He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
27. Doubt



Sudah seminggu berlalu sejak Peter kembali ke Manhattan dan sudah tiga hari berlalu sejak ia berkelahi dengan Caroline di kampus.


Artinya sudah seminggu ini Christine masih juga belum mau mengangkat panggilan Peter atau sekedar membalas pesan singkat lelaki itu.


"Jadi hanya karena pertanyaan dari Allen kau tidak mengangkat panggilan dari Peter?" Lexy bertanya dengan nada bingung. Ia meletakkan cangkir berisi kopi ke meja mereka. Ya saat ini, Christine sedang duduk di sebuah kafe yang ada di depan kampusnya.


Christine mengangguk pelan.


"Bagaimana mungkin kau tidak merespon pesan dan panggilannya selama ini hanya karena pertanyaan Allen?" Lexy menatap Christins tak percaya.


"Tapi pertanyaan itu benar... sampai kapan aku akan merahasiakan hubunganku dengan Peter pada kakakku sendiri?"


"Christine, kau membuatku jadi ragu kalau kau masih mencintainya."


"Aku mencintainya. Kau jelas tahu tentang itu..."


"Kalau kau mencintainya, kau tidak akan mengabaikannya selama ini hanya karena pertanyaan Allen dan ketakutanmu sendiri."


Christine terdiam sejenak. Ia menatap Lexy yang terlihat bingung. Lalu menghela napas rendah.


"Apa Peter pernah menyuruhmu untuk mengatakan kepada kakakmu kalau saat ini kau dengannya sudah berpacaran?" tanya Lexy serius.


Christine menggelengkan kepalanya.


"Apa Peter pernah menuntutmu untuk memberitahukan kepada keluargamu mengenai hubungan kalian?" tanya Lexy lagi dan Christine kembali menggelengkan kepalanya.


Lexy menghela napas rendah. "Lalu kenapa kau tidak mengangkat panggilannya? Aku yakin Peter pasti sudah berpikir yang tidak-tidak sekarang. Apalagi kalian sedang LDR seperti ini. Bisa saja Peter berpikir kalau kau sedang bersama laki-laki lain."


Christine menunduk mendengar kalimat yang baru saja terucap dari bibir Lexy. Jujur Christine tidak berpikir sampai ke arah sana. Ia hanya sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


"Aku sebenarnya juga masih ragu.." cicit Christine pelan.


"Ragu? Kenapa?"


"Aku takut kalau Peter ternyata masih memiliki rencana untuk kembali menyakitiku. Aku hanya belum bisa percaya pada perasaannya..."


Lexy memegang kedua lengan Christine. "Christine, jangan seperti ini! Jangan berasumsi yang tidak-tidak. Kau sendiri yng mengatakan padaku kalau Peter bahkan sampai memohon padamu untuk kesempatan kedua. Kalau ternyata dia memang masih brengsek maka tinggalkan dia, tapi sebelum kebrengsekannya itu terbukti, cobalah untuk percaya padanya. Sebuah hubungan tidak akan bertahan tanpa kepercayaan masing-masing pihak."


Christine menunduk.Ucapan Lexy benar. Setidaknya dia harus mencoba mempercayai Peter karena bagaimanapun ia dan Peter adalah pasangan kekasih. Jika memang ia masih ragu seharusnya Christine tidak perlu menerima perasaan Peter padanya sebelum ia benar-benar yakin.


Alasan utama Christine menerima Peter saat itu karena ia yakin Peter berkata dengn tulus. Lalu sekarang kemana keyakinan itu pergi?


Ah, dasar. Hanya karena keraguannya, ia sampai mengabaikan Peter hingga sekarang.


Christine mengangkat kepalanya menatap Lexy lalu tersenyum. "Terima kasih sudah menyadarkanku.."


Setelah Allen tiba dan pembicaraan mereka selesai, Christine memutuskan untuk pulang yabg disetujui oleh Lexy dan Allen.


Begitu sampai di kamarnya, Christine duduk di pinggiran tempat tidurnya lalu mulai mengutak-atik layar ponselnya. Tak lama kemudian Christine menekan layar ponselnya, menghubungi seseorang yang sejujurnya sudah dia rindukan.


Tidak perlu menunggu lama, bahkan sebelum deringan pertama selesai orang yang berada di seberang sana sudah mengangkatnya.


"Kemana saja kau! Kenapa baru menghubungiku sekarang!!" sentak seseorang yang di seberang tanpa basa-basi.


Christine terdiam mendengar sentakan tersebut, "Maafkan aku..." satu-satunya kalimat yang ada di pikirannya saat ini, ia tidak tahu harus mengatakan apa. Yang jelas ini memang kesalahnnya.


Seseorang yang berada diseberang terdengar menggeram frustasi lalu berkata. "Ada apa denganmu Christine? Kenapa tidak mengangkat panggilanku? Apa kau tahu aku hampir gila karenamu!"


"Maafkan aku Peter.."


Terdengar helaan napas panjang dari seberang ponsel Christine.


"It's okay, kau sukses membuatku panik karena tidak bisa menghubungimu," kata Peter lalu terkekeh pelan "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya kemudian, ada nada kekhawatiran dalam pertanyaan tersebut.


Christine tersenyum mendengar nada kekhawatiran yang diucapkan oleh Peter. Keraguannya mulai hilang dan keyakinan itu mulai tumbuh.


"Aku baik-baik saja, aku hanya sedang bingung." kata Christine kemudian menggigit bibir bawahnya


"Bingung karena apa? Apa itu ada kaitannya denganku sampai-sampai kau mengabaikanku seminggu ini?"


Pertanyaan itu membuat Christine kembali merasa resah dan bersalah. Ia diam dan tidak menjawab.


"Christine sayang, ada apa?"


Pertanyaan itu penuh dengan kekhawatiran. Dan itu justru membuat Christine semakin merasa bersalan. Disaat keraguan memenuhinya, Peter ternyata sangat mengkhawatirkannya. Ah bodohnya dia!


"Tidak apa-apa Peter, bukan hal penting," Kata Christine akhirnya. Tidak mungkin ia mengungkapkan alasan konyolnya yang membuat ia mengabaikan Peter.


"Mungkin menurutmu bukan hal yang penting, tapi menurutku sebaliknya!"


Christine mengernyit mendengar ucapan Peter barusan."Apa maksudmu?"


"Tidak ada, aku akan menemuimu weekend ini," Kata Peter lalu memutus sambungan telepon mereka.


Christine bingung, apa maksud Peter? apa mungkin Peter tahu alasan kenapa Christine mengabaikannya selama beberapa hari ini? Pertanyaan itu mengiang di kepala cantik Christine. Apa Peter menyadari keraguannya?


Peter pasti merasa kecewa padanya. Ya Tuhan, ini memang kesalahannya. Kenapa juga ia ragu pada ketulusan Peter?