
Mobil itu melaju dalam keheningan. Tidak seorangpun yang berbicara. Persis seperti beberapa bulan yang lalu. Bedanya hanya perasaan mereka yang terbalik.
Beberapa kali Peter melirik ke arah Christine tersenyum. Christine menyadari itu.
"Berhenti mencuri-curi pandang padaku!" Bentak Christine tanpa menoleh pada Peter.
Peter tersenyum lembut. "Teruslah berbicara, aku sangat merindukan suaramu." Katanya.
Christine tidak lagi bersuara. Ia menutup mulutnya dengan pandangan yang menatap lurus ke jalanan. Christine langsung menoleh was-was ketika merasakan pergerakan dari sebelahnya.
Dan benar saja, Peter sedang mengambil sesuatu dibelakang. Begitu mendapatkan nya, lelaki itu langsung meletakkan barang tersebut di pangkuan Christine. Alis Christine terangkat melihat buket bunga yang saat ini ada di pangkuannya.
"Apa ini?" tanya Christine sambil mengernyit tak suka.
"Itu bunga mawar, masa kau tidak tahu?" tanya Peter tanpa menoleh ke arah Christine.
Christine memutar bola matanya lalu mendesah kasar. "Aku tahu. Maksudku untuk apa ini?!"
"Itu untukmu, tanda permintaan maaf dariku."
"Apa kau tahu apa artinya mawar merah Peter?!" tanya Christine dingin.
"Aku tahu, tadi pegawai toko bunga itu sudah menjelaskannya padaku." kata Peter. Ia merasa sangat senang ketika Christine menyebut namanya meskipun dengan nada dingin.
Christine diam. Ia menatap peter tajam. "Berhenti bersikap seperti ini Peter! Berhenti membuatku berpikir kalau kau menyukaiku!" kata Christine dengan suara bergetar menahan amarah dan air mata. Apa yang Peter harapkan setelah berhasil menghancurkannya?
Peter meminggirkan mobilnya dan menatap Christine dengan perasaan bersalah. Ia hanya ingin membuat Christine senang. Peter tahu kesalahannya sangat besar. Ia hanya ingin meminta maaf.
"Christine." panggil Peter lembut. Mencoba meraih telapak tangan Christine namun segera ditepis oleh Christine.
"Kau membuang ku Peter, kau ingat kan? Kau mempermalukanku dan memperlakukanku seperti sampah. Kau berhasil melakukannya dan kau bahagia setelah melakukannya. Benarkan? Itu yang kau katakan padaku, jadi tidak mungkin kau lupa. Kau menyakitiku dan hatiku." Kata Christine lalu menghapus air mata yang beberapa kali terjatuh dan membasahi pipinya.
Peter menatap wajah Christine sayu. Ia benar-benar tidak kuat melihat tangisan Christine. Tapi Peter juga tidak bisa membantah bahwa apa yang dikatakan oleh Christine barusan adalah kebenaran. Benar Peter mempermalukan Christine dihadapan banyak orang, benar ketika ia mengatakan kalau ia bahagia melihat Christine tersakiti. Semuanya memang benar kecuali kenyataan kalau ternyata ia tidak bahagia setelah berhasil menyakiti wanita ini.
Ah, betapa bodohnya Peter dulu. Seandainya ia tidak fokus dengan egonya yang tersakiti, seandainya ia bisa menyadari perasaannya dari awal, semua ini mungkin tidak akan terjadi. Bukan maksud Peter membuat Christine hancur seperti ini. Ia hanya ingin memberi pelajaran pada Christine yang menolaknya. Tapi ternyata yang ia lakukan terlalu berlebihan dan menyakitkan.
"Aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku." kata Peter lirih. Ia menyadari kesalahannya dan ia benar-benar menyesal. "Semua ini memang kesalahanku. Kebodohanku karena membiarkan ego menguasaiku. Aku bersalah. Aku sungguh menyesal." Peter menunduk.
Mendengar isakan tangis Christine yang pelan justru menambah rasa sesak di hati Peter. Betapa jahatnya ia membalas dendam disaat Christine bahkan tidak tahu apa-apa. Ini memang kesalahannya.
Sungguh Peter merasa bodoh sekarang. Dulu ia sering membuat wanita menangis dan ia tidak peduli pada mereka. Tapi kali ini berbeda, ia peduli pada Christine. Peter akan melakukan apa saja agar Christine berhenti menangis.
"Antarkan aku pulang." Kata Christine pelan. Ia bahkan tidak menanggapi permintaan maaf Peter.
Peter mendesah pelan lalu kembali melajukan mobilnya. Tidak lama kemudian Peter menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran. Tidak mungkin Peter mengantarkan Christine yang baru saja selesai menangis karenanya. Namun berbeda dengan Christine yang saat ini menatapnya tajam.
"Aku memintamu untuk mengantarku pulang!" kata Christine marah.
"Aku lapar Christine, ini sudah hampir jam 4 sore dan aku belum makan siang. Kurasa kau juga belum makan siang kan?" kata Peter sambil nyengir. Berusaha mencairkan suasana diantara mereka.
"Kau salah, karena aku sudah makan siang dengan Max." kata Christine dingin.
Ya Peter tahu itu. Allen mengiriminya foto mereka yang sedang makan siang bersama. Wanita ini memang sedang bercengkrama akrab dengan Max dan di hadapan mereka ada makanan yang sudah hampir habis. Ya sepertinya hubungan Christine dan Max membaik. Shit!
Rahang Peter mengeras membayangkan hal itu. Apakah ada kemungkinan kalau Christine dan Max akan kembali bersama? Tapi bukankah Max sudah bertunangan? Damn! Apa yang sudah Peter lewatkan selama tiga bulan ini?
Peter kembali menatap Christine, dan memergoki kalau gadisnya itu sedang menatapnya lekat. Peter kemudian tersenyum.
"Kenapa memandangiku seperti itu?" tanyanya dengan nada menggoda.
Christine memutar bola matanya jengah.
"Aku ingin Pulang Peter!" kata Christine ketus.
Peter tidak menanggapi ucapan Christine barusan dan malah turun dari mobil. Ia berjalan mengitari mobilnya dari depan lalu membuka pintu untuk Christine.
"Ayo turun." ajak Peter sambil meraih tangan Christine, namun Christine tidak bergerak.
"Tapi aku lapar Christine, apa kau tega membiarkanku kelaparan?" Peter menatap Christine sayu. Wajahnya ia biat semenyedihkan mungkin agar Christine kasihan padanya.
"Kau bisa makan sendiri."
"Tapi aku ingin kau menemaniku."
Rengek Peter kemydian langsung menarik tangan Christine dan membawanya masuk ke restoran.
Dengan cepat, Christine segera menarik kembali tangannya sampai terlepas dari genggaman Peter. "Aku bisa berjalan sendiri!" ucapnya ketus.
Peter hanya tersenyum kemudian menarik kursi untuk Christine. Bukannya duduk di kursi yang dipersilahkan oleh Peter, Christine maha duduk di kursi di hadapan Peter. Peter hanya menghela napas panjang dan bergumam "sabar Peter, sabar".
Ia akhirnya duduk di kursi yang ditariknya barusan dengan kesal lalu menatap Christine tajam. Sedangkan yang ditatap hanya menunjukkan ekpresi tak acuhnya membuat Peter semakin kesal.
Peter menarik napasnya lagi. Kali ini lebih panjang, lalu menghembuskan nya pelan. Ia lalu mengangkat tangannya untuk memanggil pelayan.
Seorang pelayan wanita menghampiri Peter sambil membawa buku menu. Pelayan wanita itu memberikan buku menu tersebut pada Peter dan Christine. Christine hanya menerima buku menu itu namun tidak berniat membukanya.
"Apa kau yakin tidak makan Christine?" tanya Peter yang melihat Christine yang justru fokus dengan ponselnya.
"Hmm." Christine hanya bergumam sambul memainkan ponselnya. Tidak berniat melirik sedikitpun ke arah sumber suara.
Peter menyebutkan pesanannya kemudian ditulis oleh pelayan tersebut.
"Apakah ada lagi, sir?" tanya pelayan itu.
Peter menggeleng dan mengembalikan buku menu tersebut. Begitupun dengan buku menu yang ada di tangan Christine. Stelah mengembalikannya, ia kembali fojus pada ponselnya.
"Sampai kapan kau akan mengabaikan ku Christine?" tanya Peter dengan nada jengkel.
Christine mengacuhkan pertanyaan Peter dan tetap fokus pada ponselnya.
Sebenarnya apa yang menarik di ponsel perempuan itu sampai ia lebih memilih memainkan ponselnya terus-menerus dan mengabaikan Peter. Peter lagi-lagi menarik napas panjang.
Karena merasa di abaikan, Peter akhirnya berdiri lalu berjalan dan menarik kursi di sebelah Christine kemudian duduk di sana. Christine sendiri sepertinya tidak sadar karena terlalu fokus pada ponselnya.
"Jadi game itu lebih menarik daripada aku, huh?" tanya Peter tepat di telinga Christine, membuatnya langsung menoleh pada Peter dengan tatapan terkejut.
"Ba-bagaimana, k-kau bisa ada di sebelahku?" tanya Christine berusaha mengendalikan keterkejutannya.
"Sejak kau mengabaikanku dan fokus pada ponselmu, aku sudah berada di sebelahmu." Kata Peter, walau sebenarnya ia tidak bisa berkonsentrasi karena posisinya saat ini sangat dekat dengan Christine..
Peter terus menatap mata Christine yang juga sedang menatapnya. Sesaat mereka hanyut dalam tatapan masing-masing. Peter tersenyum melihat tatapan Christine. Tatapan Christine tersirat sebuah perasaan yang dia inginkan dari perempuan itu selama ini. Perasaan yang membuatnya seperti orang gila selama beberapa bulan terakhir ini.
Peter mengalihkan tatapannya pada bibir Christine. Bibir yang pernah menjadi candunya, dan sepertinya akan selalu menjadi candunya. Bibir itu begitu menggoda. Damn!! Peter menginginkan bibir itu sekarang!
Christine yang menyadari tatapan Peter ke bibirnya, langsung menarik kepalanya mundur dan mendorong Peter agar sedikit menjauh darinya. Suasana seketika canggung di antara mereka. Sampai akhirnya pesanan Peter datang. Lelaki itu memesan dua piring steak dan satu botol sampanye.
"Makanlah." ucap peter datar
"Tapi aku tidak lapar!" Christine menatap Peter ketus.
"Kalau begitu buang saja."
Mendengar ucapan Peter barusan membuat Christine mendengus kesal. "Ya sudah buang saja!"
"Kau akan membuang makanan? Orang Afrika sana bahkan tidak bisa makan dan kau malah membuang-buang makanan?"
Christine mendongak menatap Peter tajam. "Aku sudah mengatakan padamu kalau aku tidak lapar, sekarang kau mengatakan aku membuang makanan? Aku akan memakannya, sialan!"
"Christine jangan mengumpat didepan makanan, itu tidak baik." Peter tersenyum lembut.
Christine tidak menanggapi kalimat Peter dan langsung memakan makanannya. Peter sialan!