
Christine memasuki kamarnya dengan malas, ia benci saat ia seperti ini. Kenapa Peter sama sekali tidak menghubunginya? Ini sudah sangat lama sejak terakhir kali Peter menemuinya. Apa lelaki itu benar-benar marah padanya?
Ayolah, Christine hanya sedang ragu saat itu. Lagipula kenapa Peter tidak meyakinkannya tapi malah memilih menghilang seperti sekarang? Apa Peter sungguh-sungguh meninggalkannya?
Ini tidak boleh terjadi, Peter tidak boleh meningalkannya. Tidak!
Christine mengambil ponselnya dan mencari kontak Peter, setelah menemukan yang ia cari, Christine langsung menekan tombol menganggil.
Tidak ada jawaban.
Christine sekali lagi menekan tombol ‘panggil’, menunggu dengan penuh harap tapi sayangnya hasilnya nihil. Yang menjawab panggilannya bukan Peter melainkan perempuan pemilik suara indah yang bekerja di perusahaan operator.
Christine terdiam dan duduk di tempat tidurnya, kenapa nomor Peter tidak aktif? Christine melirik jam dinding dan menunjukkan pukul sembilan lebih sepuluh malam. Sudah dari pagi ia seperti ini, sejak Kevin mengatakan tidak bisa menemui Peter karena lelaki itu pergi ke luar negeri.
Christine ingin mendengar suara Peter sekali saja, agar ia bisa tenang melewati malam ini. Tidak perlu mengetahui alasan Peter yang tidak menemuinya lagi, cukup mendengar sapaan lelaki itu saja, karena ia sangat merindukan Peter.
Apa pesawat Peter belum belum mendarat? Tapi bukannya Peter sudah pergi ddari beberapa hari yang lalu? Atau Peter ternyata masih bekerja? Tapi jika dipikir lagi, tidak lelaki itu mematikan ponselnya sekalipun sedang bekerja.
Apa Peter sedang rapat? Tapi bukankah biasanya setiap kali rapat, Peter tidak pernah membiarkan lebih dari satu jam, karena Peter memang malas rapat, sedangkan hari sudah akan berganti.
Christine kembali melirik pada jam dinding sudah lebih lima belas menit. Ia menghabiskan waktu berdebat dengan pikirannya sendiri selama lima belas menit.
Oke, Christine akan menunggu selama sejam, barangkali Peter memang sedang rapat atau bertemu dengan klien. Dan Christine tahu Peter tidak pernah suka berbicara tentang pekerjaan lebih dari sejam.
Sejujurnya Peter adalah lelaki yang malas bekerja. Tetapi sayangnya, ia adalah orang yang sangat bertanggung jawab. Jadi itulah sebabnya ia bekerja, karena perusahaan itu adalah tanggung jawabnya.
Christine menunggu sambil mendengarkan lagu, memejamkan matanya sesaat dan terus-menerus mengamati jam dindingnya yang entah kenapa terasa sangat-sangat lambat.
Christine menghela napas, ia tahu Peter mencintainya dan begitupun sebaliknya. Tidak mungkin Peter meninggalkannya bukan? Mereka saling mencintai dan yang terpenting mereka mengetahui tentang itu.
Christine menikmati playlist yang sedang memutar lagu-lagu kesukaannya dan Peter. Lelaki itu penggemar Lauv sedangkan ia sendiri lebih menyukai Justin Bieber. Christine tersenyum ketika lagu I Like Me Better mulai memenuhi telinganya. Lagu kesukaan Peter karena liriknya sesuai dengan perasaan Peter yang lebih baik setelah bersamanya. Beberapa kali Christine memutar ulang lagu itu hingga tidak terasa waktu sudah berjalan tiga puluh menit.
Christine berdiri dan berjalan menuju dapur, ia merasa tenggorokannya kering. Ia tidak sendirian di dapur karena ternyata Kevin juga sedang minum air.
Kevin sepertinya menyadari kedatangan Christine langsung menoleh.
“Kau belum tidur?”
“Belum.”
Kevin mengernyit mendengar nada bicara Christine.
“Kenapa belum tidur?”
Christine menghabiskan air mineral yang ada di gelasnya.
“Tidak apa-apa,” Christine tampak sedang berpikir sebelum kembali menjawab, “mungkin karena aku haus.”
Kevin tahu Christine tidak berbohong saat mengatakan kalau ia haus, tapi Kevin juga tahu kalau Christine pasti memikirkan lelaki sialan yang satu itu.
"Aku duluan kak."
Christine kembali ke kamarnya setelah Kevin mengangguk. Ia tiduran di tempat tidurnya dan berpikir. Ia akan menikah dengan Erick hari sabtu nanti, dan ini sudah malam kamis itu tandanya pernikahannya tinggal beberapa hari lagi. Ah menyebalkan!
Christine teringat ke kejadian dua minggu lalu saat kakaknya mengatakan kalau ia akan menikah dengan Erick dalam bulan ini. Kevin juga mengatakan kalau dirinya akan menemui Peter dan mengatakan pada Peter tentang pernikahan ini.
Sejujurnya Christine merasa pernikahan ini sangat tergesa-gesa, tapi ia tidak bisa menolak saat Kevin mengatakan jika Peter menjemputnya sebelum hari pernikahan, maka Kevin akan mengijinkan Christine membatalkan pernikahannya dengan Erick.
Tapi jika Peter tidak menjemputnya saat pernikahan itu tiba, maka mau tidak mau Christine harus menerima pernikahannya dengan Erick. Menjadi istri seorang Erick, pembalap Moto GP incaran kaum hawa.
Tidak! Christine tidak mau, ia hanya boleh menjadi istri Peter!
Christine menegakkan kepalanya dan meneguhkan hatinya kalau Peter pasti akan segera menjemputnya sebelum hari pernikahan tiba.
Christine melirik jam dinding dan jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih dua belas menit. Tandanya Peter pasti sudah selesai dengan segala urusan pekerjaannya.
Dengan menurunkan rasa gengsi serta menguatkan hati, Christine menghubungi nomor Peter. Christine menunggu beberapa saat sampai akhirnya Christine tersenyum karena mendengar nada tersambung.
Christine menunggu dengan penuh rasa bahagia, menunggu Peter mengangkat panggilannya. Tidak membutuhkan lama hingga rasa bahagia itu lenyap tak bersisa, digantikan dengan isakan tangis dan penuh rasa kecewa. Bukan karena Peter sengaja tidak mengangkat panggilannya. Tidak, bukan karena itu, ini lebih menyakitkan dari sekedar sengaja membiarkan panggilannya.
Peter me-reject panggilannya.