
Dan Christine tertampar dengan gumaman itu, ia sadar disitulah letak kesalahannya. Ia meragukan Peter saat itu, ia meragukan Peter karena merasa Kevin benar. Ia meragukan Peter disaat Peter akan menunjukkan pada Kevin kalau ia mencintai Christine, dan ia meragukan Peter saat itu. Ya Tuhan ternyata benar kata Alexa, ia juga ikut andil dalam kekecewannya.
“Pecayalah padaku, aku tidak ingin lagi menjalani hariku tanpamu. Aku benar-benar tersiksa tanpamu, aku bahkan tidak tahu bagaimana hidupku, semuanya terasa hampa dan aku menyadari sangat berat hidup tanpamu.”
“Aku percaya padamu,” ucap Christine serak, ia sadar semuanya berawal darinya. Kesalahpahaman yang tak berujung, dan ia menyesalinya sangat menyesalinya. “Maafkan aku.”
“Ssst it’s okay baby, yang penting sekarang kau sudah kembali.”
“Tapi semuanya berawal dariku,” air mata Christine mulai jatuh, ini salahnya semuanya salahnya. Semuanya gara-gara keraguan sialan itu. “Ini salahku dan aku menyalahkanmu, maafkan aku.”
Peter melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Christine dengan kedua jari jempolnya, “Semua orang pasti melakukan kesalahan, aku juga melakukannya karena aku tidak menghubungimu saat itu. aku mengira kalau kau butuh waktu untuk memikirkan kembali, dan meyakinkan hatimu."
Peter menghela napas pelan dan menundukkan kepalanya, “Ternyata aku salah, harusnya aku meyakinkanmu saat itu bukannya membiarkanmu meyakinkan dirimu sendiri, aku minta maaf.”
Christine mendongak dan menatap Peter yang menunduk tanpa melihatnya. Kenapa jadi Peter yang salah? Christine semakin jatuh cinta lagi pada Peter sekarang, lelaki itu bahkan tidak menyalahkannya dan malah menyalahkan dirinya sendiri. Ya Tuhan betapa beruntungnya dia mendapatkan lelaki seperti Peter.
Christine dengan cepat langsung mengalungkan lengannya dileher Peter dan memeluk lelaki itu erat, sangat erat seolah ia tidak akan bisa memeluk Peter lagi, Peter yang sejenak terkejut karena dipelung tiba-tiba langsung membalas pelukan Christine.
“Ayo kita lupakan masa lalu, melupakan semua yang pernah membuat kita saling menyakiti,” Christine sungguh-sungguh dengan ucapannya saat ini, ia tidak ingin kejadian yang sudah lewat akan membuat mereka sama-sama merasa bersalah.
Peter tidak menanggapi ajakan Christine dan malah melepaskan pelukan mereka membuat Christine syok, takut Peter berubah pikiran dan memutuskan untuk berpisah dengannya. Tapi ternyata pikirannya salah, Peter langsung meraih tengkuk Christine dan mencium bibirnya dalam dan kuat, membelai setiap sudut bibir Christine dengan lidahnya yang lembut, Christine membuka mulutnya membiarkan lidah Peter masuk dan saling melilit dengan lidahnya, nikmat.
Peter mengangkat tubuh Christine tanpa melepaskan ciumannya dan Christine langsung mengalungkan tangannya di leher Peter yang kokoh. Ia menggendong Christine dan membawanya ke meja kerjanya. Mendudukkan Christine disana sambil tetap menciuminya tanpa ampun, ia benar-benar merindukan bibir ini, mereka berciuman dengan rasa rindu yang sama.
Tangan kanan Peter mulai turun ke payudara Christine dan meremasnya lembut sedangkan tangan kirinya mengelus punggung Christine dengan gerakan sensual membuat Christine merasa panas, ia menginginkan lebih. Ciuman Peter turun ke leheranya mengigitnya pelan, meningglkan tanda keposesifannya, Christine sudah tidak bisa mengendalikan dirinya, satu tangannya ia gunakan untuk meremas rambut Peter sedangkan satu tangan lainnya ia mengelus dada bidang lelaki itu.
Peter kembali menegakkan tubuh Christine yang sedikit lemas, ia langsung memeluk Christine membenamkan kepalanya di ceruk leher Christine.
“Sudah cukup.” gumamnya dengan suara serak yang bercampur frustasi.
Christine bisa merasakan sesuatu yang keras menekan perutnya, dan ia tahu Peter sudah sangat bersusah payah untuk menahan gairahnya. Ia membiarkan Peter memeluknya, setidaknya untuk meredakan gerah gairah yang minta dipuaskan.
Ia balas memeluk Peter, ini bukan pelukan karena nafsu. Mereka saling memiliki dan ini adalah pelukan yang menunjukkan kalau mereka saling mencintai dan membutuhkan. Christine mencium leher Peter dengan lembut dan menggigitnya, meninggalkan jejaknya juga.
“Christine hentikan, kau benar-benar nakal.” Gumamnya serak.
Christine tersenyum dan sadar jika lelaki itu masih bergairah, bukannya berhenti ia malah semakin menggoda Peter dengan kembali menciumi leher kokoh itu dengan lembut.
“Christine,” geramnya frustasi, “Hentikan atau aku akan menyerangmu sekarang!”
Christine tertawa, “Seingatku kau yang mulai duluan.”
“Iya dan sekarang aku sedang berusaha meredam gairah ini, jadi hentikan.”
Christine kembali tertawa mendengar nada frustasi Peter, “Baiklah.” dan ia memeluk Peterlembut.
“Ayo kita menikah!”
“Eh?”