
Christine terdiam di dalam kamarnya. Ia sedang berpikir. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Ia tidak tahu mau bagaimana lagi. Pada kenyataannya Kevin memang menjodohkannya.
Christine tidak habis pikir. Bagaimana mungkin kakaknya itu kembali menjodohkannya disaat sebelumnya ia sudah begitu terluka karena perjodohan juga? Ia tidak bisa memahami jalan pikiran Kevin. Mengapa dan bagaimana bisa ia kembali di jodohkan?
Terlebih lagi setelah mendengar penjelasan Kevin tadi siang. Membuatnya semakin bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Flashback on
"Apa kakak berencana menjodohkan ku?" tanya Christine.
Kevin tersenyum samar. "Entah kenapa kalau mendengar kata perjodohan membuat kakak kesal sekali. Kakak bukan mau menjodohkan mu." Kevin berpikir sejenak lalu melanjutkan "Tapi bisa dikatakan seperti itu juga sih,"
"Tapi aku tidak mau dijodohkan! Aku tidak suka dijodohkan! Aku bisa mencari jodohku sendiri, tolonglah kak, aku ingin bahagia dengan pilihanku nantinya." kata Christine dengan mata yang mulai berair.
"Kakak juga ingin melihatmu bahagia Christine! Kakak menjodohkan mu bukan dengan orang lain." Kevin membelai rambut Christine dengan lembut.
"Tapi aku tetap tidak mau dijodohkan lagi! Tidakkah kakak paham dengan kegagalan perjodohan yang sebelumnya? Berhentilah mencampuri urusanku. Kumohon, kak..."
"Ini satu-satunya. Kakak janji, jika kali ini juga tidak berhasil, kakak tidak akan mencampuri urusan asmaramu lagi. Kau bisa pegang janji kakak!"
"Memangnya siapa yang kakak jodohkan denganku, sampai-sampai kakak keras kepala seperti ini?"
Kevin tersenyum tipis. "Kau akan tahu nanti. Dan satu hal yang harus kau ingat, Kakak tidak mungkin mencelakakanmu melalui perjodohan ini."
"Tapi kak, aku tetap tidak ingin dijodohkan!"
"Sudahlah Christine, kakak yakin mungkin setelah bertemu dengan orang itu nantinya kau akan langsung menerima perjodohan itu,"
"Kak...."
"Sudah sana siap-siap, kita akan berangkat jam 7 malam."
"Ini masih siang!" ketus Christine kemudian berbalik dan berjalan ke kamarnya. Sedangkan Kevin hanya tersenyum melihat tingkah Christine.
Flashback off
Sudah empat jam lebih Christine berada di kamarnya. Tidak melakukan apa-apa. Hanya bermalas-malasan. Tiduran di atas tempat tidur dan berkali-kali berguling-guling tidak jelas.
Rasanya Christine ingin menolak untuk ikut menemui lelaki yang akan di jodohkan dengannya. Ia tidak ingin kemana-mana. Ia ingin bertemu Peter. Lelaki itu sedang berada di New York sekarang. Harusnya ia bisa berduaan dengan Peter saat ini dan tidak harus ikut untuk menemui lelaki yang dijodohkan dengannya.
Tapi di satu sisi, sejujurnya Christine juga ingin melihat lelaki yang dijodohkan dengannya. Pasti bukan lelaki yang asing baginya mengingat Kevin memang tidak suka dengan perjodohan. Lelaki pilihan Kevin pasti lelaki yang Christine kenal. Lelaki itu pasti satu circle pertemanan dengan Kevin. Yang membut Christine penasaran adalah, siapa?
Christine masih bermalas-malasan ditempat tidur sambil mencoba menerka-nerka siapa lelaki itu. Tapi suara ketukan pintu yang disusul suara kakaknya membuat ia cemberut. Malas rasanya untuk bertemu dengan Kevin saat ini.
"Christine apa kau sudah siap?" tanya Kevin sedikit berteriak dari luar.
Mata Christine langsung terbelalak. Ia bangkit dengan panik. Melirik jam disebelah tempat tidurnya.
"Astaga sudah jam setengah tujuh!" pekiknya dan langsung membuka pintu kamarnya cepat-cepat.
"Christine kau sedang apa? Kenapa masih belum bersiap-siap?"
Christine menyengir melihat Kevib yang sedang menatapnya kesal. "Maaf kak, aku tadi sedang ng... belajar, iya belajar!" kata Christine beralasan.
"Kak, bagaimana kalau aku tidak usah ikut saja?" tanya Christine sambil tersenyum malu-malu. Mencoba mencari peruntungan. Siapa tahu Kevin akan membiarkannya di rumah saja tanpa harus ikut.
"Bagaimana kalau uang jajanmu kakak potong saja?"
Senyum Christine yang sebelumnya malu-malu langsung digantikan senyum sumringah. "Aku hanya bercanda kak! Oke, aku akan siap dalam 30 menit!" Katanya. Sial! andai saja Christine punya penghasilan sendiri. Kenapa juga dulu ia hrus berhenti bekerja sambilan? dasar!
Setelah berdandan selama kurang lebih empat puluh lima menit saja. Christine turun dan menghampiri Kevin yang sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton tv.
"Kak bagaimana kalau acara makan malamnya di undur saja?" Tanya Christine begitu ia mendekati Kevin.
"Sudahlah, ay- seriously Christine? Kau akan memakai ini menemui calon jodohmu?" tanya Kevin tak percaya.
Tapi dari tatapan Kevin, Christine tahu kalau kakaknya itu sedang mengejek penampilannya.
"Memangnya kenapa? Lagipula dia bukan calonku atau jodohku. Aku sudah punya pacar!" kata Christine kesal.
"Kau memakai kaos oblong, celana jins yang robek di lutut dengan sepatu kets? Kau sebenarnya mau makan malam atau nonton konser? Tapi tunggu dulu, Kau sudah punya pacar?"
"Sudahlah kak, setidaknya aku nyaman memakai ini. Dan ya! aku sudah punya pacar." kata Christine lagi, lalu menarik lengan Kevin agar keluar dari ruang keluarga.
"Kalian sudah mau pergi?" tanya William, ayah mereka.
"Iya ayah, sampai ketemu nanti!" pamit Christine sambil melambaikan tangannya dengan wajah tersenyum.
Willian juga balas melambaikan tangannya dan tersenyum tentunya.
Sebelum mereka sampai di pintu utama, Christine masih mendengar teriakan Ayahnya yang membuatnya terdiam sejenak.
"Sampaikan salam ku pada Erick!" Kata ayahnya.
"Oke!" balas Kevin lalu mengikuti Christine yang berjalan di depannya dan memasuki mobil.
Selama perjalanan Christine hanya diam. Tidak bersuara dan mulai memikirkan nama lelaki yang diucapkan ayahnya. Erick? Apa lelaki yang dijodohkan Kevin dengannya adalah Erick? Dia tidak salah dengar kan? Rasanya Christine ingin tertawa. Setelah sekian lama, Christine akhirnya akan kembali bertemu dengannya. Benarkah?
"Tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan," Kata Kevin memecah keheningan di antara mereka.
"Erick?" tanya Christine cepat. Tepat setelah Kevin menyelesaikan kalimatnya.
"Iya, Erick." Kevin mengangguk.
"Erick Hobbs?" tanya Christine lagi, ingin memastikan.
"Hmm."
Christine langsung syok begitu tahu siapa yang akan dijodohkan dengannya. Erick Hobbs. Sahabat Kevin yang dulu pernah disukainya. Cinta monyet pertamanya. Christine tidak tahu apakah itu cinta monyet atau cinta yang sesungguhnya. Christine ingat, ia membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa melupakan lelaki itu.
"Kakak tidak sedang bercanda kan?" tanya Christine tidak percaya.
"Tentu saja tidak. Sekarang kau tahu kan, kalau kakak tidak pernah ingin menyakitimu."
Christine tidak menjawab. Ia tertawa miris dalam hati. Bagaimana mungkin ia kembali pada lelaki yang dulu menolaknya dan lebih memilih perempuan lain hanya karena usianya belum 16 tahun?