He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
24. How possible?



Peter terus memandangi Christine dengan tatapan jengkelnya. Christine sendiri tidak tahu apa yang membuat Peter hingga lelaki itu seakan ingin memakannya hidup-hidup.


"Ada apa?" Christine menatap Peter heran.


Peter mendesah lalu menggeleng. "Tidak ada." katanya.


"Kalau begitu bisakah kita pulang sekarang?"


"Apa aku yang akan mengantarmu pulang?"


"Tentu saja! Kau yang membawaku ke sini!" Christine menatap Peter kesal.


"Aku tidak mau mengantarmu pulang." balas Peter dengan nada kesal juga. Membuat Christine menatap Peter tajam.


"Baik! Aku akan pulang dengan bis." ujar Christine lalu melepaskan diri dari dari pelukan Peter lalu pergi meninggalkan Peter yang masih berdiri.


"Christine!" panggil Peter frustasi. Gadisnya itu meninggalkannya lagi.


Christine berhenti berjalan lalu berbalik. "Apa!" ucapnya ketus.


Peter mengejarnya lalu memeluk tubuhnya dari belakang.


"Kau tidak boleh pulang dengan bis!" kata Peter frustasi.


Tentu saja pernyataan tersebut membuat Christine semakin kesal. Christine membalikkan tubuhnya yang masih di dalam pelukan Peter. Kedua tangan lelaki itu saat ini berada di pinggang Christine.


"Kau tidak mau mengantarku pulang, lalu kau tidak memperbolehkanku pulang dengan bis? Lalu kau ingin aku pulang dengan apa?! Sapu terbang Harry Potter?!" sentaknya kesal.


"Siapa lelaki tadi?" tanya Peter tiba-tiba. Nada yang sebelumnya terkesan frustasi sudah tergantikan dengan nada kesalnya. tangan kiri Peter masih berada di pinggang Christine, memeluknya posesif. Sedangkan tangan kanannya sudah memainkan rambut Christine yang terurai.


"Lelaki yang mana?" tanya Christine mengernyit. Bingung dengan pertanyaan Peter.


Peter menggulung-gulung rambut Christine dengan jarinya, kemudian menghirupnya. Ia menyukai harum rambut gadisnya ini.


"Yang menelponmu tadi." kata Peter. Kedua tangannya kini sudah berada di pinggang Christine. matanya menatap mata Christine lekat.


Christine memicingkan matanya "Memangnya kenapa?" tanyanya bingung.


"Baby, aku sedang tidak bermain-main sekarang." kata Peter serius.


"Apa kau cemburu?" tanya Christine menggoda Peter.


"Hmm." gumam Peter datar. Kali ini ia menunduk dan mendekatkan kepalanya pada Christine.


Christine tersenyum kecil apalagi setelah mendengar gumaman Peter barusan.


"Jadi siapa lelaki tadi?" tanya Peter lagi dengan nada datarnya sambil menatap lekat mata Christine.


"Dia kakakku." kata Christine santai menahan senyum. Namun tidak dipungkiri kalau ia sedikit merasa senang dan ketika merasa sikap Peter yang tiba-tiba berubah serius. "Kukira kau tahu semua tentangku, ternyata tidak juga." katanya lagi.


Peter menatap mata Christine serius kemudian tersenyum. "Aku memang tahu semua tentangmu, tapi aku tidak tahu kalau se-akrab itu dengan kakakmu." kata Peter sedikit salah tingkah. Cemburu yang sedikit memalukan.


Dengan perlahan Christine mengelus rahang Peter yang ditumbuhi bulu-bulu yang sedikit kasar. "Aku menyukai jambangmu, jangan mencukurnya sampai halus, biarkan tipis seperti ini."


"Kau menyukainya?" tanya Peter yang di jawab dengan anggukan oleh Christine. "Aku tidak akan mencukurnya untukmu, akan kubiarkan sampai tumbuh lebat," ucap Peter santai.


"Tapi aku tidak suka kalau terlalu lebat, aku lebih suka seperti ini, kau terlihat lebih maco," kata Christine "Kalau lebat, kau akan terlihat seperti orang jahat." lanjutnya. Dan Peter hanya tersenyum mendengar ucapan Christine barusan.


"Permasalahan selesai, ayo antar aku pulang." ucap Christine tiba-tiba.


"Aku bukan temanmu, jadi aku tidak mau mengantarmu pulang."


"Apa?" Christine mengernyit mendengar ucapan Peter barusan.


"Aku tidak mau mengantarmu pulang, dan kau tidak boleh pulang naik bis." ucap Peter membuat Christine seketika kembali kesal.


"Jadi apa maumu?!" tanya Christine kesal. Ia memutar bola matanya malas.


"Apakah aku temanmu?" tanya Peter.


"Apa maksudmu?" Christine menatap Peter tak mengerti.


"Kau mengatakan pada kakakmu kalau temanmu akan mengantarmu pulang. Aku tidak merasa sebagai seorang teman." Kata Peter.


"Eh?" Christine akhirnya memahami maksud Peter. Jadi sedari tadi mereka berdebat hanya karena kata teman?


"Aku minta maaf karena salah berbicara." Christine membulatkan matanya menatap Peter penuh harap. Menujukkan kalau ia menyesal karena mengatakan Peter adalah temannya.


"Aku kekasihmu mulai saat ini dan seterusnya, bahkan sampai selamanya sayang." lanjut Peter dengan tatapan serius, ia semakin melingkarkan tangannya posesif di pinggang Christine, setelah itu Peter langsung mengecup bibir Christine sebagai tanda kalau saat ini mereka adalah sepasang kekasih.


Christine mengangguk senang.


Pagi menjelang siang, siang menjelang malam hingga malam kembali menjelang pagi. Waktu terus berputar dan terasa sangat cepat. Seminggu sudah berlalu sejak Peter dan Christine resmi sebagai sepasang kekasih.


Tidak terasa kalau Peter bahkan sudah hampir tiga Minggu di New York. Yang mana pada awalnya ia hanya akan tinggal selama dua Minggu saja.


Hari ini Peter akan kembali ke Manhattan untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai pimpinan di kantor cabang di Manhattan. Sejujurnya Peter sangat tidak rela untuk meninggalkan New York karena itu artinya ia juga akan meninggalkan Christine.


Saat ini, mereka sudah berada di John F. Kennedy International Airport. Christine memilih ikut mengantarkan Peter, karena lelaki itu mengatakan kalau ia tidak akan berangkat jika Christine tidak mau mengantarnya. Sungguh drama. Tapi se-drama apapun itu, tetap saja Christine harus menuruti Peter karena kekasihnya itu sedikit manja, sangat posesif dan pencemburu. Lengkap sudah.


Seperti sekarang ini, lengan Peter setia melingkar di pinggang Christine. Christine sama sekali tidak boleh jauh darinya.


Mereka sedang menunggu penerbangan Peter. Ayah Peter tidak mengijinkan putranya itu untuk memakai pesawat pribadi keluarga mereka dengan alasan kalau saat datang ke New York, anaknya itu menggunakan pesawat komersil. Jadi ketika kembali ke Manhattan, putranya itu juga harus menggunakan pesawat komersil.


Peter menatap mata Christine dalam. Tidak ada yang berbicara, mereka hanya saling menatap, lama. Peter sangat suka mata Christine, mata perempuan itu entah kenapa selalu membuatnya seperti terhipnotis untuk terus melihatnya. Begitu juga sebaliknya, sekalipun mata Peter terlihat sangat tajam apalagi tatapannya kadang sangat menakutkan, tapi Christine menyukainya. Mata itu seperti selalu menghipnotisnya.


Mereka terhipnotis satu sama lain. Melupakan sekitarnya, melupakan kalau saat ini orang-orang iri melihat bagaimana mereka berdua terlihat sangat serasi dan sangat saling mencintai.


Allen sudah benar-benar muak melihat kedua sejoli itu. Seharusnya tadi ia memaksa Lexy ikut agar ia tidak merasa terasingkan seperti saat ini.


Merasa sangat jengkel dengan Peter dan Christine, dia lalu mendatangi kedua sejoli itu dan menepuk tangannya di dekat mereka dengan sangat keras. Beberapa orang bahkan sempat melihat ke arah Allen, namun Allen tidak peduli.


PLOK!!


Peter dan Christine kaget hingga langsung menoleh ke Allen. Peter sendiri sangat kesal dengan kelakukan sahabatnya itu.


"Ah, maafkan aku mengganggu kalian," Kata Allen lalu menyeringai jahat.


"Apa maksudmu melakukan itu?!" tanya Peter kesal.


"Aku hanya sedang mencoba melakukan pembunuhan" Kata Allen datar, tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Pembunuhan? Kau mencoba membunuh? Kenapa?" tanya Christine polos.


Mendengar respon dari Christine barusan membuat Allen tersenyum geli. "aku membunuh nyamuk. Di sini, ketika kalian tidak berhenti saling menatap." kata Allen menjawab semua pertanyaan Christine kemudian tertawa.


"Bisakah kau tidak menggangu!" desis Peter dingin, tidak suka Allen menertawakan kekasihnya.


"Bagaimana aku tidak mengganggu, kalian membuatku merasa terasingkan di sini sendirian. Kalian sudah saling menatap kurang lebih sepuluh menit, dan aku tahu kalau kalian saling mencintai, but please! This is Airport. Everybody's looking at you both, they're feel uncomfortable of you two." Ucap Allen kesal membuat Christine malu namun berbeda dengan Peter, lelaki itu tampak tidak peduli.


"Satu-satunya orang yang membuat orang lain tidak nyaman adalah tepukan tangan yang tidak jelas darimu barusan." ujar Peter datar.


Allen tidak membalas ucapan Peter barusan karena suara panggilan untuk penerbangan ke Manhattan. Itu artinya penerbangan Peter.


"Oh thanks God, Finally!!" ucap Allen yang langsung dibalas dengan tatapan tajam dari Peter. "Sudah sana pergi, atau kau akan ketinggalan pesawat." ucap Allen dengan nada mengusir.


Peter sendiri sepertinya sangat kesal mendengar nada pengusiran dari Allen tersebut. Namun belum sempat ia berbicara, Christine sudah memotongnya lebih dulu.


"Lebih baik kau bergegas." ucap Christine lembut.


"Apa kau juga ingin menyuruhku cepat-cepat pergi?" ucapnya sensi.


"Tidak bukan begitu, Aku hanya tidak mau kau ketinggalan pesawat. Memang tidak masalah bagimu jika seandainya kau ketinggalan pesawat, toh kau bisa membeli tiketnya lagi." ucap Christine sambil tersenyum kemudian melanjutkan lagi ucapannya. "Tapi jika kau benar-benar ketinggalan pesawat, berarti kau akan ikut penerbangan yang selanjutnya dan itu baru ada besok malam. Apa kau ingin orang-orang berpikir jelek kepadamu karena tidak tepat waktu? Bolos kerja di perusahaan mu sendiri?"


Peter mendengarkan ucapan Christine kemudian menggeleng lemah. "Baiklah, aku akan berangkat sekarang." ucapnya lalu tersenyum lembut pada Christine. "Jangan nakal! jangan menggoda lelaki lain selama aku tidak ada, atau aku akan langung menculikmu dan membunuh lelaki yang menggodamu!" ucap Peter posesif kemudian tersenyum.


Christine tersenyum mendengar kalimat Peter barusan. "Seharusnya aku yang berkata seperti itu padamu, mengingat dulu kau sering bergonta ganti kekasih."


Peter mengusap kepala Christine kemudian menangkup wajah gadisnya itu. "Aku sudah berubah untukmu." katanya lalu mengecup puncak kepala Christine lembut. Mata Christine terpejam merasakan bibir Peter di puncak kepalanya.


"Aku percaya padamu." kata Christine setelah Peter melepaskan bibirnya dari kepala Christine dan menatap Christine.


"Memang seharusnya begitu." balas Peter tersenyum, kemudian mengambil barang bawaannya.


Sebenarnya lelaki itu tidak membawa apa-apa hanya sebuah laptop, ponsel dan dompet.


"Aku pergi, see you very soon babe," ucapanya kemudian berjalan menjauh. Tapi belum terlalu ketika laki-laki itu berbalik. "Aku serius dengan ucapan ku yang tadi baby, jadi jangan coba-coba!" ucapnya sambil berjalan mundur, lalu tersenyum dan melambaikan tangannya.


Lelaki itu lalu berbalik meninggalkan Christine dan Allen yang masih menatap punggung Peter yang sudah menjauh.


Christine hanya tersenyum mendengar kalimat Peter barusan. "Aku sudah merindukannya." gumamnya.


Dengan langkah kecil, Christine meninggalkan tempatnya berdiri lalu disusul oleh Allen. Mereka berjalan menuju parkiran dan meninggalkan Airport.


"Dia baru pergi semenit yang lalu dan kau sudah merindukannya? Luar biasa!" ucap Allen kagum. "Sudahlah, lagipula dia bisa mendatangimu seminggu sekali. New York-Manhattan bukan hal besar untuknya." kata Allen santai.


"Ngomong-ngomong, apa kakakmu tahu kalau Peter saat ini kekasihmu?"


Chriastine tersenyum kecut. Bagaimana mungkin Christine mengatakan pada kakaknya mengenai Peter.