
Christine memasuki sirkuit balapan tempat Erick biasa latihan. Mata memindai seluruh sirkuit, mencari-cari keberadaan Erick. Beberapa kali Erick mengajaknya untuk menemaninya latihan dan lelaki itu selalu membawanya ke sirkuit ini. Dan seingat Christine, sirkuit ini dibangun dengan bantuan dana dari kakaknya. Kevin memang segila itu tentang Moto GP
Beberapa jam yang lalu, Chistine sudah menghubungi Erick dan bertanya dimana posisi laki-laki itu sekarang. Erick mengatakan kalau ia sedang latihan di sirkuit, ia akan latihan selama beberapa jam ke depan. Jadi Christine memutuskan untuk datang menemui Erick.
Ada beberapa hal yang ingin Christine sampaikan pada Erick hingga ia memutuskan untuk menemui Erick lebih dulu daripada menunggu lelaki itu mengabarinya. Salah satunya mengenai pernikahan mereka yang akan dilangsungkan lusa nanti. Christine sudah memutuskan akan mencoba untuk menerima pernikahan mereka dengan ikhlas.
Selain itu Christine juga akan mencoba untuk melupakan Peter.
Christine melangkah masuk ke tenda tim yang menaungi Erick namun ternyata Erick tidak berada di sana. Ia kembali melihat ke arah arena balapan tapi tidak melihat ada orang yang sedang latihan. Ini memang sudah sore, jadi wajar sudah tidak ada lagi orang yang latihan.
Christine menghampiri salah seorang yang bekerja di tim Erick.
“Permisi.” sapa Christine membuat lelaki yang sedang memindahkan barang itu menoleh padanya.
“Ya?” tanya lelaki itu, ia mencoba mengingat siapa yang sedang berbicara padanya karena wajah perempuan ini terasa familiar untuknya.
“Apa kau tahu Erick ada di mana?”
Mendengar nama Erick, lelaki itu langsung mengingat kalau perempuan ini adalah kekasih Erick. Beberapa kali ia sempat menjumpai perempuan ini sedang menemani Erick yang sedang latihan.
“Erick ada di sana.” jawab lelaki itu sambil menunjuk ke arah Erick dan kummpulan orang-orang.
Christine mengikuti arah tunjuk lelaki itu dan melihat Erick sedang berjalan ke tempat duduk penonton yang ada di sekeliling sirkuit itu. Tapi sebelum itu ia melihat Erick sedang menyapa para penggemarnya yang sebagian besar adalah perempuan. Christine yakin itu kumpulan orang-orang itu adalah penggemar Erick.
Christine tersenyum pada lelaki itu dan mengucapkan terima kasih lalu berjalan ke tempat Erick.
Ia terus berjalan ketika melihat Erick sudah menjauh dari kerumunan orang-orang itu dan duduk di bangku penonton. Tapi tunggu dulu! Christine memicingkan matanya melihat dengan jelas kalau Erick tidak sendirian duduk di bangku penonton. Di sana ternyata ada kakaknya, duduk di dekat Erick namun di selingi satu bangku kosong.
Christine mengangkat sebelah alisnya, sedang apa kakaknya di sini? Tapi ia teringat kalau Erick dan Kevin adalah sahabat dari kecil. Christine tersenyum tipis, Kakaknya dan Erick benar-benar sahabat sejati.
Dan ia mendengar kalau Erick seharian ini stress karena dirinya.
Christine tidak jadi menghampiri Erick dan memilih berdiam di tempatnya untuk menguping pembicaraan mereka. Mungkin jika seandainya kedua lelaki itu tidak menyebut namanya, Christine sudah pasti akan menghampiri mereke berdua. Tapi ternyata kedua lelaki itu malah membicarakannya, jadi mau tidak mau ia lebih memilih mendengarkan pembicaraan mereka berdua daripada harus menghampirinya.
“Memangnya apa yang di katakan Christine sampai membuatmu stress?”
“Bukan apa yang dikatakannya, tapi apa yang di lakukannya sedikit menggangguku.”
Kevin tersenyum tipis menanggapi kalimat Erick tapi tetap tidak berniat untuk melihat ke arah sahabatnya itu. Ia tetap memandang ke depan, ke arah sirkuit balapan yang kosong namun seakan sedang ada balapan di sirkuit itu.
“Memangnya apa yang dilakukannya?”
“Sepertinya ia masih memikirkan Peter sampai saat ini, dan itu sangat mengganguku,” Erick menghela napas.
“Pernikahan ini tidak bisa dilanjutkan Kevin. Christine mencintai Peter dan aku tidak bisa menerima orang yang mencintai orang lain menjadi teman hidupku.”
Kevin tersenyum sekilas, kemudian menghela napas pasrah.
“Sejujurnya aku menemuimu karena ingin membahas tentang itu tapi kau sudah membahasnya lebih duli.” ucap Kevin dengan raut wajah yang kembali datar. “Ngomong-ngomong apa kau sudah menemukan seseorang?” tanyanya dengan tenang.
“Apa kau juga ingin pernikahanku dengan Christine batal?” tanya Erick dengan raut wajah terkejut, mengabaikan pertanyaan Kevin yang terakhir.
“Bisa dikatakan seperti itu.” ucap Kevin kemudian terkekeh kecil.
“Lalu apa yang akan ku katakan pada Christine jika ia bertanya kenapa aku tiba-tiba membatalkan pertunangan ini?” Erick menghela napas. Setuju-setuju saja dengan Kevin.
“Ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaan ku yang sebelumnya, apa kau sudah menemukan...” Kevin menghentikan kalimatnya dan ia syok begitu menoleh ke arah Erick ia justru melihat Christine berdiri tidak terlalu jauh dari tempat duduk mereka berdua.