
Christine mengaduk sup dagingnya dengan tidak niat. Saat ini Ia sedang makan malam bersama Erick, calon suaminya. Tapi pikirannya justru melayang jauh. Sudah tiga bulan lebih Peter tidak menampakkan diri dihadapannya membuat harapannya pupus. Jangankan menunjukkan diri, menghubunginya saja Peter tidak pernah sama sekali.
Christine menghela napas sedih. Kenapa lagi-lagi ia harus kecewa dan sedih karena Peter? Kenapa selalu Peter?
Christine tersentak ketika sesuatu menyentuh tangannya. Ia menoleh dan mendapati Erick tengah menatapnya sendu.
"Kenapa Christine? Apa makanannya tidak enak?" tanya lelaki itu.
Christine tersenyum dan menggeleng. Tidak mungkin ia mengatakan pada Erick kalau ia merindukan Peter bukan?
"Tidak apa-apa, makanannya enak, hanya saja aku sudah kenyang." Kata Christine.
Erick mengangguk lalu kembali memakan makanannya. Erick Hobs, calon suaminya. Christine tersenyum miris. Dulu dia berharap Peter yang akan menemaninya hingga akhir hidupnya. Tapi harapan hanya tinggal harapan, lelaki itu menghilang dan membiarkannya bersama lelaki lain.
"Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan baby?" tanya Erick lembut sambil mengusap telapak tangan Christine lembut.
Christine mendongak menatap Erick yang ternyata sedang menatapnya. "Tidak ada, aku hanya berpikir apa menurutmu pernikahan kita tidak terlalu cepat?" tanya Christine berhati-hati takut salah.
"Menurutku tidak terlalu cepat, kita nyaris bertunangan dua kali tapi selalu ada kendala yang menyebabkan pertunangan kita harus di undur. Menurutku memang seharusnya kita menikah saja." kata Erick santai.
Ah ya, dua kali acara pertunangannya dengan Erick harus diundur karena musibah. Yang pertama harus diundur karena Erick tiba-tiba sakit parah, yang kedua karena cincin pertunangannya menghilang. Jadi kali ini, Kevin memaksa mereka menikah tanpa bertunangan.
Acara pernikahan ini hanya mengundang kerabat dekat saja. Tidak ada teman ataupun wartawan.
Christine tersenyum miris. jantung berdetak tak karuan. Menikahi seseorang yang tidak pernah dia bayangkan. Tapi kenapa bayangan Peter selalu menghantuinya?Sebenarnya apa lagi yang ia harapkan dari Peter? Lelaki itu sudah tidak ada kabar sama sekali.
"Jika menurutmu tidak terlalu cepat lanjutkan saja." kata Christine pada akhirnya lalu tersenyum tipis, namun di dalam hatinya ia benar-benar ingin menangis.
"Apa kau sudah selesai? Aku ingin pulang."
Selama perjalanan pulang, Christine tidak berbicara sama sekali. Hatinya sakit setiap kali menyadari kalau ternyata Peter kembali mempermainknnya dan menyakiti hatinya.
Kenapa dulu ia memberi kesempatan pada Peter? Kenapa ia harus mencintai Peter begitu dalam? Ya Tuhan, Christine ingin menangis dan memukuli Peter saat ini juga. Ia ingin memaki lelaki itu dengan sangat kasar.
Christine mengedarkan pandangannya ketika mobil yang ditumpanginya berhenti. Mereka sudah sampai. Erick benar-benar mengantarnya pulang.
"Terima kasih." kata Christine dengan tersenyum ketika Erick sudah membukakan pintu untuknya agar bisa turun. Senyum yang penuh kesedihan. Tapi sepertinya Erick tidak menyadari itu, karena laki-laki itu saat ini balas tersenyum dengan sangat menawan.
"My pleasure."
Setelah itu Christine langsung masuk ke dalam rumah. Tidak lagi menoleh untuk sekedar melambaikan tangan pada Erick. Ia lelah. Hati dan pikirannya sangat lelah.
"Kau sudah pulang?"
Christine menoleh mendapati Kevin sedang menatapnya dari pintu ruang kerjanya.
Ia tidak menjawab melainkan hanya mengangguk.
"Bagaimana makan malam kalian?"
"Lancar. Kak aku lelah, ingin beristirahat."
"Baiklah, selamat beristirahat."
Christine tersenyum tipis lalu berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Dalam hati ia tertawa miris. Sepertinya hanya dia saja yang tidak menginginkan pernikahan ini.