He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
26. Pissed off



Christine sudah berada di apartemen Lexy sejak beberapa saat yang lalu. Ia mencurahkan segala kekesalannya pada sahabatnya itu dan Lexy hanya menanggapi kekesalan Christine dengan tertawa.


"Apa kau sadar kalau kalian seperti anak kecil? Sampah daur ulang? Apa-apaan itu?" Lexy kembali tertawa terbahak-bahak.


"Berhentilah tertawa! Aku sangat kesal sekarang!"


Christine membentak Lexy. Apalagi sedari tadi sahabatnya itu hanya tertawa menanggapi ceritanya.


"Baiklah, baiklah aku akan berhenti tertawa. Aku hanya bingung, kalian seperti anak kecil yang sedang memperebutkan permen saat halloween."


"Aku tahu, hanya saja tadi aku benar-benar tidak tahan dengan ucapannya!" kata Christine membela diri.


"Sudahlah, tapi apa kau sudah memberitahukan pada Peter mengenai perbuatan Caroline padamu?" Lexy bertanya. Ia menaikkan kedua kakinya ke atas sofa.


Christine menggeleng pelan.


"Kenapa kau tidak memberitahunya? Bagaimanapun juga Peter berhak tahu. Kalian berkelahi karena dia. Setidaknya mintalah agar dia bisa bersikap tegas pada Caroline dan para cecunguknya itu."


"Ehtahlah, aku bahkan tidak mengangkat panggilannya dari dua hari terakhir." kata Christine, namun suaranya mengecil saat mengatakan kalimat terakhirnya.


"Kenapa?" tanya Lexy mengernyit.


"Entahlah, aku hanya masih ragu..." Christine mengedikkan bahunya. Jujur saja ia merasa bimbang dengan hatinya sendiri. Terlebih lagi setelah ia menerima Peter kembali, entah kenapa ia tidak bisa mempercayai lelaki itu.


Ponsel Christine berdering dan tertera nama Peter di sana. Christine hanya menatap layar ponselnya, ia tidak mengangkat panggilan itu sampai panggilan itu berhenti sendiri.


"Sampai kapan kau akan mengabaikannya? Sepertinya dia tidak tahu kenapa kau mengabaikannya. Sama sepertiku yang juga tidak mengerti apa alasanmu."


Christine hanya diam tidak menjawab pertanyaan Lexy. Yang jelas alasannya hanya satu. Christine tidak bisa lagi mempercayai ketulusan Peter, walau saat ini lelaki itu terlihat tulus padanya.


______________


Sebuah mobil cadillac hitam melaju menembus jalanan kota Manhattan dengan kecepatan jauh di atas rata-rata. Beberapa orang yang sedang berjalan di trotoar maupun orang yang tengah duduk santai di kursi-kursi yang ada di depan kafe-kafe menoleh cepat ketika mobil itu melesat melewati mereka.


Kecepatan mobil itu mulai memelan dan akhirnya berhenti di lobby sebuah gedung pencakar langit. Pengemudi mobil itu keluar dengan tergesa-gesa. Dia berjalan lurus melewati setiap pegawai dan karyawan. Menghiraukan sapaan dari mereka. Dan para karyawan dan pegawai itu tahu kalau calon pewaris perusahaan tempat mereka bekerja itu sedang marah.


Beberapa dari mereka terlihat takut begitu melihat raut wajah calon bos mereka yang menyeramkan. Biasanya tidak seperti itu. Calon bos besar mereka itu adalah orang yang santai, tidak mudah terbawa suasana hingga membuat hampir seluruh karyawan menyukainya.


Bagaimana tidak menyukainya? Setiap kali rapat dengan Peter, mereka hanya membutuhkan waktu 15-30 menit saja. Paling lambat juga hanya satu jam. Ditambah dengan wajah tampan Peter, jelas kalau lelaki itu adalah idaman para pegawai perempuan. Sayangnya hari ini bos mereka itu sedang menjadi iblis.


Peter berjalan menuju ruangannya dengan kesal. Ayahnya, Josh sudah menunggu di ruangannya sambil membawa informasi yang mampu membuat Peter ingin menelan semua orang.


Josh mendapatkan informasi itu dari William, ayah Christine. Josh juga teringat kalau putra semata wayangnya inj menyukai Christine, jadi Josh menduga kalau ia mengatakan informasi itu pada Peter, maka putranya itu akan mengamuk. Tentu saja dugaannya benar karena saat ini putranya itu terlihat lebih kejam dari iblis.


Josh memperhatikan langkah Peter yang berjalan ke arahnya dengan tenang. Putranya itu berjalan cepat dengan wajah memerah karena amarah.


"Kau sudah sampai? Duduklah dulu. Bagaimana kabarmu nak?" tanya Josh berbasa sambil tersenyum setelah Peter berdiri di depannya.


"Langsung saja ke intinya ayah. Apa maksud ucapan ayah di telepon tadi?" tanya Peter masih berdiri, tidak mengindahkan ucapan ayahnya yang menyuruhnya untuk duduk terlebih dahulu.


"Ish, kau ini benar-benar anak kurang ajar! Ayah baru saja sampai di Manhattan! Kau tidak menjemput ayah di bandara dan sekarang kau bahkan tidak bertanya kabar ayahmu? Dasar anak durhaka! Ayo ulangi!" tegas Josh menatap Peter tajam.


Peter menghela napas kasar. "Aku harus ulang dari bagian mana?"


"Dari kau membuka pintu dan kemudian masuk!"


Peter berbalik dan berjalan menuju pintu, mengulangi kejadian yang baru saja terjadi.


"Jangan lupa tersenyum! Kau tahu kalau wajahmu itu sudah sangat kejam, jadi kau harus tersenyum!" tegas Josh, membuat Peter yang tadi sudah meraih gagang pintu berhenti dan mengusap wajahnya frustasi.


"Setidaknya aku tetap tampan." Gumamnya pelan namun masih bisa didengar oleh Josh.


"Ketampananmu itu berasal dariku!" cibir Josh.


Peter berjalan keluar dari ruangan lalu menutupnya pintu. Beberapa detik kemudian ia masuk dengan tersenyum lebar yang dipaksakan, kemudian bertanya dengan nada A N T U S I A S!


"Ayah sudah sampai?! Bagaimana penerbangan ayah? Bagaimana kabar ayah? Apa ayah menungguku lama? Apa ayah jetlag? Ayah ingin minum apa? Bagaimana pesawat yang ayah tumpangi? Apa ayah naik pesawat pribadi? Atau naik pesawat komersil? Bag-" ucapan Peter terpotong dengan cibiran Josh.


"Apa maumu?" tanya Josh tenang dan terkesan dingin. Membuat Peter menggeram kesal mendengar pertanyaan ayah yang sangat disayanginya itu.


Ia sudah sangat kesal, tadi ayahnya memintanya untuk bersikap humble dan mengulang adegan mereka yang diawal.


Tapi setelah ia melakukan adegan gila itu, ayahnya malah membalasnya dengan bersikap cuek. Peter jadi merasa bodoh karena melakukan permintaan ayahnya barusan.


Josh tersenyum kikuk melihat anaknya sepertinya sudah tidak bisa diajak bercanda lagi. Josh merilekskan badannya di sofa lalu menyuruh Peter menyajikan teh untuknya.


Peter menghubungi seseorang untuk mengantarkan minuman ke ruangannya. Selang beberapa saat, seorang perempuan masuk setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh Peter. Perempuan itu masuk sambil membawa dua gelas teh hijau.


Perempuan itu terlihat bingung saat melihat Peter berdiri sambil menatap si bos besar, pemilik perusahaan ini. Ia mengira kalau saat ini pasti terjadi masalah pada kedua orang ini.


Josh membuka suara setelah pegawai perempuan itu menutup pintu dari luar.


"Akan ada gosip murahan di sini" ucapnya sambil menghela napas. "Jadi ayah tidak bermaksud apa-apa, ayah hanya memberitahumu kalau Kevin memiliki rencana untuk menjodohkan Christine dengan temannya." kata Josh santai. Ia mengambil minumannya dan memunumnya sedikit.


Peter membeku mendengar kalimat yang baru saja diucapkan oleh ayahnya.


"Ayah tidak sedang bercanda kan?" tanya Peter was-was. Ia benar-benar tidak berharap apa yang ia dengar barusan nyata.


"Untuk apa ayah bercanda?" ucap Josh serius, sekaligus membuat Peter meringis.


"Lalu ayah tahu dari mana kalau Christine akan dijodohkan?" tanya Peter memicingkan matanya. Seakan tidak percaya dengan ucapan ayahnya sendiri. Anak durhaka memang.


"Tentu saja ayah tahu dari William." kata Josh sambil melirik ke arah putranya yang saat ini terlihat frustasi.


"Apa paman William menyetujui perjodohan itu?" tanya Peter semakin frustasi, berharap kalau William tidak menyetujui perjodohan itu.


"Kenapa dia harus menolak perjodohan itu? Kau sudah menolak saat dijodohkan dengan Christine. Tentu saja dia juga mempercayai Kevin karena Kevin putranya. Kevin juga sangat menyayangi Christine, jadi William setuju-setuju saja dengan pilihan Kevin." Josh kembali menyesam minumnya dengan santai. Berbeda dengan Peter yang sudah membeku mendengar ucapan ayahnya barusan.


Tapi ia tetap tidak mau kalah. "Apa ayah tidak mengatakan kalau saat ini Christine adalah kekasihku?" tanya Peter kesal.


"Kalian sudah berpacaran?" Josh balik bertanya dan di jawab anggukan oleh Peter.


"Ayah saja baru tahu kalau kalian sudah pacaran hari ini, bagaimana mungkin ayah mengatakan pada William, sedangkan kami bertemu tiga hari yang lalu." ucap Josh datar.


"Lalu apa maksud ayah mengatakan padaku mengenai perjodohan sialan itu!" tukas Peter kesal.


"Jangan mengumpat di depanku anak sialan, aku ayahmu!" kata Josh, kemudian melanjutkan ucapannya setelah melihat raut wajah Peter yang masih kesal.


"Ayah hanya memberitahumu karena ayah tahu kau menyukai Christine, tapi ayah baru tahu kalau kau sudah berpacaran dengannya hari ini."


"Aku yakin Christine akan menolak perjodohan itu, seperti saat dia menolak perjodohan yang sama denganku, dia sampai kabur dari rumah saat itu." ucap Peter menguatkan diri, menatap ayahnya dengan tatapan yakin. Yah, pasti gadisnya itu akan menolak perjodohan itu.


"Dia menolak dijodohkan denganmu karena dia tidak mengenalmu. Tapi ayah sedikit ragu apa dia akan menolak perjodohan kali ini. Lelaki yang dijodohkan dengannya adalah teman dekat Kevin, kerena dekat dengan Kevin membuat mereka menjadi dekat juga." kata Josh santai.


Sebenarnya Peter ingin sekali berteriak sekarang. Apa ayahnya tidak sadar kalau kalimat yang baru saja diucapkannya membuat kayakinan Peter yang sebelumnya kuat seperti batu berubah menjadi debu?


"Tapi Christine adalah kekasihku saat ini, dia tidak akan meninggalkanku." kata Peter yakin. Ya, dia meyakinkan dirinya sendiri.


"Apa kau benar-benar mencintai Christine?" tanya Josh dengan tenang.


Peter tidak menjawabnya.


Josh menarik napas dalam lalu menghembuskan napasnya panjang. "Seharusnya dulu kau tidak menolak perjodohan itu. Kau bahkan menemui William dan mengatakan penolakanmu, bukan? William sudah mengatakannya padaku." kata Josh.


"Duduklah Peter. Apa kau tidak lelah berdiri? Lagipula bukan ayah yang menjodohkan Christine. Ayah tidak bersalah di sini, kau terlihat seperti akan memakan ayah hidup-hidup," kata Josh lalu terkekeh pelan.


"Tidak ada yang lucu saat ini ayah." kata Peter serius sambil berjalan ke arah sofa dan duduk di hadapan ayahnya.


Dia dari tadi berdiri tapi tidak merasa lelah, satu-satunya yang lelah adalah pikirannya. Ia sudah terlalu lelah memikirkan perjodohan Christine. Apalagi dari dua hari yang lalu Christine tidak mengangkat panggilan darinya, semakin membuatnya kalut saja.


"Memang tidak ada yang lucu untukmu nak, tapi warnamu saat ini benar-benar lucu untuk ayah. Kau seperti kepiting rebus, berwarna merah!" kata Josh lagi lalu tertawa.


Sedangkan Peter saat ini hanya bisa berpikir keras, bagaimana caranya agar perjodohan itu batal, sedangkan Christine sendiri tidak mengangkat panggilan darinya.


Arrrrghhh. Benar-benar menyebalkan!