
Christine mulai mengemas baju-bajunya, memasukkannya ke dalam ransel. New York bukan tempat yang tepat untuk berpikir apalagi menenangkan diri jadi ia memutuskan untuk pergi. Untuk berapa lama ia tidak tahu pasti, yang jelas ia hanya ingin sendiri menikmati kekecewaannya, tanpa berniat membaginya dengan orang lain.
Ia membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri dan untuk rasa kecewa yang saat ini sedang memenuhi dadanya. Biarkan waktu yang akan merubah segalanya, merubah perasaan kecewa menjadi bahagia, jika memang rasa bahagia itu tidak ada, setidaknya waktu pasti akan menghilangkan rasa kecewa itu.
Christine mengambil pakaian yang akan dipakainya untuk pergi. Ia masuk ke kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Setelah selesai mandi Christine mengenakan pakaiannya. Kaos oblong tipis yang pas di badannya, yang dilapisi dengan Jaket hoodie yang kebesaran, celana jeans hitam dan sepatu sneaker.
Ia mengambil peralatan make up, peralatan mandi, satu pasang sandal jepit, kemudian memasukkannya ke dalam ranselnya. Ia tidak membawa baju banyak, hanya beberapa pasang saja, karena nanti ia akan membelinya ketika sudah sampai di tempat tujuan. Tempat baru.
Christine melirik jam dinding yang menunjukkan angka 9 p.m. ‘masih jam 9' batinnya. Christine kemudian turun ke dapur dan melihat ada beberapa makanan, ia memutuskan untuk makan.
“Kenapa baru makan sekarang?” tanya seseorang membuat Christine terkejut dan segera menoleh.
“Ayah!” panggil Christine.
William mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa baru makan sekarang?” tanya William mengulang pertanyaannya.
Christine tersenyum tipis. “Karena aku baru lapar sekarang.”
William memandang Christine cukup lama memperhatikan penampilan putrinya itu. kemudian mengambil tempat duduk di dekat Christine.
“Kata pelayan kau sedang bermusuhan dengan kakakmu, apakah itu benar?” tanya William kemudian.
Christine menelan makannya dengan sedikit susah payah. Ia tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya ia hanya tersenyum.
“Kenapa?” tanya William lagi.
“Bukan apa-apa ayah, hanya masalah biasa. Ayah tahu kan perbedaan pendapat antar saudara.” kata Christine berbohong.
William tidak berbicara lagi, suasana meja makan kembali hening. Hanya terdengar suara sendok yang menyentuh piring selama beberapa saat, sampai kemudian Christine menghabiskan makanannya.
“Baiklah, ayah rasa kau juga sudah selesai makan. Tidurlah jangan bermusuhan terlalu lama dengan kakakmu, ayah juga akan tidur.” kata William yang dibalas dengan anggukan oleh Christine.
William berdiri kemudian berlalu menuju kamarnya, sedangkan Christine saat ini hanya terdiam. Apa ia sanggup meninggalkan ayahnya begitu lama? Ia lupa kalau ayahnya tidak akan pernah mengecewakannya. Bahkan baru saja ayahnya menemaninya makan tanpa dia minta.
Christine masuk ke dalam kamar dan terdiam. Benaknya bergejolak antara pergi atau tidak, tapi pada akhirnya ia tetap memutuskan pergi. Christine memejamkan matanya dan tertidur. Dalam tidurnya ia kembali teringat kepahitan-kepahitan di hidupnya. Peter mengecewakannya, Lexy mengecewakannya, Erick mengecewakannya, dan Kevin mengecewakannya. Tanpa sadar air matanya terjatuh dan begitu bangun angka sudah menunjukkan angka 12 a.m.
Christine mengambil ranselnya, dan berjalan mengendap-endap agar tidak ada yang mendengar suara langkahnya. Christine mencapai ruang tamu dan sudah menyentuh gagang pintu, tapi kemudian sebuah suara kembali menginterupsinya.
“So, where will you going in the middle of the night?”
Christine langsung berbalik dan mendapati ayahnya sedang duduk di ruang tamu, dengan kedua tangan terlipat di dada.
Ia kemudian menghela napas lalu berdiri dan mendekati Christine, menangkup wajah putrinya dan menghapus air mata di pipi putri kesayangannya itu.
“Ayah tahu kau akan pergi, itu sebabnya ayah memilih tidak tidur dan menunggumu.”
“Maafkan aku ayah..” kata Christine sesenggukan.
“Ayah tahu itu bukan masalah yang kecil, jika sampai putri ayah memutuskan untuk pergi diam-diam di tengah malam.” kata William lembut, Christine hahya diam mendengar perkataan ayahnya.
“Ayah, Christine ha-”
“Ssst tidak apa-apa, ayah paham kau butuh waktu untuk menerima semua yang sudah terjadi, entah apa yang sudah terjadi ayah juga tidak tahu. Tapi ayah harap kau akan menghubungi ayah sesekali dalam masa pelarianmu ini.”
Christine menatap William dalam, sungguh melihat ayahnya seperti ini membuatnya ingin merubah keinginannya untuk tidak jadi pergi, tapi keinginan itu terlalu kuat sampai ia tidak bisa mengubahnya.
“Ayah benar-benar menyayangimu, Christine. Bahkan jika seandainya dunia membenci dan mengecewakanmu, ayah akan lebih membenci dunia karena sudah mengecewakan putri kesayangan ayah.”
Christine tidak bisa menahan air matanya lebih lama lagi, dan ia langsung memeluk William dan menumpahkan semua air matanya. Sungguh demi apapun yang ada di dunia ini, ia benar-benar menyayangi ayahnya.
“Christine janji, Christine akan segera kembali. Christine tidak akan lama, Christine sayang ayah, sangat-sangat sayang ayah.”
“Ayah tahu, ayah juga menyayangimu”
Mereka berpelukan cukup lama, sampai kemudian William kembali berbicara “Ngomong-ngomong anak ayah akan pergi kemana?”
“Ke tempat di mana tidak akan ada yang menemukanku.” kata Christine pelan.
“Baiklah ayah mengerti, kau ingin pergi ke suatu tempat dan tidak ingin ada yang tahu termasuk ayah bukan?”
“Ayah maafkan aku.” Christine kembali terisak membuat William terkekeh kecil.
“Kau bisa menyimpan rahasia dengan ayah, apa kau punya uang?”
“Ayah memang yang terbaik, ayah bisa transfer ke rekeningku nanti. Aku juga berniat ganti ponsel dan nomornya agar tidak ada yang akan menemukanku. Tapi aku akan langsung menghubungi ayah, dan ayah tidak boleh memberitahukan siapapun ok?”
“Oke.”
Setelahnya William mengantar Christine ke depan pintu. Menatap punggung putrinya yang semakin jauh hingga menghilang di balik gerbang besi rumahnnya. Putrinya yang dulu selalu menangis karena boneka beruang salju kini menangis karena permasalahan hidup. Seandainya putrinya tidak perlu tumbuh dewasa, pasti putrinya tidak akan mengenal rasa sakit. Tapi itu lebih baik karena ia tidak harus melihat putrinya kesakitan. Sedih rasanya melihat Christine menangis seperti itu, tapi Willian yakin putrinya bukan wanita lemah. Putrinya pasti akan kembali dan tertawa seperti dahulu lagi. William yakin itu.