He Is My Bad Boy

He Is My Bad Boy
53. I won't let it!



Peter sekali lagi merasa sangat terganggu pada siapapun di luar sana yang saat ini sedang mengetuk pintu kamarnya berulang kali. Dengan perasaan kesal bercampur amarah, Peter membuka pintu kamarnya dan membentak siapapun orang yang sudah berani mengganggu tidurnya.


“Ada apa!” sentaknya membuat pelayan yang ada di hadapannya langsung menunduk ketakutan.Ia benar-benar sangat kesal karena diganggu orang yang sama! Ini ke sekian kalinya lelaki ini mengganggunya. Entah itu dengan menawarkan sarapan, membersihkan kamar, menawarkan tempat wisata yang bisa dinikmati dan lain-lain. Membuat Peter teramat sangat kesal.


“Ada telepon untuk Anda tuan, di meja resepsionis” jawab pelayan itu pelan dengan kepala yang tertunduk. Tamunya yang satu ini benar-benar mengerikan saat marah. Bagaimana mungkin ada manusia dengan tingkat emosi serendah ini? Ini pertama kalinya ia bertemu dengan tamu yang sangat mudah emosi. Padahal ia bermaksud baik dengan menawarkan banyak jasa secara gratis bahkan tidak meminta tip sama sekali.


“Siapa yang menelepon tengah malam menjelang pagi seperti ini?!” dengus Peter masih dengan tingkat kekesalan yang tidak berkurang sedikitpun. Orang gila mana yang akan menghubungi orang lain di tengah malam?


“Namanya Allen tuan.”


Peter terdiam mendengar nama Allen. Seketika raut kesalnya digantikan dengan wajah datar sekaligus penasaran. Allen? Mau apa Allen meneleponnya? Ditambah lagi dari mana lelaki itu tahu tentang tempat ‘liburan’nya ini?


“Baiklah, ayo!” Peter langsung menutup pintu kamarnya kemudian berjalan mengikuti pelayan


lelaki itu berjalan menuju meja resepsionis.


 “Ada apa Allen?!” tanya Peter langsung dengan pelan namun dengan nada kekesalan yang sangat kentara.


“DIMANA KAU SEKARANG SIALAN!” teriak Allen emosi.


Peter menjauhkan telepon itu sejenak dari telinganya. “Kau meneleponku hanya untuk marah-marah?” Peter mengangkat sebelah alisnya.


“PETER SIALAN CEPAT PULANG SEKARANG!”


Peter semakin bingung, “Allen ini hampir jam 1 a.m disini. Aku sangat mengatuk, bisa kita


bahas besok? Aku janji akan menghubungimu besok padi.” kata Peter setelahnya ia menguap karena merasa ngantuk.


“SEBENARNYA DIMANA KAU SEKARANG!” teriak Allen lagi membuat telinga Peter berdengung.


“Pulang sekarang atau kau akan menyesal,” ucap Allen datar selanjutnya, ia juga lelah berteriak.


“Aku akan pulang lusa Allen,”


“Di tempatmu sudah pagi, sedangkan di sini masih menjelang malam. Kalau kau pulang lusa, intinya kau sampai di sini setelah acara sialan itu selesai. Kau akan benar-benar menyesal Peter.” Ancam Allen, atau mungkin lebih tepatnya frustasi.


“Sebenarnya apa yang sedang kau bahas? Aku menyesal karena apa?”


“Intinya saat kau sampai di Amerika maka Christine sudah menjadi milik orang lain.”


“Apa maksudmu?”


“Sudah kukatakan kalau kau benar-benar akan menyesal. Christine akan menikah! Dan kau pulang


setelah ia menikah. CONGRATULATION!”


“APA! DENGAN SIAPA?!” kali ini Peter yang teriak, dan ia tidak peduli jika suaranya akan


mengganggu orang lain yang sedang mencoba beristirahat.


“Christine akan menikah. Jika kau masih berada di situ sudah jelas ia menikah bukan denganmu,” ucap Allen santai.


“TIDAK AKAN KUBIARKAN!” Peter langsung menutup telepon itu, dan menelepon seseorang untuk


menyiapkan pesawatnya. Ia akan terbang saat ini juga ke Amerika, mungkin lebih tepatnya ke New York.