dua bulan ini tiada hari ia lewatkan tanpa berpikir. Christine kemudian tersenyum menatap Alexa “Baiklah aku akan ikut denganmu nanti malam,”
Alexa menatapnya antusias “Itulah jawaban yang aku inginkan, kalau begitu aku akan menjeputmu nanti malam,” ucap Alexa kemudian berlalu meninggalkan Christine.
Alexa adalah temannya sekaligus tetangganya, saat datang dulu, Alexa lah orang pertama yang mendatanginya dan mengajaknya berteman. Melihat Alexa kadang membuat Christine mengingat Lexy, sifat mereka cukup sama, selalu ceria.
Ia merindukan Lexy. Tapi yang paling dalam adalah ia sangat merindukan Peter.
Christine masuk ke dalam rumah mengambil ponselnya dan menekan tombol ‘call’ pada satu-satunya kontak yang terdapat di ponsel itu.
“Halo, Christine bagaimana kabarmu?” tanya seseorang diseberang.
“Halo ayah, aku baik-baik saja dan aku merindukan ayah,”
“Ayah juga merindukanmu sweety, jadi kapan kau akan pulang?”
“Aku masih butuh waktu ayah, kuharap ayah mengerti. Maafkan aku karena masih belum bisa pulang” ucap Christine pelan.
William menghela napas dari seberang, “Ini sudah dua bulan sweety, tapi ayah akan mencoba mengerti. Sweety ayah sedang dalam perjalanan pulang,”
“Baiklah ayah, ngomong-ngomong ayah tidak memberitahukan nomor ponselku yang baru pada siapapun kan?”
“Tentu saja ayah tidak melakukannya, memangnya kenapa? Apa ada yang menghubungimu selain ayah?”
“Tidak ada ayah, aku hanya bertanya, baiklah kalau begitu ayah jangan mengebut, aku akan secepatnya pulang, aku menyayangi ayah”
“Baiklah sayang ayah tidak akan mengebut, ayah selalu menunggumu pulang, Ayah juga menyayangimu.” kemudian panggilan itu mati.