
Peter kembali menekuni dokumen-dokumen yang ada dihadapannya dengan tenang. Menandatangi satu-persatu dari seluruh dokumen yang ada di atas mejanya dengan wajah datar.
Tidak mudah mendapatkan tanda tangan seorang Peter yang bahkan belum menjadi pemilik perusahaan itu. Beberapa laporan dan proposal ada yang langsung ditolaknya jika tidak sesuai dengan standar dan kriterianya. Kejam? Yah bisa dikatakan seperti itu karena tanda-tanda itu sudah cukup sering muncul dari dalam dirinya dan Peter tidak menampik jika setelah ini ia akan menjadi orang yang ditakuti dan di benci.
Ponsel Peter berbunyi. Ia mengalihkan pandangannya melihat nama yang tertera layar ponselnya.
James.
Peter menyentuh ikon hijau pada ponselnya, menyalakan speaker lalu kembali fokus pada dokumen-dokumennya.
"Bicaralah!" kaya Peter tegas, lalu kembali membubuhkan tanda tangannya pada salah satu dokumen.
"Tuan, ada kabar yang kurang baik." kata James ragu.
"Kabar apa? Apa lagi yang Christine lakukan kali ini?" Peter beralij pada dokumen yang lain. Ia mengernyitkan dahinya lalu membuang dokumen tersebut pada tempat sampah. Peter tersenyum sinis, masih saja ada yang berusaha menipunya.
"Nona Christine pergi ke sebuah toko perhiasan dengan Erick. Mereka sedang mencari cincin untuk pertunangan mereka."
Peter meletakkan pena-nya dan fokus pada James. Mengabaikan dokumen-dokumen yang ada di atas mejanya. Peter akui ia berbuat nakal dengan menyewa jasa detektif swasta untuk mengawasi setiap gerak-gerik Christine dari jauh.
Peter tersenyum tipis. Cincin pertunangan? Ingin rasanya Peter tertawa terbahak-bahak. Kevin masih belum menyerah ternyata. Peter sudah pernah membuat acara pertunangan itu batal, tapi ternyata masih di lanjutkan juga.
Peter tidak akan pernah rela kalau Christine bersama laki-laki lain. Sudah dia katakan sebelumnya kalau ia tidak akan pernah melepaskan Christine kan?
"Tidak masalah. Ada kabar buruk lainnya?" tanya Peter terlampau santai.
"Tuan, sepertinya acara kali ini bersama dengan acara perni-" belum sempat James menyelesaikan kalimatnya, pintu ruangan Peter sudah dibuka dengan kasar dari luar bersamaan dengan Hana yang masuk dengan wajah ketakutan.
"Aku akan menghubungimu lagi nanti." Kata Peter langsung mematikan ponselnya. "Ada apa Hana?" tanya Peter pada sekretarisnya yang memancarkan ekpresi takut.
"A-da se-seorang yang ingin bertemu dengan anda sir," kata Hana gugup.
Wajah Peter berubah serius. Hana bisa saja mengatakannya melalui intercom jika ada yang ingin bertemu dengannya, tapi kenapa kali ini wanita ini meminta persetujuannya dengan menemuinya langsung.
"Siapa?" Tanya Peter penasaran, tapi Hana hanya menggeleng menandakan ia tidak tahu siapa orang yang ingin menemuinya.
"Namanya?" Tanyanya lagi, yang lagi-lagi dijawab dengan gelengan oleh Hana.
"Tuan itu memaksa ingin menemui anda sekarang sir."
"Kalau begitu di mana dia sekarang?"
"Ada di luar sir, saya tidak memperbolehkannya masuk sebelum Anda mengijinkannya sir. Tapi dia menatap saya seakan ingin membunuh saya Sir."
"Kalau begitu biarkan dia masuk."
Hana mengangguk kemudian berjalan keluar ruangan Peter. Sedetik kemudian pintu ruangan Peter kembali terbuka dan memperlihatkan wajah seseorang yang untuk saat ini sangat tidak disukainya. Lelaki itu masuk dan tersenyum mengejek ke arah Peter yang saat ini sudah menunjukkan ekspresi tidak sukanya, namun tetap berusaha menunjukkan ekspresi datarnya.
"Kevin."
"Hey mantan calon adik ipar!" Sapa Kevin mengejek, "bagaimana kabarmu?"
"Langsung saja Kevin, aku tidak terlalu suka berbasa-basi dengan orang yang tidak ku suka."
Mendengar itu, Kevin semakin tersenyum lebar. Bukannya langsung mengatakan tujuannya datang seperti yang diminta oleh lelaki itu, Kevin malah semakin berbasa-basi.
"Sepertinya kau sangat sibuk ya, oh aku lupa kalau kau calon pewaris." kata Kevin sambil tersenyum miring, namun sedetik kemudian senyum itu langsung menghilang dan digantikan dengan raut wajah datar. "Sayangnya, pewaris yang ********." katanya sambil menatap mata Peter tajam selama beberapa saat sebelum kembali tersenyum lagi.
Peter mengamati Kevin yang kembali tersenyum. Mengapa calon kakak iparnya ini sangat-sangat menyebalkan dan kenapa pula orang yang menyebalkan seperti ini harus menjadi kakak dari wanita yang dicintainya, pikirnya bingung.
Peter masih setia memperhatikan Kevin yang saat ini terlihat mengamati setiap sudut ruangannya.
"Lumayan." kata Kevin tiba-tiba. Lelaki itu masih terus memperhatikan ruangan Peter, membuat Peter mengangkat sebelah alisnya begitu mendengar suara Kevin barusan.
Kevin menoleh pada Peter. "Ruangan mu cukup menunjukkan kalau kau bukan orang sembarangan." ujarnya kemudian berbalik lalu berjalan ke arah sofa dan langsung duduk.
Kevin kembali menoleh pada Peter. "Apa kau akan selamanya duduk di singgasanamu yang megah itu tuan pewaris?"
Mendengar ejekan itu, mau tidak mau Peter berdiri dari kursinya dan mengambil tempat duduk tepat dihadapan Kevin. Tidak ada gunanya menanggapi sarkas lelaki di hadapannya ini.
"Apa maumu?" tanya Peter datar, tapi pertanyaan itu seolah mengatakan 'kapan kau mati?'.
Kevin menatap Peter datar. "Kesepakatan." katanya tegas kemudian tersenyum tipis.