
Lexy melongo mendengar setiap penjelasan dari Christine. Apa maksudnya mainan? Lexy tidak habis pikir, hanya karena menginjak kaki dan membuat sepatu Peter lecet sedikit, lelaki itu menjadikan Christine sebagai mainan sampai hari wisuda?!
Lexy tidak tahu mau berkata apa lagi. Ia sangat syok.
"Kenapa kau mau?" Tanya Lexy lesu.
"Aku sudah berusaha menolaknya Lexy, tapi dia terus memaksaku."
"Seharusnya kau menolak lebih keras lagi!" pekik Lexy mulai emosi.
"Tapi aku juga tidak punya pilihan. Kau *** aku tidak punya uang banyak untuk mengganti sepatunya." Sahut Christine lesu.
"Kenapa kau tidak minta saja pada kakakmu Kevin?"
"Kau tau sendiri kalau aku sedang marah pada ayahku. Meminta uang pada kakak hanya akan membuat mereka berpikir kalau aku sudah menyerah dan menerima tawaran mereka."
"Tapi setidaknya itu lebih baik daripada kau harus menjadi 'mainan' selama sebulan!"
Memang benar apa yang dikatakan oleh Lexy, apa Christine pulang saja ke rumah? Tapi ia tidak ingin di jodohkan. Ia ingin mencari jodohnya sendiri!
Apalagi kala mengingat bagaimana kakaknya Kevin menyetujui perjodohan itu membuat Christine semakin meradang.
Christine lelah. Ia lelah karena harus memikirkan semua ini. Christine akhirnya memutuskan untuk bolos kuliah dan segera keluar kelas sebelum dosen datang. Ia juga mengabaikan Lexy yang terus memanggilnya dan pergi ke kantin membeli air mineral lalu berjalan kearah lapangan.
Namun di tengah perjalannya, Christine terlonjak karena merasakan sepasang lengan kokoh yang memeluk pinggangnya dari belakang. Rasa terkejut itu berubah menjadi was-was ketika lengan kokoh itu bergerak dan memutar tubuh Christine hingga ia berbalik membuatnya bisa melihat siapa yang memutar tubuhnya.
"Babe kenapa kau di luar? Bukankah kau ada kelas?" Tanya Peter heran. Lelaki itu menatap wajah Christine yang tengah kesal sedangkan tangannya melingkari pinggang wanita itu.
"Siapa yang kau panggil babe?!" Tanya Christine kesal.
"Tentu saja dirimu. Jadi kenapa kau tidak di kelas?" Kata Peter menaikkan sebelah alisnya. Tadinya ia cukup terkejut melihat Christine yang tidak berada di kelas seperti yang seharusnya.
"Aku bolos."
"Kenapa?"
"Aku sedang malas. Kau sendiri sedang apa di sini? Bukankah tadi kau bilang mau pulang setelah mengantarku?" Tanya Christine memicingkan matanya penuh selidik.
"Aku tidak jadi pulang. Aku melihat Caroline mendatangimu tadi, jadi aku menunggunya dan berbicara dengannya. Apa dia melukaimu?" Tanya Peter dengan tatapan santainya.
"Tidak, dia tidak melukaiku. Sekarang bisakah kau melepaskan tanganmu dari tubuhku? Kau membuat orang-orang melihat kearah kita!" Tukas Christine dengan nada mulai jengkel.
"Ku kira kau menyukainya. Aku memelukmu dari tadi dan kau baru protes sekarang." balas Peter sembari terkekeh pelan dan mengedipkan salah satu matanya lalu melepaskan pelukannya.
Christine mendengus kesal lalu berbalik meninggalkan Peter yang ternyata mengikutinya dari belakang. Jujur saja, sebenarnya Christine menyukai saat Peter memeluknya tadi, ia merasa nyaman saat lengan kokoh pria itu melingkar di pinggangnya. Hanya saja ia merasa risih karena dipandangi oleh banyak orang.
"Bukankah kau sudah berbicara dengan Caroline, lalu kenapa kau masih belum pulang juga?" Tanya Christine kesal karena Peter tetap mengikutinya dari belakang.
"Sebenarnya tadi aku sudah mau pulang, tapi aku melihatmu keluar kelas jadi aku lebih memilih mengikutimu saja." jawab Peter santainya.
"Apa kau mengusirku babe?" Tanya Peter dengan satu alis terangkat.
"Kalau kau tidak mau pulang, mungkin kau bisa pergi." Kata Christine. Ia mempercepat langkahnya berusaha menjauh dari Peter. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi. Walau tetap saja mereka menjadi pusat perhatian.
"Kenapa kau mengusirku, sayang?" tanya Peter dengan nada seperti orang yang sedang merajuk karena diusir.
"Bisakah kau berhenti memanggilku seperti itu? Aku bukan kekasihmu!" Ucap Christine sedikit berteriak. Ia jengah mendengar panggilan 'sayang' dari Peter.
"Kau memang sedang menjadi kekasihku, sayang." balas Peter sambil terkekeh pelan sembari menatap Christine yang terlihat sedang menahan marah.
"Ihhhh terserah! Sekarang bisakah kau pergi?" pinta Christine frustasi karena Peter tetap mengikutinya. Lelaki itu seperti punya niat untuk membuatnya kesal.
"Kenapa aku harus pergi babe?" Tanya Peter dengan nada manja yang terdengar sangat memuakkan di telinga Christine.
"Karena aku sedang ingin sendiri!" Teriaknya frustasi kemudian berlari meninggalkan Peter.
Peter tidak mengejar Christine lagi, ia sedang membiarkan kekasihnya itu sendirian seperti yang dimintanya. Peter sendiri akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Nanti siang dia akan kembali lagi untuk menjemput Christine. Senyum Peter mengembang setiap kali mengingat Christine yang jengkel padanya.
Saat sedang berjalan menuju mobilnya, Peter melihat Allen yang ternyata juga ada di kampus. Kaki Peter berubah haluan menjadi berjalan ke arah Allen.
"Sedang apa kau dikampus? Bukankah kau sudah libur sampai hari wisuda?" Tanya Allen begitu Peter sampai di hadapannya.
"Aku tadi mengantar Christine." jawab Peter santai.
"Benarkah? Lalu kenapa kau masih di sini?" Tanya Allen ingin tahu. Tidak mungkin Peter menunggu Christine dikampus sampai sore dan mengantakan wanita itu pulang. Bukan sifat Peter menjadi lelaki bucin.
"Iya, tadi aku juga sudah ingin pulang tapi aku melihat Caroline dkk menemuinya, jadi aku menunggu mereka selesai dan berbicara pada Caroline." jawab Peter datar.
"Tumben sekali kau berbicara dengan Caroline setelah dia melabrak wanitamu? biasanya kau tidak peduli dengan Caroline. Termasuk apapun yang dia lakukan. Lalu kenapa sekarang kau peduli?" Tanya Allen menyipitkan matanya penuh selidik.
"Entahlah. Aku hanya tidak suka ada orang lain yang mengganggunya. Hanya aku saja yang diijinkan untuk mengganggunya. Dan aku selalu suka saat menggodanya. Dia terlihat sangat menggemaskan." jawab Peter sambil tersenyum tipis, namun tatapannya kosong.
"Jangan bilang kalau kau menyukainya?" tebak Allen senang.
Peter menatap Allen. Raut wajahnya berubah datar. "Kau ingat saat aku mengatakan kalau ayahku menjodohkanku dengan seorang perempuan?" Tanya Peter yang diangguki oleh Allen. Ekspresi sahabatnya itu berubah bingung.
"Ternyata dia perempuan itu. Jujur saja aku tidak pernah melihat fotonya, aku hanya tau namanya. Ternyata dia sangat menarik." Jelas Peter. Allen hanya diam, tapi ia mulai memahami alur cerita ini.
"Ku dengar dia menolak perjodohan itu dan pergi dari rumah tanpa membawa apa-apa. Dia kuliah karena beasiswa dan saat ini juga bekerja sambilan untuk makan sehari-hari. Begitu kerasnya ia menolak perjodohan denganku sampai-sampai tidak mau menerima uang dari keluarganya sepeserpun! Bukankah dia sangat menarik?" Ucap Peter dengan datar terkesan santai namun ada tersirat amarah di sana.
"Apa dia tahu kalau kau yang dijodohkan dengannya?" Tanya Allen pada akhirnya. Allen tahu, sebagai seorang lelaki yang paling diinginkan, ego Peter pasti terluka karena penolakan Christine.
"Sepertinya dia tidak tahu melihat dari sikapnya saat menghadapi ku. Dan satu lagi aku rasa aku tidak menyukainya, mungkin aku bisa memberinya pelajaran karena sudah menolak ku" kata Peter dengan senyuman evil-nya.
"Yeah, ku harap kau tidak akan menyesal setelahnya." kata Allen.
"Tidak akan." Jawab Peter datar.