He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
33. Meet Kevin soon.



Kevin mengemudikan mobilnya membelah jalanan New York yang terlihat sangat indah di malam hari. Pencahayaan yang minim membuat jalanan terasa menenangkan untuk mereka yang stress karena pekerjaan.


Christine duduk disebelah Kevin tanpa mengeluarkan suara. Ia tidak tahu mengapa kakaknya itu hanya diam saja sejak tadi, seakan sendirian di mobil itu.


"Kak.." panggil Christine pelan, tidak ada sahutan.


"Ka...k" panggil Christine lagi cukup panjang namun tetap pelan.


"Hmm." gumam Kevin.


"Apa kakak marah?"


"Hmm."


"Apa kakak marah padaku?"


"Hmm."


"Kak kau marah padaku?!"


Tidak ada sahutan dari Kevin membuat Christine jengkel.


"Jadi kau benar-benar marah padaku?!" tanya Christine tidak percaya


"Aku tidak marah Christine.." kata Kevin datar.


"Jadi kenapa kau mendiamkanku kak?" tanya Christine kesal.


"Apa tadi dia ada di restoran itu juga?" bukannya menjawab pertanyaan Christine, Kevin malah kembali bertanya.


Christine mengernyit. "Siapa?"


"Kekasihmu."


Christine terdiam sejenak sebelum berkata. "Iya."


"Kenapa dia tidak menunjukkan dirinya? Hanya berani melalui pesan instan saat menghubungimu. Pengecut. " ucap Kevin datar.


Christine hanya diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia melirik Kevin yang sedang menatap lurus ke jalanan seolah jalanan itu akan hilang jika tidak ditatap.


"Jadi siapa namanya?" tanya Kevin kembali datar.


"Eh?"


"Jadi siapa nama kekasihmu itu?" Kevin mengulangi pertanyaannya dengan lebih jelas.


"Ah, itu.. dia.. eumm..." Christine langsung gugup, ia tampak berpikir lama dan ragu.


"Jadi siapa namanya?!" Tanya Kevin kesal dan tak sabaran.


"P-Peter kak."


"Peter? Jangan katakan padaku kalau Peter ini adalah lelaki yang sama yang dijodohkan ayah padamu sebelumnya?" tanya Kevin penasaran.


"I-Iya.." cicit Christine.


Kevin segera meminggirkan mobilnya mobil di tepi jalan raya. Ia menoleh menatap Christine sangat tajam.


"Peter yang sama dengan yang mempermalukanmu di hari wisudanya?" tanya Kevin dingin dan tajam.


Christine menunduk takut-takut, membuat Kevin yakin kalau Peter yang mereka bahas saat ini adalah Peter Crouch, Peter Dave Crouch.


"Tinggalkan dia!" kata Kevin to the point. Suaranya menggeram menahan amarah.


"Kak kenapa ha-"


"Kalau kau tidak mau meninggalkannya, maka suruh dia datang menemuiku. Secepatnya!" Kevin menatap Christine dingin sebelum kembali menjalankan mobilnya. Memotong kalimat Christine sekaligus tidak ingin mendengar kelanjutan kalimat itu.


'Apa yang harus aku lakukan, kakak tidak akan membiarkanku kembali pada Peter' Christine membatin dalam hati sambil terisak.


Tiga puluh menit kemudian, mobil yang mereka tumpangi akhirnya memasuki pekarangan rumah mewah milik ayahnya. Mobil itu berhenti di depan pintu utama.


Begitu mobil berhenti, Christine turun dan berjalan menuju kamarnya. Tapi sebelum ia menaiki tangga menuju kamarnya, ia kembali mendengar suara Kevin menginterupsinya.


"Suruh dia segera menemuiku, atau akan ku beri ia peringatan agar tidak memacari adik orang diam-diam!" kata Kevin dingin lalu masuk ke kamarnya. Meninggalkan Christine yang terdiam di depan tangga.


Setelah mendengar pintu kamar Kevin tertutup dengan kencang, Christine berjalanbmenuju kamarnya dan menangis terisak.


Christine tahu Kevin tidak bermain-main dengan kata-katanya. Ia tahu kalau kakaknya itu marah, maka ia tidak akan pandang bulu. Kevin pasti akan benar-benar melakukan ucapannya. Christine tidak lupa bagaimana dulu cara Kevin memberi pelajaran pada Caroline dulu. Perempuan itu sampai tidak berani menatap Christine selama berminggu-minggu setelah keluar dari rumah sakit.


Tapi entah kenapa setelah Peter kembali, Caroline juga kembali berani padanya.


Christine mengambil ponselnya dan menekan nomor Peter. Terdengar beberapa kali deringan sampai seseorang menjawab panggilannya.


"Halo sayang," jawab Peter dari seberang.


"P-Peter..." panggil Christine sambil terisak.


"Christine hey, ada apa sayang? Kenapa kau menangis?"


"Aku merindukanmu," kata Christine. Suara Peter terdengar khawatir sekaligus panik. Ia tidak boleh membuat lelaki itu semakin khawatir.


"Yeah I know, I miss you too."


"I love you Peter, I love you so much..." ucap Christine dan kembali terisak namun kali ini cukup kencang.


Peter tidak langsung membalas ucapan Christine tersebut. Christine yakin kalau Peter pasti tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres.


"Yes I do love you too. You know my love bigger than you right?" ucap Peter kemudian terkekeh kecil, menunjukkan sikap santainya. Membuat Christine sedikit tenang karena mendengar kekehan Peter barusan. Suara lelaki itu terdengar sudah tidak panik.


"No, my love bigger than you," ucap Christine kemudian terkekeh kecil juga membuat Peter tersenyum di seberang sana, lalu ia memulai mencari tahu kenapa Christine menangis.


"So baby, can you tell me why are you crying?"


"Peter..," panggil Christine pelan. Setelah terdiam cukup lama.


"Yes baby?"


"K-kakak sudah tahu kalau kita berpacaran," kata Christine pelan nyaris tak terdengar, tapi pasti masih bisa di dengar oleh Peter.


Untuk beberapa saat tidak ada tanggapan dari Peter, membuat Christine sedikit gelisah.


"Peter," panggil Christine lagi.


"Lalu apa kata kakakmu sayang?"


"Kakak ingin kau menemuinya segera," kata Christine pelan. Untuk beberapa saat Peter kembali tidak bersuara, tapi kemudian ia berkata dengan tegas.


"Okay, I'll going to meet him tomorrow," ucap Peter masih dengan nada santai membuat Christine sedikit tenang.


"Tapi Peter, kakak ta-"


"It's okay baby, aku akan menemuinya besok. Aku juga tidak ingin kau menyembunyikan hubungan kita lebih lama dari ini," kata Peter meyakinkan.


"Baiklah aku akan menemanimu besok saat bertemu dengan kakak,"


"Baiklah, kalau begitu cepat tidur ini sudah malam."


"Iya kau juga cepat tidur, selamat malam Peter I love you,"


"Selamat malam juga sayang, I love you too." ucap Peter kemudian mematikan panggilannya dan mencoba menutup matanya.


Ia akan menemui Kevin besok. Lebih cepat lebih baik. Apapun akan ia lakukan untuk mendapatkan restu lelaki itu. Yeah, apapun, selama itu tidak merugikan dirinya atau Christine.